seorang protagonis yang bereinkarnasi ketubuh anak muda bernama Andre, memiliki kekuatan ganda yang berbeda dari masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zapdos, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SANG HAKIM SUCI
Udara sedingin es di dalam Kuil Cahaya Runtuh perlahan mulai menghangat saat Valeria menarik sepenuhnya aura pembekuan mutlak miliknya. Badai salju yang berputar di sekitar pilar-pilar pualam melayang mereda, menyisakan butiran debu berlian yang jatuh perlahan bagaikan hujan bintang.
Di atas lantai pualam yang retak, Bastian terbatuk keras. Sang pewaris Valerius itu memaksa dirinya bangkit, menggunakan perisai legendarisnya sebagai tongkat penopang. Darah yang mengering di bawah hidungnya menjadi bukti betapa mengerikannya tekanan pasif dari seorang penguasa dunia Peringkat Ketiga. Ia menoleh ke samping, melihat Marvin yang baru saja tersadar dari pingsan sementaranya. Remaja itu memegangi kepalanya yang berdenyut hebat, matanya membelalak panik mencari keberadaan kakaknya.
"Kalian masih hidup," ucap sebuah suara merdu namun penuh ketegasan.
Bastian dan Marvin mendongak. Mereka melihat Valeria, sang National Protection yang ditakuti di seluruh Benua Utara, sedang berdiri di samping Andre. Alih-alih menghunuskan tombaknya dengan niat membunuh, wanita berlevel 184 itu kini bersikap sangat takzim, berdiri sedikit di belakang Andre layaknya seorang kesatria pelindung yang sedang mengawal rajanya.
"Kak Andre... apa yang baru saja terjadi?" tanya Marvin dengan suara serak, masih berusaha menstabilkan sirkulasi mananya.
Andre menoleh, menatap kedua rekannya dengan sorot mata yang telah kembali tenang, meski percikan petir hitam masih sesekali melintasi pupil obsidiannya. "Tekanan aura Valeria terlalu berat untuk kalian berdua. Sistem melakukan shut-down paksa pada saraf kalian agar organ dalam kalian tidak hancur. Berdirilah. Kita bukan musuh."
Valeria menyipitkan mata peraknya, mengamati Bastian dan Marvin dengan tatapan menilai yang membuat bulu kuduk kedua pemuda itu berdiri. Menggunakan Appraisal tingkat tingginya, sang Tombak Perak dengan mudah menembus pertahanan sistem mereka.
"Seorang Guardian Level 75 yang auranya memancarkan ketahanan mutlak, dan seorang bocah... Level 68 dengan dua anomali kelas kontradiktif: Healer dan Venomancer," gumam Valeria tak percaya. Matanya beralih menatap Andre. "Aku tidak tahu cerita lengkap bagaimana kau bisa kembali dalam wadah pemuda ini, Bos. Tapi sepertinya bakatmu dalam mencetak monster-monster baru sama sekali tidak memudar. Dua anak ini memiliki potensi untuk mencapai Peringkat Sepuluh Besar di masa depan."
"Mereka adalah keluargaku sekarang, Val," jawab Andre datar. "Rishing Guild. Sebuah faksi yang kubangun untuk menguasai segalanya dari dalam bayangan. Dan mereka berdua adalah fondasinya."
Valeria mengangguk pelan, rasa hormatnya semakin dalam. Jika sang Kaisar Kilat telah memutuskan untuk merawat dua pemuda ini, maka mereka berada di bawah perlindungan tak tertulis darinya juga.
"Kita tidak punya banyak waktu sebelum fluktuasi mana di kuil ini menarik perhatian patroli malaikat tingkat tinggi lainnya," Andre kembali ke topik utama, mengubah suasana menjadi tegang. "Kau menyebutkan nama Sang Hakim Suci. Arthur. Berapa level bajingan munafik itu sekarang?"
Mendengar nama itu, wajah Valeria mengeras. Rahangnya mengatup rapat, memancarkan kebencian yang selama ini ia pendam dalam diam.
"Level 198," jawab Valeria, suaranya dipenuhi racun kepahitan. "Sepeninggalmu, tidak ada yang bisa menghentikannya. Ia memanipulasi kepanikan global dan mengonsolidasikan seluruh kekuatan militer di bawah satu payung: Asosiasi Pemburu Dunia. Orang-orang seperti Direktur Marcus di Sektor Pusat hanyalah pion-pion kecil di atas papan caturnya. Arthur kini berkuasa penuh dari ibu kota melayang, Eden, yang berada di Benua Tengah."
