[Dibuat 17-03-2022] (Karya Pertama)
Satu tahun lalu Zif melamar Shara, mereka bertunangan secara diam-diam dan baru melangsungkan pernikahan tanpa adanya dukungan sang ayah.
Alasan kasta yang berbeda membuat Ayah Zif tidak mau merestui hubungan mereka, Shara hanyalah gadis yang lahir dari keluarga biasa saja sehingga Zif terpaksa menggelar acara pernikahan mandirinya di hotel elit daerah Bali dan kejadian naas pun terjadi.
Tepatnya di malam pertama pernikahan mereka Shara harus merasakan nyeri yang sangat hebat di sebelah wajahnya.
Di detik-detik terjadinya akad nikah.
Seseorang dengan masker hitam telah menyiramkan cairan yang langsung meleburkan kulit mulusnya.
Shara bergeming saat Zif mengatakan bahwa "Aku tidak mengenamu!" setelah wajahnya hancur.
Di tengah frustasi nya Shara berteriak mengumpat suaminya nyaring kemudian menaiki besi pembatas geladak kapal yang entah milik siapa? Di tengah lautan lepas dia mencoba terjun. Lantas dalam sekejap Shara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasha Ayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta²
Hardika dan istrinya menyapa Dylan beserta keluarga besar, Mei kikuk ketika harus berhadapan langsung dengan Ethan, dahulunya, Ethan lah satu- satunya pemuda yang tahu hubungan terlarang antara Mei dan Gerald.
Begitulah masa lalu kelam Gerald, sepertinya Gerald sendiri sudah tidak mempermasalahkan lagi apa dan bagaimana Mei saat ini. Fokus Gerald teralihkan kepada adik angkat kesayangannya.
Di tengah kebisingan pesta Indar justru berwajah pucat, sedari tadi ponselnya berdering dan pesan teks dari nomor Deden terus menerus menerornya.
📩 "Indar, siap-siap dengan kematian mu juga! Kau akan di temukan mengerikan di bangunan kosong seperti ku."
Tak tahan dengan ancaman Shara, Indar pada akhirnya melayangkan panggilan telepon dan tak lama dari itu tersambung.
"Halo, wanita laknat!" Ia menahan suaranya agar tak tersiar kemana-mana.
📞 "Hai Indar. Sepertinya kau merindukanku, kalo rindu, bersabarlah sedikit, kita akan segera bertemu."
"Bajingan, beraninya cuma di telepon, awas saja kalo sampai ketemu, aku benar-benar akan membunuh mu, jangan bermain-main dengan ku wanita cacat!" Ketus Indar terlepas lantang. Dia bahkan tak menyadari bahwa dirinya masih berada di tengah-tengah keramaian pesta.
Beberapa orang di sekelilingnya menatap remeh Indar, ada juga yang bergidik ngeri mendengar kata ancaman wanita itu.
📞 "Sssuuuuutttt. Jangan keras-keras, orang bisa menganggap mu psikopat gila." Ledekan yang terdengar menyebalkan.
Indar mengedarkan pandangan, di mana semua orang menatap tidak suka padanya, jika di pikir lagi, perkataannya barusan memang cukup aneh "Berhenti meneror ku, katakan apa maumu wanita cacat!" Bisiknya dengan sedikit menutup mulut dan ujung smartphone nya.
📞 "Bujuk Zif menceraikan ku, suruh dia menandatangani gugatan cerai yang aku kirim padanya malam ini."
"Apa, cerai?" Indar terkesiap, awalnya dia pikir Shara mengancam dirinya agar dia tak lagi mengganggu Zif, tapi justru kebalikannya, Shara meminta bantuan untuk jalannya perceraian.
📞 "Yah, yakinkan dia untuk segera menandatangani berkas perceraian kami." Kemudian setelah itu, sambungan telepon terputus.
"Sial!" Indar mengusap dahi yang berkeringat "Oh Tuhan, bukankah jika Zif tahu Shara masih hidup akan ada kemungkinan mereka balikan? Kenapa aku harus memberitahunya?" Gumamnya.
Indar mengambil satu minuman berwarna merah dari meja bartender rumah besar tersebut, dia teguk air itu hingga tak bersisa, tak cukup puas dengan satu gelas, ia meraih satu gelas lagi, dia teguk kembali minuman keduanya.
Klik.... Pesan teks menggetarkan ponselnya, Indar tak kuasa untuk segera membacanya.
📩 "Indar, minuman itu sudah ku berikan sedikit sianida, hati-hati menyusul ku ke neraka."
"Uhuk-uhuk!" Indar terbatuk-batuk setelah menyemburkan kembali minumannya.
Semua orang menatap heran padanya. Sungguh kelakuan Indar menjadi sorotan banyak insan. Orang gila baru, begitulah kata umpatan para tamu.
Indar memukuli bagian atas dadanya sendiri berusaha mengeluarkan lagi cairan yang dia minum pada gelasnya "Uhuk-uhuk!"
"Indar, ..." Seseorang menyentuh pundaknya, Indar pun menoleh dan wajah calon mertuanya terlihat cemas "Ada apa Nak?" Tanyanya.
Indar mengambil tisu lalu mengelap bibirnya, ia menoleh ke kanan dan kiri memastikan tidak ada yang menyimak percakapan mereka "Shara Om, Shara meneror ku." Jelasnya.
Hardika mengernyit "Shara, Shara siapa?"
"Shara Om, Shara istri Zif."
"Jangan ngada-ngada kamu, bagaimana bisa begitu, kamu lihat sendiri, Shara di bawa pulang orang-orang Zif dan di kuburkan secara layak." Sergah Hardika.
