NovelToon NovelToon
Benih Yang Ku Sembunyikan

Benih Yang Ku Sembunyikan

Status: tamat
Genre:Romansa pedesaan / Lari Saat Hamil / Berbaikan / Tamat
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.

Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.

Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sesampainya di rumah Nara langsung menuang asinan itu kedalam mangkuk, entah kenapa, rasa masam yang dulu sangat ia benci, kini ia mengunyah makanan itu layaknya mangga yang manis.

Tubuhnya tidak ada penolakan ketika memakan buah yang terasa asam itu. "Masyaallah, ini sangat enak," ucapnya sambil menikmatinya.

Tanpa terasa asinan satu mangkuk penuh itu habis dilahapnya, setelah beberapa menit ia pun mulai berpikir, tidak mungkin tubuhnya menerima begitu saja, makanan yang tidak pernah ia suka.

"Ini bukan sekedar suka, rasanya aneh," gumamnya sendiri.

☘️☘️☘️☘️☘️

Matahari mulai naik keatas, Nara sudah berada di apotek, setelah berperang melawan pikirannya sendiri yang terlalu rumit dan menolak kehadiran tanda itu, hingga pada akhirnya ia menurut apa kata hatinya untuk mengecek dulu.

Tidak langsung di dokter pribadi ataupun rumah bidan, ia mencoba dengan langkah kecil terlebih dahulu, agar semua kebuka ada dan tidak adanya tanda itu.

Sesampainya di apotik ia langsung disambut ramah oleh pelayan. "Mau cari apa Mbak?" tanya petugas itu.

Nara sedikit tersenyum lalu menjawab pelan. "Mau beli tespek."

"Oh Baik," sahut pelayan itu.

Dan tidak lama kemudian benda kecil yang ia cari kini sudah ada ditangannya, hari Nara bergetar hebat saat melihat benda itu, ada sesuatu yang sulit untuk ia jelaskan.

"Semoga ini menjadi keputusan yang tepat," gumam Nara.

Setelah membayar, ke kasir ia pun langsung memutuskan pulang, di tengah-tengah terik matahari, ia berjalan kaki, tanpa ojek ataupun angkutan umum, karena Nara tahu, jika akhir-akhir ini ia harus menghemat uangnya, karena sadar, sudah tidak ada lagi suami yang menghidupi dirinya.

Sesampainya di rumah Nara menatap kotak kecil itu lama sekali, seolah tidak ingin menggunakan, namun hati kecilnya teys berbisik. "Kamu harus kuat."

Tangannya sudah menggenggamnya sejak tadi, tapi kakinya masih ragu melangkah ke kamar mandi. Kotak itu ringan, terlalu ringan untuk sesuatu yang mungkin akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia duduk di tepi ranjang. Menghembuskan napas. Sekali. Dua kali. “Cuma buat memastikan,” gumamnya. “Biar pikiranku tenang.”

Kalimat itu terdengar seperti kebohongan yang dipeluk rapat, Kaki telanjangnya itu akhirnya masuk ke dalam kamar mandi, dengan hati yang bergetar.

Kamar mandi terasa dingin. Lampunya putih, terlalu terang. Nara mengikuti petunjuk dengan tangan gemetar. Lalu ia meletakkan alat itu di tepi wastafel, menjauh setengah langkah, seolah jarak bisa menunda kenyataan.

Menunggu. Satu menit terasa seperti satu jam, detik seolah berjalan lambat, terlalu kejam, untuknya yang sedang menanti sebuah keputusan, layaknya sidang.

Nara memejamkan mata. Dalam kepalanya, ia membayangkan wajah Ardan, bukan dengan marah, tapi dengan jarak yang sama seperti hari ia pergi. Ia membayangkan rumah yang kini hanya diisi sunyi. Ia membayangkan dirinya sendiri, sendirian, memikul sesuatu yang terlalu besar.

“Tidak,” bisiknya. “Tolong… jangan," gumamnya hati-hati.

