Selesai membaca novel drama yang bikin emosi, Naya malah mengalami kecelakaan dan terbangun di dalam tubuh figuran bernasib sama. Tahu alur tragisnya, ia memanfaatkan kontrak nikah 6 bulan untuk hura-hura pakai uang Damar suami kaya nan dingin yang terpaksa menikahinya lalu berniat kabur membawa uang kompensasi cerai!
Namun, sikapnya yang berubah 180 derajat jadi cuek savage dan menganggap Damar sekadar ATM berjalan justru membalikkan alur cerita. Saat masa kontrak usai dan Naya menagih perceraian, Damar malah ngamuk tak rela dan mendadak berubah jadi suami posesif yang bucin parah!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3.Perang dingin
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui celah gorden sutra, menyiram wajah Naya yang masih tertidur lelap. Ia menggeliat pelan, merenggangkan kedua tangannya ke atas, lalu mengerjapkan matanya. Saat menoleh ke samping, tempat tidur di seberang guling pembatas sudah kosong melompong. Bantal dan selimut milik Damar sudah tersusun sangat rapi tanpa ada kerutan sedikit pun.
Naya menyeringai tipis sambil mendudukkan tubuhnya. "Baguslah, kulkas dua pintu itu udah pergi dari subuh. Bebas menghirup udara segar tanpa hawa-hawa benua Antartika!"
Tanpa membuang waktu, Naya langsung melompat dari tempat tidur. Rencana hari ini sudah tersusun sangat rapi di kepalanya: glow up, berdandan cantik, dan menikmati hidangan sarapan mewah ala keluarga kaya raya. Setelah selesai mandi dan memakai balutan gaun santai bernuansa peach yang pas memeluk bentuk tubuhnya, Naya memoles wajahnya dengan riasan tipis yang fresh—membuat matanya terlihat berbinar dan bibirnya tampak merona alami.
Sambil bersenandung kecil, Naya melangkah turun menuju ruang makan di lantai dasar. Dari balik pintu kaca, ia sudah bisa melihat Mamah Ratna dan Damar sedang duduk anggun di meja makan panjang bertatapankan berbagai hidangan lezat. Damar terlihat sangat gagah dengan setelan jas kerjanya, sementara Mamah Ratna sibuk mengoleskan mentega ke atas roti bakar.
Dua bulan kemarin, Naya Fiksi biasanya akan datang ke ruang makan ini dengan kepala menunduk, gemetaran, lalu duduk di kursi paling ujung sambil memasang wajah serba salah. Namun, Naya yang sekarang justru melangkah penuh percaya diri, menarik kursi tepat di sebelah Damar dengan dentangan pelan, lalu duduk menyilangkan kakinya dengan sangat elegan.
Srett...
Mamah Ratna yang sedang memegang pisau roti mendadak terhenti. Matanya membelalak menatap Naya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Penampilan gadis di depannya ini luar biasa berbeda! Wajah kusam, rambut berantakan, dan mata sembabnya hilang entah ke mana, berganti dengan kulit halus merona, aroma wangi vanilla-jasmine, dan tatapan mata yang terkesan sangat berani.
Damar pun yang sedang menyesap kopi hitamnya sempat tertegun sejenak. Aroma wangi yang semalam mengusiknya di kamar kini kembali tercium lembut saat Naya duduk di sampingnya. Namun, Damar cepat-cepat memalingkan muka, kembali memasang wajah datar sok jual mahal.
"Ehem!" Mamah Ratna berdeham keras, mencoba memecahkan kecanggungan seraya memamerkan dominasinya sebagai ibu mertua. "Naya! Kamu itu istri, bukannya ratu yang tinggal duduk manis! Biasanya jam segini kamu udah siapin kopi buat Damar dan bantu Bik Inah di dapur. Kenapa sekarang malah dandanan menor begitu dan langsung duduk?!"
Naya yang baru saja hendak menyendok pancake beroleskan sirup murni langsung menunda suapannya. Ia menatap Mamah Ratna dengan senyuman paling manis—senyuman yang justru bikin orang yang melihatnya naik darah.
"Aduh, Tante Ratna—eh, Mamah Dengki... maaf ya, maksud saya Mamah Ratna," sahut Naya santai tanpa dosa. "Kan di rumah ini pelayannya ada lima orang. Kalau saya ikut-ikutan masak dan nyiapin kopi, kasihan dong Bik Inah sama yang lain, nanti gajinya dipotong karena tugasnya saya ambil alih. Lagian..."
Naya melirik Damar yang masih memegang cangkir kopinya dengan kaku. "...Mas Damar kan punya tangan lengkap, sehat walafiat, dan pinter. Masa cuma buat nuang kopi sendiri aja harus nunggu dilayani? Ya kan, Mas?"
Uhuk!
Damar tersedak kopi hitamnya sendiri. Pria itu menyapu bibirnya dengan saputangan kain, lalu menatap Naya dengan kilatan mata tajam. "Naya, jaga ucapan kamu di depan Mama."
