Aku mencintaimu, Ale, tapi aku berpacaran dengan Elang yang tak lain keponakanmu. aku tidak pernah sakit hati putus dengan Elang. tapi aku sakit hati atas pernikahanmu (Kiara)
Kiara Putri Sanjaya, 21 tahun. terlibat hubungan salah sasaran. ia menjalani hubungan palsu dengan Elang selama setahun. terbebas dari Elang, berharap bisa dekat dengan Ale yang tak lain adalah Paman Elang. Namun, Kiara harus menelan pil pahit karena Ale akan menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nas Nasya Nuriva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 31
POV Zian
Brakk...
Sial.. !!! Sial...!!! Sial...!!!
Aku tidak percaya dengan apa yang ku lihat tadi. Berkali-kali aku menyangkal dengan apa yang terjadi. Namun tetap saja kedua mataku ini masih sehat dan belum rabun.
Malam ini aku mengetahui jika Ara akan menghadiri pesta di hotel ABC. Aku sengaja mengikutinya dan memantaunya dari jauh. Ara sepertinya tidak menyadari jika aku mengamati setiap gerak geriknya.
Awalnya aku berniat bergabung dalam estafet dance. Namun, aku mengurungkan niatku karena aku tidak boleh terlihat oleh Ara. Maka aku membiarkan Ara tergelam dengan para undangan dalam dansa bergonta-ganti pasangan itu.
Saat Ara berpasangan dengan Om Ale, aku tidak mempunyai rasa khawatir sedikitpun. Namun, mataku ini seakan mau copot ketika melihat Ara menci um Om Ale.
What?!!! Ada apa dengan Ara? Apa dia sudah gila? Setahuku Om Ale sudah menikah dan tentu saja istrinya juga berada disitu.
Ara memberikan ci u man nya di depan banyak orang? Mataku tidak salah lihat kan? Sungguh ini di luar dugaanku. Hatiku menyangkalnya. Ara yang aku kenal pemalu. Mengapa bisa berubah menjadi agresif seperti ini? Apakah Ara mabuk sehingga bertingkah seperti itu?
Aku mendekat untuk memastikan keadaan Ara dan ia nampaknya sedang tidak dalam keadaan mabuk. Dia bahkan terlihat jumawa dengan apa yang baru saja dia lakukan. Hatiku rontok seketika.
Apa mungkin Ara menyukai Om Ale? Tapi semua orang tahu jika dahulu Ara adalah kekasih Elang. Ada apa ini? Mengapa aku bisa melewatkan sesuatu sepenting ini?
Kreettttttttttt
“Zian, kau sudah pulang?” tanya Ellea, sepupuku.
Aku memang menumpang di rumah Ellea. Ya sejak tragedi sandiwaranya yang terbongkar. Ellea diungsikan dan Labuan Bajo adalah tempat terbaru yang ditempati Ellea setelah beberapa kali berpindah tempat.
“Ya" jawabku malas.
“Kau dari mana?” tanya Ellea lagi. Dia kemudian duduk di pinggir kasurku.
“Pesta" jawabku pendek.
“Pesta? Dengan siapa? Apa kau bertemu dengan Ara?” tanya Ellea.
“Kenapa kau menanyakan Ara?” tanyaku.
“Aku hanya bertanya saja. Apa kau bertemu Ara di pesta?” tanya Ellea lagi dan itu membuatku kesal. Bayangan Ara mencium Om Ale masih saja terlintas dalam otakku.
“Ya" jawabku.
“Apakah ada Om Ale juga?” tanya Ellea dan entah mengapa dia sepertinya sudah berubah menjadi peramal yang sedang menanyakan apakah terawangannya benar atau tidak.
“Iya. Om Ale juga ada" jawabku lagi.
“Kalau Elang?” tanya Ellea.
“Elang ke laut” ucapku kesal.
Ellea mengerucutkan bibirnya mendengar jawabanku.
“Aku bertemu Ara kemarin" perkataan Ellea barusan tentu saja membuatku kaget.
