Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 17_Kiriman Mendesak
Marco mengernyitkan dahi, dia merasakan sesuatu yang berbeda pada Anya malam ini.
Biasanya, Anya akan membuang muka atau membalas dengan kata-kata tajam tapi malam ini, ada ketenangan yang mencurigakan.
"kamu terlihat senang," ucap Marco, suaranya berubah menjadi lebih rendah dan penuh selidik.
"Aku hanya mencoba menerima keadaanku, seperti yang kamu mau," jawab Anya, berusaha menjaga nada suaranya tetap stabil.
Marco diam sejenak, lalu dia membungkuk, membisikkan sesuatu di telinga Anya.
"Jangan pernah mencoba berbohong padaku, Anya. Aku bisa mencium bau kebohongan bahkan sebelum kamu mengucapkannya."
Anya merasa hawa dingin menjalar di punggungnya. Apakah Marco tahu? Tidak mungkin, dia melakukannya dengan sangat rapi.
Marco kemudian bangkit dan berjalan keluar. "Istirahatlah. Besok kita punya agenda penting. Aku ingin mengajakmu makan malam di restoran bawah gedung ini. Kita tidak akan keluar ke jalanan, hanya di area privat gedung. Aku ingin kamu menghirup udara yang sedikit berbeda."
"Benarkah? Terima kasih, Marco," sahut Anya, kali ini dengan rasa senang yang jujur, restoran itu berarti keramaian, meskipun terbatas.
Namun, begitu Marco keluar dari kamar Anya, ekspresinya langsung berubah menjadi sangat dingin.
Dia berjalan menuju ruang keamanannya yang dijaga oleh Bram.
"Tunjukkan rekaman di perpustakaan pukul empat sore tadi, Zoom pada tangan gadis itu," perintah Marco.
Bram mengoperasikan komputer dengan cepat, layar menampilkan Anya dan Pak Baskoro.
Marco memperhatikan dengan sangat teliti setiap gerakan jari Anya, saat ia melihat kertas kecil itu berpindah tangan, tangan Marco mengepal hingga kuku-kukunya memutih.
"Bawa pria tua itu ke sini sekarang juga," desis Marco.
"Dan pastikan dia tidak sempat menyentuh ponselnya."
Sepuluh menit kemudian, Pak Baskoro dibawa masuk oleh dua pengawal.
Pria tua itu sudah menangis, tubuhnya gemetar hebat, dia tahu apa yang menantinya jika dia berurusan dengan Marco Valerius.
Marco duduk di kursinya, memutar-mutar sebuah pisau kecil di tangannya.
Dia tidak mengatakan apa pun selama beberapa menit, membiarkan keheningan itu menyiksa Pak Baskoro.
"Aku membayarmu sepuluh kali lipat dari gaji gurumu di universitas Baskoro," ucap Marco tenang, tanpa nada marah, namun itulah yang paling menakutkan.
"Aku memercayaimu untuk memberikan ilmu pada gadisku, bukan untuk menjadi kurir."
"Maafkan saya, Tuan! Dia... Nona Anya terlihat sangat sedih... saya hanya kasihan..."
"Kasihan?" Marco berdiri dan berjalan mendekati Pak Baskoro.
Dia mengambil kertas kecil dari saku kemeja pria tua itu. "Di duniaku, rasa kasihan adalah racun. Dan kamu baru saja mencoba meracuni sistem keamananku."
"Tolong, Tuan... jangan bunuh saya..."
Marco menatap kertas itu, membaca tulisan tangan Anya yang rapi.
Dia merasa dadanya sesak. Anya lebih memercayai orang asing ini daripada dirinya.
Anya begitu ingin melarikan diri darinya hingga ia berani mengambil risiko seperti ini.
"Aku tidak akan membunuhmu," kata Marco sambil merobek kertas itu menjadi potongan-potongan kecil di depan mata Pak Baskoro.
"Itu terlalu mudah tapi kamu tidak akan pernah mengajar lagi, di mana pun dan keluarga di kampungmu... mereka akan kehilangan tunjangan bulanan yang selama ini secara anonim kukirimkan atas nama yayasan pendidikan."
Marco memberi isyarat pada anak buahnya untuk membawa pria itu pergi. "Pastikan dia tidak pernah mendekati gedung ini lagi."
Setelah ruangan itu kosong, Marco duduk kembali, dia menatap potongan kertas di lantai.
