Selama lima tahun, Bayu telah mengorbankan segalanya untuk merawat Vira dan membesarkan anak dari mantannya, namun ia justru diusir dan dicap sebagai sampah begitu Rama,pria kaya yang dulu mencampakkan Vira,kembali dengan jabatan mentereng sebagai manajer perusahaan besar.
Dihina habis-habisan di depan pintu keluar kantor catatan sipil usai meneken surat perceraian, hidup Bayu berputar 180 derajat saat sebuah Sistem Pengubah Jalur Hidup bangkit di kepalanya dan memberinya kartu-kartu kekayaan mutlak.
Dari seorang pria melarat berhati tulus, Bayu kini melangkah ke dunia para elite kota besar, siap membalas setiap tetes air mata dengan kekuasaan yang membuat orang-orang yang dulu merendahkannya berlutut memohon ampun.
Bantu Cherlly dengan LIKE,KOMENTAR & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Kami selalu balas komentar yang kaka pertanyakan🥰🥰💋
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Matahari pagi baru saja mengintip di balik deretan gedung pencakar langit ibu kota.
Suhu udara di luar suite penthouse masih terasa sejuk dan menyegarkan.
Bayu duduk tenang di kursi kerjanya sambil menyesap cangkir kopi hitam.
Layar transparan sistem di depannya menampilkan titik koordinat pergerakan Rudy Santoso secara real-time.
Pintu ruang kerja diketuk pelan dari luar.
Tok tok.
"Masuk," ucap Bayu dengan suara tegas.
Ceklek.
Kirana melangkah masuk dengan mengenakan setelan blazer rapi bernuansa abu-abu gelap.
Wanita itu membawa sebuah tablet digital berukuran tipis di tangannya.
"Selamat pagi, Tuan Bayu," sapa Kirana dengan senyum profesional.
"Pagi, Kirana," balas Bayu menatap tajam sekretaris pribadinya.
"Bagaimana laporan tim investigasi kita semalam?"
Kirana berjalan mendekati meja lalu menyerahkan tablet digital tersebut kepada atasannya.
"Semua informasi yang Anda berikan terbukti seratus persen akurat, Tuan," lapor Kirana serius.
Bayu melirik layar tablet yang menampilkan foto dan data aliran dana dari Arga Rahardja.
"Rudy Santoso sudah bergerak?" tanya Bayu tenang.
"Ya, Tuan," jawab Kirana mengangguk cepat.
"Dia baru saja memerintahkan anak buahnya untuk menyusup ke lokasi proyek properti kita di pusat kota."
Bayu meletakkan cangkir kopinya perlahan ke atas meja marmer.
Clang.
"Apa bentuk sabotase yang mereka rencanakan?" tanya Bayu menyelidik.
"Mereka berniat merusak fondasi utama beton dan menanamkan material palsu untuk memicu kegagalan uji kelayakan," jelas Kirana dengan nada tajam.
Bayu mendengus sinis mendengar rencana licik tersebut.
"Cara-cara kuno yang sangat mudah ditebak," ujar Bayu dingin.
"Lalu apa instruksi selanjutnya untuk tim keamanan kita di lapangan, Tuan?" tanya Kirana siap mencatat.
Bayu berdiri dari kursi kerjanya lalu merapikan jas hitam yang melekat di tubuhnya.
"Jangan hentikan mereka," perintah Bayu mengejutkan.
Kirana mengerutkan keningnya heran mendengar instruksi tersebut.
"Biarkan mereka merusak sebagian kecil dari area konstruksi itu," lanjut Bayu tenang.
"Biarkan mereka masuk perangkap sepenuhnya tanpa ada kecurigaan."
Kirana terdiam sejenak mencerna strategi atasannya, lalu mengangguk paham.
"Saya mengerti, Tuan," ucap Kirana tersenyum tipis.
"Kita tangkap basah mereka saat melakukan aksi kejahatan itu."
"Tepat sekali," balas Bayu menyetujui.
"Siapkan kendaraan, kita turun langsung ke lokasi proyek sekarang juga."
"Baik, Tuan! Saya laksanakan," jawab Kirana sigap memutar langkah keluar ruangan.
Ceklek.
Di tempat terpisah, di sebuah sudut kawasan proyek konstruksi yang luas di pusat kota Jakarta, suasana tampak sibuk.
Beberapa pekerja bangunan lalu-lalang membawa material besi dan semen.
Di balik pagar seng proyek yang tinggi, tiga orang pria berbadan kekar menyusup masuk secara diam-diam.
Mereka mengenakan rompi keselamatan dan helm proyek untuk mengelabui para pekerja asli.
Pemimpin kelompok kecil itu adalah Rudy Santoso sendiri, kontraktor bayaran suruhan Arga.
Rudy memegang sebuah alat bor besar di tangan kanannya sambil tersenyum licik.
