Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Bayang-Bayang yang Tak Pernah Jauh
Sinar matahari pagi menyelinap masuk melalui celah jendela kamar Cynthia, menyentuh wajahnya yang tampak pucat dan lelah. Sepanjang malam matanya tak terpejam. Pikirannya terus berputar tanpa henti, menata ulang setiap kata yang terucap kemarin, setiap tatapan yang diberikan orang-orang yang seharusnya memihak padanya. Hatinya masih terasa perih, namun air matanya telah mengering. Ia berjanji pada dirinya sendiri — tak akan lagi menangis di hadapan mereka. Tak akan membiarkan siapa pun melihat betapa hancurnya dirinya.
Cynthia bangkit dari tempat tidur, merapikan penampilannya dengan sederhana namun rapi. Ia melangkah keluar kamar menuju ruang tengah. Di sana, suasana rumah tampak sibuk dan riuh. Ibu dan Karen sedang duduk bersama YB, menatap lembar majalah pernikahan yang terbentang lebar di atas meja. Mereka tertawa dan berbicara dengan penuh semangat, seakan kehadiran Cynthia sama sekali tak terasa di ruangan itu.
"Ibu, Ayah..." sapa Cynthia pelan namun tegas.
Percakapan mereka terhenti seketika. Karen menoleh, seketika menunduk tak berani menatap mata kakaknya. YB menatap Cynthia sekilas, lalu kembali menunduk menatap majalah di tangannya dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Cynthia," Ibu menyahut tanpa menoleh sepenuhnya. "Kau sudah bangun. Kemarilah, lihatlah gaun pengantin ini. Karen terlihat sangat cantik mengenakannya, bukan? YB juga sangat menyukainya."
Kalimat itu terasa bagai jarum yang kembali menusuk luka yang belum mengering. Cynthia menarik napas panjang, menahan agar suaranya tak bergetar.
"Ibu, Ayah... aku pamit hendak pergi bekerja."
"Pergi bekerja?" kali ini YB yang bersuara. Ia mendongak menatap lurus ke arah Cynthia. Suaranya tetap lugas dan tenang, seakan tak ada beban di hatinya. "Mulai hari ini kau tak perlu lagi bekerja. Segala kebutuhan keluarga akan aku tanggung sepenuhnya sebagai bentuk tanggung jawabku kepada Karen. Kau cukup berdiam diri di rumah dan membantu persiapan pernikahan kami."
Darah seakan berdesir kencang di telinga Cynthia. Kata-kata itu begitu tenang terucap, namun maknanya begitu merendahkan. Ia seakan tak lagi berhak berdiri setara di hadapan mereka.
"Terima kasih atas kemurahan hatimu, YB," jawab Cynthia tenang, menatap lurus ke mata pria itu. "Namun aku ingin tetap bekerja. Aku ingin memiliki penghasilan dan hidupku sendiri. Aku tak ingin bergantung pada belas kasih siapa pun."
YB terdiam sejenak, menatap Cynthia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Terserah kau saja. Namun ingatlah... kau adalah kakak dari istriku kelak. Jagalah sikap dan tingkah lakumu agar tak mempermalukan Karen maupun dirinya sendiri."
Cynthia mengangguk pelan tanpa menambahkan sepatah kata pun. Ia berbalik dan melangkah keluar rumah, meninggalkan kehangatan yang tak pernah lagi terasa seperti rumah baginya. Udara pagi yang segar menyambutnya di luar, namun langkah kakinya terasa berat. Entah mengapa, seketika bayangan sosok lain melintas di benaknya. Senyum hangat itu. Suara lembut yang menenangkannya saat hujan sore kemarin. Aldy Reynaldi — Aloy.
Tanpa sadar, kakinya justru melangkah ke arah yang sedikit berbeda dari jalan biasanya. Hatinya berharap seakan-akan ada benang tak kasat mata yang mempertemukan mereka kembali. Namun sejauh matanya memandang, jalanan itu tampak sepi dan tak ada tanda-tanda kehadiran pria itu. Cynthia tersenyum getir pada dirinya sendiri. Apa yang ia harapkan? Mereka hanyalah orang asing yang kebetulan berpapasan di tengah hujan. Tak lebih.
