NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Rumahhantu / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu
Popularitas:22.7k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 013 : JERITAN YANG TERHAPUS

Malam di Rumah Sakit Adio Medical Center merangkak lambat dalam balutan hening yang mencekam.

Di salah satu sudut koridor yang sunyi, Pram dan Teguh tampak berjalan terburu-buru menuju ruangan kerja Adio.

Di tangan mereka, sebuah tablet menampilkan sebuah surel mendesak yang dikirim oleh seorang kurator museum dari Venesia, Italia.

Surel itu berisi laporan mengerikan tentang seorang fotografer dokumenter asal Indonesia bernama Aris yang dilaporkan hilang di Pulau Poveglia—sebuah pulau terlarang yang pernah menjadi tempat pembuangan korban wabah pes.

Yang membuat kasus ini mendesak adalah kondisi adik kandung Aris, seorang bocah laki-laki bernama Niko, yang saat ini juga sedang dirawat di rumah sakit ini karena penyakit misterius yang membuat tubuhnya perlahan menghitam secara tidak wajar, seolah-olah kutukan wabah purba sedang memakan dagingnya dari dalam.

Namun, sebelum Pram dan Teguh sempat mengetuk pintu, Adio sudah berdiri di depan mereka. Wajah sang dokter tampak kaku, guratan kecemasan terukir jelas di matanya.

Tanpa banyak bicara, Adio merebut tablet itu dari tangan Teguh. Ia membaca baris demi baris permohonan bantuan yang ditujukan khusus untuk Rachel Gautama tersebut.

Kalimat-kalimat di sana penuh dengan keputusasaan, memohon Sang Muara untuk datang sebelum Aris benar-benar menjadi abu di pulau kematian itu.

"Dok, ini untuk Mbak Rachel. Mereka bilang Aris mungkin masih hidup di sana, dan itu satu-satunya cara menyelamatkan Niko yang makin kritis di bangsal bawah," ujar Pram hati-hati.

Adio tidak menjawab. Jempolnya bergerak cepat di atas layar, menuju ikon tempat sampah, lalu menekan tombol Delete.

"Jangan beritahu Rachel. Kondisinya masih sangat labil, saraf motoriknya baru saja pulih sepuluh persen. Jika dia tahu soal ini, dia akan nekat pergi," ujar Adio dengan suara rendah namun tajam.

"Biarkan dia fokus pada kesembuhannya. Aku tidak akan membiarkan dia mati di pulau abu itu hanya karena ego profesional kalian."

Pram dan Teguh hanya bisa terdiam, tak berani membantah meski mereka tahu tindakan Adio ini adalah bom waktu yang siap meledak jika sampai telinga sang Muara.

Mereka hanya bisa menatap punggung Adio yang menjauh dengan rasa bersalah yang menghimpit dada.

Sementara itu, di dalam kamar rawatnya yang hanya diterangi lampu nakas temaram, Rachel duduk bersandar pada tumpukan bantal.

Suasana sunyi malam itu mendadak pecah oleh denting notifikasi dari ponselnya. Ia membuka aplikasi Instagram dan menemukan sebuah permintaan pesan dari akun asing tanpa foto profil.

Rachel membuka pesan itu. Di dalamnya, berderet foto-foto yang sanggup membuat darah membeku.

Foto pertama adalah reruntuhan rumah sakit jiwa Poveglia yang diselimuti kabut kelabu. Foto berikutnya jauh lebih brutal: tubuh Aris yang terkapar di tengah tumpukan tulang dengan kulit yang menghitam dan mengelupas tragis, seolah-olah dikuliti oleh tangan tak terlihat saat ia masih bernapas.

Di sudut foto, tampak sosok bayangan Dokter Wabah bertopeng paruh burung yang berdiri menatap kamera dengan lubang mata yang kosong.

......"Aku sudah memberitahumu melalui surel. Tetapi kau tidak membalasnya!" tulis orang di seberang sana.......

Rachel menghela napas panjang. Ia meletakkan ponselnya, lalu dengan tenang mengambil sepotong apel yang sudah diiris rapi di meja samping ranjangnya.

Saat ia mulai mengunyah perlahan, merasakan tekstur buah yang dingin di lidahnya, sosok Barend dan Albert muncul secara perlahan di sudut kamar yang gelap. Kehadiran mereka membawa hawa dingin yang familiar.

"Senja tadi, aku melihat mereka bertiga sedikit bertengkar perihal surel yang masuk," ujar Barend dengan suara berat yang bergema pelan di dinding kamar.

"Lalu Pak Dokter itu, dia menekan tombolnya," sambung Albert sambil melayang rendah di dekat kaki ranjang.

