"Om mau nyeraikan gue? Bagus dong! Mana drafnya? Gue tanda tangani sepuluh kali kalau perlu!"
Mayor Yudhana (32) mengira ancaman perceraian akan membuat Vina (20) berlutut memohon ampun. Namun, benturan keras di aspal telah menghapus seluruh kenangan penderitaan Vina selama menikah. Vina yang baru adalah gadis barbar usia 18 tahun yang sama sekali tak terintimidasi oleh baret hijau maupun pangkat tiga melati.
Saat Vina memperlakukannya seperti bapak kos galak dan sibuk mencari uang sendiri untuk angkat kaki, Mayor Yudhana terpukul oleh gengsinya sendiri. Untuk pertama kalinya, Sang Mayor menyadari bahwa hal paling berbahaya bukan lagi kehilangan wibawa di Batalyon—melainkan kehilangan wanita yang baru saja mulai menguasai seluruh sudut hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Ampun, Mayor!
Wanita itu melangkah mendekati meja kerja Yudhana dengan senyum manja yang dipaksakan. Ia meletakkan tas tangan bermerek mahal di atas meja, lalu mencondongkan tubuhnya ke depan, berusaha merebut perhatian sang perwira.
"Mas Yudhana," sapa Tanti dengan nadanya yang melengking lembut. "Lagi lembur ya? Kok kaku banget mukanya dari siang tadi. Aku bawain makanan kesukaanmu nih dari restoran luar."
Yudhana mendengus pelan di dalam hatinya. Kedatangan Tanti di markas sore ini justru datang di saat yang paling tidak tepat. Semenjak percakapan dingin di dalam mobil dinas beberapa waktu lalu, Yudhana semakin merasa muak dengan kehadiran Tanti yang selalu menuntut kepastian dan terus-menerus memprovokasinya untuk segera menceraikan Vina. Bayangan Tanti yang dulu dianggapnya sebagai 'amanah keluarga' kini berubah menjadi beban mental yang melelahkan.
Yudhana mengangkat wajahnya, menatap Tanti dengan manik mata pekat yang memancarkan dingin tanpa ekspresi.
"Tanti, buat apa kamu datang ke ruang kerja saya tanpa janji?" tanya Yudhana datar, suaranya terdengar berat dan kaku, tanpa menyisakan kehangatan sedikit pun.
Tanti mengerjap kaget, sedikit tersentak oleh sambutan dingin tersebut. "Lho, Mas ... kan aku cuma mau nengok kamu sebentar. Memangnya salah kalau aku mampir ke sini sesudah dari salon?"
"Salah," jawab Yudhana telak, tanpa ragu sedikit pun. Ia menutup map berkas di depannya dengan gerakan tegas. "Markas komando Batalyon bukan tempat singgah pribadi, Tanti. Staf dan prajurit lalu-lalang di luar. Kalau ada yang melihat kita berdua di ruangan tertutup seperti ini tanpa urusan kedinasan yang jelas, itu bisa mencemarkan nama baik institusi. Dan, saya menyadari tindakan kita selama ini,tidak benar!"
Wajah cantik Tanti sekilas memucat, digantikan oleh semburat kemerahan akibat rasa malu dan kesal yang membakar harga dirinya. "Mas ... kamu kenapa jadi ketus begini ke aku? Ada apa sebenarnya? Apakah cewek panti itu lagi-lagi meracuni pikiranmu?!"
"Jangan bawa-bawa Vina," potong Yudhana tajam, sorot matanya menajam mengunci Tanti hingga wanita itu terdiam ciut seketika. "Saya sedang sibuk dan banyak pekerjaan evaluasi yang harus diselesaikan malam ini. Sebaiknya kamu sekarang pulang saja."
Tanti mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh, napasnya memburu menahan amarah yang hampir meledak. Namun, melihat sorot mata Yudhana yang memancarkan ketegasan mutlak dan tidak bisa ditawar, Tanti tahu ia tidak boleh mendesak terlalu jauh hari ini. Dengan bibir mengerucut kesal dan rasa tersinggung yang luar biasa besar, Tanti menyambar tas tangannya kembali.
"Fine! Kalau itu mau kamu!" desis Tanti tajam. "Tapi ingat, Mas ... cepat atau lambat kamu bakal sadar kalau cewek panti itu cuma benalu di hidupmu! Dan, aku tidak akan diam begitu saja!"
Tanpa menunggu balasan, Tanti memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan dengan hentakan sepatu hak tinggi yang berbunyi nyaring menghantam ubin markas, meninggalkan Yudhana seorang diri dalam keheningan ruang kerja yang kembali mendingin.
Yudhana menghembuskan napas berat dari hidungnya. Ia menyandarkan punggungnya di kursi komando, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut pening. Di balik topeng wibawa seorang perwira tinggi, pikirannya justru melayang kembali pada bayangan istrinya—menghitung jam hingga ia bisa pulang ke rumah dinas dan mendapati aroma cokelat manis tertinggal di ujung jemari Vina.
