NovelToon NovelToon
Ameera

Ameera

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Tamat
Popularitas:3.9M
Nilai: 4.9
Nama Author: Qinan

Bacaan khusus dewasa (***)

Ameera, gadis polos yang pura-pura tegar. Sedangkan Awan pria mesum yang sangat terobsesi dengan Ameera.

Bagaimana cara Awan menghadapi Ameera yang teramat polos, segala cara ia gunakan agar berhasil memiliki gadis itu.

Apa setelah menjadi kekasih mereka akan berakhir bahagia? tentu saja belum, karena mereka harus berjuang mendapatkan restu dari kedua orangtua Awan.

Kisah cinta mereka begitu mengharukan, ada perjuangan dan penghianatan di dalamnya.

Yuk baca AMEERA sebuah cerita cinta yang di adaptasi dari kisah nyata yang tentunya di sisipi kehaluan ala Author.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awan bertemu orangtua Ameera ?

💥Seseorang jika hatinya terluka, kadang memang perlu sendiri. Bukan bermaksud untuk menyilakan mu pergi, tapi untuk kau berpikir jernih agar kesalahan yang sama tak kembali kau ulang💥

Pagi ini Ameera nampak mengerjapkan matanya saat alarm di ponselnya berdering nyaring, setelah mematikannya ia segera beranjak dari ranjangnya.

Kemudian ia berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

"Meera kamu kerja ?" sapa Rangga saat Ameera baru keluar dari kamarnya.

"Tentu saja." sahut Ameera sembari mengunci pintu kamarnya.

"Aku pikir kamu ikut pulang dengan Awan." tukas Rangga yang langsung membuat Ameera menatapnya.

"Dia pulang ?" Ameera nampak terkejut.

"Memang kamu nggak tahu ?" Rangga nampak mengernyit.

"Ten-tentu saja tahu." dusta Ameera, ia tidak ingin Rangga mengetahui masalahnya dengan Awan.

Biarlah peristiwa naas itu hanya dirinya, Awan dan Tuhan saja yang mengetahuinya.

"Kenapa kamu nggak ikut pulang, lumayan kan ada teman di perjalanan ?" tanya Rangga kemudian.

"Aku belum ada ijin dari pak Mario." sahut Ameera beralasan.

"Tapi Awan kembali lagi kan ?" tanya Rangga memastikan.

"Maksud kamu ?" Ameera nampak tak mengerti dengan perkataan sahabatnya tersebut.

"Kemarin saat ku tanya, katanya sih belum tahu. Bisa kembali, bisa juga tidak." sahut Rangga.

Mendengar itu Ameera nampak tercengang, ia menyuruh Awan pergi bukan pergi untuk selamanya namun ia hanya butuh waktu untuk sendiri.

"Meer, kamu baik-baik saja ?" Rangga nampak khawatir saat Ameera terdiam.

"Kamu tidak sedang bertengkar dengan Awan kan ?" imbuhnya lagi menelisik.

"Tidak, kami baik-baik saja kok." sahut Ameera meyakinkan.

"Yaudah yuk jalan." imbuhnya lagi mengalihkan pembicaraan, kemudian mereka berangkat ke kantor bersama.

Sepanjang jalan menuju kantornya Ameera nampak terdiam, apakah Awan benar-benar akan meninggalkannya? memikirkan hal itu ia jadi galau sendiri.

"Kenapa sih laki-laki begitu tidak peka, jika aku menyuruhnya pergi itu tandanya jangan pergi dan kamu harus lebih bersabar lagi. Jika aku berkata baik-baik saja, itu tandanya sedang tidak baik dan kamu harus menghiburku. Lalu jika aku berkata tidak apa-apa, itu berarti sedang ada masalah dan kamu wajib cari tahu. Masa gitu aja nggak ngerti." gerutu Ameera siang itu.

Sepertinya gadis itu lupa jika seorang pria juga manusia biasa yang tak mampu mengartikan sifat seorang wanita yang sangat rumit.

Jika bisa bicara pada inti permasalahannya, kenapa harus di putar-putar dahulu hingga menjadikannya rumit.

