Demi tagihan rumah sakit ibunya yang membengkak, Almira terpaksa menjual kebebasannya kepada Alexander Eduardo. Bagi Alex, Almira hanyalah alat pelampiasan—bayang-bayang untuk mengalihkan rasa sakitnya atas perlakuan Elara, wanita yang dicintainya namun menolak berkomitmen.
Namun, permainan kekuasaan ini berubah menjadi obsesi gelap. Saat Almira mulai mengandung benih sang tuan, Elara kembali untuk merebut posisinya. Alex harus memilih: tetap mengejar cinta masa lalunya yang semu, atau menyelamatkan wanita yang tanpa sadar telah menjadi detak jantungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MomSaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
langit milik kita
Deru mesin helikopter Sikorsky milik Eduardo Group memecah kesunyian malam di atas cakrawala Jakarta. Cahaya lampu kota di bawah sana tampak seperti butiran berlian yang berserakan, namun bagi Almira, keindahan itu terasa semu. Di dalam kabin yang kedap suara namun tetap bergetar halus itu, ia duduk meringkuk di kursi kulit yang mewah.
Air mata Almira tidak bisa berhenti mengalir. Sejak helikopter lepas landas dari atap gedung kantor pusat, ia merasa seolah-olah sedang diterbangkan menjauh dari dunianya sendiri. Kabar tentang makam ayahnya yang diusik oleh orang suruhan Nadia, ditambah cacian netizen yang menyebutnya "wanita penggila harta", benar-benar menghancurkan harga dirinya hingga ke titik terendah.
Alex, yang duduk di sampingnya, melepaskan headset komunikasinya. Ia menatap istrinya dengan pandangan yang sulit diartikan. Ada kemarahan yang membara di dadanya—bukan kepada Almira, melainkan kepada dunia yang berani membuat wanita ini menangis sehancur itu.
"Almira, lihat aku," suara Alex berat, bergetar karena emosi yang tertahan.
Almira menggeleng, ia menutupi wajahnya dengan tangan. "Kenapa mereka jahat sekali, Alex? Aku tidak pernah meminta semua kemewahan ini. Aku hanya ingin merawatmu. Kenapa mereka harus menghina mendiang ayahku juga?"
Melihat bahu Almira yang terguncang hebat, sesuatu di dalam diri Alex seolah meledak. Hasrat protektif yang selama ini ia tekan kini berubah menjadi sesuatu yang lebih primitif. Bagi pria seperti Alexander Eduardo, kerapuhan Almira adalah magnet yang menarik sisi gelap dan dominannya keluar. Ia tidak tahan melihat air mata itu jatuh karena orang lain. Ia ingin mengklaim setiap inci dari kesedihan itu dan mengubahnya menjadi pengabdian total padanya.
Alex melepaskan sabuk pengamannya. Dengan gerakan yang kini sudah sangat stabil—menunjukkan pemulihan fisiknya yang luar biasa—ia berpindah ke kursi panjang di samping Almira. Ia menarik wanita itu ke dalam pelukannya dengan paksa namun protektif.
"Biarkan mereka menggonggong di bawah sana, Almira. Di atas sini, hanya ada aku dan kau. Tidak ada netizen, tidak ada dewan direksi, tidak ada Nadia," bisik Alex tepat di telinga Almira.
Ia mengangkat dagu Almira, memaksa mata yang sembab itu menatapnya. Di dalam remang cahaya kabin yang hanya diterangi lampu indikator berwarna merah dan biru, mata Alex berkilat penuh gairah yang intens. Ia melihat bibir Almira yang gemetar karena isak tangis, dan seketika itu juga, ia ingin membungkam rasa sakit itu dengan caranya sendiri.
Alex tidak menunggu jawaban. Ia mencium Almira dengan penuh tuntutan—sebuah ciuman yang bukan hanya berisi kasih sayang, tapi juga pernyataan kepemilikan yang mutlak. Almira terkesiap, napasnya yang tadi tersengal karena tangis kini berubah menjadi deru napas yang memburu.
Hasrat Alex memuncak saat ia merasakan jemari Almira meremas kemeja hitamnya dengan putus asa. Ada semacam pelarian yang mereka berdua butuhkan di ketinggian ribuan kaki ini. Alex ingin membuktikan bahwa ia adalah satu-satunya pelindung yang Almira butuhkan, dan Almira, dalam keputusasaannya, menyerahkan seluruh dirinya kepada pria yang ia cintai.