Dengan langkah yang sedikit gontai, Cynthia berjalan menuju tempat kerjanya. Namun baru beberapa langkah, telinganya menangkap suara mesin sepeda motor yang perlahan mendekat, disertai suara ceria yang begitu ia kenal.
"Wah! Bukankah itu bidadari yang kemarin basah kuyup kena hujan? Selamat pagi, Cynthia!"
Jantung Cynthia berdegup kencang. Ia berbalik perlahan dan mendapati Aloy berhenti tepat di sampingnya. Pria itu tersenyum lebar, matanya berbinar hangat persis seperti yang ia ingat. Sepeda motornya tampak sederhana, pakaiannya rapi namun biasa saja, namun kehadirannya seketika membuat suasana hati Cynthia yang suram menjadi sedikit lebih terang.
"Aloy..." panggilnya pelan, tak mampu menyembunyikan rasa terkejut bercampur gembira yang menyelinap di hatinya. "Selamat pagi. Kau... sedang lewat kebetulan?"
Aloy tersenyum makin lebar, menatapnya dengan pandangan yang tulus dan ramah.
"Bisa dibilang begitu. Atau bisa juga... aku sengaja lewat jalan ini karena merasa ada seseorang yang mungkin sedang membutuhkan teman bicara pagi ini," jawabnya santai namun penuh makna. "Bagaimana keadaanmu hari ini? Sudah lebih baik hatinya?"
Pertanyaan sederhana itu begitu tulus terucap, membuat mata Cynthia kembali berkaca-kaca. Seluruh orang di rumahnya sibuk membicarakan kebahagiaan mereka, tak satu pun yang bertanya kabarnya. Namun pria yang baru dikenalnya dua hari saja justru menjadi orang pertama yang menanyakan keadaan hatinya.
"Aku... sudah lebih baik. Terima kasih, Aloy," jawabnya pelan, berusaha tersenyum walau berat.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Aloy lembut. "Kalau kau hendak pergi bekerja, izinkan aku mengantarmu. Hari terasa cukup panas untuk berjalan kaki. Aku tak tega melihat bidadari berkeringat begitu."
Cynthia sempat ragu sejenak, namun melihat ketulusan di mata pria itu, ia akhirnya mengangguk setuju. Sepanjang perjalanan, Aloy tak banyak bertanya mengenai masalahnya. Ia justru bercerita hal-hal sederhana yang lucu dan ringan, membuat Cynthia tanpa sadar ikut tersenyum dan tertawa kecil. Sesuatu yang terasa mustahil terjadi pagi tadi.
Sesampainya di dekat tempat kerja Cynthia, Aloy menepati janjinya — berhenti agak jauh dari keramaian, tak membuat Cynthia merasa canggung.
"Terima kasih banyak, Aloy. Kau benar-benar menolongku lagi," ucap Cynthia tulus saat hendak turun.
Aloy menatapnya lekat sejenak, lalu tersenyum hangat.
"Ingatlah satu hal, Cynthia. Senyummu itu jauh lebih indah daripada segala hal yang mungkin menyakitimu hari ini. Jangan biarkan siapa pun mengambilnya darimu. Dan... jangan lupa, aku ada di sini. Selalu."
Cynthia terpaku menatap punggung Aloy yang kembali menjauh. Kalimat sederhana itu begitu bermakna baginya. Di saat semua orang meninggalkan dan menyakiti hatinya... justru pria inilah yang hadir kembali, tanpa diminta, tanpa pamrih, hanya untuk mengingatkannya agar tetap tersenyum.
Dan di detik itu pula, Cynthia menyadari satu hal. Kehadiran Aloy dalam hidupnya bukan sekadar kebetulan semata. Pria itu perlahan-lahan mulai menjadi alasan baginya untuk tetap berdiri tegak dan bangkit. Dan ia pun mulai menyadari... bahwa di balik kesederhanaan dan senyum tulusnya itu, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih besar dan berharga dari apa pun yang pernah ia kenal sejauh ini.