Reinkarnasi, Kesempatan Kedua, Kultivasi
Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, Jian Chen tewas tepat sebelum mencapai Ranah Dewa. Namun, ia mendapat kesempatan kedua untuk mengubah takdir dengan kembali ke dua puluh tahun silam.
Saat ia mulai mengungkap dalang di balik kematiannya, masa depan yang ia kenal perlahan berubah. Pusaka yang seharusnya tersembunyi telah dicuri, teknik langka muncul terlalu dini, dan seseorang tampaknya mengetahui rahasia yang bahkan belum terjadi.
Di balik semua kejanggalan itu, tersimpan Lentera Terakhir pusaka yang mampu memutar waktu, tetapi menyimpan harga yang mengerikan.
Siapa yang mengubah masa depan, dan mengapa mereka seolah tahu setiap langkah Jian Chen? Kali ini, musuh terbesarnya mungkin bukan pengkhianat dari masa lalu, melainkan seseorang yang telah menunggunya sejak awal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uranenantios, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: Daftar Peserta
Ujian kedua dan ketiga berlangsung keesokan harinya di halaman luas di depan aula utama. Ujian kedua mengukur kedalaman inti dengan sebuah kristal bening seukuran telur yang akan berpendar sesuai takaran qi. Jian Chen meletakkan telapak tangan di atas kristal itu dan menarik napas pelan, seperti yang ia latih setiap pagi. Cahaya biru muda muncul dari dalam kristal, stabil, tidak terlalu terang, tidak terlalu redup.
"Pengumpul Napas tahap tengah," kata Tetua Sun sambil mencatat. "Stabil. Aliran bersih. Peringkat kesebelas dari empat puluh dua."
Jian Chen menurunkan tangannya. Ia tidak mengharapkan lebih. Di antara peserta, ada tiga yang sudah mencapai Pengumpul Napas tahap akhir, dan satu yang sudah menyentuh ambang Pembentuk Fondasi. Ia tahu bahwa kekuatan mentahnya tidak sebanding dengan mereka. Yang ia punya hanyalah ketepatan dan kesabaran.
Ujian ketiga adalah duel acak dengan pedang kayu. Lawan ditentukan melalui undian batang bambu bernomor, dan ketika batang milik Jian Chen ditarik, nomor yang cocok jatuh pada Fang Cheng.
"Takdir yang lucu," kata Fang Cheng sambil menyeringai ketika mereka berhadapan di tengah halaman. "Kau sepertinya akan jatuh juga, pada akhirnya."
"Aku tidak berencana jatuh."
"Semua orang tidak berencana jatuh." Fang Cheng menimang pedang kayunya yang lebih lebar dari milik Jian Chen. "Kau memanggul batu ringan kemarin. Hari ini tidak ada yang berpihak padamu."
"Aku tidak pernah meminta pihak."
"Mulai!" seru Tetua Yan.
Fang Cheng menerjang tanpa basa-basi. Gerakannya lebar, keras, dan penuh tenaga. Setiap tebasan datang dari atas dengan seluruh berat badannya. Jian Chen mundur selangkah, dua langkah, tiga langkah, membiarkan pedang itu membelah udara kosong. Ia tidak menangkis. Ia hanya menghindar dan mengamati.
Tebasan keempat, kelima, keenam. Napas Fang Cheng mulai berat. Ia memang kuat, tetapi ia boros. Ia menggunakan seluruh tenaga di setiap gerakan, tanpa ritme dan tanpa jeda.
"Kau lari terus!" bentak Fang Cheng. "Lawan aku!"
"Aku sedang melawan."
"Dengan menghindar?"
"Itu bagian dari pedang," kata Jian Chen.
Fang Cheng meraung dan menebas lagi dengan tenaga penuh. Jian Chen memiringkan tubuh, membiarkan pedang itu menghantam tanah dengan bunyi tumpul, lalu memutar pergelangan tangan dan menyentuhkan ujung pedangnya ke pinggang lawan.
"Satu sentuhan untuk nomor tiga puluh sembilan," kata Tetua Yan.
Fang Cheng mundur, wajahnya merah. Ia menyerang lagi, lebih cepat, lebih kasar. Jian Chen tetap bergerak kecil, menghemat langkah. Lengan kirinya yang dulu lumpuh terasa seperti kayu yang baru dipanaskan, tetapi ia tidak lagi gemetar. Setiap kali Fang Cheng mengayunkan pedang, Jian Chen menghitung jarak dan menunggu detik ketika siku lawan mulai turun.
Sentuhan kedua mengenai bahu. Sentuhan ketiga, ketika Fang Cheng terhuyung dengan napas tersengal dan lutut goyah, mengenai tengkuk.
"Tiga sentuhan. Pemenang, nomor tiga puluh sembilan."
Tidak ada tepuk tangan. Murid-murid di tepi halaman saling berbisik. Fang Cheng berdiri membungkuk dengan tangan di lutut, wajahnya basah oleh keringat dan sesuatu yang lebih pahit.
