Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menolak Edward
Lampu-lampu kubikel di ruangan Divisi Pemasaran Satu masih menyala terang membelah pekatnya malam. Sudah dua malam berturut-turut Yoselin bersama kelima anggota timnya begadang demi mengejar tenggat waktu sengit yang diberikan oleh V. Corp. Wajah-wajah lelah dengan kantung mata hitam yang tebal terlihat jelas pada setiap staf di ruangan itu. Berkas-berkas revisi, draf desain, serta cangkir-cangkir kopi yang telah kosong berserakan di atas meja kerja.
Doni menyandarkan punggungnya pada kursi, mengusap wajahnya yang kusut. Matanya teralih menatap sang atasan yang masih tekun meneliti berkas laporan di depannya. Ada rasa kasihan yang mendalam saat ia memperhatikan Yoselin. Sebagai Kepala Divisi, tekanan terbesar tentu berada di pundak wanita itu. Jika revisi ini gagal, Yoselin bukan hanya akan kehilangan posisinya, tetapi reputasi kariernya juga dipertaruhkan. Namun anehnya, Yoselin tetap bersikap tenang, lembut, dan tak pernah mengeluh sedikit pun, padahal Doni yakin di dalam hatinya Yoselin pasti merasa sangat panik dan cemas.
Doni berdiri, merapikan beberapa dokumen lalu melangkah mendekati meja Yoselin.
"Bu Yoselin..." panggil Doni pelan, suaranya sedikit serak karena kelelahan.
Yoselin mendongak dari layar komputernya, mengukir senyum tipis yang tampak begitu lelah.
"Iya, Doni? Ada kendala di bagian modul kelima?"
"Bukan, Bu. Semuanya sudah sesuai instruksi," jawab Doni gelisah. Ia menatap wajah Yoselin yang kian pucat.
"Anak-anak sudah menyelesaikan bagian mereka untuk malam ini. Anu... Bu Yoselin tidak pulang ke rumah? Ini sudah dua malam berturut-turut Ibu menginap di kantor."
Pertanyaan sederhana itu seketika membuat Yoselin terdiam. Tatapan matanya berganti kosong untuk beberapa detik.
"Pulang?" batin Yoselin pahit.
"Untuk apa aku pulang?"
Di rumah mewah itu, tidak ada satu orang pun yang menantikan kepulangannya. Edward tidak pernah sekali pun menanyakan keberadaannya, apalagi mengirimkan pesan singkat untuk sekadar memastikan dirinya baik-baik saja. Dua hari Yoselin menghilang dari rumah, dan rumah itu pasti terasa begitu lega tanpa hadirnya. Lagipula, jika ia pulang ke rumah sekarang, rasa sakit di dadanya hanya akan makin menganga. Setiap sudut rumah itu hanya akan mengingatkannya pada bayangan pahit malam itu, saat ia menyaksikan Edward dan Angela berciuman dengan begitu mesra di parkiran mobil.
Yoselin menghela napas halus, lalu memaksakan sebuah senyuman kecil pada bibirnya yang pucat.
"Terima kasih sudah memikirkan saya, Doni," ucap Yoselin ramah.
"Tapi pekerjaan kita tinggal sedikit lagi selesai. Saya ingin menyelesaikan pemeriksaannya malam ini supaya besok pagi tinggal tahap finishing."
Doni menghela napas panjang, tahu betul betapa keras kepalanya sang atasan jika menyangkut tanggung jawab kerja.
"Ibu benar-benar luar biasa. Kalau begitu, saya dan yang lainnya pamit pulang dulu ya, Bu. Besok pagi-pagi sekali kami akan datang lebih awal untuk bantu penyelesaian akhir."
Yoselin mengangguk pelan. "Iya, Doni. Terima kasih banyak atas kerja keras kalian. Hati-hati di jalan, ya. Sampaikan salam saya untuk yang lain."
Satu per satu anggota timnya berpamitan dan melangkah keluar dari ruangan, meninggalkan Yoselin sendirian di tengah kesunyian kantor yang lengang.
Yoselin menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, memejamkan mata sejenak untuk mengusir rasa pusing yang terus memukul keningnya. Namun, kesunyian itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja, getaran nyaring dari ponselnya yang berada di atas meja memecah keheningan.
Yoselin membuka mata dan melirik layar ponsel. Alisnya bertaut rapat. Nama yang tertera di sana membuat jantungnya tersentak pelan.
Edward Galvano.
Yoselin terpaku sejenak. "Apa ini? Edward menelponku? Untuk apa pria ini menghubungiku?"
Dengan raut bingung dan perasaannya yang berkecamuk, Yoselin menekan tombol hijau lalu menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo—"
"Kamu ada di mana, Yoselin?!"
Belum sempat Yoselin menyelesaikan ucapannya, suara ketus dan penuh amarah meluncur keras dari seberang telepon. Nada bicaranya terdengar menuntut dan sangat tidak bersahabat.
"Kenapa kamu tidak pulang selama dua hari?! Apa kamu sengaja membuat kekacauan di rumah ini?!" cecar Edward bertubi-tubi tanpa jeda.
Yoselin memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa hangat dan kepedihan merayap pelan di dadanya. Jadi, setelah dua hari tidak ada kabar, Edward mengontaknya hanya untuk meluapkan amarah? Pria itu tidak bertanya apakah dirinya sehat, di mana ia berada, atau apa yang sedang ia kerjakan. Tidak ada sedikit pun nada kekhawatiran dari suara suaminya itu.
"Aku sedang sibuk di kantor," balas Yoselin datar, suaranya terdengar sangat tenang namun dingin.
"Ada pekerjaan penting yang harus saya selesaikan."
Di seberang sana, Edward tertawa sinis. "Sibuk? Sibuk sampai tidak pulang dua hari dan abaikan rumah? Kamu ini masih punya suami, Yoselin! Jangan berbuat seenaknya sendiri!"
"Penting sekali ya sampai kamu baru meneleponku setelah dua hari?" potong Yoselin pelan, membuat Edward di seberang sana mendadak terdiam sejenak. Yoselin menghela napas panjang, merasa lelah untuk bersandiwara.
"Kalau tidak ada hal penting yang ingin kamu bicarakan, aku akan matikan teleponnya. Aku masih banyak urusan."
"Tunggu!" perintah Edward cepat dengan nada yang masih tinggi.
"Besok malam kamu harus pulang lebih awal. Ibu meneleponku tadi siang, beliau meminta kita berdua datang ke rumah keluarga untuk makan malam bersama."
Yoselin mematung di tempat duduknya. Bibirnya menyunggingkan senyuman masam penuh kepahitan.
"Ah... Jadi ini alasannya?" batin Yoselin.
"Dia mendadak mencari ku dan marah-marah hanya karena tuntutan keluarganya? Hanya demi menjaga citra pernikahan fiktif ini di depan Ibunya? Menyedihkan sekali."
Rasa sakit yang terpendam di dada Yoselin kini berganti menjadi benteng ketegaran yang kokoh. Ia tidak mau lagi diputarbalikkan oleh kepentingan pria yang sama sekali tidak menghargainya.
"Kamu dengar tidak, Yoselin?" panggil Edward ketus karena tak kunjung mendapat respon.
"Acaranya jam tujuh malam. Jangan sampai kamu terlambat dan membuat Ibu kecewa!"
Yoselin menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan sisa kekuatan dalam dirinya.
"Aku tidak bisa ikut," tegas Yoselin tanpa ragu sedikit pun.
"Apa?!" bentak Edward kaget, terperanjat dengan penolakan langsung dari istrinya yang biasanya selalu penurut.
"Kamu bercanda?! Ini acara makan malam keluarga, Yoselin! Jangan kekanak-kanakan!"
"Aku tidak sedang bercanda, Edward," jawab Yoselin dengan nada suara yang sangat lugas dan tenang, mengikis habis kesan wanita lembut yang biasa memanjakan pria itu.
"Pekerjaan di kantor jauh lebih penting saat ini. Masih banyak hal yang harus aku bereskan dan aku selesaikan."
"Yoselin, dengarkan aku—"
"Silakan kamu pergi sendiri atau cari alasan lain untuk Ibu," potong Yoselin tanpa memberikan celah sedikit pun bagi Edward untuk memotong.
"Selamat malam."
Bip.
Yoselin langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak. Ia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja dengan gerakan perlahan, membiarkan layar benda hitam itu meredup hingga gelap sepenuhnya.
Untuk pertama kalinya dalam dua tahun pernikahan mereka, Yoselin merasa benar-benar memegang kendali atas hidupnya sendiri. Meski sisa rasa sakit itu masih membakar tenggorokannya, Yoselin menyapukan pandangan ke sekeliling ruangan kantor yang sepi, lalu kembali meraih pena di tangannya dengan jemari yang kokoh.
Bersambung...