arif dan Erika sudah menikah selama 3 tahun. Namun, Erika harus melepaskan pernikahan dan orang yang sangat dia cintai karena arif lebih memilih sepupunya, Lanni. Arif Wistan berhutang budi pada Lanni Baswara karena telah menyelamatkan nyawanya hingga gadis itu jatuh koma selama 3 tahun. Dibalik sikap lemah lembutnya, tidak ada yang tahu apa yang telah direncanakan Lanni selama ini, kecuali Erika. Erika bertekad akan membalaskan dendamnya pada keduanya karena telah menghancurkan hidupnya. Ada apakah sebenarnya diantara mereka bertiga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIGA
Mata Lanni berkilat puas saat mendengar Gardan mengancam Erika. Lalu, dia menatap Gardan dengan sedih dan berkata, "Gardi, jangan marah. Ini mungkin hanya salah paham. Aku tidak ingin kalian berdua bertengkar karena aku."
Erika melihat ke arah Lanni dengan mengejek. Dia tidak pernah tahu bahwa sepupunya adalah aktris yang sangat baik. Sikap sok polosnya membuat Erika jijik.
Sebelum Gardan bisa bicara, Erika berkata, "Sudah sejak lama sepupuku ingin menjadi Nyonya Wistam. Kenapa kau tidak segera menikahinya agar dia berhenti mengirimiku pesan-pesan menjijikan?"
Ekspresi wajah Lanni berubah setelah mendengar kata 'pesan'. Dia dengan cepat berkata, "Erika, aku sudah menjelaskannya padamu berulang kali. Aku tidak ingin menghancurkan pernikahanmu. Gardan hanya merasa bersalah karena aku jatuh koma setelah menyelamatkannya, jadi dia hanya ingin membalas budi. Tidak ada ap pun diantara kami.
Gardan menatap Erika dengan muak. "Tidak ada gunanya menjelaskan itu padanya. Ayo kita pergi.
Namun, Erika menghentikan Gardan sebelum dia bisa pergi dengan Lanni. "Bagaimana jika kita mendaftarkan perceraian kita sekarang? Dengan begitu masing-masing dari kita bisa menikahi orang yang kita inginkan dan berhenti berhubungan lagi."
Lanni mengepalkan tinjunya untuk sesaat.
Gardan mengatakan padaku bahwa mereka sudah bercerai. Setelah semua ini, kenapa dia masih belum mendaftarkan perceraian mereka?
Tiba-tiba, ekspresi wajah Lanni memburuk. "Erika, tidak ada apapun diantara aku dan Gardan. Jika itu membuatmu tidak senang, aku tidak akan bertemu lagi dengannya."
Lalu, dia menoleh ke Gardan dan hampir menangis. "Gardi, aku minta maaf karena menyebabkan kesalah pahaman diantara kau dan Erika, jadi aku akan pergi sekarang. Kau harus membujuknya. Wanita senang dibujuk."
Lanni pergi tepat setelah mengatakan itu.
Gardan menatap Erika dengan tajam, lalu berkata dengan dingin, "Aku sibuk. Asistenku akan menghubungimu, jadi bersiaplah."
Kemudian, dia lari mengejar Lanni.
Cindy berdiri tercengang dan merasa naik darah. "Erika, syukurlah kau bercerai dengannya! Sampah itu tidak layak untukmu."
Bagaimana bisa Ines menanggung semua ini?
Aku tidak boleh ikut campur karena itu urusan keluarga mereka. Tapi aku ingin sekali menghajar si Lanni itu!
Dia sungguh ja ang yang sangat jahat!
"Cindy, bukankah tadi kau bilang Gardan harus membayar kompensasi sepuluh miliar jika dia kalah dalam gugatan hukum itu?"
Cindy masih membayangkan dirinya menghajar Lanni dan menjawab dengan bingung, "Iya, kenapa?"
Erika menatap keluar jendela dengan tenang. "Cindy, aku ingin kau menghubungi Wisnu Dikara dan bersiaplah untuk mulai bekerja."
Cindy menutup mulutnya karena syok. "Apa... Apa kau ingin balas dendam karena kebencianmu pada Gardan?"
Senyum Erika tidak sampai di matanya. "Ini hanyalah bisnis. Kebetulan aku suka dengan kasusnya."
Aku selalu menyukai kasus yang menantang.
Selain itu, kami sudah bercerai. Aku tidak perlu menunjukkan belas kasihan.
Namun, Cindy masih tercengang dan bertanya dengan bingung, "Tapi... Kenapa kau membantu Wisnu? Bukankah kau Nyonya Wistam? Dulu kau sangat mencintainya dan akan melakukan apapun untuknya..."
Erika menyela dan berkata dengan getir, "Kau sudah bilang sendiri. Itu dulu dan sudah terjadi di masa lalu. Lagi pula, aku akan segera bercerai."
"Apa kau sungguh akan bercerai?"
"Ya," Erika menjawab dengan tegas. "Karena aku sudah menerima kasus ini, aku tidak akan bermain-main lagi."
Cindy masih belum sepenuhnya yakin, tetapi menganggukkan kepalanya. Dia tiba-tiba ingat sesuatu dan berkata, "Sebelumnya, kau menghadiri sidang di pengadilan dari jarak jauh. Tetapi, untuk kasus ini, Wisnu bersikeras ingin bertemu denganmu secara pribadi... Begitu tahu kalau kau adalah Nyonya Wistan, dia mungkin tidak akan percaya padamu..."
"Jangan khawatir. Aku akan mengurusnya."
Cindy mengangguk saat melihat betapa percaya dirinya Erika. "Oke, aku akan membantumu mengurus hal yang lain. Dan juga, kepala departemen hukumnya adalah Cakra. Dulu dia kakak kelasmu di sekolah, jadi menurutku komunikasinya pasti akan mudah."
Cindy menyadari Erika tampak berbeda dari dirinya di masa lalu dan dia senang melihatnya. Lalu, dia meraih tangannya dan berkata, "Erika, ayo pergi ke rumahku. Aku akan memasak makan malam untuk merayakan kebebasanmu dari bajingan itu!"
Gardan sembunyi di dalam mobil dekat dengan kafe, lalu melihat Erika dan Cindy mengobrol dengan bahagia saat mereka meninggalkan kafe. Ekspresi wajahnya menjadi dingin dan mengintimidasi.
Erika Baswara, apa yang sedang kau rencanakan?
Setelah selesai makan malam di rumah Cindy,
Erika tinggal sebentar untuk mengobrol dan mendiskusikan kasus sebelum akhirnya pulang ke rumah.
Ketika sampai di vila, seorang pembantu mendekatinya dan berkata, "Nona, kami memeriksa kamera CCTV dan melihat seseorang telah mengikutimu kemari."-