NovelToon NovelToon
Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Kebangkitan Sang Dokter Buangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Mafia
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Velyqor

Kayra Ardeane mengasingkan diri ke desa sunyi bernama Elara demi mengubur trauma masa lalunya sebagai ahli bedah. Namun, ketenangannya hancur saat seorang pria bersimbah darah menerjang masuk dengan peluru di dada. Demi sumpah medis, Kayra melakukan tindakan gila: merogoh rongga dada pria itu dan memijat jantungnya agar tetap berdenyut.

Nyawa yang ia selamatkan ternyata milik Harry, seorang predator yang tidak mengenal rasa terima kasih, melainkan kepemilikan. Di bawah kepungan musuh dan kobaran api, Harry memberikan ultimatum yang mengunci takdir Kayra.

"Pilihannya sederhana, Dokter. Mereka selamat dan kau ikut denganku, atau kita semua tetap di sini sampai musuh mengepung. Aku tidak akan membiarkanmu pergi ke tempat di mana aku tidak bisa melihatmu."

Terjebak dalam pelarian maut, Kayra menyadari satu hal yang terlambat, ia memang berhasil menyelamatkan jantung Harry, namun kini pria itu datang untuk mengincar jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velyqor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Labirin di Balik Dinding Kaca

Lampu operasi yang terang benderang menyalak seketika, menghapus sisa-sisa kegelapan hutan Elara dari pandangan Kayra. Ruang medis di dalam mansion ini bukan sekadar klinik pribadi, ini adalah puncak teknologi kedokteran yang dibalut dalam kemewahan dingin.

Dinding-dindingnya dilapisi panel baja kedap suara, dan peralatan di dalamnya jauh lebih canggih daripada apa pun yang pernah Kayra gunakan di rumah sakit pusat kota, apalagi di puskesmas kumuhnya.

"Dokter Ardeane, kami akan mengambil alih anestesi. Silakan Anda bersiap di area dekontaminasi," suara seorang pria dengan masker bedah terdengar datar namun sopan.

Kayra berdiri terpaku di sisi brankar. Harry masih menggenggam jemarinya, meski kesadaran pria itu mulai memudar akibat dosis sedatif yang disuntikkan tim medis mansion.

Genggaman itu perlahan melemas seiring dengan mata obsidian Harry yang tertutup rapat, namun jejak kehangatan dari kecupan di buku jarinya tadi seolah masih membekas di kulit Kayra, membakar seperti tanda kepemilikan.

"Dokter?" panggil paramedis itu sekali lagi.

Kayra menarik napas dalam, berusaha mengusir bayangan tatapan Harry dari benaknya. "Saya siap. Siapkan unit transfuse darah tipe O negatif. Dia kehilangan terlalu banyak darah selama pelarian.”

Sesaat kemudian, dunia Kayra menyempit menjadi seukuran lubang luka di dada Harry. Di bawah sorot lampu xenon yang dingin dan tajam, insting bedahnya yang selama dua tahun tertidur di Elara mendadak bangkit dengan presisi yang mengerikan.

"Skalpel," pinta Kayra datar, tangannya terulur tanpa menoleh.

Saat pisau bedah itu membelah jaringan, ia menemukan kekacauan di balik tulang dada Harry. Guncangan ambulans telah membuat fragmen peluru yang tersisa bergeser, mengoyak struktur otot jantung yang baru saja ia jahit di puskesmas. Darah segar kembali memenuhi rongga dada.

"Suction! Aku tidak bisa melihat sumber pendarahannya!" perintah Kayra tajam. Suara mesin penyedot cairan berdesis, menarik darah keluar hingga menyingkap pemandangan yang membuat asisten bedah di sampingnya menahan napas.

Ujung logam peluru itu bersarang hanya beberapa milimeter dari aorta asendens. Satu guncangan lagi, dan Harry akan tewas seketika akibat robekan pembuluh darah terbesar di tubuh manusia.

Dengan napas yang diatur sedemikian rupa, Kayra meraih pinset vaskular. Tangan yang tadinya gemetar saat memegang pistol, kini stabil bagaikan batu karang.

Ia bekerja di zona maut. Dengan gerakan yang sangat halus, ia menjepit pembuluh darah yang pecah, menghentikan aliran darah yang membanjir. Detik demi detik terasa seperti keabadian.

Kayra bisa mendengar irama monitor jantung Harry yang tidak stabil, ‘bip... bip... bip-bip-bip, menandakan jantung pria itu sedang berjuang melawan trauma.

"Benang prolene 4-0," bisiknya.

Ia mulai menjahit jaringan otot jantung yang robek. Setiap tusukan jarum melengkung itu dilakukan dengan akurasi mikroskopis. Kayra menjahit bukan hanya untuk menyambung daging, tapi seolah sedang merajut kembali nyawa pria itu. Ia bisa merasakan tekstur jantung Harry yang kuat namun terluka di bawah sarung tangan lateksnya, organ yang keras kepala, sama seperti pemiliknya.

