Aku tak ingin seperti ibuku. Mencintai tanpa batas dan diluar logika bahkan rela mati demi cinta. Tapi nasib yang membawaku menjalani hidup bahkan lebih parah dari Ibuku.
~Tiara Purnama ~
Gadis sederhana yang kuliah sambil bekerja membantu Ibunya membesarkan dan menyekolahkan adik - adiknya dan hidup dengan Bapak Tiri yang pemalas, suka mabuk-mabukan dan suka memukuli ibunya.
Melihat Ibunya yang begitu tersiksa dibuat suaminya membuat Tiara bertekad tidak ingin sepertinya Ibunya.
Tapi alangkah malang nasibnya, disuatu acara kampus Tiara di jebak oleh temannya. Mereka mengajak Tiara ke sebuah club malam, memberi Tiara minuman beralkohol dan malam itu Tiara berakhir di sebuah kamar hotel dengan seorang pria.
Bagaimana kelanjutan kisah hidup Tiara??
Lanjutkan kisahnya...
Selamat membaca.. semoga kalian suka 😍😍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon winda siregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang menegangkan
"Bingung, Roy kita kan sedang menjalin kerjasama ini penyatuan dua Cafe, bagaimana kalau besok kita meeting. Kalian kan masih disini besok" usul Dian.
"Boleh, aku gak masalah" jawab Bintang.
"Setuju Yang, aku mau. Aku juga ingin belajar lebih jauh tentang Cafe ini. Yah kan bukan cuma nyumbang dana doank, setidaknya aku harus pelajari juga semuanya" sambut Roy.
"Lah kalau kalian bertiga meeting aku sama siapa donk, malas ah di hotel sendirian" ujar Bagas.
"Siapa bilang kami meetingnya cuma bertiga. Berempat donk, kan ada Tiara" jawab Dian.
"Ada Tiara? Guys.. aku ikut meeting ah bareng kalian" sambut Bagas.
"Kok kamu yang semangat? Lagian apa gunanya kamu ikut meeting sama kami. Kamu kan bukan salah satu pemilik Cafe" jawab Roy.
"Yah aku kan mau belajar juga. Nanti kalau Cafe ke dua ini juga sukses aku mau buka cabang juga ah" ucap Bagas.
"Lagian kan asik besok sekalian TePe - TePe sama Tiara. Kalian meeting, aku cuma natapin wajah Tiara yang cantik" sambung Bagas.
"Kamu ikutan lirik Tiara. Udah aku duluan bro" bantah Roy.
"Kalian kok malah ngerebutin Tiara. Gak malu apa kalau dia sampai dengar" Sindir Dian.
Diam - diam Bintang mencoba memperhatikan Tiara yang diperebutkan oleh kedua sahabatnya. Mereka yang playboy saja mendadak ingin tobat karena gadis ini. Apa sih kelebihannya? Fikir Bintang.
Cantik memang gadis ini. Bibirnya tipis, penampilannya sederhana tapi manis. Wajahnya ceria dan dia selalu tersenyum.
Tiba-tiba Bintang teringat pada seseorang yang pernah dia temui beberapa tahun silam.
Flashback On
"Nama kamu bagus seperti wajah kamu hahaha.. Tapi aku tidak tertarik. Kamu tetap saja pria jahat sama seperti Tarjo. Aku tidak percaya pada laki-laki. Laki-laki hanya bisa menyakiti wanita saja. Ayahku juga laki-laki tapi dia juga menyakiti Ibuku. Dia meninggalkan kami saat aku kecil hiks.. hiks.. kasihan Ibu berjuang sendiri membesarkanku" ucap Tiara sambil menangis.
Flashback Off.
Kok tiba-tiba aku ingat wanita itu ya? Tunggu... wajahnya.. ah tidak - tidak, wanita itu kan tidak pakai jilbab dan sepertinya wanita itu lebih kurus dari gais ini. Wajahnya malam itu hanya samar - samar tertinggal di dalam ingatan Bintang.
Malam itu dia kecewa dengan Siska karena mendengar dari sahabatnya kalau Siska selingkuh tapi dia tidak percaya dan bertengkar dengan Roy bahkan dia sempat memukul Roy malam itu.
Akhirnya Bintang pergi ke diskotik untuk menghilangkan penatnya dan minum beberapa gelas alkohol. Walau dia tidak mabuk berat tapi tetap saja minuman itu mempengaruhi pandangan dan ingatannya.
Apalagi wanita itu baru satu kali dia temui. Dan saat di apartemen dan peristiwa di kamarnya itu, suasananya tidak begitu mendukung. Malam itu Bintang tidur di kamar dengan menggunakan penerangan yang redup. Bintang selalu tidur dengan lampu tidur yang redup.
Di tambah lagi dia sedang bermimpi indah sehingga sulit membedakan apakah mimpi atau nyata yang dia lakukan. Saat dia terbangun dengan sentuhan wanita itu, tatapan Bintang berubah menjadi tatapan mendamba.
