Mengisahkan sosok Jamal si bocah biasa dari desa, namun akhirnya mampu meroket hingga kekancah dunia. Entah itu dunia nyata atau bahkan dunia imajinasi.
Dia dipilih menjadi murid pribadi Sang Pendekar Legenda. Dilatih berbagai ilmu tentang pendekar. Seperti jurus-jurus, alcemis, formasi, dan penempaan senjata.
Ada apakah? Mengapa demikian? Simak kisahnya!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adib Mudzofar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membunuh Pertama Kali
Ling Tian melangkahkan kaki keluar gerbang Klan dengan tenang. Wajahnya terlihat jelas sangat bersemangat. Segala sesuatu untuk perbekalan telah dia bawa, seperti beberapa lembar pakaian untuk berganti, sebilah pedang pendek dan belasan keping koin perak dan perunggu.
Mata uang didunia tempat Ling Tian berdiri atau Benua Langit adalah koin platinum, emas, perak dan perunggu. Satu koin platinum setara dengan seratus koin emas. Satu koin emas setara seratus koin perak. Begitu pula dengan koin perak yang setara dengan seratus koin perunggu.
Setelah kepergian Ling Tian, beberapa orang tua dan lima pemuda yang bermasalah dengan Ling Tian keluar dari persembunyiannya. Alih-alih pergi, ternyata mereka membuntuti Ling Tian selama itu dan mengetahui tentang kepergian serta tujuan Ling Tian.
"Hahaha! Bagus! Akhirnya bocah keparat itu pergi dari Klan! Dan ternyata dia sudah gila!" ucap pemimpin kumpulan itu yang tidak lain adalah Ling Qinzu atau tetua agung.
"Benar! Bedebah itu memang gila! Hendak berlatih di Hutan Gelap? Hahaha! Aku harap dia mati dan tidak pernah kembali!" timpal tetua lainnya.
"Ini benar-benar kabar baik untuk Klan Ling kita! Si Cacat itu telah hengkang! Klan kita tidak akan dihina lagi oleh Klan-klan lain!" sahut Ling Xuan berani.
"Mari kita minum! Kita rayakan hari bahagia ini! Hahaha," ucap Ling Qinzu.
"Mari!" ucap mereka serentak.
Ling Tian sayup-sayup masih mendengar teriakan kegembiraan mereka. Dia menggeleng dan bergumam,
'Cih! Para orang tua bangka! Awas saja jika aku sudah kuat, akan aku dupak pantat kalian semua dan aku buat wajah kalian babak-belur!'.
Hutan Gelap yang menjadi tujuan Ling Tian terletak disebelah timur Kota Awan Biru. Hutan itu menjadi perbatasan antara Kota Awan Biru dengan Kota Hujan. Butuh waktu satu bulan untuk sampai disana. Sebelum itu, Ling Tian juga harus melewati satu desa yang sangat luas yaitu Desa Cendana.
Jika di Desa Cemara hanya dihuni oleh tiga Klan kecil atau tingkat 3, maka Desa Cendana ditempati delapan Klan menengah atau tingkat 2. Sudah bisa di kira-kita sendiri betapa luasnya desa itu.
Sebenarnya bukan hanya Hutan Gelap di Kekaisaran Wei saja yang menjadi momok menakutkan bagi para pendekar di Benua Langit. Di Kekaisaran Han daratan selatan ada Lembah Neraka, kemudian di Kekaisaran Xiao daratan tengah ada Hutan Berkabut. Tiga tempat itu diyakini dihuni oleh iblis kuat atau monster-monster beast tingkat tinggi.
Ling Tian terus berjalan tanpa terburu-buru. Kebetulan Klan Ling berada di ujung desa, hingga tak perlu waktu lama Ling Tian sudah sampai di perbatasan.
Satu penjaga yang melihat Ling Tian hendak melewati gerbang segera menyapa. Kebetulan penjaga tersebut mengenal Ling Tian.
"Ah! Tuan Muda Tian! Apa anda akan keluar dari desa?" basa-basinya ramah.
"Benar paman! Tolong bukakan gerbangnya!" pinta Ling Tian juga ramah.
"Baik Tuan Muda." jawabnya sambil memberi instruksi temannya membuka gerbang.
