Ketika ada yang telah mengisi hati Amara, datanglah seseorang yang membuatnya kembali ke kisah masa lalu yang ingin di lupakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Arafa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berhasil
Hari ini, hari yang di tunggu telah tiba. Waktunya untuk mbak Sofia datang ke butik. Semua persiapan sudah 100%. Semua gaun sudah sempurna. Tersembunyi di ruangan bu Zahira yang aman. Hal itu karena kami tak mau kejadian kemarin terulang lagi. Setelah empat hari yang penuh dengan keringat dan kerja keras. Kini saatnya kami melihat reaksi dari empunya gaun. Semoga dia puas akan hasil kami kali ini.
" Nanti setelah mbak Sofia datang dan semua beres, kita makam di luar buat merayakannya. Kita hargai hasil kerja kita sendiri. Kita beri penghargaan untuk diri sendiri. Agar kedepannya bisa semakin memotivasi kita untuk menjadi lebih baik. Jika orang lain tak mau menghargai kita maka kita sendiri yang harus menghargai diri sendiri kan? betul? " Bu Zahira menyemangati kami yang sejujurnya merasa takut jika karya kami masih cacat atau kurang sempurna.
" Betul banget bu" jawab Amara dan Nayla kompak.
" Ya sudah kita tunggu orangnya datang dulu. Mungkin bentar lagi".
" Pasti dia lagi sibuk banget kan acara pertunangannya besok. Apa dia sempat datang? ". Nayla membuka obrolan saat kami telah kembali ke rutinitas seperti hari sebelum datang proyek bersama mbak Sofia.
" Iya ya mbak. bener.. Kalau dia nggak dateng gimana? atau kalo nggak dia minta orang lain yang ambil. Kita nggak bakal tahu hasilnya. Dia suka atau nggak.".
" Menurut kamu dai bakal dateng nggak? ".
" Entahlah.. tapi semoga saja dia datang. Aku pengen lihat wajah puasnya saat melihat hasil usaha kita. Usaha yang bener bener menguras tenaga dan pikiran, juga waktu*.
" Semoga saja. Jadi lelah kita bisa terobati".
Disaat kami ngobrol terdengar ada yang mengucap salam.
*Assalamu'alaikum"... sapa seseorang dari arah pintu. Suara seorang laki laki yang sangat aku kenal.
" Wa'alaikum salam" jawab kami serempak.
Ternyata yang datang Arsaka. Tapi dia sendiri, tanpa mbak Sofia. Tepat seperti dugaan kami.
" Ada yang bisa kami bantu mas? ". Nayla bertanya sopan.
" Saya utusan dari kak Sofia. Dia berpesan agar saya mengambil gaun pesanannya". Arsaka menjawab dengan tenang.
" Jadi dia nggak datang sendiri? Dia nyuruh kamu? " Amara menimpali.
"Ya dia sibuk lah kan ini udah H-1 acara"
" Kalau ada yang tidak sesuai gimana? ".
" Ya.. itu urusan kalian nanti. Tapi aku di minta melihat hasilnya dulu sebelum membawanya pulang".Arsaka tegas menjelaskan.
Dia masih Arsaka yang dulu, tegas dan berkarakter.
Sementara mbak Nayla terlihat mematung. Mungkin dia heran melihat kami yang sudah saling mengenal.
"Kalau begitu biar aku panggil ci bos dulu". Nayla pun pergi menuju ruangan bu Zahira meninggalkan kami berdua.
" Kalau misal dia nggak suka atau hasilnya nggak sesuai espektasinya gimana Ka.. " Tanyaku ragu.
" Ya kalian siap siap aja menanggung akibatnya. Dia keras lho".
" Kok kamu ngomong gitu. Bikin aku tambah takut aja". Amara pun memasang wajah kesal di sertai bibirnya yang cemberut.
"Hahaha... kamu masih sama Ra.... tetep gemesin. Ini nih salah satu yang bikin aku nggak bisa lupa". tawanya seakan mengejek ku. Tapi kata berikutnya membuatku bungkam. Apa iya dia nggak bisa lupa?.
Tiba tiba dua orang wanita muncul dari balik pintu ruangan kerja ny Zahira. Nayla datang bersama sang atasan sambil menenteng sebuah paper bag di tangan kanan nya.
" Kenapa yang sarang kamu? bukan Sofia langsung. Lalu bagaimana kami bisa tahu kalau gaun gaun itu sesuai dengan keinginan dia atau tidak? ". Ba Zahira langsung bertanya pada Arsaka.
" Maaf tapi dia sangat sibuk dan tak bisa datang sendiri. Makanya saya yang datang".
Arsaka masih dengaan senyumnya. " Nanti saya lihat dulu gimana keadaan gaun nya. Kalu menurut saya cocok ya saya bawa. tapi kalau tidak cocok berarti kalian harus tanggung jawab jika acara besok gagal.".Suaranya terdengar mengancam.
" Tapi butik ini lan langganan kak Sofia. Pasti tahu dong gimana dia. Gimana seleranya. Dan sejauh ini dia tidak pernah kecewa dengan produk dari sini".
" Ya sudah silahkan di lihat dulu ".Nayla nengarahkan paper bag yang ada di tangan nya kepada Arsaka".
Dengan teliti Arsaka membuka paperbag itu. Matanya sibuk menyusuri setiap inci dari gaun gaun nya. Tatapannya tajam menusuk setiap benda di depannya. Seolah mencari sesuatu yang cacat untuk kemudian di celanya. Hati ku pun dag dig dug menunggu kata yang akan di ucapkan.
" Semuanya utuh tanpa cacat. Dan sepertinya kak Sofia akan sangat puas karena ini sempurna". Lega rasanya mendengar dia meng ucapkan nya.
" Ok saya akan membawanya untuk di serahkan kepada kak Sofia". lanjut nya lagi.
" Baik kalu begitu. silahkan. Kami senang jika kamu mengatakan seperti itu".
" oh iya apa saya boleh pinjam Amara sebentar". Aku terkejut mendengar dia mengucapkannya. Dia meminta ijin kepada bu Zahira sebelum pergi.
" Ini jam kerja. Nggak bisa". Tolak ku tegas.
" bentar doang kok". Dia memohon pada ku
"Ya udah nggak papa. tepi sebentar saja dan jangan keluar. bu Zahira malah mengijinkan.
" ok. Hanya 5 menit "
" Ada apa? Mau ngomong apa? " Tanyaku setelah kami menjauh beberapa meter kasi Nayla dan bu Zahira.
" Kak Sofia ingin kamu besok datang ke acara tunangannya. Jadi besok aku jemput kamu jam tujuh malam ok..., . "..
" masa sih... kok tanpa undangan"?.
" Ada kok" Dia mengeluaran undangan berwarna biru laut " Nih kamu di undang. sama mereka juga".
" Makasih".
Arsaka pun pamit pulang sambil membawa gaun itu. Tak lupa dia memberikan undangan kepada Bu Zahira adan mbak Nayla.
" Kata kak Sofia kalian harus datang ke acara besok. Kalian harus lihat bagaimana dia tampil dengan gaun dari butik ini" Arsaka berucap setelahnya dia benar-benar pergi dari butik.
Kami harus datang apapun yang terjadi. Aku pengen lihat gimana cantiknya mbak Sofia memakai gaun itu.