NovelToon NovelToon
Bucinya Seorang Duda Dingin

Bucinya Seorang Duda Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Azarrna

Aru dan Kenan adalah cerita tentang luka yang tak sengaja saling bersentuhan.
Aru, perempuan lembut dengan keteguhan hati yang sunyi, dipertemukan dengan Kenan—seorang ayah tunggal yang keras, protektif, dan menyimpan ketakutan terdalam akan kehilangan.

Sebuah pertemuan yang seharusnya biasa justru berujung luka, membuka tabir emosi yang selama ini terkunci rapat. Di tengah kesalahpahaman, tangisan seorang anak, dan perasaan bersalah, tumbuh kehangatan yang tak direncanakan.

Ketulusan Aru yang menenangkan dan naluri keibuannya perlahan meruntuhkan dinding pertahanan Kenan. Sementara Kenan, tanpa sadar, kembali belajar mempercayai cinta—meski hatinya terus mengingatkan untuk menjauh.

Ini bukan kisah cinta yang terburu-buru, melainkan perjalanan perlahan tentang luka, tanggung jawab, dan keberanian untuk membuka hati sekali lagi.
.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azarrna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Setelah Aru dan Pak Bara pergi, Papi Bas dan yang lainnya kembali berkumpul di ruang tamu. Kenan sudah lebih dulu memindahkan Kai ke kamar dan kini duduk di salah satu sofa, diam, dengan wajah tertunduk.

Di ruang tamu, suasana sedikit lebih tenang, meski sisa ketegangan masih terasa. Papi Bas menatap Kenan cukup lama sebelum akhirnya berbicara.

“Lain kali berpikirlah sebelum bertindak,” ucapnya tegas namun tidak meninggikan suara.

“Kamu sadar, kan, kalau kamu sudah menyakiti seorang perempuan, Leo?”

“Iya, Pi,” jawab Kenan pelan. Kepalanya semakin menunduk. “Kenan salah.”

“Bukan cuma salah,” lanjut Papi Bas. “Kamu melukai orang yang sama sekali nggak punya niat buruk ke kamu.”

Kenan mengangguk pelan. “Kenan tahu… dan Kenan nyesel.”

“Papi harap ini jadi yang pertama dan terakhir.”

“Iya, Pi.”

“Dan satu lagi,” lanjut Papi Bas, suaranya sedikit lebih dalam. “Emosi kamu itu berbahaya. Bukan cuma buat orang lain, tapi juga buat diri kamu sendiri.”

Kenan mengangguk kecil. “Iya, Pi.”

“‘Iya, iya’ aja terus, tapi masih aja emosian,” sela Joe sambil memasang wajah pura-pura galak, menirukan gaya orang dewasa. “Kalau gede nanti gimana tuh?”

Kenan langsung menatap Joe tajam. Tatapan dingin itu jelas mengandung peringatan.

“Lo jangan ikut campur,” ucap Kenan singkat.

Joe malah nyengir. “Wih, serem.”

“Joe,” tegur Mami Amara dengan nada memperingatkan.

“Bercanda, Aunty,” jawab Joe santai, lalu tersenyum makin nakal.

Ia kemudian menoleh ke Papi Bas. “Oh ya, Om… kalau boleh tahu, Aru masih single apa nggak?”

Kenan refleks mengencangkan rahangnya. Tangannya mencengkeram gelas tanpa ia sadari.

Joe melirik sekilas ke arah Kenan, jelas-jelas menikmati reaksi yang mungkin muncul. Bahkan ia sempat memberi kode mata pada Papi Bas, meminta kerja sama untuk menjahili Kenan.

“Dari yang Om tahu,” jawab Papi Bas sambil menahan senyum, “semua anak keluarga Wiratama masih single. Termasuk Aru.”

Alis Joe langsung terangkat. “Wah, cocok dong, Om. Jodohin aja sama Joe.”

Kenan mengangkat wajahnya. “Joe.”

Nada suaranya rendah, tapi cukup untuk membuat Joe menoleh.

“Lo kenapa?” sahut Joe polos. “Takut kalah saing sama gue?”

“Joe,” Papi Bas mencoba menengahi, meski senyumnya belum hilang.

“Kalau kamu mau,” lanjut Papi Bas, seolah sengaja, “Om bisa bicarain sama keluarganya.”

Crack.

