Zhafira Nayara Humaira, gadis berparas cantik, namun yatim piatu. Memiliki kepribadian lembut, ramah dan tegas dalam bersikap. Kini sedang berkuliah lewat jalur beasiswa.
Tak sedikit Mahasiswa yang ingin menjadikan pacar tapi selalu ia tolak secara halus, karena ia tak ingin fokusnya terganggu. Hingga ia menerima Bryan, pria yang selalu ada untuknya. Mereka memutuskan untuk menikah siri dan tinggal di aparteman yang sama.
Setelah wisuda selesai, Bryan izin pulang ke Jakarta, Zhafira sering mual dan muntah. Di tengah ketidaknyamanan, Zhafira tak sengaja menyaksikan siaran langsung di TV. Brian, suaminya sedang melangsungkan pertunangan dengan wanita cantik, elegan.
Seketika dadanya seperti tertusuk jarum besar, perih dan menyakitkan. Bersamaan itu ia baru saja mengetahui kalau dirinya sedang hamil.
Bagaimana ia menghadapi kenyataan pahit itu? Mampukah ia bertahan demi nyawa yang dikandungnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tientien AQuariuzz Girllzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 KEBENARAN YANG TERUNGKAP
SELAMAT MEMBACA !!!
Malam harinya setelah semua selesai makan malam, mereka berpindah ke ruang keluarga, Mila diminta mengajak anak-anak bermain di kamarnya bersama Elena.
"Apa ada yang penting disampaikan, Pa, Ma, Bang?" tanya Fira penasaran.
Tuan Andika menoleh ke arah Haikal dan menganggukan kepalanya memberikan izin kepada Haikal untuk menyampaikan hal penting kepada Fira.
"Hmmm...Begini, Dek. Sebelumnya Abang menyampaikan sesuatu padamu, Abang minta maaf jika apa yang Abang sampaikan nanti membuat kamu marah, bahkan akan membenci Abang dan yang lain," ucap Haikal menjeda ucapannya.
Fira yang semakin bingung itu, menatap wajah Haikal dengan penuh tanda tanya. "Ini sebenarnya ada apa Bang, Pa, Ma?"
Haikal membuka hapenya dan memberikan pada Fira, lalu Fira mengambil hapenya Haikal yang memutar video dimana Bryan diancam oleh Ibunya dan syarat yang diajukan oleh Bryan. Nyambung lagi video Bryan yang ngamuk di kamarnya. Lalu video yang menampilkan video Bryan yang menangis menyesal belum mengatakan kalau pernikahan mereka sudah di sahkan di KUA. Lalu video konfrensi pers yang dilakukan oleh Bryan semua ada di sana semua sudah dijadikan satu oleh Haikal.
Fira menutup mulutnya dengan erat sambil meneteskan air matanya, ternyata selama ini dia salah paham pada suaminya sendiri.
"Maaf, kalau selama ini kami bohong tentang kejadian yang terjadi hampir dua tahun lalu, Abang juga mendapatkannya saat kamu sudah di sini. Kami ingin memberitahukan kepadamu takut akan berpengaruh dengan kehamilanmu. Makanya kita tunda sampai malam ini." ucap Haikal sambil menatap wajah Fira yang menangis itu, tubuhnya bergetar sambil menonton semua video yang ditampilkan di hapenya Haikal.
Ia melanjutkan bicaranya, "Kami sadar, meskipun kembar mendapatkan kasih sayang yang banyak dari kami. Suatu saat mereka akan sadar bahwa mereka tak didampingi Papa kandungnya. Ditambah lagi Devan sekarang sering main komputer dan kecerdasannya tak diragukan lagi. Aku tak percaya jika dia hanya ingin bisa memainkan komputer, pasti dia mencari sesuatu yang menurutnya harus ia cari tau.
Jangan sampai mereka membenci Papanya gara-gara kesalahpahaman ini. Sekarang semua sudah Abang ceritakan padamu. Sekali lagi maafkan kami yang telah menutupi kebenaran sampai malam ini!" seru Haikal lagi.
Fira yang mendengar ucapannya Haikal, ia berlari bersimpuh dihadapan keluarga angkatnya. "Jangan meminta maaf, Bang. Aku yang harusnya meminta maaf telah merepotkan kalian semua. Terima kasih untuk semua yang telah kalian berikan padaku dan kembar hiks...hiks...hiks," ucap Fira tulus sambil menangis. Ia tak marah dengan mereka justru ia berterima kasih selama di sini mereka memperlakukan Fira dan anak-anaknya dengan baik dan tulus.
Nyonya Sintya memeluk tubuh Fira yang bergetar karena menangis itu, ia juga ikut menangis melihat putri angkatnya menangis begitu. Semua orang juga ikut sedih.
"Sudah jangan menangis lagi, takut kembar keluar dari kamarnya!" ucap Tuan Andika menenangkan Fira yang masih menangis dipelukan Nyonya Sintya.
Nyonya Sintya merenggangkan pelukannya, lalu mengusap air mata yang menetes di kedua pipi putrinya. "Pikirkanlah langkah apa yang akan kamu ambil, Nak. Untukmu untuk anakmu dan untuk rumah tanggamu. Kami hanya bisa mendukungmu, apapun yang akan kamu ambil kami tetap akan bersamamu, Sayang."