Namun disaat Ia membuka mata. Dua garis itu sudah ada, terlalu nyata, terlalu jelas, ia berdiri tegak, seolah menegaskan kepada dunia Aku Ada.

Nara berdiri kaku. Dunia seakan berhenti berputar. Suara di sekitarnya menghilang. Ia hanya menatap dua garis itu, seperti menatap vonis yang tidak pernah ia minta.

Air matanya jatuh. Satu. Lalu lebih banyak. Ia menutup mulutnya, menahan isak agar tak terdengar oleh siapa pun, meski rumah itu kosong.

“Ini nggak boleh terjadi,” katanya berulang. “Ini nggak boleh.”

Tangannya refleks menyentuh perutnya. Masih datar. Masih biasa. Tapi kini terasa berbeda. Ada sesuatu di sana. Kecil. Diam. tapi ada.

Benih itu nyata, ia membasuh pelan air mata yang mulai menetes, rasanya ia tidak sanggup jika harus menghadapi sendirian, namun hati kecilnya sudah menutup kemungkinan untuk memberi tahu pemilik benih ini.

"Tidak ... Kalau pun aku kasih tahu," ucapnya pelan. "Pasti tidak akan percaya, dan menuduhku macam-macam," pikir Nara.

Nara terduduk di lantai kamar mandi. Punggungnya bersandar ke dinding. Kepalanya tertunduk. Tangisnya pecah tanpa suara, tangis orang yang tidak tahu harus lari ke mana.

Ia tidak memikirkan kebahagiaan. Tidak memikirkan harapan, yang ada hanya ketakutan, tentang menjelaskan, tentang ditanya, tentang ditinggalkan lagi.

ia tidak mau jika harus kembali mengemis pengertian pada seseorang yang sudah memilih pergi.

“Ini milikku,” bisiknya akhirnya. Suaranya bergetar, tapi ada ketegasan yang lahir dari luka. “Aku yang akan jaga.”

Ia berdiri. Mengambil tisu. Mengeringkan air matanya. Dua garis itu ia bungkus, lalu diselipkan ke dalam laci paling bawah tempat ia biasa menyimpan barang yang tak ingin diingat.

Rahasia, besar ini benar-benar ia tutup rapi, tidak ada satu orang pun yang tahu tentang kehamilannya ini, hidupnya sudah terlalu mandiri sejak dulu.

Bahkan hatinya tidak memilih untuk lari ke rumah salah satu kedua orang tuanya, meskipun mereka masih ada, Nara tidak mau merepotkan keduanya, kejadian kecil Nara yang selalu dioper ke sana kemari layaknya pertandingan bola, itu sudah cukup membuatnya tahu diri.

Nara mengelus perut tatanya lalu berkata pelan. "Kita pergi jauh dari mereka ya Nak," gumamnya seolah menjadi semangat satu-satunya.

☘️☘️☘️☘️☘️

Sore itu, Nara keluar rumah dengan langkah pelan. Udara terasa lebih berat. Setiap orang yang ia lewati terasa seperti ancaman seolah mereka bisa melihat apa yang sedang ia sembunyikan.

Ia menunduk, memeluk tasnya erat. Dalam kepalanya, sebuah keputusan mulai terbentuk.

Bukan keputusan yang bahagia. Bukan pula yang mudah. Ia harus pergi, ke tempat yang tidak menanyakan masa lalu, ke tempat yang tidak mengenalnya sebagai istri siapa pun.

Karena dua garis itu tidak diinginkan oleh keadaan, dan ia pun juga tidak mau hal yang ia alami terjadi pada calon anaknya nanti. "Kita pergi ke tempat Om Albi ya," ucap Nara.

Langkah kakinya sudah menuju ke halte, dan bus yang ia tujuh sudah berhenti di depan. Ia langsung melangkah masuk, meninggalkan kota ini tanpa meninggalkan surat ataupun pesan, karena semua itu terasa percuma.