Suara retakan kecil terdengar.

Semua mata refleks tertuju ke arah Kenan.

Gelas di tangannya pecah, retaknya menjalar cepat sebelum akhirnya serpihannya jatuh ke lantai. Air di dalamnya tumpah, membasahi celana Kenan, namun ia seolah tak merasakannya.

“Astagfirullah…” Mami Amara berdiri panik. “Kenan!”

Kenan menatap tangannya sendiri, terkejut. Baru sekarang ia menyadari betapa kuat cengkeramannya barusan.

"Tangan lo berdarah bang. " ucap Nathan yang juga terkejut.

Kenan mengepalkan rahangnya. Dadanya naik turun, napasnya berat. Ia menoleh ke arah Joe, matanya gelap bukan marah pada bocah itu, melainkan pada perasaan asing yang tiba-tiba menguasainya.

Kenan berdiri. “Cukup,” ucap Kenan dingin. “Nggak lucu.”

Joe terdiam sejenak, sedikit terkejut dengan nada itu.

“Kenan, duduk dulu,” pinta Mami Amara cemas.

“Mami ambilin obat—”

“Nggak usah, Mi,” potong Kenan pelan tapi tegas.

Ia berdiri, mengabaikan darah yang masih menetes dari telapak tangannya. “Kenan ke kamar.”

“Ken, obatin dulu luka kamu, Nak,” ujar Mami Amara lirih.

“Biarkan,” cegah Papi Bas tenang. “Dia seorang dokter. Dia tahu apa yang harus dia lakukan.”

Kenan melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Joe menelan ludah. “Kayaknya… gue keterlaluan ya, Om?”

Papi Bas menghela napas panjang.

“Itu bukan soal bercanda,” ujarnya pelan. “Itu perasaan yang baru dia sadari.”

Mami Amara memandang ke arah tangga dengan wajah khawatir.Karena mereka semua tahu retaknya gelas tadi bukan sekadar pecah karena emosi, melainkan karena cemburu yang tak lagi bisa disangkal.

Sementara itu, Kenan masih diliputi amarah setelah mengingat setiap kata yang dilontarkan Joe tadi. Dadanya terasa sesak, emosinya tak terkendali. Dengan langkah cepat, ia masuk ke

kamar lalu menutup pintu dengan kasar.

BRAKKK!

Namun gerakannya mendadak tertahan.

Di ranjang, Kai terlelap,napas kecilnya teratur, wajah polos itu sama sekali tak menyadari badai emosi yang sedang terjadi di sekitarnya. Kenan mengepalkan tangan, rahangnya mengeras. Ia membalikkan badan, menahan teriakan yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

“Arrgghh…” suara itu keluar tertahan, lebih seperti erangan frustasi.

Kenan meluapkan kekesalannya dengan mengacak-acak sisi kamar lainnya. Selimut dan bantal ia tarik kasar hingga terjatuh ke lantai, sprei kasur ikut terlepas. Kamar itu kini berantakan seperti kapal pecah, kontras dengan sosok kecil yang masih tertidur damai di ranjang. Rambut Kenan sudah acak-acakan, napasnya memburu.

“Sial… kenapa gue bisa semarah ini?” gumamnya pelan, mengusap wajah tampannya dengan kasar.

Ia akhirnya duduk di tepi ranjang king size itu, menjaga jarak agar tidak membangunkan Kai. Pandangannya jatuh pada anak itu sejenak, lalu kembali kosong. Kenan menghela napas panjang, mencoba menenangkan gejolak hatinya yang tak karuan.

“Huft… kenapa gue jadi kayak gini sih…” bisiknya frustasi.

“Kenapa gue bisa marah cuma gara-gara omongan si Joe sialan itu? Padahal gue nggak ada hubungan apa-apa sama Aru…”

Kenan menunduk, jemarinya mencengkeram seprai yang tersisa.

“Ah, sial… kalau begini terus, gue bisa gila.”

Tanpa ia sadari, amarah itu bukan sekadar kesal. Ada sesuatu yang lebih dalam—perasaan yang tumbuh diam-diam dan tak mau ia akui. Cemburu.

Aneh, bukan? Kenan tidak memiliki hubungan apa pun dengan Aru.

Lalu kenapa dadanya terasa panas saat mendengar Joe menyebut namanya?

Kenapa emosinya meledak tanpa kendali?

