Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Ketinggian di Jakarta
Truk sayur itu akhirnya berhenti di sebuah gudang distribusi di pinggiran Jakarta Timur saat matahari mulai terik. Arum dan Baskara keluar dari tumpukan karung kol dengan pakaian yang kotor dan bau tanah, namun tatapan Arum setajam silet. Mereka segera berganti pakaian di toilet umum pasar Arum mengenakan kemeja putih polos dan kacamata hitam, menyamar menjadi asisten kantoran biasa di tengah belantara beton Jakarta.
"Kita punya waktu dua jam sebelum sistem keamanan bank memberikan akses penuh pada penyusup di Perpustakaan Nasional," Arum memeriksa jam tangannya.
Mereka naik taksi online menuju Medan Merdeka. Di sepanjang jalan, layar-layar videotron raksasa menampilkan wajah Profesor Darmono yang sedang memberikan konferensi pers darurat. Ia menyebut adanya "sabotase data oleh oknum desa di Navasari" dan meminta masyarakat tidak terprovokasi.
"Dia sudah membangun narasi untuk menjadikan kita penjahat, Rum," bisik Baskara sambil menatap layar tersebut.
"Biarkan saja. Semakin tinggi dia membangun menara kebohongannya, semakin sakit saat kita meruntuhkannya dari bawah."
Mereka sampai di Gedung Perpustakaan Nasional. Gedung tertinggi di dunia untuk kategori perpustakaan itu menjulang angkuh. Arum tidak lewat pintu utama yang dijaga ketat. Ia menggunakan kartu akses lama milik ibunya yang ternyata masih memiliki frekuensi magnetik yang sinkron dengan sistem lift pegawai sebuah celah keamanan yang sengaja ia pelihara lewat peretasan ringan di truk tadi.
Lantai 24 adalah area referensi langka. Sepi, dingin, dan dipenuhi aroma kertas tua. Di pojok ruangan yang menghadap langsung ke Monas, seorang wanita duduk membelakangi mereka.
"Kau terlambat lima menit, Arum," suara itu bukan suara Siska. Lebih berat, lebih serak.
Wanita itu berbalik. Arum terkesiap. Wajah wanita itu dipenuhi bekas luka bakar di sisi kiri, namun matanya... mata itu identik dengan mata yang Arum lihat di cermin setiap pagi.
"Ibu?" suara Arum nyaris tak terdengar.
"Bukan. Aku adalah Sekar, adik kembar ibumu yang selama ini kau kira meninggal dalam kebakaran 1995," wanita itu berdiri. Di depannya terdapat sebuah laptop yang sedang memproses transfer data bank. "Darmono mengira dia sudah menghabisiku, tapi dia hanya menghancurkan wajahku, bukan ingatanku."
"Jadi 'S' itu... Sekar? Dan kau yang mencoba mengakses rekening Ibu?" tuntut Arum, tangannya tetap siaga di dalam tas.
"Aku butuh dana itu untuk mengaktifkan 'Protokol Pembersihan'. Darmono telah mengunci semua jalur hukum. Satu-satunya cara meruntuhkannya adalah dengan membeli seluruh utang perusahaan bayangannya dan melakukan hostile takeover (pengambilalihan paksa) secara instan. Aku butuh sidik jarimu, Arum. Rekening itu dikunci dengan biometrik garis keturunan."
Baskara maju selangkah. "Kenapa kami harus percaya? Bagaimana kalau kau bekerja untuk Darmono untuk menjebak Arum agar membuka kunci aset itu?"
Sekar tersenyum pahit. Ia menyodorkan sebuah foto fisik yang belum pernah Arum lihat. Foto Ratna, Sekar, dan Profesor Darmono muda. Di belakang foto itu tertulis: "Hanya yang memiliki darah dan logika yang bisa menutup buku ini."
"Darmono sedang menuju ke sini," Sekar menatap jendela. "Dia tahu koordinat akses rekening ini. Jika kau tidak membuka kuncinya sekarang, dia akan membekukan aset itu selamanya, dan Navasari akan benar-benar tenggelam."
