Abimana Rahardjo adalah putra pemilik sebuah pesantren dan merupakan penerus dari pondok pesantren milik keluarganya karena dia merupakan putra satu-satunya keluarga tersebut.
Sejak kecil dia telah di jodohkan dengan seorang gadis yang merupakan putri asuh keluarga Rahardjo yakni Kemala Putri Dewi yang merupakan putri sahabat kedua orangtuanya.
Kemala yang telah lama jadi yatim piatu sejak usia 10 tahun harus merelakan cita-citanya yang ingin jadi dokter karena sebuah balas budi.
Pernikahan karena dijodohkan itu benar-benar mencekik Kemala dikarenakan sang suami yang rupanya memilih poligami dengan perempuan yang telah lama ada dihati Abimana.
Hati Kemala hancur karena cinta suami yang tak kunjung dia dapatkan dan karena kehadiran orang ketiga dalam rumah tangga mereka.
Hingga suatu hari, seorang pemuda mampu menggoyahkan hati Kemala.
Laki-laki yang dianggap urakan dan bertato layaknya preman.
simak kisahnya di Memeluk Bayangan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
emosi Abimana
Malam yang indah dengan hati yang sakit.
Kemala duduk di tepian kolam, menatap pantulan bulan diatas kolam jernih berisi ikan hias peliharaan Abah.
Di malam yang tenang atau lebih tepatnya sunyi, Kemala menangis seorang diri.
Tetes demi tetes airmata jatuh tanpa permisi di pipi mulusnya.
"Nih..." sebungkus ice cream rasa coklat terarah tepat dibawah dagu Kemala.
Kemala mendongak.
Sebuah senyum manis dari laki-laki yang sempat memberi debaran aneh dihati Kemala berdiri menjulang di sampingnya dengan sebelah tangan masuk kedalam saku hoodie yang kebesaran dan sebelah lagi memegang sebungkus ice cream.
"Terima kasih.... Tapi saya bukan anak kecil yang disogok dengan sebungkus ice cream..." rutuk Kemala karena mengira diledek oleh Sean.
Sean bukannya marah justru terkekeh kecil.
Dia membuka bungkus ice cream lalu memberikannya kepada Kemala.
"Cepat ambil, nanti cair.." ujarnya.
Dengan malas, Kemala mengambilnya lalu memakannya.
Sensasi dingin, manis dan legit datang bersamaan di mulutnya.
Sean hanya diam sambil menahan senyum hingga ice cream itu habis dan menyisakan batang stiknya saja.
"Dulu, kalau saya lagi sedih, mama selalu kasih ice cream coklat... Katanya baik untuk memulihkan emosi. Makanya sekarang kalau saya lagi sedih atau emosi, ya beli ice cream..." ujarnya menatap Kemala dari samping.
"Terima kasih... Kamu orang pertama yang kasih saya ice cream.." sahut Kemala tanpa memandang ke arah Sean.
"Jadi, ada cerita sedih apa malam ini?" kening Sean mengkerut dengan tatapan lembut.
"Apa wajah saya terlihat menyedihkan dimatamu?"
"Ya.. Bisa dikatakan demikian karena kamu amat sangat jarang tersenyum dan lebih sering cemberut..." beber Sean.
Kemala tanpa sadar tersenyum hingga lesung pipinya terlihat.
Sean terpaku sejenak.
"Jangan melihat saya seperti itu... Lagipula, sedang apa kamu disini? Jika ketahuan ustadz Herman, kamu atau saya bisa dihukum oleh Kyai...." ujar Kemala begitu menyadari keberadaan mereka yang bisa kapan saja dipergoki oleh penghuni pondok lainnya.
"Tadinya mau jalan-jalan, cari angin. Tapi begitu saya melihat kamu, saya memutuskan menemuimu...Ternyata benar, bidadari ini sedang bersedih..."
Walau itu hanya kalimat gombalan, tapi nyatanya bisa membuat Kemala tersipu.
Tanpa disadari, keduanya berbincang cukup lama hingga akhirnya Kemala memutuskan untuk kembali ke kediamannya dikarenakan malam yang sudah cukup larut.
Meski Sean laki-laki yang dinilai urakan, tapi dia mampu membuat Kemala lupa akan permasalahannya walau sejenak.
Setelah keduanya kembali ke tempat masing-masing, seseorang keluar dari balik persembunyiannya dengan senyum licik.
"Yang satu brandalan, yang satu perempuan naif.. Jika foto-foto ini tersebar, maka hidup kalian akan hancur...."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu, udara di halaman pondok masih terasa sejuk namun suasana di ruang tata tertib terasa begitu kaku.
Kemala berdiri tegak di hadapan santriwati yang menunduk dalam, bahu gadis itu sedikit gemetar menahan rasa takut sekaligus malu.
Wajah Kemala datar, tak tampak amarah yang meledak-ledak namun sorot matanya dingin, tajam, menyiratkan luka yang baru saja dikoyakkan kembali.
"Ulangi sekali lagi apa yang kamu ucapkan tadi di koridor," ucap Kemala tenang, namun suaranya berat, menekan ke seluruh ruangan.
Santriwati itu menggeleng pelan, air mata mulai menetes di pipinya. "Saya... saya tidak berani, ustadzah Kemala..."
"Tadi kamu berani mengatakannya di depan teman-temanmu, bukan? Bahwa saya ini istri mandul, sehingga Gus Abimana memilih ustadzah Kirana karena saya tak bisa memberinya keturunan?" Kemala menatap lurus ke manik mata gadis itu, membuatnya menunduk lebih dalam. "Kamu tahu tidak, betapa tajamnya kata-kata itu? Lebih tajam dari pisau yang membelah daging. Kata-kata itu cukup menyakiti perasaan saya!"