Ling Tian segera keluar dan melesat berlari kencang. Dia tidak bisa menggunankan ilmu meringankan tubuh dikarenakan tidak memiliki tenaga dalam. Namun dengan kekuatan fisik yang dimilikinya, Ling Tian hampir mampu mengimbangi kecepatan ilmu itu.
Belum jauh Ling Tian berlari keluar dari gerbang, dia melihat kearah depan ada sebuah pertarungan beberapa pemuda-pemudi dan para pria bertopeng. Ling Tian tentu tidak serta merta turun kelapangan. Dia terlebih dahulu mengamati pertarungan itu.
Dari pakaian pemuda-pemudi itu Ling Tian bisa mengetahui bahwa mereka adalah para murid Klan Wang. Pemuda-pemudi itu tampak begitu tertekan dan terdesak. Sedangkan kelompok pria bertopeng terlihat sangat menikmati pertarungan, bahkan terkesan mempermainkan lawannya. Beberapa kali mereka terlihat menoel-noel bagian intim dan sengaja melepas serangan mengenai pakaian para pemudi. Sontak terlihatlah bagian-bagian indah kewanitaan para pemudi tersebut.
Trank! Trank! Trank!
Dugg! Ugh!
Boom!
Salah satu murid Klan Wang terlempar terkena tapak.
"Uhuk! Uhuk!" pemuda itu batuk darah.
"Saudara Gou! Mereka terlalu kuat! Kultivasi mereka sudah ditahap Pendekar Besi tahap awal! Ini tidak baik!" ucap salah satu pemuda yang sudah terluka disekujur tubuhnya.
"Kamu benar saudara Peng! Para Bandit Belati Iblis ini tidak bisa kita lawan!" jawab pemuda Wang Gou.
"Hahaha. Menyerahlah anak muda! Serahkan cincin penyimpanan kalian dan tinggalkan para gadis itu!" ucap pemimpin bandit sambil tertawa dengan nada penuh napsu.
"Cuih! Jangan harap kami menyerah pada kalian! Sampai nyawa kami tercabut pun kami tidak akan pernah menyerah kepada kalian!" teriak Wang Gou.
"Hahaha. Baiklah! Akan kukirimkan nyawa kalian dengan cepat ke neraka!" ucap pimpinan bandit.
Setelah mengucapkan kata-kata, pimpinan bandit langsung melesat menyerang para muda-mudi Klan Wang dengan belatinya. Namun,
Syuuuttt!.. Trank!... Dugg!..
Bommmm!...
Pemimpin bandit itu terlempar.
"Yo.. Para tua bangka yang sudah bau tanah! Di hari-hari senja kalian bukannya bertobat dan banyak-banyak berbuat kebajikan, malah merampok! Aiiih!" ucap seorang pemuda tampan berdiri tegak dengan pedang pendek terhunus.
"Bajingan! Siapa kau! Mengapa kau ikut campur urusan kami?" bentak pemimpin bandit setelah bangkit.
"Aku bukan siapa-siapa! Hanya orang lewat saja yang tidak sengaja melihat perbuatan memalukan kalian!" jawab pemuda itu santai.
"Keparat! Cari mati! Baiklah, serang bocah sialan itu!" perintah pimpinan bandit.
"Baik!" jawab mereka serempak.
"Hoo! Kalian tak sabaran sekali! Baiklah!" ucap pemuda itu dengan wajah masih tenang seperti air. Tidak ada sedikitpun jejak ketakutan dirautnya.
Ya! Pemuda itu adalah Ling Tian. Setelah mengetahui titik permasalahan dan identitas masing-masing pihak, dan juga menyaksikan perbuatan tak senonoh para bandit, dia langsung bergegas menarik pedang dan melesat untuk menahan serangan belati sang pimpinan bandit.
Ling Tian memang tidak bisa mengukur tingkat kultivasi seseorang. Namun dia bisa merasakan kekuatan getaran tenaga dalam. Hingga menurutnya dia akan mampu mengatasi para bandit ini.
Saat ini Ling Tian sudah bersiap dengan kuda-kudanya. Dia dikelilingi sepuluh bandit dengan senjata masing-masing di tangan. Ya! Senjata itu adalah belati. Cocok dengan nama kelompoknya yaitu Bandit Belati Iblis.
