Hampir tiga tahun menikah, Laras dan Robby belum juga memiliki anak. Hingga suatu hari, terjadi kesalahpahaman. Robby dan Soraya, ibu Laras mengira jika Laras mengalami masalah kesuburan.
Robby memanfaatkan kekurangan Laras untuk berpura-pura menjadi suami setia yang mau menerima Laras apa adanya. Ia bahkan mengajak Laras untuk mengadopsi anak.
Hal itu membuat Robby mendapat nilai plus dari Soraya. Ia bahkan menjanjikan jabatan tinggi untuk Robby di perusahaan.
Tentu, Robby sangat senang. Ia lalu mengajak keluarga dan selingkuhannya untuk bekerjasama merebut harta dan perusahaan milik keluarga Laras.
Tapi sayangnya, Laras mengetahui semuanya. Dan kali ini, Laras tidak akan menjadi korban. Justru, Laras yang akan memastikan keluarga parasit itu kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Laras 2
Keesokan paginya, suasana rumah terlihat berbeda dari biasanya.
Diah sudah bangun sejak pagi dan memakai baju terbaiknya. Ia bahkan menghabiskan waktu lebih lama untuk berdandan, memastikan penampilannya terlihat menarik sebelum pergi berbelanja.
Bima pun sudah siap dengan kemeja dan celana panjang yang rapi. Sementara itu, Maya terlihat tidak kalah bersemangat. Wanita itu memakai gaun pilihan yang membuatnya tampak lebih anggun daripada biasanya.
Bahkan, setelah tahu Laras akan membayar seluruh belanjaan mereka, Maya sudah membuat daftar barang yang ingin ia beli nantinya.
Meskipun Robby sudah sering membelikannya berbagai barang, hal itu tidak pernah membuat Maya benar-benar puas.
Baginya, semakin banyak yang bisa ia dapatkan, semakin baik. Dan, kesempatan kali ini terlalu menggiurkan untuk dilewatkan.
Maya duduk di sofa sambil memeriksa daftar belanjaannya sekali lagi. Sesekali, ia melirik ke arah tangga, menunggu Laras muncul.
"Apa benar wanita itu akan mentraktir kita?" tanyanya pada Robby yang duduk di sebelahnya.
"Tentu saja," jawab Diah. "Dia sendiri yang menawarkan. Hari ini, kita bisa berbelanja sepuasnya."
Maya menyeringai senang. "Ternyata kamu benar, sayang. Asalkan kita bersikap baik padanya, dia bisa memberikan apa pun yang kita inginkan."
Robby terkekeh kecil. "Tentu saja, Sayang. Laras itu terlalu mudah percaya. Selama kita pandai memainkan peran, dia tidak akan menyadari apa pun."
"Benar-benar bodoh," gumam Maya sambil tertawa pelan.
Robby mengangguk setuju. "Makanya, jangan sampai kamu merusak rencana kita. Bersikaplah seperti biasa. Jangan membuatnya curiga."
"Tenang saja, Mas. Aku tahu apa yang harus aku lakukan."
Mereka kembali tertawa kecil, merasa begitu yakin kalau Laras masih bisa mereka kendalikan dengan mudah.
Namun, tanpa mereka sadari, Laras sudah berdiri di tengah tangga.
Wanita itu mendengar percakapan mereka dengan jelas. Tatapannya menyapu wajah Robby dan Maya yang terlihat begitu puas membicarakannya, seolah-olah ia hanyalah seseorang yang bisa dipermainkan sesuka hati.
Laras menaikkan sudut bibirnya. Ia memasang wajah lemas dan sengaja memperlambat langkah, kemudian memegang kepalanya dengan satu tangan.
"Aduh ..."
Rintihan itu membuat Robby dan yang lain serentak menoleh.
Robby bahkan langsung bangkit dari sofa. "Sayang, kamu kenapa?" Ia bergegas menghampiri Laras yang sedang menuruni anak tangga dengan langkah pelan. Wajahnya menunjukkan rasa khawatir yang tampak meyakinkan, seolah-olah ia benar-benar takut terjadi sesuatu pada istrinya.
"Duduk dulu, Sayang. Kamu kelihatan pucat." Robby membantu Laras berjalan menuju sofa.
Laras tidak meolak. Ia membiarkan Robby menuntunnya, lalu duduk sambil memijat pelipisnya.
Diah yang melihat itu langsung mengerutkan kening. "Laras, kenapa kamu belum bersiap?" tanyanya. "Kita mau pergi berbelanja, bukan?"
Laras menunduk, lalu menghembuskan napas seolah sedang menahan rasa pusing.
"Maaf, Bu. Sepertinya aku tidak bisa ikut."
"Apa?" Diah langsung terkejut. "Kenapa?"
"Kepalaku tiba-tiba pusing. Badanku juga agak lemas." Laras mengusap pelipisnya lagi. "Sepertinya, aku perlu beristirahat di rumah."
Wajah Diah seketika berubah muram. Ia sudah membayangkan akan membeli berbagai barang yang ia inginkan, tapi semua batal karena Laras tidak bisa ikut.
Tapi, sebelum Diah sempat melontarkan keluhannya, Laras lebih dahulu meraih dompet nya.
"Tapi, Ibu tidak perlu khawatir." Ia membuka dompet, mengambil sebuah kartu, lalu meletakkannya di atas meja. "Kalian pergi saja dan, gunakan kartu ini untuk membayar semua yang ingin kalian beli."
