Niat mau bercerai setelah selesai Kkn, eh pas Kkn mereka malah buat dede bayi. Apakah mereka akan jadi bercerai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon isd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam panas yang Terlupakan
Arsen yang duduk di samping Keira memperhatikan perubahan wajah gadis itu. Kelopak matanya semakin berat dan beberapa kali ia menguap.
“Kamu ngantuk?” tanyanya pelan.
Keira hanya mengangguk lemah.
Melihatnya sudah hampir tidak mampu menahan kantuk, Arsen tidak banyak bicara. Ia menarik bahu Keira perlahan, lalu membiarkan kepala gadis itu bersandar di bahunya.
“Tidurlah,” ucap Arsen dengan suara rendah. “Aku yang akan menjagamu.”
Keira tidak membantah. Dalam keadaan seperti ini, rasa aman yang diberikan Arsen terasa jauh lebih penting daripada mempertahankan gengsi. Ia menggeser tubuhnya sedikit agar lebih nyaman, kemudian perlahan memejamkan mata.
Tidak membutuhkan waktu lama. Beberapa menit kemudian, napas Keira mulai terdengar teratur. Ia sudah tertidur.
Arsen menundukkan wajah dan memperhatikan Keira dari samping.
Gadis yang biasanya begitu banyak bicara, mudah kesal, dan selalu membantah perkataannya kini terlihat begitu tenang. Tidak ada keluhan ataupun protes seperti biasanya.
Hanya wajah damai yang terlihat di bawah cahaya redup hutan. Tanpa benar-benar menyadarinya, Arsen mengangkat tangannya.
Jemarinya perlahan menyentuh rambut Keira yang tergerai, kemudian membelainya dengan gerakan lembut dan hati-hati. Seolah ia takut sentuhan kecil itu akan membangunkan gadis yang sedang tertidur.
Sementara itu, suasana hutan semakin gelap. Suara malam mulai terdengar dari berbagai arah. Bunyi serangga bersahutan, angin berembus melewati pepohonan, dan dedaunan bergesekan perlahan.
Arsen mengangkat pandangannya. Ia mengamati keadaan di sekitar mereka dengan waspada, memastikan tidak ada sesuatu yang membahayakan.
“Kalau sampai tidak ada bantuan…” gumamnya lirih. Tatapannya kembali jatuh pada Keira yang masih tertidur di bahunya. Ia mengembuskan napas pelan.
“Terpaksa kita bermalam di sini.”
Langit benar-benar telah berubah gelap. Hutan yang sebelumnya hanya terasa teduh kini menjadi dingin dan sunyi. Hampir tak ada cahaya yang menembus pepohonan, hanya sisa semburat terang dari langit yang terlihat samar di antara dedaunan.
Keira yang sejak tadi tertidur mulai bergerak gelisah. Tubuhnya menggigil hebat. Tanpa sadar, ia merapatkan tubuhnya kepada Arsen dan memeluk pria itu dengan erat.
"Aku... kedinginan," gumamnya lirih.
Arsen segera menoleh. Ia dapat merasakan tubuh Keira yang begitu dingin dalam pelukannya.
"Sabar, ya," ucapnya lembut.
Tanpa berpikir panjang, Arsen menarik Keira semakin dekat. Ia memeluk gadis itu erat, berusaha memberikan kehangatan dari tubuhnya sendiri.
Namun, udara malam di tengah hutan ternyata jauh lebih menusuk daripada yang mereka bayangkan. Angin berembus sesekali, membuat tubuh Keira kembali menggigil.
Arsen mengusap kedua lengannya perlahan. "Tahan sedikit lagi..."
Akan tetapi, bukannya mereda, tubuh Keira justru semakin gemetar. Napasnya pun mulai terdengar tidak teratur. Arsen mulai merasa cemas.
Ia menatap sekeliling. Gelap menyelimuti hutan. Tak ada penerangan, tak ada peralatan, bahkan tak ada sesuatu yang mudah digunakan untuk membuat api.
Rahang Arsen mengeras.
"Keira... dengarkan aku," katanya dengan suara lembut tetapi tegas.
Keira hanya mampu mengangguk lemah. Tangannya masih erat memeluk Arsen seolah pria itu adalah satu-satunya sumber rasa aman yang tersisa.
Arsen kemudian melepaskan jaketnya dan menyelimutkannya ke tubuh Keira. Setelah itu, ia kembali menarik gadis itu mendekat.
"Di sini... tetap dekat denganku," bisiknya.