"Dan dua rekanmu yang biasa memegang kamera mengatakan... kenapa dihapus?"

Rachel menghentikan kunyahannya. Ia terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

Ia tahu ini ulah Adio. Ia paham betul bahwa pemuda itu sangat khawatir padanya, begitu takut kehilangan dirinya hingga rela bertindak di luar batas profesionalnya demi melindungi nyawanya yang masih rapuh.

Namun, penderitaan Aris dan kondisi Niko yang perlahan membusuk di gedung sebelah adalah sesuatu yang terlalu tragis untuk diabaikan.

Tepat pukul dua belas malam, pintu kamar terbuka perlahan. Adio melangkah masuk dan melihat Rachel masih terjaga.

"Kenapa masih belum tidur?" tanya Adio dengan suara sangat lembut.

Rachel tersenyum tipis, lalu menepuk pelan sisi ranjang yang sengaja ia sisakan untuk Adio.

"Duduklah," bisiknya.

Rachel duduk meringkuk memeluk lututnya sendiri, menatap ke arah atap-atap kamar. Ia memberi isyarat kecil pada Gelanda untuk membawa anak-anak ghaib di bawah umur pergi dari sana. Ini akan menjadi perdebatan orang dewasa antara dirinya dan Adio.

"Kamu tahu?" tanya Rachel memulai pembicaraan saat suasana sudah benar-benar steril.

"Apa?" jawab Adio sambil memperhatikan gadis itu. Di keremangan, surai lurus Rachel yang terurai tampak jatuh dengan indah, membuatnya terlihat cantik sekaligus rapuh.

"Aku itu gak pernah nolak kalau orang-orang minta bantuan ke aku," ucap Rachel tanpa menoleh.

Adio terkejut, mencoba berpura-pura tak tahu. "Maksudnya?"

Rachel akhirnya menoleh, menatap Adio dengan sangat lembut.

"Pak dokter, aku paham kalau kamu itu khawatir ke aku. Tapi, aku juga gak bisa matiin kemanusianku."

Adio menghela napas berat.

"Aku gak bisa nglepas pasienku yang belum stabil ini begitu aja kalau belum pulih total, Rachel!"

"Aku akan baik-baik saja," jawab Rachel tegas.

Adio memperhatikan Rachel dengan rasa khawatir yang luar biasa. Sejujurnya, ia ingin sekali mengatakan bahwa ia sangat mencintai Rachel.

Namun, bayangan Thoriq—kekasih Rachel yang telah lama tiada—seolah masih dipeluk erat oleh hati Rachel. Adio membuang mukanya ke arah jendela. Saat itulah, Rachel secara refleks menyentuh telapak tangan Adio.

Seketika, sekelebat pikiran Adio masuk ke kepala Rachel:

'Aku mencintaimu! Tapi kamu masih memeluk nama Thoriq di sana. Bagaimana aku mengatakannya? Jangan pergi. Karena aku tidak mungkin sanggup bernafas tanpamu, Rachel!'

Rachel terenyuh dan tersentak secara bersamaan.

"Aku takut kalau terjadi apa-apa sama kamu. Paham?" ujar Adio parau.

Di detik itu, Rachel seolah melihat bayangan Thoriq pada diri Adio—tatapan yang sama, ketulusan yang sama. Namun ia segera menepisnya. Ia sadar yang ada di depannya sekarang adalah Adio.

"Keyakinanmu itu... keraguanku, Hel," lanjut Adio lagi. Suaranya bergetar tanpa berani menatap mata Rachel.

"Kamu ngomong sama siapa? Rachel di sini, bukan di sana, Pak dokter!" tutur Rachel sedikit bercanda.

Saat Adio akhirnya menoleh, Rachel menangkup wajahnya.

"Kalau gitu, kamu ikut aja! Kita pergi bareng ya! Kamu ambil cuti, temani aku ke sana! Kamu dokter pribadiku sekarang!"

Adio terkesiap, lalu menghela napas panjang tanda menyerah pada keras kepala Rachel.

"Sebelum kita memanggil yang lain... bawa aku melihat Niko," bisik Rachel kemudian.

Dengan bantuan kursi roda yang didorong pelan oleh Adio, mereka menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi menuju Bangsal Isolasi.

Di balik kaca, Rachel melihat Niko. Bocah itu terbaring kaku, kulitnya hitam pekat seperti arang yang membusuk, merintih memanggil nama Aris.

Rachel menyentuh kaca pembatas dengan ujung jemarinya yang bergetar.