Tatapan Diah langsung tertuju pada kartu tersebut. Lalu, beralih melirik Bima dan Maya secara bergantian.
"Kalau begitu ..." Diah segera mengambil kartu itu dan menggenggamnya erat.
"Kami pergi sendiri saja, ya. Kamu istirahatlah di rumah. Jangan memaksakan diri kalau memang sedang tidak enak badan."
Laras mengangguk pelan. "Iya, Bu."
Diah tersenyum lebar. Rasa kesal yang tadi sempat muncul kini menghilang, tergantikan oleh rasa senang karena akhirnya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
Laras kemudian mengalihkan pandangan pada Robby. "Mas, kamu temani mereka, ya. Aku tidak ingin kalian membatalkan rencana hanya karena aku tidak bisa ikut."
Robby terdiam sejenak. Ia tentu ingin ikut pergi bersama keluarganya. Tapi, ia ingin terlihat seperti suami yang perhatian.
"Tapi, Sayang, kamu sedang sakit. Bagaimana kalau aku menemanimu saja di rumah?" ujar Robby.
"Benar, Nyonya," timpal Maya. "Kita bisa berbelanja lain waktu."
Laras tersenyum tipis. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya perlu beristirahat sebentar. Kalian pergilah. Ajak Bara bersenang-senang."
"Baik, Nyonya."
"Kamu yakin, sayang?" tanya Robby.
Laras mengangguk. "Iya. Mas pergi saja dengan mereka."
Robby menatap istrinya selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.
"Baiklah. Kalau begitu, aku akan mengantar mereka berbelanja dulu. Kalau ada apa-apa, segera hubungi aku, ya."
"Baik, Mas."
Diah yang sudah tidak sabar segera berdiri dan mengajak Bima bersiap pergi. Maya pun membenarkan posisi Bara yang berada dalam gendongannya, kemudian mengambil tasnya.
Tidak seorang pun dari mereka benar-benar memikirkan keadaan Laras. Perhatian mereka sepenuhnya tertuju pada kesempatan bersenang-senang menggunakan uang wanita itu.
"Ayo, kita berangkat sekarang!" serunya bersemangat.
Bima mengangguk dan segera mengikuti istrinya. Maya berjalan di belakang mereka sambil menggendong Bara, sementara Robby menjadi orang terakhir yang berpamitan pada Laras.
Pria itu membungkuk, lalu mengecup kening istrinya. "Aku pergi dulu, Sayang."
Laras menahan napas sesaat.
Sentuhan itu kembali membuatnya merasa jijik, tetapi ia tidak menunjukkan reaksi apa pun. Ia bahkan membalas dengan senyum kecil yang dipaksakan.
"Iya, Mas. Hati-hati di jalan."
Robby tersenyum puas, lalu bergegas menyusul keluarganya.
Tidak lama kemudian, suara langkah mereka menghilang, disusul suara mobil yang perlahan meninggalkan halaman rumah.
Laras tetap duduk di sofa selama beberapa saat, memastikan mereka benar-benar sudah pergi.
Begitu yakin rumah itu cukup sepi, senyum di wajahnya langsung menghilang. Ia meraih beberapa lembar tisu dari atas meja, lalu mengusap keningnya berkali-kali.
"Cih, menjijikkan," gumamnya dengan wajah muak.
Setelah membuang tisu ke tempat sampah, Laras segera meraih ponsel dari sakunya. Ia mencari nomor yang semalam ia hubungi, lalu menekan tombol panggil.
Panggilan pun tersambung.
"Mereka sudah pergi," ucap Laras.
Ia mendengarkan jawaban orang di seberang telepon, lalu mengangguk kecil. "Baiklah, aku tunggu kedatangan kalian."
Laras mengakhiri panggilan dan meletakkan ponselnya di atas meja. Kemudian, ia bangkit dari sofa. Ia berjalan menuju jendela, menyibak tirai sedikit, lalu memperhatikan halaman rumah yang kini kosong dengan senyum tipis yang kembali terukir di bibirnya.
"Aku harap, kalian bersenang-senang hari ini."
Laras berbalik dan kembali duduk di sofa. Selagi Robby dan keluarganya sibuk menghabiskan waktu untuk memuaskan keinginan mereka, ia akan memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjalankan rencananya.
Tidak lama setelahnya, suara mobil kembali terdengar terparkir di depan rumahnya.
Bi Asih bergegas membuka pintu, begitu mendengar suara ketukan pintu. Ia mempersilakan beberapa orang berseragam masuk, dan menemui Laras yang memang sudah menunggunya.
"Selamat pagi, Bu Laras," sapa Anita sopan. "Mereka adalah teknisi instalasi sistem keamanan dari perusahaan Sentinel Security Systems."
Laras mengangguk pelan. "Aku ingin memasang beberapa cctv di rumah ini. Pastikan menggunakan cctv yang canggih dan tidak mencolok," ucap Laras.
"Baik, Bu. Kalau boleh tahu, bagian ruangan mana yang ingin di pasang cctv?" tanya petugas teknisi.
"Ada beberapa. Terutama... " Laras mendongak, ke lantai atas tempat kamar Bara berada. "Di kamar putraku."
😒😒
itulah klo othor tdk tidur, pasti akan terbongkar wlo blm semua terbukti