Arum melihat ke arah layar laptop. Proses enkripsi itu membutuhkan pindai retina. Jika ia melakukannya, triliunan aset hasil kejahatan Darmono akan berpindah tangan. Tapi ke mana? Ke tangan bibi yang baru ia kenal, atau kembali menjadi milik publik?
"Arum, jangan!" Baskara memperingatkan. "Ini terlalu cepat!"
Tiba-tiba, pintu lift berdenting. Sekelompok pria bersetelan safari gelap keluar, dipimpin langsung oleh Profesor Darmono. Ia tidak lagi tersenyum pahlawan. Wajahnya penuh amarah dingin.
"Sekar... aku seharusnya memastikan kau benar-benar jadi abu tiga puluh tahun lalu," ujar Darmono sambil mengeluarkan sebuah alat pengacak sinyal (signal jammer). "Arum, serahkan map itu dan menjauhlah dari laptop itu. Kau tidak tahu apa yang sedang kau mainkan."
Arum berdiri di antara Sekar dan Darmono. Ia memegang map merah di tangan kiri, dan jari kanannya berada tepat di atas sensor pemindai laptop.
"Profesor, mari kita lakukan audit terakhir," ujar Arum tenang. "Anda ingin aset ini, dan Sekar ingin balas dendam. Tapi Navasari... Navasari hanya ingin keadilan."
Arum menekan tombol, tapi bukan untuk pindai retina. Ia memasukkan baris perintah perintah script yang sudah ia siapkan.
"Apa yang kau lakukan?!" teriak Sekar dan Darmono bersamaan.
"Aku baru saja menyumbangkan seluruh isi rekening itu ke Dana Kompensasi Korban Lingkungan Global yang diawasi oleh PBB. Uang itu tidak akan jatuh ke tangan Anda, Profesor. Dan juga tidak ke tanganmu, Sekar. Uang itu kembali ke bumi."
Wajah Darmono memerah tua. "Kau menghancurkan segalanya!"
"Tidak," Arum tersenyum bangga. "Aku baru saja menyelesaikan auditnya. Hasilnya: Nol. Tidak ada lagi alasan untuk memperebutkan Navasari."
Namun, kemarahan Darmono belum usai. Ia memberi kode pada anak buahnya untuk bergerak maju. "Jika aku tidak bisa memiliki hartanya, maka tidak boleh ada saksi yang tersisa."
Angin kencang menerjang kaca jendela lantai 24 Perpustakaan Nasional, seolah-olah alam ikut merasakan ketegangan yang nyaris meledak di dalam ruangan. Profesor Darmono melangkah maju, bayangannya memanjang di atas lantai marmer yang dingin. Di belakangnya, para pengawal bersetelan gelap mulai membentuk formasi mengepung.
"Kau pikir kau sangat pintar, Arum?" suara Darmono bergetar karena amarah yang ditahan. "Kau baru saja membuang kunci masa depan energi bangsa ini ke dalam sistem birokrasi internasional yang lamban! Kau menghancurkan kerja kerasku selama tiga dekade!"
"Kerja keras?" Arum berdiri tegak, meski jantungnya berdegup kencang. Ia menggenggam tangan Baskara yang sudah bersiap pasang badan. "Anda menyebut penindasan, pencucian uang, dan pembunuhan sebagai kerja keras? Dalam buku audit saya, itu disebut sebagai kerugian total."
Sekar, yang wajahnya masih memerah karena marah sekaligus takjub, menatap laptop yang kini menampilkan status Transaction Complete. "Arum, kau tidak tahu apa yang kau lakukan... Tanpa dana itu, kita tidak punya perlindungan hukum untuk melawan mereka di pengadilan!"
"Kita tidak butuh dana itu untuk melawan, Sekar," balas Arum tajam. "Kita hanya butuh kebenaran yang tidak bisa dibeli."
Darmono memberi isyarat kecil dengan jarinya. Dua pengawal maju untuk merebut tas Arum.
"Ambil map itu. Dan pastikan mereka berdua tidak pernah keluar dari gedung ini," perintah Darmono dingin.
Tepat saat tangan pengawal hendak menyentuh bahu Arum, suara dentuman keras terdengar dari arah lift barang di belakang mereka. Bukan polisi, bukan pula tentara.
