**Isteri Sah di Balik Bayangan**
Sepuluh tahun menikah, Aina, PNS di Kantor Camat Pujut, Lombok Tengah, akhirnya hamil. Ia berniat memberi kejutan pada suaminya, Lalu Raka. Namun di dekat Pantai Kuta Mandalika, ia justru melihat Raka menggendong seorang bocah yang memanggilnya "Bapak", ditemani wanita bernama Baiq Sekar.
Hari itu juga, dari data kependudukan yang setiap hari ia urus, Aina menemukan kebenaran paling pahit: Sekar adalah istri pertama. Selama ini, dialah istri kedua yang hidup di balik bayangan.
Bertahan dalam kebohongan, atau pergi membawa buah hati yang telah lama ia nantikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon christinsenia seranica, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Menuju Kawo
Lale Rukmini menurunkan tangan dari wajahnya. Untuk beberapa saat ia hanya menatap Aina, seolah tidak mengerti kata-kata yang baru saja ia dengar.
"Masih… hidup?"
"Dia datang ke loketku Bu, Pagi yang sama ketika aku tahu aku hamil." Suara Aina bergetar. "Beliau datang kesana untuk memperbaiki KTP berharap anaknya mencarinya." Ujar Aina yang terdengar bersemangat
Masih dengan tempat yang sama, Ruangan yang sama kotak kayu itu masih berada di pangkuan Lale Rukmini. Ucapan Aina itu membuat tangan Lale Rukmini bergetar. "Tiga puluh tahun," bisiknya. "Tiga puluh tahun aku takut namanya disebut dan selama itu ia tinggal tidak sampai setengah jam dari rumahku."
"Raka harus tahu Bu," kata Aina pelan. "Bukan dariku tapi Dari Ibu sendiri."
Lalu Lale Rukmini menoleh ke arah pintu, ke lorong tempat anaknya tertidur. Beliau terdiam dalam waktu yang cukup disana sampai akhirnya beliau bicara dengan nada suara pelan tetapi tidak lagi gemetar.
Keesokan paginya ketika ketika Aina membuka matanya, Bu Rukmini masih memegang erat dan memeluk kotak kayu itu didadanya.
Perlahan-lahan Aina melangkah keluar tanpa menutup pintu rapat-rapat. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Aina melihat perempuan tua itu duduk di bangku seberang lorong, tepat di depan Raka yang tertidur bersandar di dinding. Ia memangku kotak kayunya dan menatap wajah anaknya lama sekali, seperti seseorang yang baru pertama kali benar-benar melihatnya.
Ia tidak beranjak dari bangku itu sampai azan subuh berkumandang.
Beberapa jam kemudian terdengar suara azan dari masjid yang tak jauh dari rumah sakit tempat Aina di rawat. Raka yang mendengar azan berkumandang langsung terbangun dari tidurnya. Lehernya tampak kaku karena semalaman tertidur bersandar di dinding lorong. Kunci mobil masih tergenggam di tangannya.
Begitu Raka terbangun, Hal pertama yang ia lihat adalah ibunya.
Lale Rukmini pagi itu terlihat masih duduk di bangku seberang lorong, masih mengenakan kebaya ungu yang sama dengan kemarin. Matanya bengkak. Di pangkuannya ada sebuah kotak kayu berukir yang belum pernah Raka lihat seumur hidupnya. Wajahnya kuyu, seperti tidak memejamkan mata sedikit pun.
"Ibu? Sejak kapan Ibu di sini?"
Lale Rukmini tidak menjawab. Ia berdiri perlahan, lalu menoleh ke arah pintu kamar Aina yang sedikit terbuka.
"Masuklah Raka, Ada yang harus Ibu katakan. Aina harus ada di sana ketika Ibu mengatakannya, Ibu lelah menyimpan semua ini sendiri."
Setelah itu, Lale Rukmini menceritakan semuanya pada Raka dengan jelas dari awal. hingga akhir tanpa ada satu pun yang terlewat. Ditempat itu juga ada Aina yang juga mendengarkan.
Aina melihat Raka berdiri di dekat jendela, mendengarkan ibunya bercerita dengan suara datar dan terbata-bata. Ia melihat wajah suaminya berubah pelan-pelan. Bingung, lalu tidak percaya, lalu marah, lalu sesuatu yang lebih dalam daripada marah, sesuatu yang tidak memiliki nama.
