"Daddy, bagaimana bisa menjodohkan Lily dengan pria Arogan itu?" pertanyaan Lily meronta-ronta di hadapan Daddy-nya menunjuk Lucas yang duduk disofa dengan wajah datarnya.
"Lucas itu pria yang baik, Daddy sudah menjodohkan kalian sejak kecil" pernyataan Daddy menatap Lucas yang sejak kecilnya sudah dia anggap seperti anak sendiri.
"Sejak kecil apanya, Lily baru lahir dia sudah tua" komplen Lily, selain terkenal arogan Lucas juga beda 8 tahun darinya.
"Lily menolak perjodohan dengan pria Arogan itu" pernyataan Lily.
"Berani kamu menolak saya?" pertanyaan Lucas dengan suara beratnya.
Yuk baca cerita Lily.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 Tidak Mau Berbagi
"Terus Lily panggil apa, Om?" tanya Lily.
Lucas memegang tengkuk Lily dengan kedua tangannya lalu mencium Lily dengan penuh hasrat.
"Sekali lagi kamu panggil Om aku hukum," tegas Lucas begitu melepaskan ciumannya.
"Hwaaaa, Om jahat," kata Lily langsung berlari keluar begitu dilepaskan Lucas.
"Lily, kamu masih memanggil aku Om?" ucap Lucas berdiri mengejar Lily.
"Hwaaa, Lucas udah gila," rengek Lily berlari kencang sampai ke lantai dasar dan berlari keluar rumah.
"Lily," teriak Lucas karena dia berlari kencang sekali.
Pelayan dan bodyguard meneguk ludah dengan susah begitu melihat Lily yang berlari dikejar Lucas.
"Nyonya berani menolak Tuan," ngeri pelayan melihat bekas memerah di leher Lily yang terus berlari sementara Lucas terus mengejarnya.
Lily berlari sampai ke halaman belakang lalu bersembunyi di balik kumpulan bunga keladi yang daunnya sedang mekar sejajar dengan dinding.
"Lily," teriak Lucas yang tiba-tiba kehilangan jejak Lily sampai di halaman belakang.
"Bodyguard," teriak Lucas karena kondisi halaman belakang cukup sepi.
Lucas menyuruh bodyguardnya berpencar mencari Lily yang tiba-tiba hilang, sementara tidak seorang pun melihatnya.
"Ambilkan iPad," perintah Dave yang berdiri di sebelah Lucas yang terlihat panik ketika Lily tiba-tiba hilang.
Dave memeriksa CCTV lantai 2 yang mengarah ke halaman belakang lalu hanya bisa menahan tawa melihat Lily yang ternyata bersembunyi di balik daun keladi.
"Gadis nakal itu benar-benar bisa tidak terlihat hanya karena selembar daun keladi," geleng kepala Lucas menatap ke arah kumpulan bunga keladi di sudut samping, jika tidak melihat dari atas Lily tidak akan kelihatan.
"Lily," Lucas menatap Lily yang ternyata duduk bermain ulat bunga di balik batang keladi.
"Tuan," teriak Dave kegelian melihat ulat besar yang Lily pegang.
Lily yang mendengar suara Dave langsung melempar ulat yang dipegangnya yang mendarat tepat di baju Dave.
"Akkkkh," Dave berlari kegelian sampai melompat ke dalam kolam.
"Lily," ucap Lucas langsung menggendong Lily layaknya penculik dan membawanya masuk ke dalam rumah.
......
Di dalam kamar Lucas menurunkan Lily, "kemari," Lucas menggenggam tangan Lily dan membawanya ke kamar mandi lalu mencuci tangan Lily dengan sabun sampai beberapa kali.
"Kamu tidak merasa geli memegang ulat?" tanya Lucas mencuci tangan Lily sekali lagi.
"Enggak, Lily suka ulat," kata Lily menatap Lucas yang sudah mencuci tangannya sampai 3 kali.
"Kamu kenapa tiba-tiba lari dan bersembunyi?" tanya Lucas mengangkat lalu mendudukkan Lily di atas meja wastafel.
"Jawab," kata Lucas menunduk meletakkan tangannya di dekat paha Lily.
"Kak Lucas cium Lily," ucap Lily menunduk meremas ujung bajunya, Lily tidak sanggup menatap wajah Lucas dalam jarak sedekat itu.
"Aku tidak boleh melakukannya?" tanya Lucas.
"Itu kan ciuman pertama Lily," ucap Lily.
Lucas memegang tengkuk Lily dengan sebelah tangannya dan mengecup bibir Lily beberapa kali.
"Ayo makan, apa kamu belum lapar?" tanya Lucas karena jam makan siang hampir terlewat.
......