Kemudian Ameera menatap meja Awan yang kosong, biasanya jika pria itu tidak sibuk pasti akan selalu berada di sekitarnya, sekedar mengganggunya atau menggodanya.

Kini ia merasa kesepian saat pria itu tidak ada, ia merasa seperti ada yang hilang dari dirinya.

"Aku merindukanmu." gumamnya entah sadar atau tidak saat mengucapkannya.

Sementara itu Awan yang pulang ke kotanya, bukannya langsung menuju rumahnya. Namun justru pergi ke tempat lain.

Kini ia berada di depan sebuah rumah yang terletak di pinggiran kotanya tersebut, kakinya dengan pasti melangkah masuk ke dalam pagar yang sedang terbuka.

"Maaf tante, ini dengan rumahnya Ameera ?" tanyanya menyapa seorang wanita paruh baya yang sedang menyiram bunga di halamannya yang cukup luas.

"Iya benar, ada keperluan apa ya ?" tanya balik wanita tersebut, pandangannya nampak menelisik Awan dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Kenalkan saya Awan." Awan langsung meraih tangan wanita paruh baya tersebut lalu menciumnya dengan takzim.

"Saya Anna, ibunya Ameera." wanita itu nampak takjub dengan sikap santunnya Awan.

"Boleh saya masuk, tante ?" mohon Awan.

"Oh ya tentu saja, ayo masuk." wanita itu langsung mengajaknya masuk ke dalam rumahnya.

Rumah yang lumayan besar untuk ukuran perumahan di pinggiran kota menurut Awan dan ia sangat kagum dengan keramahan wanita paruh baya itu.

Wanita itu terlihat cantik meski tak muda lagi dan wajar jika kekasihnya itu sangat cantik karena ibunya juga cantik.

"Ayo duduk, Nak. Tante panggilkan Om dulu." ucap nyonya Anna ibunya Ameera.

Setelah kepergian nyonya Anna ke belakang, Awan memperhatikan beberapa bingkai foto yang terpatri di dinding depannya.

Terlihat foto Ameera dari kecil hingga remaja ada di sana, Awan langsung senyum-senyum sendiri saat memandang foto imut kekasihnya itu dan saat mengingat wanita itu yang kini sedang marah padanya ia berubah muram.

Ehmm

Awan terkejut saat mendengar deheman seseorang, kemudian ia langsung berdiri ketika melihat seorang pria paruh baya berkulit bersih dengan perawakan tinggi besar sedang melangkah ke arahnya.

"Selamat sore, Om. Saya Awan, teman kerjanya Ameera." Awan langsung meraih tangan pak Andre lalu menciumnya dengan takzim.

Pak Andre nampak menelisik pemuda di seberangnya itu, pemuda berkulit putih, berwajah tampan dan berhidung mancung.

Pria paruh baya itu meyakini jika pemuda di hadapannya tersebut bukanlah pria Indonesia asli meski logat dan tata kramanya sangat Indonesia.

"Duduklah !!" perintahnya kemudian pada Awan.

"Baik Om, terima kasih." sahut Awan lalu mendudukkan dirinya di sofa ruang tamu tersebut.

"Jadi benar kamu teman kerjanya Ameera atau justru pacarnya ?" tanya pak Andre to the point.

"Saya...." Awan yang tiba-tiba gugup nampak menggantung ucapannya saat pak Andre menyelanya.

"Tidak perlu gugup Nak, saya tahu kamu hanya temannya Ameera. Karena jika anak gadis saya itu mempunyai pacar, pasti akan cerita pada kami orangtuanya. Lagipula siapa pun yang akan menjadi pacar anak saya harus mendapatkan restu saya, Ameera adalah kesayangan kami, dari kecil kami sudah menjaganya dengan sangat baik." ucap pak Andre menatap pemuda di hadapannya itu hingga membuat Awan langsung menelan ludahnya sendiri.

Pria paruh baya itu terlihat begitu menyayangi Ameera, namun dirinya justru yang telah menghancurkan putrinya itu.