Fira semakin menangis tersedu-sedu mendengar ucapan Nyonya Sintya. Air matanya jatuh bukan karena sedih, melainkan karena terharu dan bahagia.
merasakan betapa besar, tulus dan kasih sayang yang diberikan kepadanya.
"Terima kasih, Mama, Papa, Abang, Kakak, Tasya, dan Elena. Terima kasih karena kalian selalu ada untukku. Kalian menyayangiku dengan tulus, selalu membantuku, dan selalu ada di sisiku saat aku harus menghadapi setiap masalah yang datang. Tanpa kalian, aku tak tahu bagaimana caranya menghadapi masa depanku dan masa depan si kembar. Aku takkan pernah melupakan kebaikan serta kasih sayang yang kalian berikan kepadaku dan kedua anakku. Selamanya akan tersimpan di dalam hatiku," ucapnya tulus, air mata bahagia kembali menetes di pipinya.
Nyonya Sintya memeluk kembali tubuhnya Fira disusul Amanda dan Tasya juga ikut memeluk Fira.
"Kita ini keluarga, Nak. Tak perlu berterima kasih begitu. Suka mau pun duka kita hadapi bersama-sama. Kamu dan si kembar sudah menjadi bagian dari keluarga kami, dan kami tak akan pernah membiarkan kamu menghadapi masalah sendirian," ucap Nyonya Sintya dengan lembut.
Tasya mengangguk setuju, "Kita itu sahabat, Fir. Aku dan Elena juga sudah menganggapmu saudara sendiri. Kami tak akan membiarkan kamu dan anak-anakmu menderita bertiga. Kami akan selalu ada untukmu dan si kembar. Pikirkan baik-baik langkah masa depan yang akan kamu pilih. Pikirkan baik buruknya untukmu dan untuk si kembar ya!" seru Tasya.
Malam semakin larut, mereka menuju ke kamarnya masing-masing untuk istirahat.
Di kamar Haikal, tiba-tiba Amara menangis tersedu-sedu membuat Haikal kaget dengan apa yang dilakukan istrinya itu.
"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu menangis?" tanyanya sambil memeluk tubuh istrinya.
"Aku...aku sedih, Mas. Jika harus berjauhan dengan kembar, Mas. Bagaimana jika kembar diajak pulang ke Indonesia, aku...aku harus bagaimana, Mas? Hiks...hiks...hiks?" tanyanya lirih dengan menangis.
Haikal juga sebenarnya sedih, kalau harus berpisah dengan kembar, tapi mau bagaimana lagi mereka punya masa depan sendiri. "Sudah jangan menangis, kita tunggu keputusan Fira besok pagi. Jika mereka harus pulang ke Indonesia, kita ikut saja pulang ke Indonesia, Sayang. Nanti perusahaan bisa kita pindahkan ke Bandung di dekat perusahaannya Papa. Kemarin Papa juga bilang kalau di sebelahnya Perusahaannya sudah disediakan gedung untuk memindahkan perusahaan kita ke Indonesia. Jadi tak usah sedih lagi, ya. Sana cuci muka biar besok pagi matanya tak sembab!" seru Haikal kepada istrinya, meskipun mereka belum ada anak diantara pernikahannya, mereka tak mempermasalahkannya. Begitu pun Kedua orang tuanya Haikal juga tak menuntut harus ada anak di pernikahannya.
Amara merasa lega dan beban dihatinya semakin ringan saat mendengar keputusan dari suaminya. Lalu ia melangkah menuju kamar mandi untuk cuci muka sekalian ambil air wudhu.
Sementara di kamarnya Fira, ia juga baru sholat isya. Ia merenung di atas sajadahnya. Ia memikirkan langkah apa yang akan diambilnya. "Maafkan aku ya, Mas telah salah paham padamu, hiks...hiks...hiks," tangisnya sambil menyesali keputusan gegabahnya dulu.
Tanpa ia sadari, ia tertidur di atas sajadahnya...
Tepat pukul dua dini hari. Devan ingin tidur bersama, Mamanya, namun saat ia melihat kasurnya kosong, dia saat kaget sekali kemana Mamanya pergi.
Ia berjalan mendekat berjalan ke arah samping ranjang Mamanya, ia tambah kaget melihat Mamanya tidur di atas sajadah masih dengan mukena di tubuhnya.
"Mama...!" panggil lirih Devan takut Mamanya kaget. "Mama...bangun, Ma! Ayo pindah ke kasur!" panggil Devan lagi.
Perlahan-lahan mata Fira terbuka, ia kaget melihat wajah putranya ada di depannya dan bertambah kaget lagi, ia masih menggunakan mukena.
"Ada apa, Sayang. Apa Devan butuh sesuatu, Sayang?" tanya Fira lembut sambil duduk di atas sajadah, menarik tubuh putranya ditaruh dipangkuannya.
Devan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menatap wajah matanya sembab, "Ada apa, Ma? Kenapa Mama menangis? Apa Papa di dalam mimpi menyakiti, Mama..opsstt...sorry, Mama?" tanya Devan menggerutui mulutnya yang keceplosan sambil menutup mulutnya dengan erat.
Deg jantung Fira berdebar hebat.