Kenan melirik Kai yang masih tidur lelap, lalu memejamkan mata.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?

Untuk saat ini, biarlah waktu yang menjawab.

****************

Pagi itu, sinar matahari masuk lembut melalui jendela ruang makan rumah keluarga Aru. Aroma roti panggang dan kopi memenuhi udara. Mereka duduk mengelilingi meja makan,tidak tergesa, tidak pula sibuk dengan ponsel. Hari libur memberi mereka satu kemewahan: waktu bersama.

Ayah Dika menyandarkan punggungnya di kursi, satu alis terangkat saat matanya menyapu ketiga anaknya.

“Hari ini kalian bertiga mau ngapain?” tanyanya sambil mengaduk kopi, nadanya ramah seperti biasa. Ayah Dika termasuk sosok Ayah yang sangat hangat dengan keluarga nya.

Alvian membuka mulut lebih dulu, bahunya sedikit naik, ekspresinya sudah seperti orang yang baru bangun tidur.

“Kakak mau ti—”

“TIDUR.”

Tiga suara menyatu dalam satu kata.

Alvian berkedip, lalu terkekeh kecil, sudut bibirnya naik santai.

“Nah itu dia,” katanya sambil tersenyum puas. “I love family. Kompak tanpa latihan.”

Ayah Dika mendengus, dahinya sedikit berkerut.

“Kamu itu, Vian, hidupnya cuma tidur sama kerja. Nggak kepikiran cari angin atau sosialisasi gitu?”

Alvian mengangkat bahu, wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa bersalah.

“Capek, Yah. Cuma di hari libur ini Vian bisa tidur lama. Selebihnya kerja rodi di perusahaan Ayah.”

Sendok di tangan Ayah Dika berhenti sejenak sebelum diletakkan.

“Terserah kamu lah,” ucapnya, suaranya berat. “Ayah capek.”

Mama Yasmine langsung menoleh, tatapannya lembut, senyumnya menenangkan.

“Biarkan dia menikmati hari liburnya, Yah. Anak itu kerjanya juga nggak main-main.”

Wajah Alvian langsung berbinar. Ia berdiri, melingkarkan tangan ke bahu sang mama.

“Mama emang yang paling pengertian,” katanya manja.

Ayah Dika melirik dengan sudut mata, bibirnya tertarik tipis.

“Iya, iya. Beruntung kamu selalu dibela.”

Alvian hanya menyeringai kecil.

Ayah Dika kemudian menatap Aru yang sejak tadi sarapan dengan tenang.

“Hari ini kamu ada kegiatan, Dek?”

Aru terdiam sejenak. Tangannya refleks menggenggam sendok. Dalam benaknya terlintas janji dengan Nathan—dan luka semalam yang sengaja ia sembunyikan dari keluarga. Ia menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Nanti siang adek mau jenguk salah satu anak kantor yang lagi dirawat di rumah sakit,” katanya tenang, meski itu kebohongan.

“Oh?” Alvaro langsung menoleh. “Biar abang antar.”

“Bukannya abang nanti siang mau main bola?” Aru menatap kakaknya, mencoba terdengar biasa saja.

Alvaro terdiam, matanya berputar sejenak sebelum ia menghela napas pendek.

“Oh… iya ya. Abang lupa.”

“Kalau begitu Ayah aja yang antar kamu,” tawar Ayah Dika spontan.

“Nggak usah, Yah,” Aru cepat menolak. “Adek nanti minta dianter sopir aja. Lagian Ayah juga butuh istirahat. Tekanan darah Ayah masih tinggi.”

Alvaro mengangguk setuju. “Adek bener, Yah. Ayah jangan kebanyakan aktivitas dulu.”

“Iya,” sambung Aru pelan, “Ayah nggak usah khawatir. Kali ini adek pakai sopir, kok.”

Ayah Dika menatap Aru beberapa detik, seolah ingin mengatakan sesuatu, lalu akhirnya mengangguk.

“Ya sudah… terserah kamu saja. Hati-hati di jalan.”

Aru tersenyum kecil.

“Iya, Yah.”

Namun di balik senyum itu, ada kegelisahan yang ia simpan rapat-rapat, jauh dari pandangan keluarganya yang masih larut dalam hangatnya pagi hari.

Bersambung..................

1
Faidah Tondongseke
Aamiin..🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!