"Kau curang," bisiknya.
"Aku tidak mengubah angka di batu siapa pun," kata Jian Chen pelan.
Fang Cheng menegang, lalu membuang muka tanpa menjawab.
Pengumuman hasil disampaikan sore hari. Dari empat puluh dua peserta, dua puluh orang lulus menjadi calon murid dalam. Nama Jian Chen berada di peringkat kesembilan.
Malam itu, bengkel Dao dipenuhi suara tawa. Qiu Bo dan Tan Fu duduk bersila di lantai sambil berebut sepotong daging asin besar, Ye Ran memeluk lampion kuningnya di sudut sambil tersenyum malu, Dao menumpuk kayu bakar di perapian, dan Lin Xue duduk di atas peti dengan kaki berayun, wajahnya lebih santai dari yang pernah Jian Chen lihat.
"Peringkat sembilan," kata Dao sambil mengangkat cangkir tehnya. "Dari empat puluh dua. Aku bangga padamu, Pelamun."
"Aku masih lebih lemah dari tiga puluh orang di atas sana," kata Jian Chen.
"Itu bukan alasan untuk tidak merayakan," kata Lin Xue.
"Benar," kata Tan Fu dengan mulut penuh. "Aku bilang kau akan lulus. Aku juga bilang Qiu Bo akan jatuh waktu mendaki tangga."
"Aku tidak ikut ujian!" protes Qiu Bo.
"Itu sebabnya kau tidak jatuh."
Tawa pecah. Jian Chen tersenyum, benar-benar tersenyum, untuk pertama kalinya sejak bangun di pondok tujuh. Ia menatap wajah-wajah di sekelilingnya dan merasakan sesuatu yang berat di dadanya melonggar.
"Aku punya hadiah," kata Dao tiba-tiba. Ia mengambil sebuah bungkusan panjang dari bawah landasan dan melemparkannya. "Buka."
Jian Chen membuka kain pembungkusnya. Di dalamnya ada sebilah pedang lurus, bukan pedang tumpul latihan, tetapi pedang sungguhan dengan mata tajam dan bilah ramping berwarna perak kebiruan. Gagangnya dibalut kain hitam sederhana, tanpa hiasan.
"Aku menempanya dari sisa besi yang kau putar tiap sore," kata Dao. "Bukan pedang terbaik di dunia. Tapi cukup untuk calon murid dalam."
"Dao..."
"Jangan menangis. Orang yang menangis di bengkelku harus membayar arang."
Jian Chen tertawa dan mengusap sudut matanya. "Terima kasih."
"Namanya apa?" tanya Ye Ran dari sudut.
"Pedangnya?"
"Iya. Pedang bagus harus punya nama."
Jian Chen menatap bilah itu. Cahaya perapian memantul di permukaannya, dan untuk sesaat ia melihat dirinya sendiri, seorang pemuda delapan belas tahun yang matanya terlalu tua. "Belum," katanya. "Aku akan memikirkannya."
Ketika yang lain mulai berebut daging terakhir, Lin Xue menggeser duduknya ke dekat Jian Chen. Suaranya rendah supaya tidak terdengar ramai itu.
"Soal kalung malam itu," katanya.
"Aku tidak bertanya."
"Aku tahu. Itu sebabnya aku ingin mengatakannya." Lin Xue memainkan ujung lengan bajunya. "Suatu hari aku akan menjelaskannya. Bukan sekarang."
"Aku juga punya penjelasan yang belum bisa kuberikan."
"Aku tahu." Lin Xue tersenyum tipis. "Kita sama-sama menunggu, kalau begitu."
"Kedengarannya adil."
"Kedengarannya seperti dua orang keras kepala."
"Itu juga."
Malam itu menjadi malam yang panjang. Menjelang tengah malam, ketika yang lain sudah mengantuk, pintu bengkel diketuk. Dao membukanya dan menemukan Zhao Feng berdiri di luar dengan sebuah gulungan kertas di tangan. Wajahnya serius.
"Maaf mengganggu," katanya. "Tapi aku perlu menunjukkan sesuatu pada Jian Chen."
"Apa?" tanya Jian Chen sambil berdiri.
Zhao Feng menyodorkan gulungan itu. Jian Chen membukanya. Itu daftar peserta Turnamen Sekte tahun ini, dengan seratus delapan nama tertulis rapi dalam kolom-kolom. Mata Jian Chen menelusuri daftar itu, dan berhenti di kolom ketujuh puluh dua.
Jian Chen.
"Aku tidak mendaftar," katanya pelan.
"Aku tahu," kata Zhao Feng. "Dan bukan aku. Stempel pendaftar di sampingnya kosong. Aula bilang formulirnya masuk dengan tinta yang benar, tetapi tidak seorang pun ingat siapa yang menyerahkannya."