"Lihat dia, Adio. Dia membusuk hidup-hidup karena kakaknya ditahan kegelapan di sana. Bagaimana aku bisa tidur nyenyak jika aku tahu aku punya kunci untuk menghentikan ini?"

Adio berdiri di belakangnya, meletakkan tangan di bahu Rachel.

"Aku paham sekarang, Hel. Aku benar-benar paham."

Tepat pukul tiga pagi, Rachel memanggil seluruh tim ke kamar rawatnya. Cak Dika, Rara, Melissa, Pram, Teguh, Mas Suhu, dan Marsya yang masuk paling terakhir sambil mengucek matanya.

"Ada kasus baru. Aris terjebak di Poveglia, dan adiknya, Niko, sedang sekarat di gedung sebelah. Kita berangkat ke Italia subuh ini," ujar Rachel tegas.

"Mbak, sampean gendeng ta?" Marsya memekik kaget.

( Mbak, kamu gila ya?)

"Iki dudu piknik nang pasar kaget, Mbak! Iku Italia! Sampean mlaku ae isih koyo penguin karena sarafmu lara, kok malah kepingin nangkis setan londo!"

(Ini bukan piknik ke pasar kaget, Mbak! Itu Italia! Kamu jalan saja masih seperti penguin karena sarafmu sakit, kok malah ingin menangkis setan luar negeri!)

Melissa ikut menimpali sambil berkacak pinggang.

"Rachel, be real. Tubuhmu itu isinya baru kabel dan jahitan. Kamu mau nyelamatin orang atau cuma mau nambahin koleksi mayat di sana?"

Rachel hanya tersenyum jenaka namun serius.

"Tenang, Melissa. Kalau aku mati di sana, setidaknya aku mati dengan gaya. Lagipula, Adio ikut. Kalau jahitanku copot, dia tinggal lem lagi, kan?"

Rara hanya menggelengkan kepala, sementara Cak Dika dan Mas Suhu hanya bisa terdiam pasrah. Mereka tahu benar, jika Rachel sudah berkata demikian, perdebatan telah usai.

"Bayangkan, jika seorang kakak di sana rela mengambil resiko demi adiknya yang akan mati. Lalu kegelapan mencuranginya dan kita tahu itu! Apakah kita akan berpura-pura buta?" suara Rachel naik satu oktaf.

"Jangan bunuh kemanusiaanmu selagi kamu masih mampu bernafas!"

Malam itu, persiapan menuju tanah abu Poveglia pun dimulai dengan penuh ketegangan dan tekad yang bulat.

1
Ela Jutek
ternyata kau gak berjodoh dengan Thoriq ya Hel
Ela Jutek: aku urong ngantuk ki pie jal
total 10 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
luar biasa ceritanya kakak Author. aku sebenarnya kurang suka cerita horor, tapi pas baca ini ternyata beda😁😁, ku kira bakal gentayangan terus hantunya ternyata tidak. malah hantunya ngajak debat juga😁😁, sukses terus kakak karya barunya, semoga berhasil jadi karya yang paling Top 👍👍
Stanalise (Deep)🖌️: 🤣 Maacih kakak, btw di season ini aku lebih fokus ke gerbang sejarah kelam dunia kak. Yang urban legend dan kisah nyata. biar orang2 tahu juga. kalau peristiwa gila di masa lalu itu ada.
total 1 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Wah yang lagi bahagia. Ayo para hantu kalian menepi dulu🤣🤣
Ela Jutek
kerennn sih ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok diragukan 😁😁. jiwa penyelamat sudah mendarah
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kok di lawan🤣🤣
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Yang lagi takut kenapa napa dengan Rachel ini🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
apa yang dibilang Rachel sangat benar banget lho
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
cieee Adio berani jujur tidak kamu nantinya 😁😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Untung Rachel selamat. semoga nanti bisa bertemu lagi dengan Thoriq kamu
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
tak bisa membayangkan lagi aku, serem banget 🤭🤭
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Rachel kamu sangat luar biasa, jiwamu sangat pemberani 👍👍
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Sabar Marsya, kamu harus kuat supaya misi kalian bisa terselesaikan
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
haduuuh dimakan apa ini maksudnya
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
menyeramkan tapi bikin penasaran ingin tahu 😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
uhuk uhuk uhuk .. cie cie cie 🤣🤣
Ela Jutek
ikut petualangan lagi nie
Ela Jutek: ngokeh deh😉
total 4 replies
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Nah baru tahu kan kamu😁
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Semoga Rachel berhasil mengembalikan sukma klaus ini
🥑⃟ᄂ⃟ᙚ🍁Rahma❣️💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Ayo Marsya senangat bermain cantik juga ya😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!