Shen Kuo Yu, bilioner wanita yang tewas di puncak kejayaannya karena kebocoran jantung, ia terbangun di tubuh Liu Xiao Xiao- gadis malang yang disiksa oleh keluarga angkatnya. Takdir pahit menantinya. Ia dipaksa menggantikan saudari tiri nya untuk menjadi pengantin pengganti dan menikahi Pangeran Keempat yang konon buruk rupa dan berhati kejam.
Shen Kuo Yu akan menaklukan Pangeran itu dan menjadikan nya bidak untuk membalas dendam pada Keluarga Liu yang memperlakukan nya seperti binatang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANWi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14 : Menginap
Paviliun utama milik Pangeran Zhi Chen jauh lebih luas, namun terasa sangat dingin dan sunyi. Hanya ada beberapa lilin yang menyala, menciptakan bayangan panjang di dinding kayu yang gelap. Begitu sampai di depan pintu besar, Zhi Chen berhenti dan menoleh pada Mao yang tampak menggigil.
"Pelayan, kau tidurlah di kamar belakang paviliun ini. Kamar itu kosong dan cukup aman untukmu," ujar Zhi Chen dengan suara mutlak yang tidak bisa dibantah.
Mao melirik Xiao Xiao dengan ragu, namun Xiao Xiao hanya mengangguk kecil. Setelah Mao pergi dengan langkah terburu-buru, Zhi Chen beralih pada Xiao Xiao. Mata tajamnya menelusuri sosok gadis di depannya yang masih berbau asap.
"Dan kau... kau akan tinggal di kamarku malam ini," lanjut Zhi Chen.
Xiao Xiao mengangkat alisnya, tidak menunjukkan rasa malu sedikit pun. "Tuan Pangeran ingin saya tidur di kamar Anda? Bukankah itu terlalu mendadak?"
Zhi Chen mendengus dingin, ia melangkah masuk dan menunjuk ke arah meja besar yang dipenuhi tumpukan gulungan kertas dan memorial kerajaan. "Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Aku sudah memberimu tempat bernaung. Di dunia ini, tidak ada yang gratis."
Ia duduk di kursi kebesarannya, lalu melempar sebuah gulungan memorial ke hadapan Xiao Xiao. "Mataku sedang lelah. Bacakan semua dokumen ini untukku, dan berikan aku analisis yang masuk akal mengapa laporan pajak dari wilayah Barat selalu tidak seimbang selama tiga tahun terakhir."
Xiao Xiao menatap tumpukan kertas itu, lalu beralih menatap wajah Zhi Chen yang tersembunyi di balik topeng. Jadi ini bayarannya? Dia ingin menguji kemampuanku lebih dalam, batin Xiao Xiao.
Xiao Xiao menarik sebuah kursi kecil dan duduk di seberang Zhi Chen. Ia mulai membuka gulungan demi gulungan dengan gerakan yang sangat teliti. Suasana kamar menjadi hening, hanya terdengar suara gemerisik kertas dan napas mereka yang teratur.
Awalnya, Xiao Xiao hanya membaca dengan nada datar. Namun, semakin ia masuk ke dalam deretan angka dan laporan tersebut, keningnya semakin berkerut. Sebagai seseorang yang terbiasa mengelola keuangan skala besar, ia segera melihat pola yang janggal.
"Pangeran," suara Xiao Xiao memecah kesunyian setelah dua jam berlalu. "Masalah di wilayah Barat bukan karena gagal panen atau serangan perampok seperti yang dilaporkan di sini."
Zhi Chen, yang sedari tadi memejamkan mata sambil bersandar, perlahan membuka matanya. "Lalu?"
"Lihat ini," Xiao Xiao menunjuk sebuah baris angka di dua dokumen yang berbeda. "Laporan pengeluaran untuk perbaikan bendungan dilakukan di bulan yang sama dengan laporan kekeringan hebat. Bagaimana mungkin mereka membangun bendungan besar di saat tanah retak dan air tidak ada? Ini adalah manipulasi anggaran yang kasar. Pejabat di sana sengaja membuat proyek fiktif untuk menyembunyikan uang yang mereka kirim secara rahasia ke... Istana Utama."
Zhi Chen tersentak. Ia duduk tegak, meraih dokumen yang ditunjuk Xiao Xiao. Selama ini ia merasa ada yang salah, namun ia terlalu sibuk dengan urusan militer hingga detail angka seperti itu luput dari perhatiannya.
"Uang itu dialirkan untuk menyuap para menteri agar terus menekan posisimu di istana ini, Pangeran," lanjut Xiao Xiao dengan suara tenang. "Jika Anda ingin memotong kekuatan mereka, Anda tidak perlu pedang. Cukup potong aliran dana ini, maka mereka akan saling gigit sendiri."
Zhi Chen menatap Xiao Xiao dengan pandangan yang sulit diartikan. Gadis ini baru saja menyelesaikan masalah rumit yang menguras pikirannya selama berbulan-bulan hanya dalam waktu satu malam.
Malam semakin larut. Xiao Xiao terus membacakan dokumen hingga suaranya mulai serak. Matanya terasa sangat berat, namun ia bersikeras menyelesaikan tumpukan terakhir sebagai bentuk tanggung jawabnya.
Tanpa ia sadari, kepalanya perlahan terkulai ke atas tumpukan memorial yang dingin. Lilin di atas meja sudah hampir habis, menyisakan cahaya remang-remang.
Zhi Chen berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekat ke arah meja, menatap wajah Xiao Xiao yang tertidur pulas dengan posisi duduk. Wajah gadis itu tampak damai, sangat kontras dengan ketajaman lidahnya saat bicara tadi.
"Kau benar-benar wanita yang penuh teka-teki, Xiao Xiao," bisik Zhi Chen pelan.
Alih-alih membangunkannya, Zhi Chen justru mengangkat tubuh ringan Xiao Xiao dengan hati-hati—berusaha agar tidak membangunkannya—lalu meletakkannya di atas ranjang besarnya yang empuk. Ia menyelimuti gadis itu hingga sebatas dada, sementara ia sendiri kembali ke kursinya, menjaga tidur sang istri dengan pedang yang tetap berada di jangkauan tangannya.
Keesokan paginya, cahaya matahari pertama menembus jendela kamar. Xiao Xiao terbangun dan menyadari dirinya tidak lagi berada di kursi keras, melainkan di atas ranjang yang sangat nyaman. Ia menoleh ke samping dan melihat Zhi Chen masih duduk di kursinya, menatap jendela dengan pikiran yang tampak jauh.
"Sudah bangun?" tanya Zhi Chen tanpa menoleh. "Bersiaplah. Sebentar lagi kasim dari Istana Utama akan datang menanyakan kabar 'kematianmu'. Mari kita beri mereka kejutan yang menyenangkan."
***
Happy Reading❤️
Mohon Dukungan
● Like
● Komen
● Subscribe
● Ikuti Penulis
Terimakasih ^_^ ❤️