Kemala menarik napas panjang, berusaha menahan getaran di suaranya.
Ia sadar kata-kata itu bukan sekadar ucapan sembarangan, itu adalah cerminan apa yang mungkin dibisikkan banyak orang di balik punggungnya, apa yang sering ia pendam sendirian di tengah malam.
"Karena itu, hukumanmu bukan sekadar membersihkan halaman masjid hingga bersih tanpa sela, melainkan menulis seratus kali kalimat, Saya akan berhati-hati dengan lisan saya. Lalu bacakan di hadapan seluruh teman-teman santriwati saat di kelas" ucap Kemala tegas. "Dan ingatlah, tidak ada satu pun alasan yang membuat seseorang berhak merendahkan orang lain. Bahkan jika benar adanya, itu adalah urusan antara hamba dan Penciptanya, bukan bahan untuk dijadikan bahan cemoohan."
Santriwati itu mengangguk pelan, berjanji tak akan mengulanginya lagi.
Belum lama santriwati itu melangkah keluar, pintu ruang tata tertib terbuka lebar. Kirana masuk dengan napas sedikit terengah, ia tampak cemas seolah-olah anak itu sedang ditindas.
"Ustadzah Kemala, apa yang kamu lakukan?!" seru Kirana, berdiri di antara Kemala dan santriwati itu, melindungi gadis kecil di belakang punggungnya. "Dia masih anak-anak! Hanya salah bicara sedikit, sudah kamu hukum seberat itu? Apa kamu memang begitu, melampiaskan kemarahanmu pada siapa saja hanya karena kamu tak bahagia!?"
Kemala mengerutkan kening, menatap tajam. "Ini urusan kedisiplinan di pondok, ustadzah Kirana. Dia berkata kasar, menghina gurunya sendiri, menyebutku istri mandul, mengatakan saya tak pantas menjadi istri Gus Abimana. Apakah menurutmu kata-kata seperti itu boleh dibiarkan begitu saja?"
"Memangnya kalau benar, apa dunia akan runtuh?" balas Kirana menantang, suaranya meninggi. "Mungkin saja itu kebenaran yang kamu tak mau terima! Mas Abimana memilihku bukan tanpa alasan, dan kamu sendiri tahu itu!"
"Jangan kamu jadikan itu alasan untuk membenarkan kata-kata yang menyakiti orang lain!" Kemala berdiri tegak, amarah mulai memuncak. "Kamu datang ke sini bukan untuk menegur, tapi untuk memanaskan suasana!"
Pertengkaran itu meletus.
Kata-kata saling sambar, nada suara semakin tinggi.
Santriwati di samping itu menunduk gemetar, tak berani bergerak.
"Kamu itu pendidik Kemala, tidak elok jika kamu menggunakan status mu untuk menghukum murid-murid demi sebuah arogansi mu sendiri"
"Saya arogan? Kamu tidak salah ucap Kirana? Bukankah disini kamu yang arogan dengan menghalalkan segala cara agar bisa menjadi istri mas Abimana bahkan mengambil simpati dengan menyayat diri sendiri, apa itu tidak termasuk munafik dan arogan ustadzah Kirana?"
kata-kata Kemala begitu dingin namun tajam menembus ulu hati Kirana.
Plakkk...!!
Tangan Kirana terangkat dan menampar pipi Kemala hingga membuat perempuan itu sedikit terhuyung kesamping.
Pipi Kemala terasa panas dan perih bersamaan.
Dan rupanya hal itu memicu amarah Kemala yang lebih besar sehingga dia pun membalasnya. Bukan satu tapi berkali-kali telapak tangan Kemala mendarat di pipi mulus Kirana yang tertutup niqab.
Di saat yang sama, Abimana tiba di lantai itu.
Pemandangan di hadapannya membuat darahnya mendidih seketika. Ia berlari masuk, memeluk tubuh Kirana dan menjadi tameng perlindungan bagi istri keduanya itu.
"Kemala, hentikan!!!!!" hardiknya menggema diruangan tersebut.
Mata Abimana memancarkan amarah yang mengerikan. "Kamu apa-apaan?!"
"Dia yang memulai...." cicit Kemala.
"Diam!" bentak Abimana, suaranya menggelegar.
"Sayang...Kamu tak apa-apa? Kenapa kesini, bukankah saya sudah katakan untuk kamu berisitirahat dirumah hingga kondisimu pulih" Abimana meraba seluruh wajah Kirana dengan raut ketakutan.
"Mas... Pipi saya perih..." ringis Kirana menangis.
Ia mengangkat tubuh Kirana dengan hati-hati, menatap Kemala seolah-olah ia adalah musuh terbesar. "Kamu dendam padaku, tapi kamu lemparkan semuanya padanya? Kalau ada apa-apa dengan anak yang ada di kandungannya, saya tak akan memaafkanmu, Kemala!"
"Tadi dia yang datang..." Kemala mencoba menjelaskan, namun suaranya tertahan.
Ia sadar, di mata Abimana saat ini, ia hanyalah sosok yang kejam yang hampir mencelakai istri kedua beserta calon anaknya.
Abimana tak mendengarkan lagi.
Ia melangkah pergi membawa Kirana yang merintih pelan, meninggalkan Kemala berdiri sendirian di sana dengan dada sesak, mata panas tertahan, dan rasa sakit yang kembali mengiris hatinya lebih dalam dari sebelumnya.
Semua orang hanya melihat dengan tatapan mengejek dan meremehkan.
"Kenapa hatiku begitu sakit, padahal saya tidak mencintainya..."
Bersambung....