Mita Septia, seorang gadis manis yang berprofesi sebagai Guru PJOK di sekolah terpencil Kecamatan Entikong, kabupateng Sanggau perbatasan Kalimantan Barat dengan negeri jiran Malaysia. Ia telah menjalin hubungan asmara dengan Denis yang menjabat sebagai CSR Supervisor di salah satu perusahaan pertambangan ternama di Kalimantan Barat. Hubungan yang telah berjalan hampir 3 tahun, membuat keduanya berencana meresmikan di akhir tahun. Tetapi kenyataan tak sesuai harapan Mita. Denis telah berpaling hati, hingga membuat rekan kerjanya hamil. Tak bisa menghindari tanggung jawab, Denis melupakan janji yang telah ia susun bersama Mita. Keputusan Denis tentu saja menghancurkan hati Mita, dalam kelukaan atas kabar yang dikirim Denis mempertemukan ia dengan seorang Abdi Negara berpangkat Kapten yang bernama Reihan. Akan kah Kapten Reihan mampu menyembuhkan segala luka yang dialami Mita....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leny Fairuz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Cinta yang Posesif
Bayangan penyesalan terus menggerogoti relung hati Denis. Kesalahan malam itu bergayut di benaknya sepanjang malam, membuatnya susah tidur.
Semalaman ia berjaga, berandai-andai, jika saja malam itu ia tidak bermain api, tentu ia tidak akan berada di titik ini. Tetapi penyesalan sudah terlambat. Dan waktu tidak bisa diulang Kembali.
Pagi berikutnya, Denis berangkat ke kantor lebih awal dari biasanya. Ia sengaja meninggalkan rumah sebelum Sarah selesai menyiapkan sarapan, berharap bisa menikmati beberapa menit ketenangan sebelum pekerjaan kembali menumpuk.
Namun, ketenangan yang dicarinya tidak berlangsung lama.
Baru beberapa kilometer meninggalkan kompleks perumahan, ponselnya berdering. Nama Siska muncul di layar.
Denis menghela napas sebelum menjawab.
“Ya, Sis?”
“Mas sudah berangkat?”
“Sudah. Kenapa?”
“Tidak apa-apa. Aku cuma mau memastikan.”
Denis terdiam.
Pertanyaan itu sebenarnya sederhana. Tidak ada nada menuduh, tidak ada kemarahan. Namun, entah mengapa, ia merasa seperti sedang diperiksa.
“Memangnya kenapa kalau aku sudah berangkat?”
“Aku cuma bertanya, Mas. Kenapa jawabnya begitu?”
“Ya, aku jawab.”
“Aku tahu Mas sedang sibuk. Aku tidak ingin mengganggu. Tapi akhir-akhir ini, Mas selalu menjawabku seperti orang kesal.”
Denis menggenggam kemudi lebih erat.
Ia tahu Siska tidak sepenuhnya salah. Nada bicaranya memang berubah. Ia menjadi mudah tersinggung, bahkan ketika pertanyaan yang diajukan tidak bermaksud menyudutkannya.
Namun, ia tidak ingin mengakui bahwa sumber kegelisahannya jauh lebih rumit daripada sekadar pekerjaan.
“Aku sedang menyetir. Nanti kita bicara lagi.”
“Mas, soal fitting—”
“Siska, nanti!”
Panggilan itu berakhir dengan keheningan yang canggung.
Denis meletakkan ponselnya di kursi sebelah. Ia mengembuskan napas kasar, lalu memusatkan perhatian pada jalanan.
Di kepalanya, ia mulai menghitung berapa banyak hal yang harus diselesaikan hari itu. Ada laporan hasil kunjungan sekolah, rekap kebutuhan bantuan CSR, rapat evaluasi, dan beberapa dokumen yang harus diserahkan sebelum akhir pekan.
Ia merasa pekerjaannya tidak pernah selesai. Ketika berada di kantor, ia harus memenuhi tuntutan atasan. Ketika pulang, ia harus menghadapi tuntutan Siska. Bahkan saat mencoba beristirahat, ia merasa harus selalu siap menjawab pertanyaan.
Dulu, ia merasa menjadi laki-laki yang dicintai dua perempuan sekaligus adalah sebuah kemenangan yang diam-diam membesarkan egonya. Sekarang, ia justru merasa terperangkap dalam kebohongan yang dibangunnya sendiri.
Di kantor, suasana pagi berjalan seperti biasa. Para staf mulai berdatangan, beberapa sibuk menyiapkan dokumen, sementara yang lain membicarakan agenda kegiatan minggu itu.
Denis baru saja membuka laptop ketika seorang rekan perempuan dari bagian administrasi mendekat membawa map.
“Mas Denis, maaf mengganggu. Ini dokumen rekap kunjungan sekolah kemarin. Ada beberapa data yang perlu dikonfirmasi.”
