Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Suasana malam itu terasa dingin. Jalanan tampak lenggang dengan hiasan lampu jalan yang bergemerlap di sepanjang jalan.
Di dalam mobil.
Seorang gadis cantik bermata dark hazel sedang mengawasi, seperti mengintai sesuatu yang menurutnya berbahaya.
"Kau nyaman, Nak?" suara lembut, dengan sentuhan ringan pada kepalanya membuat gadis cantik itu menoleh.
"Iya," angguknya pelan, wajah polos dengan binar mata indah itu bak bintang kecil di langit malam.
Malam itu suasana tampak tenang, tidak ada guruh atau sesuatu yang berbahaya. Namun, suasana canggung begitu terasa di dalam mobil yang di tumpangi Aurora Bellazena.
"Boleh aku bertanya?" suara Aurora memecah keheningan di tengah badai khawatir yang di rasakan dua orang paruh baya itu.
"Iya, katakan sayang! Jangan sungkan!" wanita paruh baya itu, Adeline Azzurri Kusuma berujar lembut pada Aurora.
"Putri kalian, oh maksud ku putri yang tertukar denganku, apa kalian tidak ada niat mengembalikan dia ke keluarga aslinya?" Aurora bertanya, hanya ingin saja tanpa ada niat apapun.
"Jangan mentang-mentang kau putri asli di keluarga Harvey kau bisa mengusir Anjani dari rumah, bagaimana pun Anjani tetap adikku!" suara seorang gadis terdengar tegas di telinga Aurora.
"Aku hanya bertanya, tidak perlu menegaskan apapun, Nona Aruna!" balas Aurora tak kalah tegas, ia tak pernah takut karena hidup susah dan kelaparan lebih menakutkan dari pada bentakkan itu.
Sedangkan Aruna Lisandy Harvey hanya mendengus sinis, dia memutar bola matanya malas.
"Aruna, jangan bicara ketus begitu pada adikmu!" tegur Adeline.
Aruna tak peduli, dia melirik sinis Aurora yang tampak tenang duduk di antara ia dan Mamanya.
Mobil berbelok, melewati sebuah pintu gerbang kediaman mewah keluarga Harvey, rumah dengan desain Eropa berhalaman luas itu menjadi tempat tinggal keluarga Harvey.
Para pengawal dan pelayan berjajar rapi, saat pintu di buka, mereka semua menunduk sebagai sambutan pada sang majikan.
"Selamat datang, Nona muda!" sapaan hangat, dan tegas di dapatkan oleh Aurora. Namun, ia tahu ini hanya sebagai formalitas saja.
Mereka semua berjalan pelan dengan Aurora di antara kedua orang tua kandungnya. Hingga Aurora mendengar bisik-bisik panas yang membuat matanya melirik tajam.
"Dia putri kandung, Harvey?" salah seorang pelayan berbisik, dengan tatapan yang sinis melihat penampilan Aurora.
"Iya, kenapa dekil dan kumuh sekali," yang lain menimpali dengan tak kalah sinis.
"Iya, lebih pantas Nona Anjani yang menjadi putri dari Harvey dari pada dia," ungkapnya dengan bisikan kecil.
Bisik-bisik itu terus terdengar, Aurora hanya memiringkan bibirnya sinis saat mendengar bisikan itu.
"Aku memang tak pantas menjadi putri asli keluarga kaya, itu karena sejak kecil aku berjuang sendiri!" suara Aurora lantang, hingga bisikan itu terhenti, bahkan langkah Adeline, Baskara dan Aruna sampai terhenti.
"Kenapa sih?" tanya Aruna sinis.
"Nak, ada apa?" Adeline bertanya lembut, dia berusaha untuk mencintai Aurora karena bagaimana pun gadis itu lah putri kandungnya.
"Seperti para pelayan anda tak suka saya, Nyonya! Mereka lebih mencintai putri anda itu dari pada saya, lalu untuk apa anda membawa saya kembali?" tatapan Aurora menuntut penjelasan tegas.
"Nak, kenapa? Siapa yang tidak menyukai kamu? Katakan pada Mama!" minta Adeline lembut.
Aurora menunjuk empat pelayan yang sejak tadi berbisik, mereka sudah pucat pasi saat ternyata bisikan sinis mereka pada Aurora terdengar langsung. "Mereka, kata mereka Anjani lebih pantas menjadi putri Harvey dari pada aku yang jelas kumuh dan dekil ini," ungkapnya tanpa ampun.