Keira tidak menolak. Ia justru menyandarkan wajahnya di dada Arsen, mencari sedikit kehangatan dari tubuh pria tersebut.
Arsen dapat merasakan tubuh Keira yang masih dingin. Kekhawatiran di dalam dirinya pun semakin besar.
Tangannya perlahan mengusap punggung Keira, berusaha membuat tubuh gadis itu sedikit lebih hangat.
"Kenapa kamu selalu membuatku khawatir..." gumamnya tanpa sadar. Dalam kondisi setengah sadar, Keira hanya mampu berbisik pelan.
"Jangan tinggalin aku..."
Arsen terdiam. Kalimat sederhana itu seolah menusuk tepat ke dalam hatinya. Perlahan, ia mempererat pelukannya.
"Aku nggak akan meninggalkanmu," jawab Arsen dengan suara rendah.
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Malam semakin pekat, sementara hawa dingin terus menusuk hingga ke tulang.
Di tengah hutan yang gelap dan sunyi, tanpa api dan tanpa bantuan siapa pun, mereka hanya bisa mengandalkan satu sama lain.
Tubuh Keira masih gemetar, tetapi perlahan ia mulai merasakan sedikit kehangatan dari pelukan Arsen.
Sementara itu, Arsen tetap terjaga. Ia menahan dingin dan rasa lelahnya, memastikan Keira tetap berada dalam pelukannya. Namun, malam ternyata belum selesai menguji mereka.
Suhu tubuh Keira semakin tidak menentu. Giginya bergemeretak dan tubuhnya menggigil tanpa kendali. Kondisinya semakin melemah, membuat Arsen panik.
"Keira! Keira!" panggil Arsen berkali-kali. Ia menepuk lembut pipi Keira, berusaha membuat gadis itu tetap sadar.
"Dingin..." bisik Keira dengan suara terputus-putus.
Arsen semakin kalut. Ia mencoba memikirkan cara apa pun yang bisa dilakukan untuk membuat Keira tetap hangat. Dalam keadaan darurat tersebut, ia berusaha memberikan kehangatan tubuhnya dengan tetap menjaga Keira sedekat mungkin.
"Maaf, Keira... aku harus melakukan ini untuk membantumu bertahan," bisiknya dengan suara berat.
Kemudian, dengan gerakan sangat pelan, ia mendekat. Bibirnya menyentuh bibir Keira dalam sebuah kecupan singkat. Namun Keira tidak bergerak. Ia justru memejamkan mata dan semakin mendekat.
Ciuman singkat itu berubah menjadi lebih lama, dipenuhi perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Arsen kemudian menarik Keira ke dalam pelukannya, berusaha menjaga tubuh gadis itu tetap hangat.
Batas antara sekadar bertahan hidup dan perasaan yang selama ini mereka pendam mulai terkikis.
Arsen mulai melucuti satu persatu bajunya, kemudian dengan ia juga mulai melepas baju Keira dengan sangat hati-hati.
Arsen menghisap bibir Keira dengan sangat ganas, turun keleher, Arsen menghisap setiap inci leher Keira tapi masih berusaha menahan agar tidak terlalu meninggalkan bekas.
Sampai di dada Keira, dibawah celana dalam Arsen semakin mengeras dan sempit. Arsen meremas gundukan gunung kenyal milik Keira dengan satu tangan dan satu gundukan kenyal lainnya ia hisap sampai terdengar desahan Keira yang entah sadar atau tidak.
Setelah puas menjamah bagian atas Keira, Arsen semakin turun kebawah, melepas celana dalam milik istrinya itu, mengusapnya dengan lembut. Pada Akhirnya ia memasukkan senjata besar dan panjang miliknya kedalam lobang imut milik Keira. Arsen memaju mundurkan miliknya dengan sangat lembut sampai keduanya sama-sama mencapai batas kenikmatan syurga dunia itu.
Apa yang terjadi setelahnya menjadi rahasia yang hanya mereka berdua ketahui. Dan ketika malam semakin larut, Keira akhirnya tertidur dalam pelukan Arsen.
Arsen masih terjaga cukup lama, menatap wajah Keira yang mulai tenang.
Ia menghela napas panjang.
"Maaf, Keira..."
....
Pagi akhirnya tiba.
Keira perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berdenyut dan pikirannya masih dipenuhi kabut. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi sepanjang malam, tetapi ingatannya terasa samar.
Keira kemudian menoleh ke samping.