Di perjalanan, Nara menyandarkan kepala di jendela kaca, matanya menatap ruko-ruko, secara bergantian, terlalu cepat dilewati, seperti hubungan rumah tangganya yang terlalu singkat, tapi meninggalkan sebuah tanggung jawab besar yang harus ia pikul sepenuhnya.

Dan sejak hari itu, Nara tahu, hidupnya tak lagi tentang dirinya sendiri. Ada satu kehidupan kecil yang harus ia lindungi, meski caranya adalah dengan diam, terlalu diam.

"Mungkin dengan cara seperti ini kita bisa bahagia," gumamnya lirih.

Bus masih terus melintas melewati jalanan perbukitan yang begitu indah. Ia masih belum sampai dengan tempat tujuan, namun sudah di sambut dengan pemandangan hijau dan pegunungan yang nampak berdiri gagah, membuatnya seketika melupakan beban masalahnya.

Bersambung ....

Malam ...

Nara double up lagi. Semoga suka ya

1
Sugiharti Rusli
semoga takdir yang harus memisahkan mereka sekarang jadi bekal bagi Arbani ke depannya dan tetap menjadikan sosok Albi sebagai ayah yang selalu hadir❤❤🤍
Sugiharti Rusli
Albi mengajarkan kalo kasih sayang dan ketulusan bukan hanya soal darah siapa yang mengalir, dan Arbani telah merasakan sosok seorang bapak selama 9 tahun ini
Sugiharti Rusli
dan sepertinya kepulangan mereka ke kampung halaman memang menjadi keinginan Albi agar pergi di tempat dan bersama orang" yang dia sayangi selama ini
Sugiharti Rusli
karena cinta dan ketulusan Albi kepada Nara dan Arbani tuh sangat menyentuh
Sugiharti Rusli
asli baca part ini air mata terus mengalir dan turut merasakan perpisahan mereka😭
Ummee
makasih kak author...
ada bonus chapter kah? hehe
Ummee
huuaaaa.... 😭😭😭
aku nangis ini kak...
Rohmi Yatun
😭😭😭😭😭😭ahh sedihh..
ari sachio
😭😭😭😭😭😭😭😭😭
Kasih Sklhqu
terimakasih Thor 🙏 ditunggu karya berikutnya 🙏
Lisa
Terimakasih y Kak Ayu utk kisahnya..meskipun endingnya sedih..tp ada pelajaran sangat berharga yaitu dari seorang laki2 yg tulus merawat anak yg bukan anak kandungnya..
Ayumarhumah: Sama-sama Kakak ....
total 1 replies
Naim
bahasanya kebanyakan di campur"
Naim
baca nya ribett
Ayumarhumah: itu translate banyak yang gak tahu bahasa Jawa. karena kebanyakan yang baca dari luar pulau. makanya minta translate.
total 1 replies
Naim
bahasanya kalo bisa indo aja, kalo mau ada jawa jangan terlalu banyak jadi kya aneh bacanya
Ayumarhumah: aku di sini hanya ikut event. dan event itu hastagnya romansa pedesaan dan di event itu harus menggunakan bahasa daerah 🙏 nah saat aku menggunakan bahasa daerah banyak pembacaku yang gak ngerti akhirnya aku kasih translate. kalau kakak gak suka skip saja dari pada beri bintang satu.
total 1 replies
Naim
bahasanya belibet
ari sachio
antara Aku,Suamiku dan Mantanku

antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku
Sugiharti Rusli
apalagi sekarang mereka sudah bisa saling memahami dengan Ardan yang notabene ayah biologis Arbani,,,
Sugiharti Rusli
meski sakit yang Albi derita belum tahu ujungnya sampai kapan, tapi pulangnya mereka semoga menjadi obat dan semangat baru lagi,,,
Lisa: Amin..setuju banget Kak..
total 1 replies
Sugiharti Rusli
mungkin bagi Albi sekarang bukan kesembuhan penuh yang dia harapkan, tapi berkumpul bersama sang putra yang sangat dia sayangi,,,
Sugiharti Rusli
apalagi apa yang Albi dan Nara lalui jauh dari kampung dan putra mereka sendiri,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!