Baskara dan Adeline menoleh, keduanya menatap pada empat pelayan yang di tunjuk Aurora itu dengan tajam.
"Benar kalian membicarakan Aurora?" tanya Baskara.
"Tuan, say-"
"Pa, mana mungkin mereka berani bicara seperti itu? Sedangkan mereka pelayan lama dan tahu aturan, jelas ini pasti akal-akalan Aurora saja!" Aruna berujar sinis dengan menatap tak suka pada Aurora.
"Saya baru tahu jika putri kandung ini di ragukan, dan saya pun tak menyangka statusnya bahkan jauh lebih rendah dari pelayan itu sendiri," Aurora mengucapkan itu sinis dengan wajah acuh.
"Nak, jangan bicara begitu! Bukan maksud kakakmu untuk meragukan mu," kata Adeline lembut, ia tak mau Aurora tidak nyaman di rumahnya sendiri.
"Ma," protes Aruna.
"Runa, dia adikmu, jangan selalu menyudutkan dia, sayang!" jelas Adeline.
Aruna kesal, dia menatap Aurora tajam sebelum akhirnya masuk lebih dulu meninggalkan kedua orangtuanya bersama Aurora di luar rumah.
Adeline dan Baskara hanya bisa menarik napas pelan, mereka tahu Aruna belum bisa menerima kehadiran Aurora karena kasih sayangnya pada Anjani.
"Nak, jangan di ambil hati ya, Mama yakin Kakak mu hanya belum siap," jelas Adeline lembut, keibuan pada sosok Aurora.
"Saya tahu, tak mudah menerima orang asing sebagai putri kandung dan adik kandung, bahkan saya yakin kalian pun belum sepenuhnya menerima, iya kan?" Aurora menanyakan itu dengan tatapan polos. Dia juga menekan kata asing dan itu membuat Adeline merasakan perasaan tak nyaman.
Sedangkan Adeline dan Baskara hanya bisa diam membisu tak mampu menjawab pertanyaan dari Aurora.
"Sudah, Pa, selidiki masalah tadi!" minta Adeline, dia ingin tahu apa yang di katakan Aurora itu benar atau tidak.
"Kalian kemari!" minta Baskara.
Mereka berempat maju, wajah pucat dengan tubuh gemeteran itu jelas terlihat oleh mata tajam Bagaskara.
"Apa yang Nona Muda Aurora katakan benar?" tanya Baskara.
"Tuan, kam-"
"JAWAB SAJA! TAK PERLU BERBELIT-BELIT!" tegas Baskara.
Akhirnya mereka mengaku dan itu membuat Baskara juga Adeline meradang, mereka tak suka keturunan Harvey di gosipkan buruk walaupun itu oleh pelayannya sendiri.
"Kalian di pecat!" tegas Baskara.
"Tuan, tolong jangan pecat kami! Kami tahu salah," salah satunya memohon, di ikuti oleh yang lain.
"Tuan, tidak perlu memecat! Mereka hanya belum menerima," permintaan dari Aurora membuat para pelayan terkejut.
Adeline dan Baskara akhirnya setuju, mereka membiarkan para pelayan itu untuk kembali bekerja dengan syarat tak ada lagi gosip buruk tentang Aurora di kediaman Harvey.
Sedangkan di sudut lain, ada seseorang yang mengawasi, dia mengeratkan cengkramannya pada dress yang ia gunakan dengan sorot mata benci.
"Kau datang untuk merebut, tidak akan aku biarkan itu Aurora! Karena semua ini milikku," ucapnya sinis dan penuh kebencian.
...****************...
Ruang tamu keluarga Harvey.
"Kenalkan dia Aurora, sayang!" kata Adeline, dia tersenyum lembut dengan binar mata indah saat memperkenalkan Aurora pada Anjani.
Anjani Rosalinda Harvey, gadis yang tertukar dengan Aurora itu bangun, dia memandang Aurora dengan senyum lembut.
Sedangkan Aurora hanya diam, tak tersenyum seolah ia tahu bahwa senyum yang di tunjukkan oleh Anjani itu sebuah kepalsuan di balik topeng manis yang ia pasang.
selalu d berikan kesehatan😄