"Ibu bohong," ucap Raka ketika ibunya selesai. Suaranya serak. "Ibu bilang begitu supaya aku kasihan. Supaya aku tidak marah soal Aina."
Lale Rukmini tidak membantah. Ia hanya membuka kotak kayu itu dan mengeluarkan gelang perak kecil yang sudah kusam.
"Lihat bagian dalamnya, Nak."
Raka menerima gelang itu dengan tangan gemetar. Ia memutarnya di bawah cahaya lampu. Di bagian dalam lingkaran perak itu, terukir huruf-huruf kecil yang nyaris aus.
"Bayu"
"Itu nama yang Sumiati berikan padamu," bisik Lale Rukmini. "Sebelum Mamik-mu dan mertuaku menggantinya menjadi Lalu Raka."
Raka menatap gelang itu lama sekali. Lalu ia terduduk di lantai rumah sakit, punggungnya bersandar di dinding, dan menangis seperti anak kecil.
Aina belum pernah melihat Raka menangis seperti itu. Tidak ketika Raka berlutut di ruang tamu dengan alat tes kehamilan di tangannya. Tidak ketika ibunya menamparnya di halaman kantor camat. Tangis ini berbeda, Tangis seseorang yang tiba-tiba kehilangan pijakan tempatnya berdiri selama tiga puluh tahun lebih.
"Jadi itu sebabnya," ucap Raka di sela isaknya. "Itu sebabnya aku selalu merasa seperti tamu di rumahku sendiri. Selalu merasa harus menyenangkan Ibu. Selalu takut kalau tidak menurut, aku akan… dibuang."
Lale Rukmini menutup mulutnya dengan ujung selendang, Ia tidak mendekat, Tapi tahu ia tidak berhak.
Di ranjangnya, Aina merasakan sesuatu bergeser di dalam dirinya. Selama berhari-hari ia hanya melihat Raka sebagai pembohong. Lelaki yang memilih menipu dari pada jujur. Tetapi sekarang ia melihat seorang bayi yang dirampas dari pelukan ibunya, lalu dibesarkan untuk percaya bahwa cinta harus dibayar dengan kepatuhan.
Itu tidak menghapus kesalahan Raka. Tetapi untuk pertama kalinya, Aina mengerti dari mana luka itu berasal.
"Di mana dia, Na?" tanya Raka akhirnya, mengangkat wajahnya yang basah. "Ibu bilang kamu tahu."
Aina mengangguk pelan. "Aku tidak akan membuka data kependudukan untuk mencarinya Mas, Itu bukan untuk urusan pribadi. Aku sudah melanggarnya sekali waktu mencari namamu, dan aku tidak akan mengulanginya."
Ia menarik napas, mengingat-ingat pagi itu.
"Tapi waktu dia datang ke loketku, dia banyak bercerita sambil menunggu. Katanya rumahnya di dekat oven tembakau tua, di belakang masjid dusun. Katanya dia tinggal sendirian. Tidak ada anak yang mengurusnya." Suara Aina melemah. "Waktu itu aku kasihan padanya. Aku tidak tahu siapa dia."
Raka menggenggam gelang perak itu erat-erat. "Aku mau ke sana. Hari ini."
"Tidak," sahut Aina, lebih tegas daripada yang ia duga. "Tidak hari ini, tidak tanpa aku."
Raka menatapnya, terkejut.
"Dia yang menggenggam tanganku pagi itu Mas, Dia yang mengeja namanya huruf demi huruf supaya KTP-nya benar. Katanya, siapa tahu anaknya mencarinya." Aina menyentuh perutnya. "Aku mau ada di sana ketika doanya terjawab."
Tiga hari kemudian, dr. Nurhasanah mengizinkan Aina pulang dengan banyak syarat. Tidak boleh bekerja dua minggu. Tidak boleh mengangkat beban berat dan tidak boleh naik motor. Perjalanan dengan mobil boleh, asal pelan dan tidak lama.
"Kawo itu dekat Dok," kata Aina. "Tidak sampai setengah jam dari sini."
Dokter muda itu menatapnya curiga, lalu tersenyum. "Asal Ibu duduk diam dan ada yang menjaga."
