Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21 Fajar Baru Wanunggalih
Bab 21 Fajar Baru Wanunggalih
Pagi itu, istana Wanunggalih dipenuhi suasana yang belum pernah ada sebelumnya—campuran antara kelegaan dan duka yang sulit dijelaskan.
Rania berdiri di aula besar bersama Raja dan Permaisuri, menyaksikan laporan resmi dibacakan di hadapan para pejabat istana. Wajah Permaisuri pucat sepanjang pembacaan itu, air mata sesekali menetes diam-diam saat nama anak sepupunya sendiri disebut sebagai dalang di balik semua kekacauan ini.
"Pangeran Mukti Samudera," suara Paman Surya membacakan dengan nada formal, meski matanya sendiri terlihat berat, "dinyatakan bersalah atas penggelapan muatan kapal dagang kerajaan, keterlibatan dalam kematian belasan awak kapal akibat kelalaian menutupi kebenaran, serta percobaan pembunuhan terhadap Putri Wening Sasikirana sebanyak dua kali."
Rania berdiri tegak, mendengarkan setiap kata dengan perasaan campur aduk. Ada kelegaan karena kebenaran akhirnya terungkap, namun juga ada rasa pedih menyaksikan keluarga yang hancur karena pilihan satu orang.
"Hukumannya," lanjut Paman Surya, "pengasingan seumur hidup ke pulau terpencil di selatan kerajaan, jauh dari segala bentuk kekuasaan atau pengaruh."
Raja mengangguk pelan, wajahnya keras menahan emosi. "Keputusan sudah final."
Setelah sidang resmi itu selesai, Rania memilih untuk mengunjungi Permaisuri secara pribadi di taman kecil kesukaan wanita itu—tempat yang sama di mana Rania pernah dipeluk erat di hari pertama ia bangun di tubuh ini.
"Ibunda," panggilnya pelan, duduk di samping Permaisuri yang menatap kosong ke arah kolam.
"Wening," Permaisuri menoleh, matanya merah bengkak. "Maafkan Ibu. Seharusnya Ibu lebih waspada sejak awal. Kalau saja Ibu tahu sepupu kita sendiri—"
"Ini bukan salah Ibunda," potong Rania lembut, menggenggam tangan wanita itu. "Mukti yang milih jalannya sendiri."
Permaisuri menatapnya lama, lalu tersenyum tipis di tengah kesedihannya. "Kau benar-benar berubah, Wening. Dulu kau tidak pernah seberani ini menghiburku."
Rania tersenyum kecil, tidak tahu harus menjawab apa tanpa membongkar rahasia besar yang selama ini ia sembunyikan.
"Mungkin," katanya akhirnya, "kadang kita butuh kejadian besar buat sadar siapa diri kita sebenarnya."
***
Beberapa hari kemudian, Rania menepati janjinya pada Ki Sura.
Sebuah rombongan kecil dari istana—dipimpin langsung oleh Raja sendiri sebagai bentuk permintaan maaf resmi—berangkat menuju Desa Cilangkap, membawa surat pengumuman bahwa nama desa itu akhirnya dibersihkan dari tuduhan lama, disertai kompensasi yang pantas bagi keluarga korban kapal yang hilang.
Rania ikut dalam rombongan itu, berdiri di samping Ki Sura yang menerima pengumuman tersebut dengan mata berkaca-kaca, tangannya gemetar memegang surat resmi kerajaan.
"Akhirnya," gumam Ki Sura, suaranya penuh emosi yang terpendam bertahun-tahun. "Anakku bisa beristirahat dengan tenang sekarang."
Rania mendekat, menggenggam tangan pria tua itu. "Makasih udah percaya sama kami, Ki. Dan maaf, butuh waktu lama banget buat kebenaran ini terungkap."
Ki Sura menggeleng pelan, menatap Rania dengan tatapan yang penuh arti. "Kau sudah melakukan lebih dari yang pernah kuharapkan, Nak. Siapa pun kamu sebenarnya."
Rania membeku sejenak mendengar kalimat itu—sama seperti pertemuan pertama mereka. Namun kali ini, ia hanya tersenyum, memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, membiarkan kalimat itu menjadi rahasia kecil yang tidak perlu dijelaskan.
***
Malam sebelum rombongan kembali ke istana, Rania duduk sendirian di tepi pantai dekat Cilangkap, menatap ombak yang bergulung tenang di bawah cahaya bulan purnama.
