Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Sebenarnya, aku juga tahu sesulit apa untuk mencari tahu tentang kehidupan istri pertamanya Herman itu.
Kehidupannya di luar negeri, sangat amat rahasia dan tidak ada yang tahu. Jangankan apa yang ia lakukan, tempat tinggalnya saja mustahil untuk diketahui.
Aku tahu hal itu, dari kakak ku yang sudah berkali-kali mencoba mencari tahu bagaimana kehidupan madunya, selama berada di luar negeri.
Sekeras apapun kakak ku mencoba, seberapa banyak dan pintar orang yang ia kerahkan, namun tidak ada satu pun yang berhasil tahu di mana tempat tinggal madunya itu.
.....
Alina pov
Aku kembali bekerja seperti biasa. Menutup rapat-rapat kejadian tadi malam, adalah satu-satunya cara agar jati diriku tidak di ketahui orang lain. Tentunya, selain Mulya yang orang bilang kejam itu.
Seperti biasa, saat Mulya pertama masuk kedalam kantor, Mika akan menyambutnya dengan sangat manja.
Hal itu membuat aku merasa sangat jijik dengan gadis yang awalnya mampu membuat aku merasa nyaman untuk berteman. Tapi tahunya, ia tak lebih dari perempuan ular yang memiliki lidah bercabang.
Tidak seperti hari yang telah lalu. Hari ini, Mulya bersikap dingin pada Mika. Ia bahkan melirik aku saat pertama kali ia masuk kekantor. Matanya yang hitam itu, menatap hangat dan bersahabat padaku.
"Sayang, kamu kenapa sih? Ada salah apa aku pada kamu?" kata Mika saat mendapat perlakuan dingin dari Mulya.
"Tidak ada, hanya saja, mood pagi ini tidak bagus," kata Mulya sambil terus berjalan meninggalkan Mika.
Lima belas menit kemudian, asisten peribadi Mulya mendatangi aku.
"Tuan muda Nino, Tuan Mulya meminta anda untuk keruangannya segera," kata asisten itu dengan sangat sopan.
"Ada perlu apa Tuan Mulya ingin bertemu dengan saya?" kataku tidak mengerti sekaligus merasa sedikit getaran aneh yang melintasi hatiku.
"Maaf Tuan muda, saya tidak tahu soal itu."
"Ya sudah, tunggu sebentar lagi ya, saya akan menemui Tuan Mulya," ucapku sambil membereskan pekerjaanku yang hampir selesai.
"Tumben banget mas Mulya ingin bertemu dengan kak Nino, ada apa?" kata Mika ingin tahu, saat aku ingin beranjak dari tempat dudukku.
"Ntahlah, aku juga tidak tahu," ucapku datar tanpa ekspresi.
Aku terus berjalan meninggalkan Mika dengan wajah penasarannya. Jangankan Mika, aku juga sangat penasaran saat ini.
Ku ketuk pintu ruangan Mulya yang tertutup rapat ini. Ada rasa sedikit takut sebenarnya, namun aku tetap melangkah dengan sedikit rasa berani yang aku kumpulkan, sesaat sebelum tangan ini mengetuk pintu ruangan Mulya ini.
"Masuk!"
Terdengar suara yang mampu membuat jantung ini berdegup lebih kencang, mengizinkan aku masuk kedalam ruangan yang tertutup rapat ini.
Dengan tangan berat, aku dorong pintu ini sekuat tenaga. Hingga memperlihatkan siapa saja yang ada di dalam ruangan tersebut.
"Maaf, apa yang bisa saya kerjakan?" ucapku sedikit gugup.
Ya tuhan, aku tidak pernah segugup ini saat berhadapan dengan laki-laki selama ini. Lagian, aku juga bukan pertama kali bertemu dengan Mulya. Ini mungkin untuk yang kesekian kalinya. Tapi tetap saja, jantung ini tidak bisa aku kontrol ketika sudah berhadapan dengan laki-laki penuh wibawa dan kharisma yang begitu kuat.
"Duduk!"
Aku tidak menjawab, hanya melakukan apa yang ia minta saja padaku. Aku lakukan dengan senang hati, walau perkataannya terdengar sangat dingin saat ini.
"Ada ..."
"Tidak ada apa-apa, aku hanya ingin bertemu dengan kamu saja," ucap Mulya memotong perkataan ku dengan cepat.
Ia juga menghentikan pekerjaannya yang sedari tadi ia kerjakan.
"Lho, kok bisa?" kataku tak percaya dengan apa yang aku dengar barusan.
"Ya bisalah, aku sedikit cemas dengan kondisi kamu tadi malam. Jadi, itu sebabnya aku panggil kamu untuk datang keruangan ku."
"Aku tidak mungkin untuk bertemu dengan kamu, dan bertanya bagaimana kondisi kamu di depan orang banyak bukan?" kata Mulya lagi.
Aku tidak habis pikir dengan apa yang Mulya sampaikan. Benarkah ia mencemaskan keadaanku sekaang? Mungkinkah aku berada pada tingkat kesadaran yang wajar saat ini? Apakah ini nyata?
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe