Sejak zaman dulu, sepuluh padepokan saling serang demi pecahan Cincin Braja Moksa. Kabarnya, siapa pun yang menyatukan sepuluh pecahan itu akan menguasai dunia.
Satrio Caksena hanyalah murid Geni Wening, padepokan paling lemah yang tinggal punya tujuh murid dan seorang guru dengan cakra hancur. Saat Kala Ireng datang menuntut pecahan mereka, Satrio cuma bisa bangun lagi setiap kali dihajar.
Malam itu, ia menemukan kristal merah di bawah lantai pendapa. Kristal itu menyala karena darahnya dan membangunkan sisa jiwa seorang Prabu yang sudah mati ribuan tahun lalu.
Dari sang Prabu, Satrio mengetahui rahasia yang dilupakan semua padepokan. Cincin Braja Moksa ternyata segel. Di dalamnya terkurung Sandawa, raja siluman yang dulu hampir menguasai dunia. Setiap pecahan yang terkumpul membuat segel itu makin lemah.
Satrio harus menghentikan Kala Ireng sebelum cincin itu utuh kembali. Masalahnya, tidak ada yang mau percaya pada murid dari padepokan paling lemah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gadis Berselendang Biru
"Aku yang lebih dulu memegangnya," kata Satrio.
"Aku yang lebih dulu memesannya," balas gadis itu, "Tadi siang aku sudah ke sini. Pak Tua ini bilang daunnya baru dipetik sore."
"Aku jalan kaki tiga hari dari gunung untuk daun ini."
"Lalu? Kau pikir aku terbang ke sini?"
Satrio teringat lelaki berjubah hijau yang melayang di atas keris tadi siang, lalu melirik kaki gadis itu. Sandalnya berdebu sampai ke tumit.
Ia menoleh ke lelaki tua di balik meja. Lelaki itu terus mengunyah sirih. Matanya berpindah dari tangan Satrio ke tangan gadis itu, lalu kembali lagi, persis orang yang sedang menonton sabung ayam.
"Benar, Pak? Dia sudah memesan?"
Lelaki tua itu mengangkat bahu.
"Itu bukan jawaban," kata Satrio.
"Itu jawaban," kata gadis itu, "Artinya dia belum menerima uang dari siapa pun. Jadi yang membayar lebih dulu, dialah pemiliknya."
Tangan kanannya sudah merogoh kantong kain di pinggang. Satrio buru-buru merogoh sabuknya sendiri, tapi tangan kirinya masih memegang tali pengikat daun, jadi yang masuk ke balik sabuk adalah tangan kanan yang terbalut. Jari-jari yang kaku itu mencengkeram keping-keping tembaga, lalu menjatuhkan separuhnya ke lantai.
Kring! Kring!
Keping-keping itu menggelinding ke kolong meja. Gadis itu melirik ke bawah, lalu ke tangan kanan Satrio yang tersembunyi di balik lengan baju kebesaran.
"Kalau tanganmu sakit, kenapa tidak kau lepaskan saja daunnya?" katanya.
"Tanganku tidak sakit."
"Kalau begitu kenapa kau memungut uang seperti kakek-kakek?"
Satrio menarik ikatan daun itu ke arahnya. Gadis itu ikut menariknya ke arah sebaliknya. Tali serat di tengah ikatan itu menegang, lalu putus.
Daun-daun hijau keperakan berhamburan ke atas meja. Satrio terhuyung mundur, dan sikunya menyenggol sebuah keranjang di bawah meja. Keranjang itu terguling, dan isinya tumpah ke lantai tanah: daun-daun yang sama hijaunya, sama keperakannya, dan sama bentuknya.
"Hei!" Lelaki tua itu berhenti mengunyah sebentar, lalu melanjutkannya lagi.
Gadis itu langsung berjongkok. Ia memungut daun-daun di atas meja dan di lantai satu per satu, membalik setiap helai dengan cepat, memeriksa punggungnya, lalu menumpuk sebagian di tangan kiri dan menyisihkan sebagian lagi ke lantai. Gerakannya cepat seperti orang yang biasa memilah beras.
