NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GUNAKAN AKU SEPUASMU

Pintu utama kediaman Andreas tertutup dengan dentuman keras di belakang mereka. Harvey menarik Melisa menuju mobil dengan langkah lebar, hampir membuat Melisa tersandung. Begitu mereka masuk ke dalam kabin mobil yang kedap suara, keheningan yang menyesakkan langsung menyergap.

Harvey menghidupkan mesin, namun ia tidak segera melaju. Tangannya mencengkeram kemudi hingga buku jarinya memutih.

"Kenapa, Harvey?" Suara Melisa pecah. Getaran di bahunya yang sedari tadi ia tahan kini meledak menjadi kemarahan yang meluap.

Harvey tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan tatapan sedingin es.

"Kenapa kau membawaku ke sana?!" teriak Melisa, air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. "Hanya untuk mendengar bahwa ibuku hanyalah seorang buruh cuci? Hanya untuk dihina sebagai 'benalu' di depan wajahmu? Kau tahu mereka akan melakukan itu, kan?"

"Aku membawamu untuk menunjukkan pada mereka bahwa kau di bawah perlindunganku, Melisa," jawab Harvey datar, suaranya rendah namun tajam.

"Perlindungan?" Melisa tertawa getir di tengah isaknya. "Itu bukan perlindungan! Kau menggunakan aku, Harvey. Kau menggunakan aku sebagai tameng untuk menolak perjodohan dengan putri kolega papamu itu, kan?"

Harvey akhirnya menoleh. Matanya yang gelap tidak menunjukkan empati sedikit pun. "Jika itu cara tercepat untuk membuat mereka berhenti menjodohkanku, maka itu yang harus dilakukan. Kau butuh uang untuk Narendra, dan aku butuh tameng untuk statusku. Kita sudah sepakat tentang itu."

"Tapi tidak dengan cara mengizinkan mereka menghina martabat keluargaku!" Melisa memukul dasbor mobil dengan frustrasi.

Harvey menginjak gas dengan tiba-tiba, membuat tubuh Melisa terdorong ke sandaran kursi. Mobil itu melesat membelah jalanan malam dengan kecepatan tinggi.

"Dunia ini tidak peduli pada martabatmu jika kau tidak punya kekuatan, Melisa," ujar Harvey sambil menyalip kendaraan lain dengan kasar. "Orang tuaku tidak akan berhenti. Dengan membawamu ke sana, aku sudah menetapkan garis perang. Sekarang mereka tahu, menyentuhmu berarti berurusan dengan aset rumah sakit mereka."

"Kau gila..." bisik Melisa, memalingkan wajah ke jendela, memandang lampu kota yang kabur karena air mata. "Kau tidak menyelamatkanku, Harvey. Kau hanya memindahkan aku dari satu penjara ke penjara lain yang lebih mewah."

Harvey tidak membantah. Ia terus mengemudi dengan ekspresi kaku, rahangnya terkatup rapat. Di balik sikap dinginnya, ia tahu bahwa malam ini ia telah menghancurkan satu-satunya sisa kepercayaan yang mungkin masih dimiliki Melisa padanya—tapi bagi Harvey Andreas, itu adalah harga yang pantas dibayar demi memegang kendali penuh.

*

Mobil berhenti dengan decit ban yang tajam di basement apartemen mewah milik Harvey. Keheningan di dalam kabin terasa mencekam, seolah oksigen di sana telah habis terbakar oleh amarah. Melisa langsung membuka pintu, melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun pada Harvey.

Harvey menyusul dengan langkah lebar, rahangnya mengeras. Begitu mereka masuk ke dalam penthouse, Melisa langsung berjalan menuju jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, memunggungi Harvey. Ia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menahan sisa-sisa harga dirinya yang sudah hancur berkeping-keping.

"Melisa." panggil Harvey terdengar rendah, sebuah peringatan yang berbahaya.

Melisa tetap diam. Bahunya yang tegang adalah satu-satunya jawaban.

Sikap diam Melisa memancing emosi Harvey yang memang sudah di ambang batas sejak di kediaman orang tuanya. Ia melangkah mendekat, mencengkeram lengan Melisa dan memutar tubuh wanita itu hingga mereka berhadapan.

"Kau pikir kau siapa, berani bersikap seperti ini setelah aku membelamu di depan orang tuaku?" Harvey mendesis, matanya berkilat tajam. "Ingat posisimu. Aku sudah membayar mahal untuk waktumu, untuk kesetiaanmu, dan untuk setiap napas suamimu di rumah sakit itu."

