Ding! [Terdeteksi host dalam bahaya. Mengaktifkan skill utama memori Materialization. Memanggil Item]
Dibuang dan difitnah hanya karena alur sebuah game VR? Itu bukan gaya Aruna. Terbangun di tubuh Auristela Vanya von Vance, seorang putri terbuang dengan Mana besar yang tersegel, Aruna memutuskan untuk mengacaukan skenario dunia ini.
Bermodalkan Project: Fate Breaker—sebuah sistem aneh yang hobi error di saat kritis—ia justru asyik menciptakan kekacauan versinya sendiri. Namun, satu masalah muncul: Asher de Volland, sang Ksatria Agung sedingin es, kini terpaksa menjadi pelindungnya.
Akankah petualangan ini mengungkap rahasia besar yang sengaja dikubur, atau justru membuat benua Xyloseria semakin kacau?
Ding! [Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 1%. Kesan ML: "Putri ini... sangat aneh."]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lil Miyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16: Eh? Bau apa ini?
Priiittt!! Suara peluit melengking keras terdengar, diikuti oleh suara langkah kaki yang beradu cepat di atas atap seng yang berkarat. Bayangan hitam anggota Viper’s Fang bergerak lincah di antara menara uap, mengepung dengan formasi yang sangat terkoordinasi.
Aruna melirik ke arah Asher yang masih terduduk lemas di dekat kakinya. Wajahnya sepucat kapas, cairan merah merembes melalui celah jirahnya, membasahi lantai atap yang kotor dan berkarat.
"Grrr! S1al, mereka terlalu cepat! Kita akan terkepung dalam hitungan detik!" seru Fenrir. Tuit... Tuit... Ia mengendus udara, matanya liar mencari jalan keluar di antara kepulan asap industri yang membubung tinggi.
"Fenrir! Berhenti menggeram seperti anjing gila dan angkut si Batu itu sekarang juga!" perintah Dranco dengan suara bariton yang penuh otoritas naga. Ia memutar kapak raksasanya dengan satu tangan seolah benda seberat ratusan kilogram itu hanyalah kayu ringan. "Kita tidak punya waktu untuk berdrama. Cepat!"
Huummn. Fenrir mendengus kasar, urat lehernya menegang karena tidak suka diperintah. Namun, ia tahu Dranco benar. Tanpa basa-basi, Fenrir melangkah maju, menyambar kerah jirah Asher, dan dengan kekuatan fisik luar biasa, Pluk. Fenrir menyampirkannya ke bahu seperti memikul sekarung beras.
"Ngh... Fenrir... turunkan... aku..." suara Asher sangat pelan. Sebagai Ksatria Agung yang disegani, harga dirinya runtuh saat dipikul seperti barang dagangan. Namun, tubuhnya terlalu hancur untuk memprotes.
"Grrr... Diamlah! Kau lebih berat dari kelihatannya!" gerutu Fenrir sambil berlari dengan kecepatan penuh.
"Ellish, buat jalur! Aruna, tetap di belakangku!" titah Dranco. Mereka melesat menembus kabut uap panas. Di tengah jalan Dranco sengaja menghantam beberapa katup uap, menciptakan ledakan asap putih yang mengaburkan jejak hawa panas tubuh mereka dari para pengejar.
Saat mencapai persimpangan gang yang gelap, Dranco melakukan gerakan tipuan dengan keset. Ia merobek kantong kulit berisi d4rah hewan dan melemparkannya ke arah barat. "Sekarang! Ke arah timur! Jangan sampai tertinggal!"
Mereka langsung menyelinap ke dalam pipa pembuangan raksasa, tepat sesaat sebelum rombongan pembunuh tiba. Aruna menahan napas, mengintip para pembunuh Viper's Fang yang tertipu oleh jejak d4rah palsu itu. "Mereka ke sana! Kejar!" teriak sang pembunuh. "Fiuhh... akhirnya mereka pergi... Ayo lanjut jalan, sebelum mereka kembali!"
Setelah menghindari jalan utama dan melewati rawa limbah yang berbau busuk, pemandangan kota logam perlahan menghilang. Digantikan oleh pohon-pohon purba dengan kulit kayu hitam legam dan urat merah yang berdenyut. Itulah The Primal Abyss, hutan bagian terdalam benua Xyloseria yang legendaris.
"Ayo masuk ke sana... Ini wilayah beast-kin, mereka pasti tidak akan berani mengejar kita ke dalam Abyss," gumam Ellish dengan suara gemetar kelelahan.
Mereka menemukan sebuah fosil kura-kura raksasa kuno yang membatu, dikenal sebagai Cangkang Dewa. Fenrir segera masuk dan menjatuhkan Asher ke lantai fosil yang dingin. Brukk!
"Huff... Huff... Huff... G!la... dia... Apa dia benar-benar terbuat dari batu? Berat sekali..." keluh Fenrir sambil jatuh terduduk. "Haiz... Pundakku hampir mati rasa."