"Lah, saya bicara fakta loh, Mas," jawab Naya terkekeh pelan tanpa rasa bersalah. Ia menyuap potongan pancake ke dalam mulutnya dan mengunyahnya dengan sangat menikmati. "Hmm! Enak banget! Beda ya rasanya kalau makan tanpa beban pikiran."
Mamah Ratna makin kehabisan kata-kata. Dada wanita paruh baya itu kembang-kempis menahan emosi yang melonjak. "Kamu ini makin hari makin melenceng ya! Ingat, kamu itu cuma cewek miskin yang beruntung bisa menikah sama anak saya karena utang budi! Jangan merasa derajat kamu naik cuma karena tinggal di rumah ini!"
Jika Naya Fiksi yang dulu disindir kasar seperti itu, air matanya pasti sudah menetes ke dalam piring. Tapi Naya dari dunia nyata ini malah mengangguk-angguk setuju dengan ekspresi santai dan wajah tanpa beban.
"Setuju banget, Mah!" balas Naya riang. "Makanya, saya paham diri kok. Karena saya tahu diri ini cuma hubungan kontrak 6 bulan, saya enggak mau merepotkan diri jadi istri sempurna. Saya cukup menikmati fasilitas yang ada, nunggu waktu 4 bulan sisa habis, terus ambil uang kompensasi dua miliar lalu pamit. Win-win solution, kan?"
Mendengar kata "dua miliar" dan "pamit" diucapkan dengan begitu ceria dari mulut Naya, tangan Damar yang sedang memegang pisau sarapan mendadak mengetat. Ada rasa tidak nyaman yang aneh menyelusup di dadanya. Kenapa cewek ini terkesan sangat tidak sabar untuk meninggalkannya dan menyandang status janda?
"Naya," panggil Damar dengan suara beratnya yang menekan. "Tolong hentikan bahasan uang kompensasi di meja makan."
Naya menoleh pada Damar, mengedipkan matanya polos. "Loh, kenapa Mas? Kan Mas sendiri yang kemarin memperjelas status kita. Oh iya, ngomong-ngomong soal fasilitas..."
Naya menadahkan telapak tangannya yang halus tepat di depan wajah Damar.
"Mana Black Card tanpa batasnya? Hari ini saya mau jalan-jalan ke mall paling mahal buat beli baju baru, skincare, dan tas. Baju di lemari saya kusam-kusam banget, enggak sesuai sama standar estetika saya."
Damar mematung menatap telapak tangan Naya yang terulur di depannya. Keberanian cewek ini benar-benar di luar nalar. Dia meminta kartu kredit tanpa rasa sungkan sedikit pun, bahkan di depan ibunya sendiri!
"Kamu mau memeras anak saya, hah?!" bentak Mamah Ratna murka sambil menggebrak meja makan pelan.
"Bukan memeras, Tante... eh, Mamah," ralat Naya cepat dengan muka polos. "Ini namanya pemanfaatan hak dalam masa kontrak nikah. Mas Damar aja dapet status 'suami bertanggung jawab' di mata publik dan keluarganya, masa saya enggak dapet imbalan apa-apa buat belanja?"
Damar menatap mata Naya dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa kebohongan atau sikap berpura-pura dari istrinya. Tapi nihil. Mata Naya benar-benar bersih, hanya menyuarakan satu hal: Gue cuma butuh duit lu!
Dengan mengembuskan napas kasar demi mempertahankan gengsi dan harga dirinya sebagai pria kaya raya, Damar merogoh dompet kulitnya. Ia mengeluarkan sebuah kartu Black Card berkilau, lalu meletakkannya di atas telapak tangan Naya.
"Pakai sepuasmu," ucap Damar dingin. "Tapi ingat, jangan bikin masalah di luar yang bisa mencemarkan nama baik keluarga Diksara."
Mata Naya langsung berbinar-binar terang. Ia menggenggam kartu hitam berbobot mantap itu bagai menemukan harta karun kehidupan. "Siap, Mas Kulkas! Beres! Mas emang ATM berjalan paling ampuh dan tiada tanding!"
Naya berdiri dari kursinya, menyambar tas kecilnya, lalu memberikan senyuman manis nan mengejek ke arah Mamah Ratna dan Damar.
"Makasih sarapan dan kartunya ya! Saya berangkat shopping dulu. Bye-bye, Mas Damar! Bye, Mamah!"
Naya melangkah pergi dengan gaya centil dan percaya diri tinggi, meninggalkan ruang makan yang mendadak hening seketika.
Mamah Ratna menganga tak percaya menatap punggung menantunya yang menghilang di balik pintu. "Damar! Kamu lihat kan?! Dia... dia bener-bener kesurupan setan apa, sih?!"
Sementara itu, Damar masih duduk terdiam. Matanya menatap cangkir kopi di depannya, namun pikirannya sepenuhnya tertuju pada gadis bernama Naya yang baru saja memanggilnya "ATM Berjalan". Bukannya marah besar, sebuah sudut bibir Damar justru tertarik tipis tanpa ia sadari.
Cewek itu benar-benar sudah berubah seratus delapan puluh derajat, dan entah kenapa, permainan ini mulai terasa jauh lebih menarik dari yang Damar bayangkan.
_Bersambung