Carmela Alegro seorang gadis miskin polos dan lugu, tidak pernah membayangkan dirinya terjebak dalam dunia mafia.namun karena perjanjian yang dahulu ayahnya lakukan dengan seorang bos mafia. Carmela harus mengikuti perjanjian tersebut. Dia terpaksa menikah dengan Matteo Mariano pemimpin mafia yang dingin dan arogan.
Bagi Matteo pernikahan ini hanyalah formalitas. Iya tidak menginginkan seorang istri apalagi wanita seperti Carmela yang tampak begitu rapuh. Namun dibalik kepolosannya,Carmela memiliki sesuatu yang membuat Matteo tergila-gila.
Pernikahan mereka di penuhi gairah, ketegangan, dan keinginan yang tak terbendung . Mampukah Carmela menaklukan hati seorang mafia yang tidak percaya pada cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Berlian zahhara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjodohan yang Tidak Pernah Diminta
Carmela Alegro pertama kali belajar tentang diam bukan dari nasihat, melainkan dari kebutuhan.
Diam ketika ayahnya pulang dengan wajah letih dan mata kosong.
Diam ketika ibunya menghitung uang belanja dengan jari gemetar.
Diam ketika orang-orang dewasa berbicara tentang hidupnya seolah ia tidak duduk di sana.
Pagi itu, ia kembali diam.
Ruang tamu rumah mereka tidak luas. Dindingnya kusam, dengan bekas paku yang pernah menopang foto lama—foto ayahnya ketika masih tersenyum. Meja kayu di tengah ruangan penuh goresan, seperti sejarah kecil dari pertengkaran, doa, dan keputusan yang tidak pernah benar-benar adil.
Carmela duduk di kursi dengan punggung tegak. Rok panjangnya menutup lutut, tangannya terlipat rapi di pangkuan. Ia mengenakan pakaian sederhana, bukan karena tidak punya pilihan lain, tetapi karena sejak lama ia tahu: tampil sederhana adalah cara paling aman untuk tidak diperhatikan.
Pamannya duduk berhadapan dengannya. Pria itu berusia hampir lima puluh tahun, wajahnya keras, dengan nada suara yang selalu terdengar seperti keputusan akhir.
“Kami sudah bicara dengan keluarganya,” kata sang paman tanpa basa-basi. “Kesepakatan sudah dicapai.”
Kesepakatan.
Kata itu menggantung di udara, berat dan asing.
Ibunya duduk di samping Carmela, matanya sembab. Jari-jarinya terus memainkan ujung kain kerudungnya, kebiasaan yang selalu muncul ketika ia gugup atau tertekan.
“Ini keputusan terbaik,” lanjut pamannya. “Untuk semua orang.”
Carmela menelan ludah. “Keputusan tentang apa?”
Pamannya menatapnya sejenak, seolah menimbang apakah ia layak diberi penjelasan panjang. “Tentang masa depanmu.”
Ibunya menarik napas panjang. “Kau akan menikah, Carmela.”
Kalimat itu jatuh begitu saja, tanpa peringatan, tanpa pengantar. Seperti pintu yang ditutup terlalu keras.
Carmela berkedip. Ia tidak menjerit. Tidak bangkit dari kursinya. Tidak menangis.
Ia hanya merasa dunia di sekitarnya bergeser sedikit—cukup untuk membuat napasnya terasa sempit.
“Menikah?” ulangnya pelan.
Pamannya mengangguk. “Dengan pria yang baik. Keluarganya mapan. Berpengaruh.”
Ibunya menunduk. “Ini untuk kebaikanmu.”
Carmela memandang wajah ibunya lama. Ia ingin bertanya: kebaikan versi siapa? Tapi yang keluar justru pertanyaan lain.
“Siapa namanya?”
Pamannya tampak lega karena ia tidak langsung menolak. “Matteo Mariano.”
Nama itu membuat ruangan terasa lebih dingin.
Carmela mengenal nama itu. Semua orang mengenalnya—bukan dari cerita terang, tapi dari bisikan. Dari nada suara yang diturunkan. Dari kalimat yang dipotong sebelum selesai.
Keluarga Mariano adalah kekuasaan yang tidak perlu berteriak. Mereka hadir dalam izin usaha, dalam proyek besar, dalam perkara yang menghilang sebelum sampai pengadilan.
Dan sekarang, hidupnya akan diikat ke sana.