“Ternyata dia tidak mencintai Elang" lanjut Ellea lagi.
Aku membelakkan mata. Kalimat pertama Ellea membuatku kaget. Kalimat kedua Ellea membuatku lebih kaget lagi. Tidak mencintai Elang tetapi menjadi kekasih Elang. Hey Ara, Apakah kau sudah gila? Tidak! Jangan-jangan aku yang sudah gila.
“Ceritakan kepadaku! Aku ingin mendengar semuanya” ucapku.
Ellea menceritakan bagaimana ia tidak sengaja bertemu Ara. Apa yang mereka bicarakan dan tanggapan Ara tentang masalah yang terjadi beberapa waktu lalu. Sungguh badanku seperti tersengat listrik. Aku sepertinya menemukan benang merah antara kejadian di hotel ABC dan cerita Ellea. Sepertinya Ara telah berhasil menipuku.
____***____
POV Olive
Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang baru saja aku lihat. Nona Kiara mencium seorang laki-laki ketika mereka berdansa. Ingatanku kembali saat acara ulang tahun Evan dimana Rio waktu itu nyaris mencium Nona Kiara. Ini seperti dejavu dan otakku belum sepenuhnya menerima itu.
Aku memang belum lama mengenal Nona Kiara. tapi setahuku dia adalah gadis cuek dan pendiam. Malam ini aku tidak menyangka jika Nona Kiara bisa seagresif itu. Apa mungkin Nona Kiara menyukai laki-laki itu? Lalu bagaimana dengan Rio? Haruskah aku memberi tahu Rio tentang ini? Tidak!!! Bagaimana jika Rio patah hati? Ahh.. aku bisa gila!!!
Ting...
[Rio]
Kiara mau kemana memakai gaun itu?
Pesan dari Rio membuat bibirku kelu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku bingung. Apapun jawabanku pasti Rio akan bertanya lebih jauh dan aku yakin aku tidak akan mampu menjawab semua pertanyaan Rio.
Ting...
[Rio]
Apakah Kiara akan pergi berkencan dengan seseorang?
Aku men de sah kesal. Bagaimana aku harus menjawabnya? Tuhan tolong aku! Aku tidak mau sahabatku patah hati. Apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku menjawab pesannya atau membiarkan saja? Aku bingung! Aku bingung!
____ ***_____
POV Ale
Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Ara. Dia menciumku ketika dansa berakhir. Sungguh aku terkejut dengan apa yang dia lakukan. Badanku mendadak kaku. Otakku buntu.
Aku melihat ekspresi penuh kemenangan di wajah Ara. Oh Tuhan! Ada apa dengan gadis itu? Dia tak henti-hentinya menggodaku. Andai aku masih lajang, mungkin aku akan merasa bahagia dengan apa yang baru saja terjadi. Tapi, aku adalah seorang suami dan tidak sepantasnya Ara melakukan hal itu, di tempat umum lagi.
Degg..!!!
Aisha!!!
Aku kesini bersama Aisha. Bagaimana jika dia melihatnya? Ini pasti akan menjadi masalah. Aku segera berlari meninggalkan hotel ABC dan kembali ke villa milik Elin. Hatiku resah, pikiranku kacau.
Prang...
Aku menghindar ketika Aisha menyambut kedatanganku dengan melempar sebuah vas bunga ke arahku. Untunglah aku bisa menghindar dengan cepat. Aku melihat Aisha sangat kacau. Matanya memerah dengan air mata yang terus mengalir. Aku tak pernah melihatnya seperti ini selama kami bersama. Ada rasa sakit di hatiku melihat keadaan Aisha sekarang.
“Senang kau, Mas? Kalian memang tidak tahu malu! Kau suamiku tapi masih menerima ci u man dari wanita lain. Apa kekurangku, Mas???" kata Aisha dengan emosi yang masih membara.
Aisha kembali melempariku dengan benda-benda yang berada di sampingnya. Entah itu bantal, guling, bahkan asbak kayu yang bisa membuat kepalaku benjol.