***
Keesokan sore hari, sisa-sisa bias jingga matahari perlahan merayap turun di balik atap-atap rumah dinas Kompleks Batalyon. Di dalam ruang tengah rumah dinas nomor A-12, keheningan yang biasa menyelimuti ruangan mendadak pecah oleh suara derap langkah tergesa-gesa. Mayor Yudhana baru saja melangkah masuk lewat pintu utama, melepaskan baret hijau tuanya dengan gerakan kasar, lalu menghempaskan tas kerjanya di atas sofa beludru.
Pikirannya masih kalut oleh bayangan aroma cokelat manis yang melekat pada diri Vina—istrinya yang kian hari kian menunjukkan gelagat mandiri, seolah tak lagi peduli pada status dan keberadaannya. Yudhana berjalan menuju dapur untuk meneguk segelas air dingin, berusaha meredakan kepenatan di kepalanya akibat rentetan tugas markas dan kecamuk batin yang tak berkesudahan.
Namun, belum sempat gelas porselen itu menyentuh bibirnya, Yudhana teringat sesuatu. Seketika itu juga, ia merogoh saku celana dinasnya, mengeluarkan ponsel genggamnya, lalu menatap layar benda pipih tersebut dengan alis bertaut rapat.
Kosong. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan. Vina belum juga pulang dari panti asuhan tempat ia mengurus kedai es cokelatnya.
Yudhana mendengus cemas, lalu dengan cepat menekan tombol panggil ke nomor ponsel Vina. Ia menunggu dengan debar dada yang tidak biasa, berharap sambungan itu segera diangkat agar ia bisa menyuruh istrinya segera pulang sebelum hari semakin gelap.
Tut... tut...
Namun, yang menyambutnya bukanlah suara sambungan aktif, melainkan suara operator yang menyatakan bahwa nomor tersebut tidak dapat dijangkau. Yudhana mengerutkan keningnya, melupakan sejenak fakta bahwa ponsel Vina telah hancur total tertinggal di atas nakas sejak hari kecelakaan motor mengerikan beberapa minggu lalu—sebuah alat komunikasi yang hingga kini belum pernah diganti karena Vina memang menolak dibelikan apa pun darinya.
"Sial," gumam Yudhana tertahan. Istrinya itu benar-benar pergi tanpa membawa alat komunikasi apa pun di tengah kesibukan harinya.
Belum sempat ia meletakkan ponselnya kembali ke saku, sebuah suara decitan ban mobil asing yang berdengson halus di halaman luar menghentikan seluruh gerakannya.
Sreeet... tap.
Yudhana mengernyitkan dahi. Ia melangkah cepat menuju jendela ruang tamu, menyingkap sedikit tirai kain dengan jari-jarinya yang menegang.
Jantung Yudhana seketika serasa berhenti berdetak. Darahnya berdesir dingin, mengalir turun dengan kecepatan penuh hingga membuat sekujur tubuhnya menegang kaku. Di halaman parkir rumah dinasnya yang sempit, terparkir sebuah mobil sedan tua klasik berwarna hitam legam dengan pelat nomor khusus keluarga besar—kendaraan ikonik yang hanya dimiliki oleh satu orang di dunia ini.
Keluarga besar. Lebih tepatnya, sang kepala marga sendiri.
Pintu mobil sebelah kiri terbuka perlahan. Dari dalam kendaraan, sesosok pria berusia senja namun masih tampak kokoh dan gagah melangkah turun. Mengenakan kemeja batik rapi berbalut jaket tebal, tangan keriputnya memegang sebuah tongkat kayu berukir klasik, ditemani oleh seorang ajudan pribadi berseragam semi-militer yang sigap mendampingi di sisi beliau.
Opa Gema.
Kakek Yudhana—patriark agung keluarga besar yang paling disegani, ditakuti, dan sangat menjunjung tinggi kehormatan marga serta ikatan pernikahan—datang berkunjung secara mendadak tanpa memberi kabar sedikit pun lewat sambungan telepon.
"Ya Tuhan," desis Yudhana tertahan, manik matanya membelalak panik menatap pemandangan di luar jendela.
bersambung...
Vina benar jadi untuk apa takut di lihat suaminya,,, orang cari uang halal ko dan
apa bila mau protes dan marah marah ,,Vina juga bisa menyampaikan kepada Kakek Gema iya to,,,wong cucunya yang selingkuh bahkan seolah Vina hanya di jadikan babu ,,,sedang dirinya mirip buaya muara ngecas sama wanita lain ko ga malu sama rekan atau bawahannya, biarpun banyak uang buat apa ga menghargai wanita notabene sebagai istri,,anjit ga banget lihat tiap hari di samperin sama si pELaKoR,,najong tralala,,😡😡