Dia tidak memperhatikan lagi detail wajah wanita itu, yang dia ingat hanya kenikmatan surgawi saat itu. Mungkin itu juga alasan mengapa sampai saat ini Bintang tidak pernah menemukan wanita itu walau dia masih sering teringat dan mencari wanita itu di Jakarta terlebih di diskotik tempat mereka bertemu.
Walau tidak sepenuhnya itu kesalahan Bintang entah mengapa Bintang menyimpan permintaan maaf di dalam hatinya kepada wanita itu karena peristiwa malam itu telah membuat wanita itu kehilangan mahkota berharganya
Dan Bintang merasa bersalah karena seperti memanfaatkan ketidak sadaran wanita itu. Saat dia terbangun pagi dia melihat noda darah di seprai tempat tidurnya.
Rasa bersalah itu yang sering menghantuinya sampai saat ini.
Dian melirik Bintang yang dari tadi memperhatikan Tiara dari jauh.
Apakah kamu sudah sadar siapa wanita itu Bin? Cobalah ingat, wanita itu sudah berjuang selama lima tahun ini melahirkan dan membesarkan putra kamu. Batin Tiara.
"Jadi jam berapa besok meetingnya Yang?" tanya Roy
"Jam dua sing, gimana kalian bisa?" tanya Dian.
"Bisa" jawab Bagas dan Roy.
Dian menatap Bintang.
"Aku bisa" jawab Bintang setelah mengalihkan pandangannya dari Tiara.
"Ra.. sini sebentar" panggil Dian.
Kembali, tubuh Tiara menegang. Ini adalah hal yang paling ingin dia hindari.
Apakah Mbak Dian tidak tau kalau aku menghindari sahabatnya ini, mengapa dia masih memanggil aku mendekati mereka? tanya Tiara dalam hati.
"Ya Mbak?" tanya Tiara.
"Besok Roy tepatnya kita akan meeting jam dua di sini sebelum kami balik ke Bandung" ucap Dian.
"Ba.. baik Mbak" jawab Tiara dan langsung menunduk.
Entah mengapa tadi tatapannya bertabrakan dengan tatapan Bintang. Seketika membuat tubuh Tiara panas dingin. Dia masih ingat tatapan pria itu saat malam kelam yang mereka lewati berdua dan menghasilkan Tegar lahir ke dunia ini.
Mengapa dia menatapku seperti itu? Apakah dia sudah mengenaliku? Oh.. Tuhan, tolonglah aku. Dia Tiara dalam hati.
Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Para pengunjung Cafe dan tamu undangan sudah sepi. Satu persatu sudah pulang.
Malam ini pengunjungnya sangat padat, mudah - mudahan begitu juga seterusnya.
Tiara sangat berharap Cafe ini bisa berjalan dengan lancar dan mudah - mudahan saja lebih ramai dari Jakarta karena di Bandung lebih banyak para pelajar dan mahasiswa juga banyak pengunjung lokal yang jalan - jalan ke Kota Bandung.
"Guys sudah malam, kita balik ke Hotel" ajak Bintang kepada Roy dan Bagas.
"Oke" jawab Bagas.
"Kamu pulang sama siapa Ra. Mau ikut bareng kami. Nanti kami antar sampai rumah" ajak Roy.
"Ti.. tidak Pak. Terimakasih saya pulang di jemput teman sebentar lagi" tolak Tiara sopan.
"Kamu di jemput Ridho?" tanya Dian.
"Iya Mbak. Barusan aku sudah mengirim pesan kepadanya" jawab Tiara.
"Baiklah kalau begitu hati - hati ya. Kami duluan" ucap Dian.
"Iya Mbak, sampai jumpa besok" balas Tiara.
Dian pulang bersama Bagas, Roy dan Bintang dengan mengendarai mobil Bintang dan Roy.
Sementara Tiara melanjutkan pekerjaannya untuk membereskan dan membersihkan Cafe sebelum pulang.
Tak lama Ridho sampai dengan mengendarai mobilnya dan menjemput Tiara pulang. Tiara berpamitan dengan para karyawan Cafe yang masih sibuk bekerja.
"Saya pulang duluan ya. Jangan lupa semua di bereskan dan pastikan semua aman ya" perintah Tiara kepada asistennya di Cafe.
"Baik Bu" jawab sang asisten.
"Hati - hati ya semuanya pulang ke rumah. Dan sampai jumpa besok. Semoga pengunjung kita besok seramai malam ini" pamit Tiara.
"Sama - sama Bu. Ibu juga hati - hati di jalan" balas mereka.
Tiara segera naik ke dalam mobil Ridho dan berlalu dari Cafe menuju rumah dinasnya.
.
.
BERSAMBUNG
🤣🤣
top bgt si roy
tunjukan siapa dirimu.