“Taruh saja di meja. Nanti saya periksa.”
“Kalau ada yang kurang jelas, saya boleh menghubungi Mas, kan?”
Denis mengangguk. “Tentu. Itu memang bagian dari pekerjaan.”
Perempuan itu tersenyum, lalu kembali ke mejanya.
Tidak ada yang aneh dari percakapan tersebut. Namun, beberapa menit kemudian, ponsel Denis bergetar.
Pesan dari Siska.
Mas tadi bicara dengan siapa?
Denis mengernyit.
Ia mengetik balasan singkat.
Rekan administrasi. Ada dokumen pekerjaan.
Siska segera membalas.
Perempuan yang kemarin itu?
Iya. Kenapa?
Tidak ada jawaban selama beberapa menit. Denis mengira percakapan sudah selesai, sampai pesan berikutnya muncul.
Aku cuma tidak nyaman kalau Mas terlalu dekat dengan staf perempuan. Apalagi sekarang kita sudah mau menikah.
Denis menutup mata sejenak.
Ia memahami bahwa kepercayaan mereka tidak mungkin tumbuh dalam semalam. Hubungan mereka dimulai dari sebuah pengkhianatan. Siska tahu Denis pernah memiliki Mita, dan ia tentu menyadari bahwa laki-laki yang bersedia mengkhianati pasangannya juga mungkin bisa mengulangi kesalahan yang sama.
Mungkin itulah sebabnya Siska semakin ingin mengetahui setiap gerak-geriknya.
Akan tetapi, ada ironi yang membuat Denis tidak nyaman. Siska menuntut kesetiaan darinya, sementara hubungan mereka sendiri bermula dari tindakan yang melukai perempuan lain.
Ia hampir menuliskan kalimat itu.
Namun, ia menghapusnya sebelum sempat mengirim.
Apa gunanya menyalahkan Siska? Bukankah ia sendiri yang memilih untuk melanjutkan hubungan tersebut?
Denis meletakkan ponselnya dan kembali bekerja. Ia berusaha menyelesaikan laporan, tetapi konsentrasinya terganggu. Setiap kali ponsel menyala, ia merasa tegang. Setiap kali Siska mengirim pesan, ia sudah bersiap menghadapi pertanyaan berikutnya.
Menjelang siang, ia bahkan sempat membiarkan tiga panggilan tidak terjawab karena sedang rapat.
Ketika rapat selesai, ia segera menelepon balik.
“Mas, dari tadi aku telepon.”
“Aku sedang rapat.”
“Kenapa tidak bilang sebelumnya?”
“Bagaimana aku mau bilang kalau rapatnya mendadak?”
“Setidaknya Mas bisa mengirim pesan.”
Denis mengusap kening.
“Siska, aku tidak mungkin memegang ponsel setiap menit.”
“Aku tidak meminta Mas begitu. Aku hanya ingin diberi kabar.”
“Aku bekerja, Sis. Aku punya tanggung jawab.”
“Aku juga tahu Mas bekerja. Tapi aku ini calon istri Mas. Apa salahnya kalau aku ingin tahu keadaanmu?”
Denis tidak langsung menjawab.
Kalimat itu seharusnya membuatnya merasa dihargai. Namun, yang muncul justru dorongan untuk mengakhiri percakapan.
“Sudah, nanti saja kita bicara. Aku harus menyelesaikan laporan.”
Ia memutuskan panggilan sebelum Siska sempat menjawab.
Setelah itu, Denis duduk diam di kursinya.
Ia sadar sikapnya semakin buruk. Ia tidak lagi mampu berbicara dengan Siska menggunakan kesabaran yang sama seperti sebelumnya. Perempuan yang dahulu mampu membuatnya tersenyum hanya dengan sebuah pesan kini justru membuatnya merasa sesak.
Namun, yang tidak berani ia akui adalah bahwa dirinya mulai kehilangan ketertarikan terhadap kehidupan yang telah ia pilih.
Sore hari, Denis menerima pesan dari ibunya.
Pulang jangan terlalu malam, ya. Mama mau bicara sebentar.
Ia membalas singkat sebelum kembali menyelesaikan pekerjaan.
Malam itu, ketika tiba di rumah, ia mendapati Sarah sedang duduk di ruang keluarga. Di meja terdapat beberapa katalog perlengkapan pernikahan dan foto contoh busana pengantin.
“Denis, sini sebentar,” panggil Sarah.
Denis berhenti di anak tangga.
“Kenapa, Ma?”
“Duduk dulu. Mama mau tanya soal persiapan pernikahanmu.”
Denis menahan napas.
“Kenapa harus sekarang, Ma? Aku capek.”
Sarah menatap putranya dengan lembut.
“Justru karena kamu sibuk, Mama ingin tahu apa saja yang sudah disiapkan. Siska beberapa kali menelepon Mama. Katanya, kalian belum menentukan jadwal fitting.”