Obsesinya yang tadinya berupa perlindungan kini mulai bercampur dengan rasa sakit karena pengkhianatan.
Dia merasa Anya tidak pernah mengerti bahwa semua yang dia lakukan adalah untuk kebaikan gadis itu.
Keesokan malamnya, seperti yang dijanjikan, Marco menjemput Anya untuk makan malam.
Anya sudah bersiap dengan gaun biru laut yang indah, dia merasa sangat bersemangat, tidak tahu apa yang baru saja terjadi pada Pak Baskoro.
"Di mana Pak Baskoro?" tanya Anya saat mereka berjalan menuju lift privat.
"Tadi sore dia tidak datang."
Marco menekan tombol lift dengan tenang. "Dia mengundurkan diri Anya, katanya dia merasa terlalu tua untuk mengajar secara intensif. Aku sudah mengirimnya pulang dengan pesangon yang cukup."
Anya terhenti. "Mengundurkan diri? Tapi kemarin dia baik-baik saja."
Marco berbalik menatap Anya dengan mata yang sangat gelap, dia mengusap pipi Anya dengan punggung tangannya.
"Orang datang dan pergi, Anya. Tapi aku? Aku tidak akan pernah pergi. Ingat itu."
Anya merasakan firasat buruk, tapi dia mencoba mengabaikannya, mereka sampai di restoran privat di lantai 10.
Restoran itu sangat sepi, hanya ada beberapa pelayan yang sudah dilatih khusus.
Meja mereka berada di dekat jendela besar yang menghadap ke arah jalan raya utama.
"Makanlah. Aku tahu kamu suka makanan laut," kata Marco.
Anya mencoba menikmati suasana itu, namun dia merasa Marco terus memperhatikannya tanpa henti.
Tatapan Marco malam ini terasa lebih posesif, seolah-olah dia sedang menandai setiap jengkal tubuh Anya dengan matanya.
"Marco, kenapa kamu terus menatapku seperti itu?" tanya Anya risih.
"Karena aku sedang mencoba memahami, berapa banyak lagi rahasia yang kamu sembunyikan dariku di balik mata indahmu itu," jawab Marco pelan.
Jantung Anya berdegup kencang. Apakah Marco tahu?
Tiba-tiba, seorang pelayan mendekat, membawa sebuah kotak perak kecil.
"Tuan Valerius, kiriman ini baru saja sampai di lobi untuk Anda. Katanya sangat mendesak."
Marco membuka kotak itu dengan hati-hati, di dalamnya terdapat sebuah ponsel tua yang sudah hancur, namun masih ada secarik kertas yang menempel di sana dengan noda darah kering.
Itu adalah ponsel milik Maya, teman Anya.
Anya yang melihat ponsel itu langsung membelalak, dia mengenali gantungan kunci kecil berbentuk beruang yang ada di ponsel itu dan itu adalah gantungan kunci yang dia berikan pada Maya tahun lalu.
"Maya...?" bisik Anya, wajahnya menjadi pucat pasi.
Marco menatap ponsel itu, lalu menatap Anya, sebuah senyum pahit muncul di wajahnya.
"Sepertinya musuh-musuhku lebih cepat darimu dalam mencari teman-temanmu, Anya. Antonio baru saja mengirimkan ini sebagai peringatan. Dia membunuh temanmu karena dia pikir itu akan memancingku keluar."
"TIDAK! MAYA!" Anya berteriak, air matanya tumpah seketika.
Dia mencoba berdiri, namun kakinya lemas dan dia jatuh terduduk kembali.
Marco segera memutari meja dan memeluk Anya yang sedang histeris, dia mendekap kepala Anya di dadanya.
"kamu lihat sekarang? kamu lihat apa yang terjadi jika kamu mencoba menyentuh dunia luar?"
Marco membisikkan kata-kata itu dengan nada yang sangat posesif, di dalam hatinya dia sebenarnya merasa marah karena Antonio membunuh orang yang tidak bersalah, namun di sisi lain, dia merasa ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan pada Anya bahwa kebebasan di luar sana hanyalah kematian.
"Duniaku kejam, Anya. Dan sekarang, dunia itu sudah tahu tentang teman-temanmu. Hanya di sini, bersamaku, kamu bisa hidup. Hanya denganku kamu aman," kata Marco.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