Langkah kaki terdengar mendekat dari belakang. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa itu.
"Raden," sapanya tanpa membalikkan badan.
Aryasatya duduk di sampingnya, menatap laut yang sama. "Kudengar kau menepati janjimu pada Ki Sura."
"Janji itu penting," Rania tersenyum kecil. "Terutama buat orang yang udah nunggu keadilan selama bertahun-tahun."
Mereka duduk dalam diam untuk sementara, hanya suara ombak yang mengisi kesunyian di antara mereka.
"Wening," Aryasatya akhirnya memecah keheningan, "sekarang semua ini sudah selesai—Mukti dihukum, Cilangkap dibersihkan namanya, Nyonya Ratih masih dalam pencarian tapi bukan lagi ancaman mendesak. Apa rencanamu selanjutnya?"
Rania terdiam, memikirkan pertanyaan itu. Rencana selanjutnya. Sesuatu yang sudah lama tidak benar-benar ia pikirkan, karena terlalu sibuk bertahan hidup dari satu krisis ke krisis berikutnya.
"Aku nggak tahu," jawabnya jujur. "Mungkin... terus jualan cendol. Cari lebih banyak poin." Ia tertawa kecil, mengingat betapa absurdnya prioritas itu di tengah semua kekacauan yang baru saja terjadi.
Aryasatya menatapnya, ada kehangatan di matanya yang jarang sekali ia tunjukkan secara terbuka. "Kalau begitu, aku akan jadi pelanggan tetapmu. Dengan syarat."
"Syarat apa?"
"Jangan buat pesanan konyol seperti pelanggan-pelangganmu yang lain."
Rania tertawa lebih keras kali ini, suara tawanya terdengar lepas dan lega untuk pertama kalinya sejak berhari-hari penuh ketegangan.
"Nggak janji," katanya jenaka. "Raden mungkin bakal ketularan ide minta cendol pedas."
Aryasatya menggelengkan kepala, meski sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang kini mulai terasa familiar dan hangat bagi Rania.
Mereka duduk bersama menatap laut, bulan purnama menerangi riak air yang tenang, dan untuk pertama kalinya sejak kecelakaan motor yang membawanya ke dunia ini, Rania merasakan sesuatu yang mirip dengan kedamaian.
Tidak ada lagi racun yang mengintai. Tidak ada lagi topeng yang harus dijaga setiap saat. Hanya dirinya sendiri, laut yang tenang, dan seseorang di sampingnya yang entah bagaimana caranya, perlahan-lahan mulai terasa seperti rumah.
Namun jauh di dalam hatinya, ada satu pertanyaan kecil yang masih mengganjal, muncul setiap kali ia menatap langit malam yang sama seperti langit yang pernah ia lihat di dunianya sendiri.
Apakah ia akan selamanya tinggal di sini, di dunia Wening Sasikirana ini?
Atau cepat atau lambat, dunia nyata akan memanggilnya pulang?
[Ting!]
Sistem tiba-tiba muncul, suaranya terdengar berbeda dari biasanya—lebih pelan, hampir seperti berbisik.
[Host, ada sesuatu yang perlu disampaikan.]
Rania menegang mendengar nada itu. "Apa?"
[Misi utama yang telah ditolak sebelumnya... telah memicu ketidakstabilan dalam sistem alur cerita. Perubahan signifikan terdeteksi.]
"Maksudnya apa?"
[Dengan terungkapnya kebenaran soal Pangeran Mukti dan selesainya rangkaian misi tambahan, inti dari alur cerita dunia ini telah mencapai titik penyelesaian alami.]
Rania merasakan sesuatu yang dingin merayap di dadanya. "Sistem, kamu ngomong apa sih."
[Host, bersiaplah. Dunia ini akan segera—]
Suara sistem terputus mendadak, digantikan keheningan yang terasa jauh lebih mengancam daripada peringatan apa pun yang pernah ia dengar sebelumnya.
Di sampingnya, Aryasatya menatapnya cemas, menyadari perubahan ekspresi Rania yang tiba-tiba.
"Wening? Kau baik-baik saja?"
Rania menatapnya, jantungnya berdegup kencang dengan perasaan yang sulit ia jelaskan antara takut kehilangan semua yang baru saja ia bangun di dunia ini, dan rindu yang tiba-tiba menyeruak untuk dunia tempat ia benar-benar berasal.
"Raden," bisiknya pelan, suaranya bergetar, "aku rasa... ada sesuatu yang akan terjadi."
---