Asher bersandar pada dinding fosil. Rambut emasnya yang biasa rapi kini lepek oleh keringat dingin. Matanya terpejam rapat, bibirnya membiru menahan rasa sakit. Aruna segera mendekat. Ia bisa merasakan hawa dingin yang tidak wajar dari tubuh pria itu. Mana Asher yang tadinya sempat stabil sejenak mulai kacau lagi.
'Aahh... S1al, Es Batu ini mulai menggigil. Ck... Kalau dia m4ti, siapa yang akan melindungiku?!' gerutu Aruna, meski tangannya dengan lembut menyeka dahi Asher.
Kruyuuukk~ Perut Dranco mengeluarkan suara gemuruh, diikuti oleh perut Fenrir dan Ellish. Mereka sudah mencapai batas fisik.
"Gadis kecil," Dranco menatap Aruna dengan mata lapar, "Jika kau tidak segera memberikan kami sesuatu yang bisa dimakan...."
Haaahh... Aruna menghela napas panjang. Ia menutup matanya, memanggil sistem. "Sistem... Lapar..."
Ding!
[Memproses permintaan host.
Mengakses skill utama Memory Materialization. Mengaktifkan sub-skill Magi Catering.
Memanggil item: Golden-Marrow Ramen & Grilled Phoenix-Chicken!]
Wush! Meja kayu muncul secara instan dengan empat mangkuk besar ramen yang mengepulkan uap panas. Aroma kaldu sumsum yang gurih dan ayam panggang madu langsung memenuhi ruangan.
"Wuah... Ini... Aromanya..." Tuit. Tuit. Sluurp... "Harum sekali... Ini apa, Auristela?!" Ellish terbelalak. Di tempat sekejam Primal Abyss, aroma ini adalah sebuah kemustahilan.
"Ssstt... Jangan banyak tanya, cepat makan!" jawab Aruna singkat. Ia mengambil satu mangkuk ramen dan duduk kembali di samping Asher. Aroma itu memaksa Asher membuka mata. Ia melihat Aruna sedang meniup kuah emas itu dengan hati-hati. Fuhh... fuhh...
"Aaahh... Ayo buka mulutmu, Asher," perintah Aruna datar, namun ada nada kepedulian di sana.
Blush... Asher memalingkan wajah, melihat Dranco dan Fenrir yang sudah berebut paha ayam. "Putri... aku bisa... sendiri..."
"Haahh... Berhenti sok kuat. Tanganmu gemetar seperti bayi kucing kedinginan," potong Aruna tajam. "Ayo makan ini sekarang! atau aku akan panggil Black-Void Obliterator untuk menyumpal mulutmu!!"
Asher akhirnya menyerah. Ia membuka mulutnya perlahan dan menerima suapan pertama. Ting! Seketika, ledakan rasa gurih menyapu lidahnya. Kaldu sumsum itu terasa kaya akan energi, seolah menyiram sel-sel tubuhnya yang kering. Mengisi dan mengatur mananya yang kacau, kembali stabil. Sup ini bahkan lebih efektif dari elixir ataupun sihir penyembuh tingkat tinggi. Deg... Deg... Deg... Jantung asher berdetak kencang.
Ding!
[Terdeteksi kedekatan dengan Asher de Volland: 65%.
Bonus/Catatan: Target merasa harga dirinya hancur karena dipikul Fenrir, namun merasa 'penuh' karena perhatian langsung dari host.
Kesan ML: "Ugghh... Memalukan... disuapi seperti anak kecil. Tapi kenapa... terasa begitu hangat? Auristela... kau benar-benar misteri yang paling berbahaya bagi jantungku."]
Aruna menyeringai kecil melihat rona merah mulai kembali di pipi Asher.
"Asher... Jangan menyerah... Bertahanlah... Aku butuh kau tetap hidup untuk menjadi pemandu nanti," bisik Aruna.
'Hehehe... Lagipula... wajahnya saat sedang tidak berdaya begini... terlihat sedikit manis.' Blush... 'Eh? Eh?! S1alan, apa aku juga tertular demamnya?' batin Aruna bingung.
Di sudut lain, Dranco menatap Aruna dengan hormat. "Gadis kecil... ini sihir paling hebat yang pernah kukenal seumur hidupku."
Tud... Tud... Fenrir hanya mengangguk setuju dengan mulut penuh daging ayam, sementara Ellish tampak menangis bahagia karena akhirnya bisa merasakan makanan yang lezat di tengah abyss yang menyesakkan ini.
"Makan yang banyak, kalian butuh stamina untuk berjaga malam ini," tambah Aruna sambil mengawasi teman-temannya. Ia melirik sisa kaldu di mangkuk Asher yang kini mulai habis, merasa sedikit lega melihat rona kehidupan kembali ke wajah ksatria itu.
Dranco mendengus puas, menyeka lemak ayam dari sudut bibirnya. "Jika kau bisa memanggil makanan seperti ini setiap hari, kurasa aku tidak keberatan menjadi pengawal pribadimu selamanya, Gadis Kecil."
Humn. Aruna hanya mendengus, berusaha menyembunyikan senyum tipisnya.