Denis menjatuhkan tubuhnya ke sofa.
“Belum, Ma.”
“Kenapa?”
“Belum sempat.”
Sarah merapikan katalog di atas meja.
“Denis, Mama tahu pekerjaanmu banyak. Tapi persiapan ini juga bagian dari tanggung jawabmu. Siska tidak bisa mengambil keputusan sendiri untuk semuanya.”
Denis mengusap wajahnya.
“Kenapa semua orang sekarang menuntut aku terus?”
Sarah terdiam.
“Maksudmu?”
“Di kantor ada pekerjaan, di rumah ada persiapan pernikahan. Belum lagi urusan fitting, daftar tamu, dan segala macam. Aku bahkan tidak punya waktu untuk diriku sendiri.”
Sarah memperhatikan wajah putranya. Ada kelelahan di sana, tetapi juga sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan jadwal kerja yang padat.
“Denis,” katanya pelan, “menikah bukan cuma soal acara dan pakaian pengantin. Ini tentang kehidupan yang akan kamu jalani setelahnya. Kalau sekarang saja kamu merasa terbebani setiap kali membicarakannya, kamu perlu jujur kepada dirimu sendiri.”
Denis menoleh.
“Mama menganggap aku tidak siap menikah?”
“Mama tidak mengatakan begitu. Mama hanya ingin kamu memahami apa yang kamu pilih.”
Denis berdiri.
“Aku siap bertanggung jawab, Ma.”
“Bertanggung jawab itu bukan hanya memenuhi kewajiban karena keadaan. Kamu juga harus bisa menghormati perempuan yang akan menjadi istrimu.”
Kalimat itu membuat Denis terdiam.
Sarah tidak mengetahui apa yang terjadi antara Denis dan Siska selama seminar di luar kota. Ia tidak tahu bahwa hubungan putranya dengan perempuan itu telah melewati batas sebelum kehamilan menjadi alasan yang mempercepat rencana pernikahan mereka.
Sarah hanya melihat seorang anak laki-laki yang belakangan mudah marah dan mulai menghindari pembicaraan tentang masa depannya.
“Sudah, Ma. Aku mau istirahat.”
Denis berjalan menuju tangga tanpa menunggu jawaban.
Sarah memandangi punggung putranya dengan perasaan tidak tenang.
Ia tahu Denis bukan anak yang sempurna. Namun, selama ini putranya selalu memiliki arah yang jelas dalam menjalani kehidupan. Kali ini berbeda. Denis seolah sedang bergerak menuju sebuah tujuan yang tidak benar-benar ingin dicapainya.
Di kamar, Denis membuka ponselnya dan mendapati pesan panjang dari Siska.
Perempuan itu meminta maaf karena terlalu sering bertanya. Ia menjelaskan bahwa kehamilan membuat emosinya lebih sensitif dan persiapan pernikahan membuat pikirannya dipenuhi banyak hal. Ia hanya ingin merasa bahwa Denis masih menginginkannya.
Denis membaca pesan tersebut sampai selesai.
Untuk sesaat, ia merasa iba.
Ia tahu Siska sedang menghadapi banyak perubahan. Tubuhnya mulai menyesuaikan diri dengan kehamilan, masa depannya akan berubah, dan ia sedang menunggu kepastian dari laki-laki yang telah dipilihnya.
Namun, rasa iba itu tidak serta-merta mengembalikan kehangatan yang pernah ada.
Denis membalas dengan singkat.
Tidak apa-apa. Aku hanya sedang banyak pekerjaan. Besok kita bicarakan soal fitting.
Ia meletakkan ponsel, kemudian memandang foto lama yang tersimpan di galeri. Foto itu diambil saat dirinya dan Mita menikmati hari libur bersama. Mereka tidak mengenakan pakaian mewah, tidak berada di tempat mahal, dan tidak melakukan sesuatu yang istimewa.
Mita hanya tersenyum ke arah kamera, sementara Denis berdiri di sampingnya dengan wajah yang tampak jauh lebih ringan daripada sekarang.
Ia menatap foto itu cukup lama.
Lalu, dengan gerakan cepat, ia menutup galeri.
Ia tidak ingin kembali mengenang sesuatu yang tidak mungkin ia miliki dengan cara yang sama.
Namun, semakin keras ia berusaha menyingkirkan bayangan Mita, semakin jelas ia mengingat ketenangan yang pernah diberikan perempuan itu.
Dan semakin ia merasa diawasi oleh Siska, semakin ia menyadari bahwa kebebasan yang dahulu ia anggap membosankan ternyata adalah salah satu bentuk cinta yang paling berharga.
Denis mematikan lampu kamar.
Dalam gelap, ia menyadari bahwa hubungan yang dimulainya dengan perasaan sebagai pemenang kini justru membuatnya merasa kalah oleh keputusan sendiri