"Cepat selesaikan tugas ini sebelum mandor utama datang," bisik Rudy kepada dua anak buahnya.
"Baik, Bos!" jawab kedua anak buahnya serempak.
Mereka mulai mendekati pilar beton utama yang baru saja dicor kering semalam.
Rudy mengeluarkan cairan kimia perusak beton dari dalam tas ranselnya.
"Tuan Arga membayar mahal untuk pekerjaan ini, jadi jangan sampai gagal," ucap Rudy meremehkan.
Ia menuangkan cairan kimia itu ke permukaan pilar beton dengan gerakan cepat.
Sssssst...
Suara desisan cairan kimia mulai bereaksi merusak struktur beton di hadapan mereka.
Rudy tertawa kecil melihat hasil kerjanya yang berjalan sangat mulus tanpa ada hambatan.
"Pengusaha daerah itu benar-benar bodoh karena memilih lokasi ini," gumam Rudy sombong di dalam hatinya.
Tiba-tiba...
Brak!
Pintu gerbang darurat proyek dijebak dan dibuka paksa dari luar.
Puluhan petugas keamanan berpakaian hitam seragam langsung berlari masuk mengepung area pilar beton tersebut.
"Jangan bergerak! Kalian sudah terkepung!" teriak komandan keamanan dengan suara menggelegar.
Rudy dan kedua anak buahnya terperanjat kaget setengah mati.
Alat bor di tangan Rudy terlepas begitu saja jatuh ke atas tanah.
Prang.
"B-Bagaimana bisa mereka tahu?" cicit salah seorang anak buah Rudy ketakutan.
Dari arah belakang barisan petugas keamanan, sebuah mobil sedan mewah hitam berhenti perlahan.
Pintu mobil terbuka, dan Bayu melangkah keluar didampingi oleh Kirana.
Setelan jas hitam berkelas yang dikenakan Bayu memancarkan wibawa yang membuat siapa saja langsung ciut nyali.
Rudy menatap tajam ke arah pemuda yang baru saja turun dari mobil mewah itu.
"Siapa kalian?!" bentak Rudy mencoba menutupi rasa paniknya.
"Berani sekali mengganggu pekerjaan resmi di sini!"
Bayu berjalan santai mendekati kelompok penyusup tersebut dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana.
"Pekerjaan resmi?" tanya Bayu dengan nada suara mengejek yang sangat kentara.
"Kau pikir aku tidak tahu siapa yang menyuruhmu, Rudy Santoso?" lanjut Bayu tajam.
Deg.
Jantung Rudy seolah copot mendengar namanya disebut secara tepat oleh orang asing di depannya.
"A-Aku tidak tahu apa maksudmu!" elak Rudy berkeringat dingin.
Kirana maju selangkah sambil membuka tablet digital di tangannya.
"Rekaman video aksi penyusupan kalian, bukti transfer uang dari Arga Rahardja, hingga cairan kimia perusak struktur beton sudah kami amankan sepenuhnya," jelas Kirana membacakan data tersebut dengan suara lantang.
Wajah Rudy seketika berubah pucat pasi seperti mayat hidup.
Semua bukti kejahatan itu terekam sempurna tanpa ada celah sedikit pun untuk mengelak.
"Tangkap mereka semua dan serahkan ke pihak kepolisian!" perintah Bayu mutlak.
"Baik, Tuan!" jawab petugas keamanan serempak.
Dugh!
Dua petugas keamanan langsung membanting tubuh Rudy ke atas tanah dan memborgol kedua tangannya tanpa ampun.
"Lepaskan aku! Bajingan!" teriak Rudy meronta-ronta histeris.
Bayu menatap rendah pria bayaran itu dengan pandangan dingin tanpa belas kasihan.
[Sistem Pengubah Jalur Hidup: Berhasil menggagalkan upaya sabotase rival utama.]
[Mendapatkan bonus poin pengaruh hukum nasional +30.]
Suara dengungan sistem berputar cepat di kepala Bayu.
Di kantor pusat keluarga Rahardja, Arga sedang menikmati kopi paginya dengan senyum penuh kemenangan.
Ia menunggu kabar gembira dari Rudy Santoso bahwa proyek Bayu telah hancur.
Tiba-tiba, ponsel di atas meja kerjanya berdering nyaring.
Bzzzt... bzzzt...
Arga mengangkat panggilan itu dengan antusias.
"Halo Rudy? Apakah semuanya sudah beres?" tanya Arga cepat.
"Maaf, Tuan Arga," suara di seberang telepon bukan suara Rudy, melainkan suara asing yang tegas.
"Rudy Santoso dan seluruh anak buahnya baru saja ditangkap tertangkap tangan atas percobaan sabotase proyek!"
Prang!
Gelas kopi di tangan Arga terlepas dan pecah berkeping-keping di atas lantai ruang kerjanya.
Wajah Arga membelalak lebar, diselimuti rasa panik luar biasa yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