Marno muncul dengan mengenakan seragam petugas kebersihan gedung, namun di tangannya ia memegang sebuah alat pemadam api raksasa. Tanpa peringatan, ia menyemprotkan isi tabung itu ke arah tengah ruangan.
Syuuuhhhhhh!
Kabut putih pekat seketika menyelimuti lantai 24. Pandangan menjadi nol dalam sekejap.
"Sekarang, Mas! Lari ke tangga darurat!" teriak Arum.
Dalam kebutaan total itu, Arum tidak lari ke arah lift. Ia tahu lift sudah dikunci oleh orang-orang Darmono. Ia menarik Baskara menuju rak-rak buku referensi langka. Di sana, Arum sudah merencanakan sesuatu sejak ia masuk tadi.
"Arum, kita terjebak!" bisik Baskara saat mereka sampai di pojok ruangan yang buntu.
"Tidak, Mas. Lihat ini." Arum meraba dinding di balik rak buku nomor 900. Ia menekan sebuah tuas kecil yang tersembunyi.
Rak buku itu bergeser pelan, menyingkap sebuah lorong sempit yang merupakan jalur pembuangan sampah kertas otomatis (chute) yang sudah lama tidak digunakan namun masih terhubung ke lantai dasar.
"Ini gila, Arum! Kita akan meluncur 24 lantai?!"
"Hanya sampai lantai 20, Mas! Di sana ada penahan jaring pengaman karena sedang ada renovasi! Percayalah pada kalkulasiku!"
Arum mendorong map merah ke dalam baju Baskara, lalu mereka berdua melompat masuk ke dalam lorong gelap itu tepat saat para pengawal Darmono menembus kabut asap.
Wuuussshhh!
Rasa mual menghantam perut Arum saat gravitasi menariknya jatuh dengan kecepatan tinggi. Namun, pikirannya tetap fokus. Di dalam kegelapan lorong, ia menyalakan lampu ponselnya. Ia melihat tanda yang ia cari: Jaring nilon besar di lantai 20.
BUK!
Mereka mendarat dengan keras di atas jaring. Tubuh Arum terasa remuk, namun ia segera bangkit. Ia mengeluarkan laptop kecilnya yang masih menyala di dalam tas.
"Apa yang kau lakukan sekarang?" tanya Baskara sambil meringis kesakitan.
"Darmono mengira dia sudah memutus sinyal di lantai 24 dengan jammer-nya," Arum tersenyum tipis sambil mengetik perintah terakhir. "Tapi di lantai 20 ini, aku kembali terhubung dengan WiFi tamu. Aku baru saja merilis 'Audit Pamungkas' ke seluruh jaringan berita internasional. Bukan cuma soal lithium, Mas. Tapi soal keterlibatan Darmono dalam pendanaan kampanye gelap yang menggunakan dana panti asuhan tadi."
Di luar gedung, suara sirine polisi mulai terdengar masif. Bukan satu atau dua mobil, tapi puluhan. Media massa yang sudah mendapat "umpan" dari Arum sejak tadi kini sudah mengepung gedung Perpustakaan Nasional.
Arum melihat ke arah jendela. Di bawah sana, ribuan warga Jakarta yang melihat live streaming Arum tadi mulai berkumpul di depan gedung, meneriakkan nama Darmono dengan penuh kemarahan.
"Audit publik sudah selesai, Mas," bisik Arum. "Sekarang tinggal audit hukum."
Namun, saat mereka hendak turun lewat tangga konstruksi, Sekar muncul di hadapan mereka. Ia tidak ikut melompat, melainkan turun lewat jalur kabel lift. Wajahnya yang rusak tampak mengerikan di bawah lampu darurat yang berkedip.
"Arum, Darmono punya helikopter di atap. Dia akan kabur sebelum polisi sampai ke atas," kata Sekar sambil menyodorkan sebuah alat pemantik. "Hancurkan helikopternya dengan sistem pemadam api gedung. Kau tahu caranya, kan?"
Arum menatap bibinya, lalu menatap laptopnya. Ia punya pilihan: membiarkan Darmono diadili oleh hukum, atau memastikan pria itu tidak pernah meninggalkan gedung ini dengan cara yang lebih brutal.
menegangkan ..
lanjut thor..