1 Minggu kemudian.
Lucas benar-benar merasa lelah setelah pulang dari luar kota dengan jarak tempuh hampir 7 jam pulang pergi untuk menghadiri meeting penting.
"Dave, kita berhenti di restoran sebentar, aku ingin membelikan Lily cake," kata Lucas yang teringat istrinya yang sangat suka dengan makanan.
"Apa kita ke tempat khusus cake aja Tuan?" tawar Dave memberikan referensi yang lebih bagus.
"Tidak, Lily itu suka semua makanan jadi selain cake aku juga ingin membelikannya seafood," kata Lucas yang diangguki Dave.
Secara perlahan hubungan Lucas dan Lily yang diawali dengan perjodohan mulai membaik dan Lucas mulai menerima Lily dalam hidupnya.
Perempuan yang dulu sangat menjengkelkan dan tidak Lucas sukai kini menjadi wanita menyenangkan yang selalu ingin Lucas temui setiap pulang dari mana pun.
Dave memarkirkan mobilnya lalu menemani Lucas masuk ke restoran bintang lima, namun mereka malah melihat Lily yang sedang makan bersama Marcel.
Rasanya Lucas ingin melabrak tapi di sana mereka tidak berdua saja, ada Mommy dan seorang wanita yang kira-kira juga seumuran Mommy.
"Ibu Marcel temannya Mommy?" tanya Lucas menyimpulkan satu hal.
Lucas kembali ke mobil setelah menyuruh Dave untuk memesan beberapa makanan yang dia inginkan.
"Ini Tuan," kata Dave memberikan.
Lucas mengambil lalu menaruh beberapa paper bag berisi makanan di sebelahnya.
"Tuan tidak ingin menghampiri Nyonya?" tanya Dave sebelum mereka jalan.
"Tidak," suara lelah Lucas, selain lelah dia tidak ingin pikirannya semakin kacau sehingga memutuskan pulang.
Sesampai di rumahnya Lucas membawa sendiri beberapa paper bag berisi makanan yang tadi dia belikan untuk Lily.
"Selamat sore Tuan," sapa Alena menyambut Lucas di depan pintu bersama para pelayan lainnya.
Lucas menatap Alena sejenak lalu berhenti berjalan ketika melihat mata Alena bengkak, sepertinya habis menangis.
Lucas menatap 4 paper bag yang dipegangnya lalu tiba-tiba menyisihkan satu, Lucas tidak tahu apa yang membuat Alena menangis tapi untuk menghiburnya Lucas tiba-tiba ingin memberikan satu.
"Alen...."
"Hubby," suara cempreng Lily berlari kencang dan mendarat di punggung Lucas.
"Wahhhh, banyaknya paper bag, Hubby bawa apa?" tanya Lily curi-curi pandang pada empat paper bag yang dipegang Lucas.
"Tuan membelikan Nyonya kue dan makanan," ucap Dave yang berdiri di sebelah Lucas.
"Wahhhh, terima kasih," senang Lily mengambil keempat paper bag di tangan Lucas dengan semangat.
"Aaaaakh, ada kue," teriak Lily kegirangan menatap kue rasa cokelat kesukaannya.
"Lily, berikan satu paper bag untuk Alena," ucap Lucas karena tadi dia sudah berniat untuk memberikannya.
Semua orang terdiam mendengar ucapan Lucas termasuk Dave yang sampai shock, padahal sejak awal semua makanan itu memang Lucas belikan untuk Lily.
"Nggak mau," kata Lily bahkan tidak mau berbagi sama sekali.
"Lily, itu ada empat, berikan pada Alena satu," ucap Lucas yang merasa tidak ada salahnya Lily berbagi karena jumlahnya empat.
Lily mengeluarkan dua kotak berukuran sedang dari tas genggamnya, satu berisi dasi dan satu lagi jam tangan.
"Ini untuk Hubby," kata Lily memberikan hadiah itu ke tangan Lucas lalu berjalan pergi membawa keempat paper bag berisi makanan itu dan benar-benar tidak mau berbagi dengan Alena.
"Ehhhh, hadiah itu kan dua, kasih Kak Dave satu," kata Lily setelah berjalan beberapa langkah kembali menghampiri Lucas.
"Kamu membelikan untukku, kenapa aku harus membaginya dengan orang lain," ketus Lucas bahkan lebih dulu menyimpan kedua hadiah itu ke dalam saku jasnya sebelum Lily mengambil salah satunya untuk Dave.
"Jika tahu sakitnya berbagi, kenapa nyuruh aku," ketus Lily dengan tatapan sebalnya pada Lucas lalu berjalan ke ruang makan.
"Benar-benar pembalasan yang setimpal," batin Dave merasa ini sangat gong sekali.