Satrio tidak mau kalah. Ia ikut berjongkok dan meraup segenggam daun yang paling dekat dengan kakinya.
"Jangan ambil yang itu," kata gadis itu tanpa menoleh.
"Kenapa? Ini bagianku. Kita bagi dua saja, separuh-separuh."
"Yang kau genggam itu Sukmawisa." Gadis itu membalik sehelai daun lagi dan menyisihkannya, "Kembarannya Sukmajati. Direbus sekali, orang yang meminumnya tidur dan tidak bangun lagi."
Satrio mengamati genggamannya. Daun-daun itu hijau keperakan, ujungnya runcing, dan permukaannya licin. Ia mengambil sehelai dari tumpukan di tangan gadis itu dan menjajarkannya dengan daun di genggamannya.
"Sama persis," katanya.
"Karena itu namanya kembar."
"Kau mengarang." Satrio menyipitkan mata, "Kau bilang begitu supaya aku menyerahkan bagianku, lalu kau ambil semuanya."
Gadis itu berdiri, menepuk-nepuk lutut kainnya, dan merebut kembali daun yang tadi diambil Satrio dari tumpukannya.
"Terserah," katanya, "Yang meminumnya nanti bukan aku."
Ia berbalik ke arah lelaki tua di balik meja dan mengeluarkan beberapa keping perak dari kantongnya.
Satrio menatap tumpukan daun di tangan kiri gadis itu. Lalu ia menatap daun di genggamannya sendiri. Ia teringat Ki Arya yang tidur dengan wajah kelabu di biliknya, dan Nyi Waru yang menyuruh Sekar menyiapkan kain putih.
'Kalau memang ada yang beracun, berarti yang dia pilih itu yang asli,' batinnya.
"Tunggu!" Satrio melompat berdiri, "Kalau begitu, tukar! Yang kau pegang itu untukku, yang ini untukmu!"
Ia meraih tumpukan daun di tangan gadis itu. Ujung jarinya baru menyentuh daun teratas saat gadis itu memutar tubuh. Gelang perak di pergelangannya berdenting. Telunjuk dan jari tengahnya merapat, lalu menunjuk ke tempayan besar di samping pintu toko.
"Tirta Sembur!"
Air di tempayan itu melompat keluar seperti ular yang diinjak ekornya, membelok di udara, dan menghantam dada Satrio.
Byurr!
"Uwaaa!"
Tubuh Satrio terangkat dari lantai, terlempar melewati pintu toko, melintasi jalan tanah di depannya, dan jatuh terlentang ke dalam selokan pasar.
Byakk!
Air selokan yang hitam dan kental menyiprat ke kaki orang-orang yang lewat. Bau busuk langsung naik, bau sisa ikan, kulit bawang, dan entah apa lagi yang membusuk di sana sejak pagi.
Seorang penjual gorengan di seberang jalan tertawa sampai sendok penggorengannya jatuh. Anak-anak kecil yang tadi berlarian di dekat sumur pasar berhenti, menunjuk-nunjuk, lalu ikut tertawa. Tukang gerobak kelapa yang tadi siang ditabrak Satrio kebetulan lewat lagi.
"Lihat jalan, kubilang!" serunya sambil terbahak, lalu mendorong gerobaknya menjauh.
Satrio terduduk di tengah selokan. Air hitam itu menggenang sampai ke pinggangnya. Seekor kepala ikan asin mengapung pelan dan berhenti di depan perutnya.
Dari lengan baju kanannya, uap tipis mulai naik. Kristal di telapak tangannya terasa hangat di dalam air yang dingin. Satrio buru-buru menekan lengan itu ke perut dan membungkuk sampai dadanya hampir menyentuh air selokan.
Di ambang pintu toko, gadis berselendang biru itu berdiri dengan tumpukan daun di tangan kirinya. Matanya berhenti sebentar di lengan baju Satrio, di tempat uap tipis itu tadi naik. Keningnya berkerut.