"Alex... di sini?" bisik Almira di sela-sela ciuman mereka yang semakin panas.
"Tidak ada yang bisa melihat kita di sini, Al. Langit ini milikku, sama seperti kau adalah milikku," jawab Alex dengan suara serak yang penuh gairah.
Tangan Alex yang kuat mulai menjelajahi lekuk tubuh istrinya di balik gaun sederhana yang ia kenakan. Setiap sentuhannya terasa seperti api yang membakar sisa-sisa kesedihan Almira. Di tengah getaran mesin helikopter dan hembusan angin di luar jendela, mereka berdua tenggelam dalam keintiman yang luar biasa.
Adegan itu berlangsung dengan penuh intensitas. Alex menunjukkan gairahnya yang selama ini terpendam selama masa lumpuhnya. Ia bergerak dengan kekuatan seorang pria yang baru saja mendapatkan kembali takhtanya, sementara Almira menyambutnya dengan kerinduan yang sama dalamnya. Di dalam kabin sempit itu, rasa sakit hati Almira akibat dunia luar seolah meleleh, digantikan oleh gelombang sensasi yang membuatnya merasa "hidup" dan "diinginkan".
Keringat dingin membasahi dahi mereka, menyatu dengan sisa air mata yang kini bukan lagi tanda kesedihan, melainkan tanda penyerahan diri yang total. Dalam momen itu, status sosial, skandal waris, dan semua kebencian di media sosial seolah lenyap tertiup angin di luar sana.
Beberapa saat kemudian, suasana kabin kembali tenang, hanya menyisakan suara mesin yang terus menerus. Almira bersandar di dada bidang Alex, tubuhnya diselimuti oleh jas mahal milik suaminya. Alex membelai rambut Almira yang berantakan, mencium puncak kepalanya berkali-kali dengan penuh kasih.
"Masih ingin menangis?" tanya Alex lembut, tangannya mengusap lengan Almira yang kini terasa hangat.
Almira menggeleng pelan, ia memejamkan mata, menikmati detak jantung Alex yang masih berdegup kencang di bawah telinganya. "Terima kasih, Alex. Untuk sesaat, aku lupa betapa kejamnya dunia di bawah sana."
Alex menatap ke luar jendela, ke arah kegelapan hutan Bogor yang mulai terlihat di kejauhan. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi, Al. Setelah kita sampai di desa dan menyelesaikan urusan ayahmu, aku akan kembali ke Jakarta untuk menghancurkan setiap orang yang sudah membuatmu meneteskan air mata hari ini."
Hasrat yang tadi meledak kini telah berubah menjadi tekad yang dingin dan mematikan. Alex menyadari bahwa Almira adalah kelemahannya, tapi juga sumber kekuatannya yang paling besar.
Helikopter perlahan mulai turun menuju sebuah lahan luas di pinggiran desa tempat Almira dibesarkan. Sorot lampu helikopter menyapu pepohonan kelapa dan sawah yang sunyi. Penduduk desa mungkin akan terbangun karena suara bising ini, tapi Alex tidak peduli. Ia membawa istrinya pulang untuk menghadapi masa lalu, dipersenjatai dengan cinta yang baru saja mereka perkuat di atas langit.
Saat pintu helikopter terbuka, udara dingin pegunungan merangsek masuk. Alex turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya pada Almira.
"Selamat datang di rumah, Nyonya Eduardo," ucap Alex dengan nada yang tidak lagi dingin, melainkan penuh kebanggaan.
Almira menghirup aroma tanah basah dan tanaman hijau yang sangat ia kenali. Ia menatap Alex, pria yang baru saja memberinya perlindungan di atas awan, dan menyadari bahwa sesulit apa pun badai yang akan menerjang rumah tangga mereka nanti, ia memiliki tempat untuk kembali.
Namun, di balik kegelapan pohon-pohon bambu di pinggir landasan, sepasang mata mengawasi mereka. Seseorang yang dikirim oleh Nadia Mahendra sudah berada di sana lebih dulu, siap mengungkap rahasia terakhir yang bisa menghancurkan Alex—rahasia yang tersimpan rapat di dalam rumah tua peninggalan ayah Almira.
Alex merangkul pinggang Almira erat, berjalan menembus kegelapan malam desa.