“Kalau kau tidak puas denganku, sudah bosan denganku, ceraikan aku! Aku tidak mau hidup di neraka yang kau buat!” sekali lagi Aisha melemparku dengan benda padat dan aku hanya bisa menghindar tanpa mencoba menenangkan istriku.
“Aku memang belum bisa memberimu anak. Tapi jangan kau perlakukan aku seperti ini! Aku sakit, Mas! Aku sakit..!” ucap Aisha dengan tangis semakin menjadi.
Aisha menjatuhkan tubuhnya di lantai. Aku segera mendekatinya dan memeluk erat tubuhnya. Aku terus mengeratkan pelukanku meskipun Aisha terus memberontak, memintaku agar melepas pelukannya.
“Maaf, bisikku.
Hanya itu kata yang keluar dari mulutku. Tangis Aisha semakin pecah dan aku terus memeluknya, membiarkan dia menumpahkan semua emosinya padaku.
“Kau jahat, Mas! Kau jahat! Apa salahku padamu? Mengapa kau terus menyakitiku? Kau berubah, Mas. Kau bukan Ale yang ku kenal dulu" ucap Aisha tersedu-sedu.
Aku menepuk-nepuk punggungnya. Mencium pucuk kepalanya berkali-kali. Sungguh aku merutuki kebodohanku yang tidak tegas dengan Ara. Aku membiarkan saja Ara terus menggodaku. Aku tidak peka. Aku cuek dengan istriku sendiri. Aku menyadari sikapku ini telah menyakiti Aisha.
“Maafkan aku, Aisha. Aku memang jahat. Aku telah menyakiti hatimu" ucapku dan tangis Aisha belum juga mereda. Aisha mencengkram bajuku dengan kuat, meluapkan emosinya.
“Apa salahku, Mas? Apa salahku? Mengapa kau terus menyakitiku?”
“Kau tidak salah. Kau tidak salah. Aku yang salah. Aku yang jahat. Berhentilah menangis Aisha. Aku tidak bisa melihatmu begini” ucapku sembari menggelengkan kepala.
Ku peluk Aisha sambil mengusap-usap kepalanya. Aisha terus saja meracau dan aku membiarkannya.
Tangis Aisha mereda dan ia mulai melepaskan cengkramannya pada bajuku. Aisha membalas pelukanku dengan isak tangisnya yang tersisa. Aku mencium kedua matanya yang basah karena ulahku. Menghapus air matanya yang masih tersisa di pipinya.
“Maafkan aku, Aisha. Aku tidak tegas dengan Ara. Aku membiarkanmu tersakiti terus-menerus. Aku berjanji akan menjauh dari Ara. Aku tidak mau menyakitimu lagi" ucapku yang dibalas anggukan kepala Aisha.
Aku memejamkan mata, menenangkan isi kepalaku yang tadi sempat panas. Aku berkali-kali menarik nafas panjang, menetralkan detak jantungku yang kacau.
Drrtt... drrt.... drrt...
Ponselku berbunyi dan dengan segera aku merogoh saku celanaku. Alvian, asistenku yang menelpon. Aku segera menggeser tombol hijau untuk menjawab panggilannya.
“Ya, Alvian, ada apa?”
“Pak Ale perusahaan kita kebakaran”
“Apa????!!!” aku berteriak mendengar perkataan Alvian.
“Cepat berkemas! Kita kembali ke Jakarta sekarang!" ucapku pada Aisha.
“Ke... ke... kenapa, Mas? Ada apa?” tanya Aisha kebingungan.
“Kebakaran. Kantor. Kebakaran. Perusahan. Kebakaran, Aisha” ucapanku kacau.
Aisha menganga dan dengan cepat kami berdua bergerak mengemasi barang-barang kami. Kami bergegas meninggalkan Labuan Bajo dan kembali ke Jakarta malam ini juga.
Tidqk patut dicontoh, IDE YG ABSURD, KARAKTER YG HALU.....
ADA YQ PEREMPUAN SEPERTI KIERA nemplok diidenyq thor
ABSURD BANGET
ABSURD BANGET