Bastian yang baru saja pulih sepenuhnya, berjalan mendekat sambil membersihkan sisa es dari zirahnya. "Sang Hakim Suci... elemennya adalah Cahaya dan Hukum Mutlak, bukan? Buku sejarah menyebutnya sebagai mercusuar terakhir umat manusia."
"Mercusuar palsu," desis Valeria. "Sepuluh tahun terakhir, Arthur terus-menerus mendorong protokol 'Pemurnian'. Sebuah doktrin yang mengajarkan bahwa untuk mengalahkan iblis dan monster, umat manusia harus meminjam kekuatan para malaikat. Ia diam-diam mengizinkan invasi ideologis dari Seraphim. Aku menentangnya, dan itulah sebabnya aku diasingkan secara politik ke Benua Utara yang beku ini, ditugaskan menjaga perbatasan tersulit agar aku cepat mati."
Andre mendengus dingin. Petir hitam berdesis di ujung jarinya. "Kelicikan yang khas dari seorang Arthur. Dia selalu takut pada kekuatanku karena elemen petirku tidak bisa diatur oleh hukumnya. Jika dia yang menjual rute patroliku pada faksi malaikat dan iblis, kita butuh bukti fisik. Kau bilang ada relik komunikasi di kuil ini?"
Valeria mengangguk. "Ikuti aku."
Sang Tombak Perak melesat ke depan, melayang melewati reruntuhan pilar pualam menuju pusat altar yang paling dalam. Andre, Bastian, dan Marvin mengikuti di belakangnya, menggunakan kelincahan tingkat tinggi mereka untuk melompati batu-batu yang melayang di wilayah tanpa gravitasi tersebut.
Di pusat altar, terdapat sebuah kristal berbentuk air mata raksasa, melayang di atas tumpuan emas putih. Kristal itu memancarkan denyut cahaya yang sangat menyilaukan, mengeluarkan dengungan frekuensi tinggi yang membuat telinga terasa berdenging.
"Itu adalah Air Mata Seraphim," jelas Valeria, berdiri sepuluh meter dari altar karena insting elemen esnya menolak radiasi panas dari kristal tersebut. "Relik ini berfungsi sebagai pemancar komunikasi lintas dimensi, sekaligus penyedot mana. Ia menghisap energi murni dari bumi dan mengirimkannya ke dimensi surga. Aku telah mencoba menghancurkannya ratusan kali selama enam tahun terakhir. Tapi benda ini dilapisi oleh Absolute Holy Aegis. Serangan elemen esku, bahkan pukulan fisik sekuat apa pun, akan dipantulkan kembali."
Marvin menyipitkan matanya, mengaktifkan penglihatan Venomancer-nya. Di mata remaja itu, cahaya putih tersebut dipenuhi oleh jaring-jaring energi parasit yang menjijikkan. "Struktur energinya tertutup rapat, Kak. Racunku mungkin bisa melemahkannya, tapi butuh waktu berbulan-bulan untuk membuat lubang pada perisai suci itu."
"Kita tidak punya waktu berbulan-bulan," ucap Andre. Ia melangkah maju dengan tenang, menembus gelombang radiasi suci yang mencoba membakar kulitnya.
Tubuh Andre memancarkan kubah bayangan absolut yang menetralisir cahaya tersebut. Ia berdiri tepat di depan Air Mata Seraphim.
"Tidak ada perisai yang mutlak di dunia ini," bisik Andre.
Pemuda itu mencabut Nocturne. Pedang legendaris yang ditempa dari darah naga kegelapan dan obsidian luar angkasa itu berdengung buas, seolah menemukan mangsa yang paling ia benci. Andre tidak menggunakan kekuatan penuhnya, karena ia tidak ingin menghancurkan kristal itu sepenuhnya—ia ingin membedahnya.
Stigmata mahkota hitam di dadanya menyala. "Black Lightning: Absolute Penetration."
Petir hitam mengalir dari lengan Andre, menyelimuti bilah Nocturne. Ia menusukkan ujung pedangnya ke permukaan kristal tersebut dengan gerakan yang sangat lambat namun dipenuhi tekanan yang mematahkan hukum ruang.
KRAAAK!
Perisai suci yang diklaim tak bisa dihancurkan oleh Valeria itu pecah seperti kaca jendela murahan saat disentuh oleh pedang Andre. Ujung Nocturne menembus inti kristal sejauh dua sentimeter. Energi hitam dari pedang itu langsung meretas struktur memori di dalam relik.
"Tampilkan apa yang kau simpan," perintah Andre pada pedangnya.
Kristal itu bergetar hebat. Cahaya putihnya berubah menjadi proyeksi abu-abu yang memenuhi udara di atas altar, menampilkan rekaman holografik dari sisa-sisa mana (mana-residue) yang terperangkap di dalamnya.