"Awalnya aku tidak percaya Om, tapi dia benar-benar masih hidup, barusan saja dia menakut-nakuti ku, dia bilang menaruh sianida di minuman ku. Berarti Shara ada di tengah-tengah pesta." Terang Indar.
"Tidak mungkin." Meski berkata demikian, Hardika tak pernah meragukan putri dari teman karib kesayangannya.
"Permisi, ..." Di tengah-tengah ketegangan mereka, Cantik hadir mencoba mengambil alih perhatian "Malam Om Dika." Sapa nya tersenyum.
Hardika menoleh "Oh, malam Cantik, wah kamu sangat cantik malam ini." Sapa baliknya "Gimana kabar mu?" Tanyanya kembali.
"Baik Om. Tapi di lihat dari raut wajah, kalian berdua yang sedang dalam keadaan tidak baik." Ujar Cantik menatap Indar dan Hardika bergantian.
Indar membulatkan mata, menyimak suara Cantik yang sangat mirip dengan Shara "Oh Tuhan, kenapa aku baru menyadari? Suara Cantik mirip dengan Shara." Batinnya curiga.
Selama ini, Indar tak begitu memperhatikan Cantik, tak seperti Zif yang memang sudah menyadari dari awal pertemuan.
Pagi tadi dia berusaha merusak wajah Cantik, tapi kemudian tiba-tiba Shara muncul dan meneror dirinya "Jangan bilang, Cantik dan Shara." Indar menepis kembali pikirannya sebab baru kemarin Garry mengatakan bahwa Cantik adalah putrinya.
Melihat tampang Indar yang memucat, Shara menyunggingkan senyum seringai "Kamu pasti sedang mengumpulkan kepingan teka-teki yang aku buat untuk mu." Batinnya.
Selang tiga puluh menit.
Di sisi tempat lainnya, Zif tengah asyik berbincang ramah dengan para teman CEO nya, ada Juhie, Nathan dan yang lainnya.
Di tengah percakapan. Tak sengaja Zif menatap ke arah dokter Garry, ada Cantik di samping lelaki tampan itu, Zif tersenyum menatapnya "Cantik, malam ini dia sangat cantik." Gumamnya pelan.
Zif menatap ke arah Nathan "Sorry Nath, aku harus permisi sebentar." Pamitnya.
Nathan tersenyum "Tentu saja, silahkan, jangan sungkan menikmati jamuan kami." Ujarnya.
Zif menepuk pelan lengan Nathan kemudian berjalan menuju Cantik yang kini menatap dirinya.
"Malam Om. Cantik." Sapanya tepat di depan kedua orang itu.
"Malam Zif." Garry dan Shara bersamaan.
Sekitar lima menit, Zif melontarkan kalimat basa-basi pada Garry sebelum kemudian ia pamit membawa Cantik ke luar. Mumpung ada kesempatan, Zif ingin mengutarakan sesuatu pada wanita itu.
Terakhir pertemuan kemarin, sempat ada sesuatu di antara mereka. Zif mengusir Cantik di tengah-tengah cumbuan mesranya.
Garry mengizinkan mereka mengobrol tanpa dirinya, Cantik pun menurut mengikuti ajakan Zif yang membawanya ke sebuah parkiran mobil.
"Sudah ku bilang, jangan terlalu jauh dari ku Cantik!" Wanita itu memberhentikan langkah saat mendengar suara dari earphone di telinganya.
"Zif. Kita mau kemana?" Tanya Cantik.
Zif menoleh "Ke mobil, kita tidak akan kemana-mana, hanya saja, aku perlu membicarakan sesuatu dengan mu. Kita butuh tempat yang sunyi, kamu mau kan?" Tanya baliknya.
Shara mengangguk "Baiklah."
Zif meraih tangan Shara kemudian melanjutkan langkah menuju mobil miliknya, ia buka pintu dan mempersilahkan Shara masuk "Ayok Cantik." Ajaknya.
Shara masuk, duduk di jok penumpang bagian depan Zif menutup pintu, berjalan memutar kemudian masuk dan duduk di jok bagian kemudi.
Suasananya sunyi sebab tak lagi terdengar suara riuh dari para tamu undangan. Zif mendekat dia tatap wajah Shara dengan senyum manis di bibirnya "Aku mengajak mu ke sini, untuk meminta maaf, maaf soal kemarin- aku mengusir mu." Ucapnya.
"Tidak apa-apa, Zif."
Zif menggenggam tangan Shara sedang tatapannya masih teramat lekat padanya "Aku sudah memutuskan. Aku ingin membatalkan pernikahan ku dengan Indar. Dan menikahi mu." Ujarnya.
Shara mempertajam tatapan "Kamu yakin Zif?" Tanyanya.
"Iya, aku yakin aku akan mencintaimu, semakin hari, semakin bertambah besar rasa sayangku padamu. Aku ingin terus menatap mu, bersama dengan mu." Kata Zif.
Shara bergeming.
Melihat itu Zif memanfaatkan kesempatan untuk memangkas sedikit lagi jarak di antara mereka, mencondongkan tubuhnya mendekati wajah Cantik nya, tangannya merangkum sebelah pipi gadis itu.
"Jadilah istri ku. Sembuhkan lukaku. Aku menginginkan mu, aku menginginkan dirimu, Cantik." Zif tempelkan bibirnya dengan mata yang terpejam.
...🖋️••••••••••••🖋️...
...Berikan komentar dan like sebelum membaca bab berikutnya...