“Aku… belum pernah bertemu dengannya,” kata Carmela.
“Itu tidak penting,” jawab pamannya cepat. “Pernikahan bukan tentang perasaan. Ini tentang keamanan.”
Aman.
Kata itu terdengar seperti janji palsu.
“Apakah aku punya pilihan?” tanya Carmela.
Ia mengangkat wajahnya. Suaranya tetap sopan, tapi matanya jujur—penuh harap yang rapuh.
Keheningan jatuh.
Pamannya menghela napas. “Kita tidak hidup di dunia yang memberi banyak pilihan pada perempuan seperti kita, Carmela. Menolak berarti membuka pintu pada masalah yang lebih besar.”
Ibunya akhirnya menangis. Tangis tertahan, seolah ia takut suaranya terlalu keras dan akan membatalkan sesuatu.
“Maafkan Ibu,” bisiknya. “Ibu tidak bisa melindungimu dengan cara lain.”
Dan di situlah Carmela mengerti.
Ini bukan lamaran.
Ini pembayaran.
Di sisi lain kota, Matteo Mariano berdiri di ruang kerja ayahnya—ruangan luas dengan jendela tinggi dan aroma kayu tua. Dindingnya dipenuhi rak buku dan dokumen, sebagian besar tentang bisnis, sebagian lain tentang hal-hal yang tidak pernah dibicarakan di meja makan.
Matteo mengenakan kemeja gelap, lengan tergulung sampai siku. Rambutnya rapi, wajahnya tenang. Orang-orang sering menyebutnya dingin, tapi sebenarnya ia hanya belajar menahan reaksi.
Ayahnya duduk di belakang meja besar. “Kau tahu kenapa kita melakukan ini.”
Matteo mengangguk. “Untuk menenangkan pihak tertentu.”
“Untuk menutup celah,” lanjut ayahnya. “Dan untuk memastikan stabilitas.”
Tidak ada kata cinta di sana. Tidak ada kebahagiaan.
“Perempuan itu,” kata ayahnya, “tidak berbahaya. Latar belakangnya bersih. Ia akan patuh.”
Matteo mengalihkan pandangannya ke jendela. Dari sana, ia bisa melihat kota yang membesarkannya—tempat ia belajar bahwa kelembutan adalah kelemahan.
“Apakah dia tahu dunia apa yang akan ia masuki?” tanya Matteo.
Ayahnya tersenyum tipis. “Tidak sepenuhnya. Dan itu lebih aman untuk semua pihak.”
Jawaban itu membuat rahang Matteo mengeras.
Ia tidak merasa bersalah—belum. Tapi ada sesuatu yang mengusik. Sesuatu yang mengingatkannya pada dirinya sendiri bertahun-tahun lalu, ketika hidupnya juga diputuskan tanpa diminta pendapat.
“Kapan?” tanya Matteo.
“Segera.”
Matteo mengangguk. “Aku akan menjalankannya.”
Ayahnya tampak puas. “Ingat. Pernikahan ini adalah batas. Jangan membawa urusan lama ke dalamnya.”
Matteo tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata. “Aku tahu bagaimana memisahkan urusan.”
Padahal jauh di dalam dirinya, ia tahu: tidak ada yang benar-benar terpisah.
Malam itu, Carmela duduk di kamarnya yang sempit. Lampu redup menggantung di langit-langit, berayun pelan. Ia memandangi koper kecil di sudut ruangan—koper yang belum ia isi, tapi sudah terasa berat.
Ia mencoba membayangkan Matteo Mariano.
Wajahnya?
Suaranya?
Caranya memandang?
Tak satu pun yang jelas.
Yang jelas hanya satu: hidupnya akan berpindah tangan.
Ia tidak tahu apakah pria itu kejam atau hanya dingin. Ia tidak tahu apakah ia akan diperlakukan sebagai istri atau sebagai properti. Tapi instingnya—yang selama ini selalu membantunya bertahan—berbisik pelan: bersiaplah.
Carmela berbaring, memejamkan mata.
Ia tidak bermimpi malam itu.
Hanya ada perasaan jatuh perlahan, seperti seseorang yang melangkah ke air gelap tanpa tahu seberapa dalam dasarnya.
Dan di kejauhan, dua kehidupan yang sama-sama tidak meminta ini—perlahan bergerak menuju satu titik.
Bukan oleh cinta.
Bukan oleh harapan.
Melainkan oleh ketakutan yang berbeda bentuknya.