Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Kenikmatan yang tak pasti
Beberapa jam berlalu, suasana rumah yang tadinya sepi mulai berubah. Jarum jam menunjukkan pukul satu siang ketika tiba kakak pulang dari sekolah.
Wajahnya tampak lelah, dengan bekeringat yang sedikit membasahi keningnya karena terik matahari. Ia melangkah masuk ke dalam rumah sambil menjinjing tas ranselnya yang tampak berat itu.
"Assalamu'alaikum," serunya sambil melepas sepatu.
Ibu segera bangkit dari duduknya untuk menyambut kakak, sementara aku langsung menoleh ke arah pintu.
"Wah, Ibu masak apa? Baunya enak banget sampai ke depan," tanya kakak
matanya langsung berbinar menatap ke arah meja makan.Ibu tersenyum hangat, lalu mengusap bahu kakak lembut.
"Ibu masak sayur bayam dan ikan. Ganti baju dulu, cuci tangan, lalu kita makan sama-sama."Mendengar itu, rasa lelah di wajah kakak seolah hilang seketika.
Ia bergegas menuju kamar untuk bersiap-siap, tidak sabar untuk segera menikmati suapan demi suapan lezat yang beberapa jam lalu sudah membuatku kenyang dan bahagia. Kakak kembali ke meja makan dengan wajah yang sudah segar setelah mencuci tangan dan berganti pakaian santai. Kakak langsung mengambil piring dan menikmati nasi yang masih hangat, sayur bayam yang segar, serta ikan buatan ibu.
Aku duduk di sampingnya sambil menemani kakak makan dan menceritakan sedikit kejadian ujian di sekolah. Setelah suapan terakhirnya habis, Kakak meletakkan sendok dan garpu di atas piring yang kini bersih tanpa ada sisa.
"Wah, masakan Ibu tidak pernah gagal," ujar Kakak sambil tersenyum lebar.
Ibu tersenyum
Aku tertawa melihat ekspresinya yang sangat mirip denganku beberapa jam lalu. Kakak kemudian berdiri, membawa piring kotornya ke bak cuci piring. Dan ia mengambil segelas air putih untuk ia minum.
"Nah, bagaimana cerita ujianmu Tadi?" tanya kakak.
"ujian tadi mudah. semua latihan soal yang kakak berikan semalam teringat di kepalaku tidak ada hambatan" jawabku sambil tersenyum.
Kakak tersenyum lebar mendengar jawabanku. Ia duduk kembali di kursi sebelahku sambil meletakkan gelasnya di meja.
"Wah, bagus kalau begitu. Usahamu semalam belajar sampai larut malam tidak sia-sia,". kata Kakak dengan nada bangga.
Ibu berjalan dari arah dapur membawa mangkuk kecil berisi kerupuk. Ibu memandangku dan ikut tersenyum hangat
"Baguslah" ucap ibu lembut.
Sore tiba begitu cepat bapak pulang dari pekerjaanya.
Bapak menghampiri kami di ruang keluarga sambil meletakkan kunci motor. Wajahnya tampak lelah. Melihat itu, ibu segera beranjak ke dapur tanpa mengucapkan kata pun. Kami tahu, ibu sedang membuatkan teh manis hangat, andalan untuk mengusir penat bapak setelah seharian berkerja.
Tidak lama kemudian, Ibu kembali dari dapur membawa secangkir teh manis hangat. Asap tipis mengepul dari cangkir itu, membawa aroma melati yang menenangkan ke seluruh ruangan. Ibu meletakkannya dengan sangat hati-hati di atas meja.
Suara denting sendok yang beradu dengan cangkir kaca terdengar pelan. Kehangatan yang mengalir di antara mereka bukan sekadar teh yang tersaji, melainkan karena kenikmatan dari sebuah kebersamaan yang tulus dan sederhana.Mereka mengobrol dengan suara rendah, Nada bicara mereka terdengar, sesekali diselingi tawa kecil membahas rencana keluarga atau sekadar bertukar cerita tentang hari yang baru saja dilewati.
Melihat kenyamanan itu, aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Masih ada satu ujian penting yang harus kuhadapi besok pagi, dan aku tidak boleh lengah.
Di dalam kamar, suasana terasa sunyi namun produktif. Di sampingku, Kakak sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Jari-jarinya bergerak lincah di atas kertas, merangkum materi-materi penting dengan stabilo.
Hanya ada suara gesekan pena dan lembar halaman yang dibalik sesekali.
Keesokan harinya, alarm kamar berdering pagi-pagi sekali. Rasa gugup dan semangat bercampur aduk.