Di dalam proyeksi tersebut, terlihat sesosok pria berjubah putih bersih dengan pinggiran emas, berdiri di altar yang sama. Wajah pria itu sengaja dikaburkan oleh sihir pelindung, namun postur dan wibawanya memancarkan arogansi yang tak terbantahkan. Di seberangnya, melayang proyeksi entitas bersayap enam—seorang Seraphim.
"Jadwalnya telah dikonfirmasi," suara pria berjubah putih itu terdengar terdistorsi, namun Andre mengenali setiap intonasi iramanya. "Kaisar Kilat akan melewati Kawah Naga pada bulan purnama ketiga. Pelindungnya tidak akan ikut. Pastikan Astaroth dan kawanannya menunggu di sana. Dan ingat, bagian perjanjian kita, Petinggi Surga: kalian merantai ruangnya, kalian memastikan ia mati, dan aku akan membuka gerbang utara untuk penyebaran doktrin Cahaya kalian."
Proyeksi Seraphim itu mengangguk kaku. "Kematian entitas tak terkendali itu akan membawa keseimbangan. Arthur, jangan mengkhianati hukum yang telah kau sepakati."
Rekaman itu berakhir dan proyeksi abu-abu itu hancur menjadi serpihan cahaya.
Di dalam kuil yang sunyi itu, amarah Valeria meledak. Suhu udara anjlok hingga mencapai minus seratus derajat. Ujung tombaknya membeku dengan hawa membunuh yang luar biasa pekat.
"Keparat itu..." desis Valeria, air matanya kini telah kering, digantikan oleh murka absolut. "Dia menukar nyawamu, pahlawan terkuat yang pernah dilahirkan umat manusia, hanya demi kekuasaan politik dan aliansi kotor dengan burung-burung bersayap itu!"
Bastian dan Marvin menatap Andre dengan perasaan campur aduk. Mereka kini memahami sepenuhnya skala perang yang akan mereka hadapi. Ini bukan lagi soal menguasai Sektor Pusat atau membasmi monster; ini adalah pemberontakan melawan penguasa tertinggi planet ini.
Andre menarik Nocturne dari dalam kristal, lalu menyarungkannya. Tanpa penahan dari pedang Andre, kristal relik yang perisainya telah bocor itu akhirnya hancur berkeping-keping menjadi debu pualam.
Sang Kaisar Kilat berbalik, wajahnya tidak menunjukkan kemarahan yang meledak-ledak. Ketenangannya justru ribuan kali lebih mengerikan daripada badai salju Valeria.
"Valeria," panggil Andre.
Sang Tombak Perak langsung berlutut dengan satu kaki, sebuah penghormatan yang ia simpan hanya untuk satu orang di seluruh alam semesta. "Perintahmu, Bos."
"Tetap di sini. Lanjutkan peranmu sebagai National Protection Peringkat Ketiga yang terasing. Jangan tunjukkan permusuhan pada Asosiasi Pusat atau pada Arthur," perintah Andre, matanya menatap tajam ke arah mantan bawahannya. "Arthur adalah orang yang paranoid. Jika dia tahu ada yang tidak beres di Benua Utara, dia akan menutup diri di balik miliaran lapisan pertahanan Eden. Biarkan dia merasa menang. Biarkan dia merasa aman."
Valeria menundukkan kepalanya. "Lalu, apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan kembali ke Sektor Pusat. Rishing Guild akan mulai memakan akar kekuasaannya dari bawah. Kita akan memutuskan aliran logistiknya, menghancurkan pendukung-pendukung setianya di faksi bawah tanah, dan merebut monopoli dungeon tingkat tinggi di seluruh benua," suara Andre mengalun bagai proklamasi kematian. "Ketika fondasinya sudah keropos dan ia mulai menyadari bahwa ada bayangan yang menggerogoti takhtanya, saat itulah aku akan muncul dan mengambil kepalanya."
Andre melangkah melewati Valeria, diikuti oleh Bastian dan Marvin.
"Tunggu kedatanganku, Val. Perang yang sesungguhnya baru saja dimulai," ucap Andre tanpa menoleh, tubuhnya perlahan membaur ke dalam bayangan kuil, meninggalkan Pahlawan Nasional Peringkat Ketiga itu sendirian di tengah reruntuhan.
Malam itu, di dalam kegelapan Kuil Cahaya Runtuh, sebuah aliansi yang akan meruntuhkan tatanan dunia secara diam-diam telah terbentuk. Dan Sang Hakim Suci yang sedang duduk nyaman di atas takhta cahayanya di Eden, sama sekali tidak menyadari bahwa dewa kematian baru saja menuliskan namanya di urutan pertama daftar eksekusi.