Di Jepang modern yang tampak damai, monster tiba-tiba mulai bermunculan tanpa sebab yang jelas. Pemerintah menyebutnya bencana, masyarakat menyebutnya kutukan, dan sebuah organisasi bernama Justice tampil sebagai pahlawan—pelindung umat manusia dari ancaman tak dikenal.
Bagi Shunsuke, atau Shun, dunia itu awalnya sederhana. Ia hanyalah pemuda desa yang hidup tenang bersama orang tuanya. Sampai suatu hari, semua kedamaian itu runtuh. Orang tuanya ditemukan tewas, dan Shun dituduh sebagai pelakunya. Desa yang ia cintai berbalik memusuhinya. Berita menyebar, dan Shun dicap sebagai “Anak Iblis.”
Di ambang kematian, Shun diselamatkan oleh organisasi misterius bernama Nightshade—kelompok yang dianggap pemberontak dan ancaman oleh Justice. Perjalanan Shun bersama Nightshade baru saja dimulai.
PENTING : Cerita ini akan memiliki cukup banyak misteri, jadi bersabarlah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bisquit D Kairifz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Latihan tiba-tiba
CHAPTER 15
Masih di hari yang sama, Shun yang masih memikirkan tentang julukan Riot tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa. Ia terjatuh. Ternyata, rasa sakit dari luka di perutnya mulai terasa.
Adrenalinnya sudah hilang. Shun dibawa oleh Yuzuriha ke ruang perawatan. Sesampainya di depan ruang perawatan, mereka masuk ke dalam. Di dalamnya, ada Dr. Wero yang sedang duduk dan mencatat sesuatu. Dr. Wero melihat ke arah mereka. Saat melihat keadaan Shun, Dr. Wero menundukkan kepala.
"Si-si-si-sialan!...."
"E-eh!..." Yuzuriha heran. "Ke-kenapa, Dokter?"
Yuzuriha membawa Shun ke kasur.
Dr. Wero mendekat ke tempat Shun. "Oi, oi, oi!..." Ia memegang kerah Shun. "Apa-apaan ini! Padahal kau baru saja sembuh!"
"A-aahahaha," Shun menggosok bagian belakang kepalanya dan tertawa. "Aku latihan sama Riot, jadinya begini, hehe."
"Apanya yang 'hehe'! Cih, bikin repot melulu," Dr. Wero menuju meja dan mengambil suntikannya.
Setelah diobati oleh Dr. Wero dan luka di perutnya sudah tertutup, dengan tangan kiri yang masih belum sembuh akibat patah karena tendangan Riot, Shun berniat untuk jalan-jalan di Kediaman Nightshade. Siapa tahu, Shun bisa menemukan sesuatu yang menarik. Ia berpamitan dengan Dr. Wero yang raut mukanya masih kesal karena Shun.
Shun berjalan di lorong, berjalan dengan santai. Shun bersiul, kedua tangan di belakang kepala. Dengan tenang, ia menoleh ke kiri, dan...
Saat menoleh ke kanan, Shun terkejut karena ada Riot yang sudah siap memukul Shun. Saat pukulan itu dilancarkan, Shun bisa menghindar dengan menunduk.
Shun tidak mengerti apa yang terjadi, jadi ia berlari sejauh mungkin. Namun, kejar-kejaran bersama Riot sama saja dengan kejar-kejaran dengan singa yang mengejar mangsanya.
"Oi, oi! Riot, kenapa!" Shun menoleh ke belakang sambil berlari.
Riot tersenyum lebar. "Hah! Ya sudah pastinya latihan!"
"Latihan? Lihat kondisiku dulu, dong!" ucap Shun.
"Bodo amat dengan kondisimu! Musuh bisa datang kapan saja!" Riot mempercepat larinya. "Kita latihan kelincahan!"
Riot langsung berada di samping Shun dan melancarkan pukulan ke arah Shun dengan cepat. Shun bisa menghindarinya dengan cara melompat ke belakang, namun ia terjatuh ke lantai bawah karena tidak melihat-lihat lagi saat melompat.
Riot menyusul Shun. Mereka berdua berhadapan. Riot melancarkan pukulan. Shun bisa menghindarinya dengan tergesa-gesa.
Namun, sekilas mata Riot menjadi tajam. Riot mempercepat pukulannya. Ia melancarkan serangan ke Shun dengan lebih cepat.
Shun sulit untuk menghindarinya, dan kemudian ia terkena pukulan telak di wajah. Shun terpental ke belakang. Tanpa memberi napas, Riot langsung menyusul Shun dan melancarkan serangan lagi.
Shun berlari ke arah yang berbeda. Shun ingin mengambil napas dan berusaha tenang. Shun mencoba memahami apa yang sedang terjadi.
Sampai akhirnya Shun tenang. Shun hanya berpikir bahwa ini memang latihan. Shun berpikir bahwa Riot ingin ia lebih lincah supaya tidak mudah tertangkap oleh musuh.
Tidak lama kemudian, Riot sampai ke tempat Shun dan langsung melancarkan serangan beruntun dengan cepat. Kali ini, Shun bisa menghindarinya walau masih ada yang hampir kena.
Sampai akhirnya pukulan terakhir Riot. Di pukulan terakhir, Riot mempercepat pukulannya dan memaksa Shun menggunakan lengan satunya untuk menangkis.
Shun terpental jauh. Shun terpental ke ruangan yang gelap. Di sana, Shun merasa ada orang di dalam ruangan itu, tapi ia tidak diberi kesempatan berpikir.
Riot berlari maju dan bersiap memukul Shun. Namun, saat melancarkan pukulan, kunai jatuh tepat di depan mereka berdua.
Suara dingin yang familiar terdengar, "Sedang apa kau di sini, Riot."
Suara itu ternyata dari Shinji.
Riot menoleh ke arah Shinji. "Eh?... O-oohhhh, Shinji, ya!" Riot mendekat ke arah Shinji.
Saat mendekat, Shinji mengayunkan kunai yang ia pegang, tapi dengan mudah dihindari oleh Riot.
"Oi! Ninja sialan! Apa maksudmu menyerangku!" Riot menggertakkan gigi.
"Ternyata kau tidak melemah, ya," Shinji pergi begitu saja.
Shun tidak heran melihat kalau Shinji sudah akrab dengan Riot karena ia sudah mendengar tentang Demon General.
Setelah bertemu Shinji, Riot mengajak Shun beristirahat. Mereka pergi ke dapur dan memesan makanan.
"Oh iya, Shun..." Sorot mata Riot tiba-tiba serius.
Shun tiba-tiba gugup. "K-kenapa, Riot?"
Riot menarik napas dalam-dalam, dan berkata, "Tolong... Panggil aku Master," Ia menoleh ke arah lain dengan wajah memerah.
"Hah... Apa-apaan itu," Shun melanjutkan makannya. "Kenapa tidak dari awal?"
Setelah makan, mereka berniat pergi keluar saat Shun sudah sembuh total, bukan keluar ruangan, tapi keluar dari kediaman dan pergi ke kota.
Riot mengajak Shun bukan tanpa alasan, tapi Riot ingin Shun membantu misinya. Shun yang mendengar itu langsung setuju.
Sebelum keluar, mereka akan memakai pakaian yang sedang tren di zaman modern ini. Bukan buat gaya-gayaan, tapi untuk menyamar.
Karena bukan hanya menjalankan misi, Riot akan mengajak Shun ke tempat yang seharusnya tidak boleh Shun masuki.