Arsen masih tertidur di dekatnya. Wajah pria itu tampak tenang, seolah tidak menunjukkan kepanikan yang ia rasakan sepanjang malam.
Keira terdiam beberapa saat.
"Kita masih di sini, ya?" gumamnya pelan.
Jantungnya berdetak tidak beraturan. Tubuhnya masih terasa lemah, sementara pikirannya dipenuhi pertanyaan tentang apa yang sebenarnya terjadi sepanjang malam.
Di tengah rasa sakit dan kebingungan, benih perasaan baru mulai tumbuh di antara Keira dan Arsen. Keira mengguncang tubuh Arsen dengan panik.
"Mas Arsen, bangun! Tolong bangun!"
Arsen membuka mata perlahan. "Kamu sudah sadar... syukurlah," ucapnya lega.
Keira menatap sekeliling dengan cemas. "Kenapa belum ada yang datang? Kita masih terjebak di sini."
Arsen menghela napas. "Mungkin mereka belum menemukan kita."
Pandangan Keira kemudian tertuju pada leher Arsen yang tampak kemerahan.
"Leher Mas kenapa?"
"Ini? Cuma gigitan serangga," jawab Arsen cepat.
Padahal ia tahu, luka itu berasal dari Keira yang tanpa sadar menggigitnya saat malam tadi.
Keira mencoba mengalihkan pembicaraan. Ia bangkit perlahan.
"Aku mau buang air kecil dulu."
Namun baru beberapa langkah, ia tiba-tiba meringis.
"Aaakh!"
Arsen langsung mendekat. "Kenapa? Kamu sakit?"
Keira menggigit bibir dan menggeleng. "Nggak apa-apa. Aku baik-baik saja."
Dalam hati, Arsen hanya bisa berkata, 'Maaf, Keira. Aku nggak akan memberitahumu apa yang terjadi. Malam tadi aku terpaksa.'
Keira kemudian mencari tempat yang cukup jauh untuk buang air kecil. Namun saat selesai, ia kembali meringis.
"Kok perih sih... aww."
Setelah itu, Keira kembali menemui Arsen.
"Tadi malam aku nggak ingat apa-apa. Aku benar-benar lemas, kakiku juga sakit. Aku nggak tahu apa yang terjadi."
"Duduk dulu. Kakimu belum kuat. Luruskan saja," kata Arsen.
Keira menurut dan duduk di bawah pohon.
"Hmm... iya. Aku juga lapar."
Belum sempat Arsen menjawab, terdengar suara dari kejauhan.
"Pak Arsen! Keira!"
Beberapa warga dan mahasiswa muncul di antara pepohonan. Arsen langsung berdiri. Untuk pertama kalinya sejak semalam, wajahnya terlihat lega.
"Pak Arsen, maaf. Kami kesulitan menemukan jejak kalian," ujar salah satu warga.
"Nggak apa-apa. Yang penting sekarang sudah ketemu," jawab Arsen.
Keira perlahan berdiri dan berjalan menghampiri rombongan.
"Syukurlah... aku kira bakal mati di tengah hutan ini," katanya jujur.
Beberapa temannya langsung menghampiri. "Ya ampun, Keira! Kamu pucat banget!"
"Kamu nggak apa-apa?" Keira hanya mengangguk.
Arsen menatapnya beberapa saat, memastikan Keira benar-benar baik-baik saja. Namun begitu menyadari banyak orang di sekitar mereka, ekspresinya kembali datar dan profesional.
Ia mendekat. "Mau saya gendong?"
Beberapa mahasiswa saling pandang. Mereka sedikit heran mendengar perhatian Arsen, tetapi tidak berani berkomentar.
Keira menatapnya sejenak. Nada bicara Arsen kini kembali seperti seorang dosen kepada mahasiswinya. Sangat berbeda dengan sikapnya malam tadi.
"Iya, Pak. Kaki saya masih lemas."
Arsen langsung berjongkok. Keira naik ke punggungnya. Kali ini, perasaan Keira berbeda. Ia bukan hanya merasa lelah. Rasa aman yang ia rasakan dalam pelukan Arsen semalam masih tertinggal di hatinya.
Rombongan pun mulai berjalan meninggalkan hutan. Di tengah perjalanan, seorang mahasiswa berbisik kepada temannya.
"Pak Arsen perhatian juga, ya."
"Iya. Kelihatannya serem, tapi ternyata care juga."
Keduanya tertawa kecil, sementara Arsen tetap berjalan tanpa menanggapi.