Harvey mencondongkan tubuh, napasnya terasa hangat namun dingin di kulit Melisa. "Malam ini... aku ingin menagih apa yang sudah aku beli. Dan aku tidak menerima penolakan."

Melisa menatap mata Harvey. Tidak ada lagi ketakutan yang biasanya terpancar. Rasa sakit yang teramat dalam di hatinya seolah telah berubah menjadi mati rasa yang dingin. Jika ia memang dianggap sampah oleh orang tua Harvey, dan dianggap barang oleh Harvey, maka ia akan menjadi barang yang paling mahal yang pernah Harvey miliki.

Melisa perlahan mengulas senyum—sebuah senyum yang tidak mencapai matanya, namun terlihat sangat menantang.

"Hanya itu yang kau inginkan, Harvey?" tanya Melisa dengan suara yang mengejutkan tenangnya.

Tangan Melisa yang gemetar perlahan naik ke kerah kemeja Harvey. Ia melepaskan satu per satu kancing kemeja pria itu dengan gerakan yang lambat, berani, dan penuh provokasi.

"Kenapa harus menunggu ditagih?" Melisa melangkah maju, memperpendek jarak hingga tubuh mereka bersentuhan. Ia mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Harvey yang kini tampak terkejut dengan perubahan sikapnya.

"Ambil apa yang kau mau. Bukankah aku hanya wanita yang sudah kau beli?" Melisa berbisik tepat di depan bibir Harvey. "Gunakan aku sepuasmu. Hina aku sesukamu, seperti yang ibumu lakukan tadi. Bukankah itu alasanmu membawaku ke sini? Untuk menunjukkan bahwa kau adalah pemilikku?"

Melisa menarik tangan Harvey dan meletakkannya di pinggangnya, memaksa pria itu untuk mendekapnya lebih erat. "Jangan ragu, Harvey Andreas. Bukankah kau pria yang selalu mendapatkan apa yang kau bayar? Aku di sini. Lakukan tugasmu sebagai 'tuan' atas hidupku."

Mata Harvey menggelap. Ucapan Melisa yang menantang bukannya meredam amarahnya, justru menyulut api kecemburuan yang selama ini ia tekan di balik topeng profesionalismenya. Kalimat "Ambil apa yang kau mau" bergema di kepalanya, memicu ingatan pahit bahwa di atas kertas, wanita ini adalah milik pria lain—Narendra.

Setiap kali Harvey melihat Melisa, ia melihat bayang-bayang Narendra. Fakta bahwa Melisa tetap setia pada pria yang bahkan tidak bisa berdiri itu membuat ego Harvey terluka.

"Kau pikir dengan menyerahkan diri seperti ini, aku akan merasa kasihan padamu?" Harvey berbisik kasar, tangannya mencengkeram pinggang Melisa lebih erat hingga wanita itu mengerang kecil.

Harvey tidak berhenti. Ia justru semakin terdorong oleh kemarahan yang irasional. Ia merasa perlu membuktikan bahwa ia bisa memiliki apa yang Narendra miliki, bahkan lebih.

"Kau benar, Melisa. Aku sudah membayar mahal. Dan malam ini, aku tidak ingin mendengar nama pria itu, atau status suci pernikahanmu yang menyedihkan itu," Harvey menyentak tubuh Melisa, merapatkan jarak hingga tidak ada lagi ruang di antara mereka.

Ia memilih untuk lanjut. Bukan karena kasih sayang, melainkan karena rasa kepemilikan yang destruktif. Dalam pikirannya, jika ia tidak bisa memiliki hati Melisa secara utuh, maka ia akan memastikan tidak ada satu jengkal pun dari tubuh wanita itu yang tidak ia kuasai.

Melisa memejamkan mata erat-erat saat Harvey mulai menciumnya dengan kasar, sebuah ciuman yang terasa seperti hukuman daripada kemesraan. Air mata yang mengalir di pipi Melisa tidak membuat Harvey berhenti. Pria itu justru semakin haus akan pengakuan bahwa malam ini, dan malam-malam selanjutnya, Melisa adalah miliknya—bukan milik narendra yang terbaring lemah itu.

Di balik kemewahan penthouse itu, terjadi sebuah pertarungan batin yang sunyi. Melisa menyerahkan tubuhnya untuk melindungi nyawa suaminya, sementara Harvey mengambil haknya untuk menutupi rasa ketidakberdayaannya karena tidak bisa memiliki jiwa Melisa sepenuhnya.

"Ingat ini, Melisa," Harvey berbisik di sela napasnya yang memburu, "di tempat tidur ini, tidak ada Narendra. Hanya ada aku. Pemilikmu yang sebenarnya."

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!