Lalu ia berbalik, meletakkan beberapa keping perak di meja lelaki tua itu, dan mengikat tumpukan daunnya dengan ujung selendang biru. Ia keluar dari toko, melangkahi kaki Satrio yang menjulur dari selokan, dan berjalan ke arah gerbang pasar tanpa menoleh sekali pun.
Satrio memanjat keluar dari selokan dengan bertumpu pada pinggirannya. Baju kebesaran Gandung menempel di tubuhnya, berat oleh air hitam, dan setiap langkahnya meninggalkan genangan kecil. Orang-orang yang lewat menutup hidung dan menyingkir jauh-jauh.
Ia menatap punggung gadis itu yang makin kecil di antara kerumunan, lalu menatap tempayan di samping pintu toko yang kini kosong sampai ke dasarnya.
'Air setempayan penuh,' batinnya, 'Cuma dengan dua jari, dan dia tidak perlu menarik napas dulu.'
Satrio teringat batu sebesar kerbau di halaman belakang padepokan. Untuk membelahnya, ia harus menahan napas sampai jalur-jalur di tubuhnya serasa robek, dan sesudahnya ia jatuh terduduk dengan kedua tangan melepuh. Gadis itu tadi bahkan tidak berhenti memilah daun lebih dari sekejap.
"Galak sekali," gumamnya sambil memeras ujung bajunya.
Lelaki tua pemilik toko itu muncul di ambang pintu, masih mengunyah sirih.
"Daun di tanganmu itu," katanya, "Dua keping."
Satrio menunduk. Tangan kirinya masih mengepal, dan segenggam daun hijau keperakan itu masih ada di dalamnya, basah dan sedikit remuk. Senyumnya mengembang.
"Dua keping saja, Pak?"
Lelaki tua itu mengangguk.
Satrio merogoh sabuknya yang basah kuyup. Keping-keping tembaga yang tadi berjatuhan di kolong meja sudah dipungut dan diletakkan lelaki tua itu di atas meja. Satrio menghitung dua keping dari sisa uangnya dan menyerahkannya. Lelaki tua itu menerima keping-keping itu, mengusapkannya ke ujung kainnya karena basah, lalu masuk kembali ke dalam toko tanpa berkata apa-apa lagi.
'Dia memilih tumpukan yang lebih banyak, aku dapat yang lebih murah,' batin Satrio, 'Sama-sama Sukmajati.'
"Bocah..."
Suara Eyang terdengar serak di kepalanya, seperti orang yang baru bangun dan langsung mencium sesuatu.
"Bocah, bau apa ini? Kau... kau di mana? Kenapa telingaku penuh air?"
'Eyang! Eyang sudah bangun? Aku dapat daunnya, Eyang. Aku...'
"Kau habis berendam di got?"
'Ada gadis yang...'
"HAHAHAHA!"
Tawa Eyang meledak di dalam kepala Satrio, jauh lebih keras daripada tawanya di barisan pengemis tadi. Eyang tertawa sampai terbatuk-batuk, berhenti sebentar untuk menarik napas, lalu tertawa lagi.
"Aku tidur sebentar saja, dan kau sudah dilempar perempuan ke selokan! Hahaha! Tunggu sampai Gandung dengar ini!"
'Eyang jangan bilang Gandung!'
"Bagaimana caranya aku bilang Gandung? Dia tidak bisa mendengarku!" Tawa Eyang pecah lagi, "Tapi kau pasti akan bercerita sendiri. Wajahmu itu tidak bisa menyimpan apa-apa."
Satrio berjalan ke sumur pasar dengan langkah yang berbunyi cepak-cepak. Ia menimba seember air, meletakkan genggaman daunnya di bibir sumur, lalu menyiramkan air itu ke kepalanya sendiri.
Matahari sudah rendah di balik atap balai pasar. Cahayanya yang kemerahan jatuh ke bibir sumur, ke segenggam daun yang tergeletak di sana dengan punggung daun menghadap ke atas. Tulang-tulang daun di punggungnya berwarna merah seperti urat darah.