Yang menjaga ternyata banyak. Hamdan menyetir mobil pinjaman temannya dengan sangat pelan, menghindari setiap lubang di jalan. Ibu Aina duduk di jok belakang di samping putrinya, membawa sebotol air dan sebungkus roti. Raka duduk di jok depan, diam sepanjang jalan, gelang perak itu tak pernah lepas dari genggamannya.
Kemudian di belakang mereka, sedan hitam Lale Rukmini mengikuti.
Perempuan tua itu bersikeras ikut. "Aku yang memisahkan mereka," katanya kemarin kepada Aina. "Aku harus ada di sana untuk meminta maaf. Kalau dia mengusirku, aku akan pergi. Tapi aku harus datang."
Jalan menuju Desa Kawo membelah hamparan sawah yang sudah ditanami tembakau. Daun-daunnya lebar dan hijau pucat, bergoyang ditiup angin kemarau. Di beberapa tempat, berdiri bangunan tinggi dari bata merah dengan atap seng berkarat, oven-oven tembakau yang sebagian sudah tidak dipakai lagi.
Aina menatap semuanya dari balik jendela. Di sinilah Sumiati tumbuh. Di sinilah ia menunggu lebih dari tiga puluh tahun.
Masjid dusun itu kecil, bercat hijau, dengan kubah seng yang mulai berkarat. Di belakangnya terlihat sebuah oven tembakau tua menjulang, temboknya retak-retak ditumbuhi lumut.
Seorang bocah laki-laki yang sedang bermain layangan menunjukkan jalan. "Inak Sumi? Itu rumah yang ada pohon jambunya."
Rumah itu kecil. Dindingnya setengah bata, setengah anyaman bambu. Atapnya genteng tanah liat yang sebagian sudah ditambal seng. Di halaman depan ada sebuah berugak tua, Di atasnya seorang perempuan renta sedang duduk bersila, menyusun daun-daun tembakau kering ke dalam ikatan.
Rambutnya sudah memutih seluruhnya, digelung kecil di tengkuk. Punggungnya bungkuk. Tangannya yang kurus dan berurat bergerak pelan, tetapi cekatan.
Aina turun dari mobil lebih dulu, dibantu ibunya. Raka menyusul, lalu berhenti di dekat pagar bambu, seolah kakinya tertanam di tanah.
Perempuan tua itu mengangkat wajah. Matanya menyipit, menatap Aina. Lalu senyum lebar mengembang di wajahnya yang penuh kerutan.
"Eh, Ibu dari kantor camat! Ibu yang baik itu!" Ia meletakkan daun tembakau dan bergeser hendak turun dari berugak. "Ada apa, Bu? KTP saya salah lagi?"
Aina tidak bisa menjawab. Tenggorokannya tercekat.
Di belakangnya, pintu sedan hitam terbuka. Lale Rukmini turun dengan langkah berat. Kebayanya hari ini berwarna gelap, tanpa songket, tanpa perhiasan.
Senyum di wajah Inaq Sumi perlahan memudar. Matanya yang keruh menatap perempuan berkebaya gelap itu lama sekali. Tangannya mulai gemetar. Selembar daun tembakau yang masih tersisa di pangkuannya jatuh ke tanah.
"Lale…" bisiknya. "Lale Rukmini?"
Lale Rukmini tidak sanggup berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, air mata sudah mengalir di pipinya.
Inaq Sumi menatapnya, lalu pandangannya bergerak perlahan, seolah takut akan apa yang mungkin ia lihat. Melewati Lale Rukmini, Melewati Aina. Sampai akhirnya berhenti pada lelaki yang berdiri mematung di dekat pagar bambu dengan sesuatu yang berkilau di genggaman tangannya.
Yaitu sebuah *Gelang perak kecil*.
Perempuan tua itu memegang tiang berugak untuk menopang tubuhnya. Bibirnya bergetar. Ia menatap wajah Raka, lekuk alisnya, lesung pipi kecil di sisi kiri, seperti seseorang yang sedang mencocokkan wajah itu dengan wajah lelaki yang dulu menikahinya, Dengan wajah bayi yang hanya tiga hari sempat ia dekap.
Lalu, dengan suara yang nyaris tak terdengar, ia memanggil nama yang selama lebih dari tiga puluh tahun hanya ia ucapkan dalam doa.
"Bayu?"