"Hehehe... Menyerah sajalah anak muda! Kami akan memberikan kematian cepat kepadamu!" ucap salah satu dari mereka.
"Hmm..." tanggap Ling Tian.
Ling Tian berinisiatif menyerang terlebih dahulu, dia berfikir tidak ingin berlama-lama dan menunda perjalanannya. Dengan kekuatan fisik dan beberapa gerakan yang dilatihnya, dia menyerang.
"Hyaaatt!"
Trank! Trank!
Sreettt!
"Aaaaghh!" teriak salah satu bandit. Tangan kirinya terpotong pedang pendek Ling Tian.
"Kurang ajar! Dia cepat sekali! Waspada!" ucap satu bandit.
Pertarungan sengit terjadi. Sepuluh bandit yang mengeroyok Ling Tian terlihat beringas. Berulang kali mereka menyerang dengan tebasan namun selalu bisa dihindari Ling Tian. Salah satu dari mereka tiba-tiba keluar barisan dan muncul tepat dibelakang Ling Tian dengan sayatan belati cepat.
Swuusshh!
'Huh! Hampir saja!' gumam Ling Tian kaget.
Jika sedetik saja Ling Tian terlambat menghindar, sudah dipastikan punggungnya akan terluka parah atau bahkan dia tewas. Untung saja Ling Tian mempunyai institusi yang tinggi hingga bisa merasakan bahaya yang mendekat.
Setengah jam berlalu, Ling Tian menambah kapasitas kecepatannya. Dia tidak punya jurus pedang satupun. Dia hanya asal menebas saja. Namun karena kualitas tulang dan kekuatan fisik, dia mampu berkelebat dengan sangat cepat.
"Kita sudahi saja! Aku sudah bosan dengan kalian!" ucapnya.
Sreeett! Sreeett! Sreeett!
Tubuh para bandit mulai dipenuhi luka tebasan. Kecepatan mereka menurun drastis karena kehilangan banyak darah. Dengan cepat Ling Tian terus mengayunkan pedangnya tanpa ampun.
Sreeett! Sreeett!
Bukk! Bukk!
Satu persatu para bandit itu roboh namun tidak mati. Mereka hanya terluka parah dan kehilangan darah. Melihat anggotanya tak berdaya, pimpinan Bandit Belati Iblis menyerang dari arah titik buta Ling Tian.
Syuuutth!
Hampir saja Ling Tian terkena serangan fatal. Lagi-lagi sebab institusinya, dia cepat menghindar dan selamat.
"Dasar bandit sialan! Kau membuatku murka! Mati saja kau!" teriak Ling Tian. Dia menyarungkan pedangnya dan menggenggam erat kepalan tangannya.
Tiba-tiba aura langit dan bumi tertarik kearah Ling Tian. Pemimpin bandit serta para murid Klan Wang tentu kaget dengan kejadian itu.
"Bandit sialan! Rasakan pukulanku! PUKULAN PELEBUR BUMI!" teriak Ling Tian dan mendorong tinjunya kearah pimpinan bandit.
Swuuussh!
Booommmmm!
Ledakan besar terjadi. Pimpinan bandit yang tidak sigap menghindar, terkena bogem itu dan langsung hancur berkeping-keping. Tubuhnya tercerai-berai kemana-mana.
"Cih! Dasar bandit sampah! Kau harus bersyukur menjadi orang pertama yang aku bunuh!" seru Ling Tian acuh.
Pemuda-pemudi Klan Wang melihat kejadian itu bergidik ngeri, bulu kuduk mereka diseluruh tubuh merinding semua.
'Sosok yang mengerikan!' gumam mereka.
"Oi... Kalian para murid Klan Wang! Kalian kumpulkan para bandit itu! Ambil semua cincin penyimpanannya!" ucap Ling Tian.
"B-baik Tuan Muda." jawab mereka cepat.
.
.
.
________________&&&&.
Tinggalkan like, komentar, atau votenya...
Kata-kata hari ini:
"boleh lelah.. tapi jangan menyerah.." ... 😴(baiklah)
🤣🤣🤣
ngintip dong lobang pantatnya... 🤣
PEMALAS...!!!
ISI SATU JILID TAK SEBANDING DG IKLAN...
DASAR PENULIS MALAAAS...!!!
HARAM JADAH IKLAN NYA, SANGAT MENGGANGGU...!!!