"Pendarahan terkontrol," lapor Kayra setelah ikatan terakhir dikunci. "Lanjutkan dengan irigasi antibiotik hangat. Aku tidak mau ada satu pun kuman dari hutan itu yang tertinggal di dalam dadanya."

Ia membersihkan sisa-sisa serpihan logam dengan ketelitian seorang pemahat. Setiap gerakan tangannya adalah pembuktian bahwa trauma masa lalunya di rumah sakit pusat kota tidak pernah benar-benar menghancurkan kemampuannya.

Di sini, di bawah sorot lampu xenon ini, ia bukan lagi pelarian dari Elara, ia adalah malaikat maut yang sedang bernegosiasi dengan takdir untuk memenangkan nyawa Harry.

Ketajaman instingnya kembali sepenuhnya, digantikan oleh dorongan adrenalin yang berbahaya. Ia tahu, ia tidak sedang menyelamatkan seorang pasien biasa, ia sedang mempertahankan satu-satunya perlindungannya di dunia yang baru saja meledak ini.

Saat jahitan terakhir di kulit selesai dilakukan dan monitor menunjukkan irama jantung yang stabil, Kayra melangkah mundur. Ia merasakan seluruh sendinya kaku. Ia melangkah keluar dari ruang operasi dengan tubuh yang terasa remuk, melepas masker dan pelindung kepalanya, membiarkan rambutnya yang lepek oleh keringat terurai. Saat itulah ia menyadari bahwa ia tidak lagi berada di dunia yang ia kenal.

Seorang pria berseragam hitam berdiri di depan pintu operasi. Bukan Enzo, melainkan pria lain dengan wajah kaku seperti robot. "Dokter, Tuan Harry sudah dipindahkan ke unit pemulihan. Anda diperintahkan untuk beristirahat di kamar yang telah disiapkan."

"Di mana asisten saya?" tanya Kayra ketat. "Harry berjanji mereka akan selamat."

"Mereka sudah berada di perbatasan kota. Tuan Enzo sendiri yang memastikan mereka mendapatkan transportasi dan dana awal untuk memulai kembali. Anda tidak perlu khawatir, Dokter. Di sini, janji Tuan Harry adalah hukum."

Kayra hanya bisa mengangguk pasrah. Ia mengikuti pria itu menyusuri lorong mansion yang luas. Tempat ini adalah labirin kemewahan yang menyesakkan. Lantai marmer hitam yang mengilap memantulkan cahaya lampu gantung kristal, namun di balik keindahan itu, Kayra bisa merasakan kehadiran kamera pengawas dan sensor gerak di setiap sudut. Ini bukan rumah, ini adalah penjara emas.

Kamar yang diberikan kepadanya lebih luas dari seluruh bangunan puskesmasnya dulu. Ada bak mandi marmer, pakaian sutra yang sudah disiapkan di atas tempat tidur, dan jendela besar yang menghadap ke arah perbukitan batu.

Namun, Kayra tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar pada kata-kata Harry, ‘Iblis tidak pernah melepaskan malaikat yang telah menariknya kembali dari neraka.’

Didorong oleh rasa gelisah yang tidak tertahankan, Kayra menyelinap keluar kamar saat tengah malam. Ia ingin memastikan kondisi Harry secara langsung, atau mungkin, ia hanya ingin mencari jawaban atas kekacauan ini.

Mansion itu sunyi, hanya terdengar langkah kaki para penjaga di lantai bawah. Kayra bergerak dengan hati-hati, menggunakan instingnya untuk menemukan jalan kembali ke sayap medis. Namun, sebuah pintu kayu jati besar yang sedikit terbuka di ujung lorong menarik perhatiannya. Itu adalah ruang kerja Harry.

Rasa ingin tahu mengalahkan akal sehatnya. Kayra mendorong pintu itu perlahan. Di dalamnya, cahaya bulan masuk melalui jendela besar, menyinari sebuah meja kerja yang berantakan dengan dokumen dan layar monitor yang masih menyala.

Kayra melangkah mendekat. Di salah satu layar, ia melihat peta digital yang menunjukkan titik-titik merah di sekitar wilayah Elara. Namun, perhatiannya teralih pada sebuah map kulit yang terbuka di atas meja. Di sana, tertempel foto dirinya, foto saat ia masih menjadi ahli bedah di rumah sakit pusat, sebelum skandal itu menghancurkan kariernya.

Jantung Kayra berhenti berdetak sesaat. Harry sudah mengenalnya. Sejak awal, pria itu tahu siapa dia.

"Mencari sesuatu, Dokter?"

Kayra tersentak dan berbalik dengan cepat. Di ambang pintu, bersandar pada bingkai kayu dengan tiang infus di sampingnya, berdiri Harry. Pria itu hanya mengenakan celana kain hitam dan perban putih yang melilit dadanya. Wajahnya masih sangat pucat, namun matanya berkilat tajam dalam kegelapan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!