Sepertinya Awan sudah keder duluan, sebenarnya ia ingin mengatakan jika ia memang kekasihnya Ameera namun melihat perangai pak Andre yang tegas ia langsung mengurungkan niatnya.

Awan takut jika calon mertuanya itu membencinya, apalagi saat mengetahui ia sudah memperkosa putri kesayangannya. Belum lagi kini hubungannya dengan Ameera juga sedang tidak baik-baik saja.

Lebih baik ia mencari cara mendekati pria itu untuk mengambil hatinya agar hubungannya dengan Ameera di restui.

"Jadi kedatanganmu kesini dalam rangka apa ?" tanya pak Andre dengan nada curiga, apalagi saat melihat banyak sekali oleh-oleh yang di bawa oleh pemuda itu.

"Kebetulan saya pulang untuk menjenguk orang tua, Om. Jadi sekalian ingin berkenalan dengan orang tuanya teman dekat saya." sahut Awan sembari menatap calon mertuanya tersebut, ia ingin tahu bagaimana reaksi pria paruh baya itu saat dirinya mengatakan berteman dekat dengan Ameera.

Sedangkan pak Andre nampak menatapnya sejenak, kemudian mulai membuka suaranya lagi.

"Jadi orangtuamu juga tinggal di kota ini ?" tanyanya kemudian.

"Benar, Om." sahut Awan.

"Di mana ?" tanya pak Andre lagi.

"Di perumahan xx, Om." sahut Awan yang langsung merubah mimik wajah pak Andre yang tadinya ramah langsung datar.

Perumahan xx adalah salah satu perumahan elit yang ada di kota tersebut dan itu berarti teman dekat Ameera ini bukan orang sembarangan pikir pak Andre.

"Kamu benar hanya teman dekatnya Ameera kan? saya harap hanya sebatas itu, dari kecil Ameera kami sayangi dengan sepenuh hati, kami tidak pernah memukulnya bahkan memarahinya jadi saya tidak akan pernah memaafkan siapapun yang menyakitinya kelak." tegas pria paruh baya yang bekerja di salah satu perusahaan milik negara itu.

Lebih baik ia berbicara terus terang, karena hubungan berbeda kasta hanya akan menyakiti putrinya. Mengingat dirinya dengan istrinya dulu juga berbeda kasta dan ia sangat mengerti bagaimana kesedihan istrinya kala itu.

Sementara Awan lagi-lagi menelan salivanya saat mendengar perkataan calon mertuanya tersebut.

Sepertinya ia harus berusaha lebih keras lagi untuk meluluhkan hati orangtua kekasihnya itu.

1
Ruwi Yah
kamu salah menilai fajar meera dia tidak sebaik yg kamu kira
Rafly Rafly
balasan yg setimpal... berbakti sana sama emak mu awan.../Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Rafly Rafly
kamu ngempeng sana sama simbok mu WAN...pria lemah syahwat saja sok belagu..
tinggal saja laki laki sampah itu merra
Rafly Rafly
nggak anak.. nggak bapak...bangke semua...di tindas perempuan diam ...
Rafly Rafly
Bimo.. Bimo..laki laki kok mulut lemess
ganti nama saja Bimoli..bibir monyong lima centi /Facepalm/
Rafly Rafly
nilai dgn senyuman...lalu..makan
nobita
rupanya papa mertuanya Ameera balas dendam
nobita
dasar mertua laknat... mulut nya pedas sekali.. bagaikan bon cabe level 50
nobita
dasar calon mertua jahat...
nobita
lucu sihh dengan sikapnya Awan ke Ameera..... bikin para readers gemes
nobita
aku mampir kak
kang seblak
itu kesalahan orang tua dlm mendidik anak,sayang anak bukan berarti harus di manja sehingga anak gk bisa apa"
Nurhasanah
yahh gini amat y ending y, 😭😭😭
Esin naufal
sad ending..
Irlindawati
Luar biasa
Ibelmizzel
lajut baca
AyuNia
keren cerita nya...
Hani Ekawati
Wkwkwkwk ..🤣
Hani Ekawati
😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆😆
Murniyati
menghibur n byk crita yg bisa di ambil mamfaatnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!