Setelah sarapan singkat dan berpamitan dengan Ibu dan Bapak, "semangat". aku dan Kakak berangkat ke sekolah. Dan ini adalah Ujian hari terakhir yang kemarin baru saja ku jalani sudah berakhir saja namun ada baiknya karena bisa cepat-cepat pergi dari SD.
Semua materi yang dirangkum Kakak semalam keluar di lembar soal. Ketika bel tanda selesai berbunyi, aku mengembuskan napas lega yang panjang. Beban berat di pundakku rasanya langsung terangkat.
Beberapa hari kemudian, masa-masa menegangkan itu akhirnya benar-benar usai. "Pengumuman kelulusan pun tiba, dan nilai ujianku sangat memuaskan."
Dirumah kami kembali dipenuhi tawa dan rasa syukur. Namun, kesibukan baru telah menanti kami berdua.
Sebelum aku mulai mendaftar ke jenjang berikutnya, Kakak sudah lebih dulu sibuk mengurus berkas-berkasnya.
Ia sudah diterima di SMA negeri impian nya
Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Ditemani oleh Kakak yang kini sudah berpengalaman, mendaftar aku melangkah mantap menuju sekolah baru untuk mendaftar masuk SMP.
Kakak berjalan di sampingku, sesekali memberikan petunjuk tentang ruang pendaftaran dan berkas apa saja yang harus kusiapkan. Langkah kami terasa begitu ringan, membawa harapan baru untuk masa depan kami masing-masing. Di sekolah ramai sekali para ibu-ibu mendaftarkan anaknya.
Langkah kami yang semula terasa ringan tiba-tiba melambat saat kami terperangkap di tengah kerumunan di depan papan pengumuman. Di sana, suara gemuruh, dan perdebatan antar ibu-ibu terdengar lebih nyaring daripada pengeras suara panitia.
"Eh, Jeng, katanya jangan lewat jalur zonasi dulu kalau nilainya mepet. Sekarang aturannya berubah, daftar lagi katanya lewat online!"
Kakak langsung menghentikan langkahnya, menatap berkas di tangannya dengan dahi berkerut.
"daftar online kan sudah didaftarkan sebelumnya oleh guru SD apa daftar lagi?" gumam Kakak, suaranya hampir tidak terdengar karena suara orang-orang di sekitar kami ramai. Seorang ibu dengan sanggul tinggi di sebelah kami menoleh, wajahnya tampak panik sekaligus sok tahu.
"Aduh, Mbak, mending dengerin omongan saya. Tahun ini beda! Kalau gak input ulang sekarang, namanya bisa hangus dari sistem!"
"Tapi, Bu, dari sosialisasi sekolah kemarin katanya sudah otomatis masuk,"
sahut Kakak, mencoba membela diri walau suaranya mulai bergetar ragu.
"Halah, otomatis gimana? Tahun kemarin ada yang gak daftar ulang mandiri langsung hilang namanya! Jangan percaya sistem, Mbak, mending buruan cabut berkas!"
timpal ibu-ibu yang lain sibuk mengipasi diri dengan map plastik.
Suasana makin kacau. Beberapa orang berlarian keluar gerbang sekolah, memburu warnet terdekat. aku dan kakak saling berpandang kebingungan harus bertahan di antrean atau ikut berlari mengejar ketidakpastian.
Tiba-tiba, dari arah pengeras suara, terdengar suara panitia yang memecah kegaduhan.
“Cek, satu, dua... Mohon perhatian kepada seluruh calon wali murid. Panitia baru saja menempelkan daftar final jalur zonasi murni di papan pengumuman utama. Silakan dicek nama siswa terlebih dahulu sebelum melakukan tindakan lain.”
Kerumunan langsung bergeser.
Kakak menarik lenganku erat-erat, menyelip di antara siku dan bahu ibu-ibu yang saling sikut. Begitu berhasil mencapai di papan pengumuman mata Kakak menyusuri selembar kertas besar.
"Lho... Kak, lihat!" Aku menunjuk ke baris nomor dua puluh empat. Kakak tertegun.
Di sana, tercetak jelas dengan tinta hitam Nama, Nomor Peserta, dan Sekolah
"Kok bisa? Kita kan belum daftar ulang sama sekali?" Kakak memastikan kembali melihat nya lebih teliti.
Di papan itu tertulis namaku aku sudah terdaftar!.
Kakak mengembuskan napas lega, lalu menatap kerumunan ibu-ibu yang masih berdebat kusir di belakang kami. Ternyata, semua kepanikan, desas-desus harus input ulang, dan ancaman nama hangus itu... semuanya cuma omong kosong belaka.
Kami saling tertawa.
pokoknya harus Sampek ending