NovelToon NovelToon
Reincarnation Of The Lemitless

Reincarnation Of The Lemitless

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:413
Nilai: 5
Nama Author: areann._

Kael seharusnya tidak mati, tetapi kesalahan seorang dewa mengubah takdirnya selamanya. Diberi tubuh baru yang sempurna dan tiga kemampuan luar biasa—Adaptation, Infinite Growth, dan Absolute Regeneration—ia direinkarnasikan ke dunia Elyndra. Namun, alih-alih terlahir di tempat aman, Kael justru terlempar ke Death Forest, wilayah terlarang yang dipenuhi monster mematikan. Sambil mencari jalan keluar, ia mulai memahami kultivasi, sihir, dungeon, kerajaan, dan ras-ras kuat yang menghuni dunia tersebut. Pertemuannya dengan seorang Ancient Vampire bernama Seraphina menjadi awal perjalanan panjangnya. Di tengah konflik sekte, peperangan, rahasia kuno, dan cinta, Kael perlahan menyadari bahwa kedatangannya mungkin bukan sekadar kesalahan yang belum pernah diketahui manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

29 — Reruntuhan Naga Purba

Beberapa hari setelah aliansi resmi terbentuk, Selene mengusulkan sesuatu yang menarik perhatian seluruh kelompok—informasi tentang reruntuhan kuno di pinggiran wilayah Drakoria yang konon menyimpan sejarah tentang naga-naga pertama yang pernah hidup di Elyndra.

"Reruntuhan itu disebut Makam Naga Pertama," Selene menjelaskan saat mereka berkumpul untuk membahas rencana pencarian fragmen berikutnya.

"Menurut legenda kekaisaran, itu adalah tempat peristirahatan naga purba pertama yang pernah ada, jauh sebelum Dragonkin modern seperti kami berkembang."

"Kau pikir mungkin ada fragmen Darah Primordial di sana?" Kael bertanya, mengingat pola yang telah mereka temukan—setiap fragmen tampaknya tersembunyi di tempat-tempat yang berhubungan dengan asal-usul primal setiap ras.

"Kemungkinan besar," Selene mengangguk.

"Naga secara tradisional dianggap sebagai salah satu manifestasi paling murni dari kekuatan elemental primordial. Jika ada fragmen yang berhubungan dengan kekuatan elemen murni, tempat itu adalah kandidat yang sangat masuk akal."

Ekspedisi menuju Makam Naga Pertama dimulai keesokan harinya, dengan tim yang kini bertambah dengan kehadiran Selene sebagai pemandu sekaligus sekutu baru.

Perjalanan membawa mereka lebih dalam ke wilayah vulkanik yang bahkan lebih ekstrem dari ibu kota Drakoria, melewati ladang lava aktif dan formasi batuan yang terus berubah akibat aktivitas geologis yang tiada henti.

"Tempat ini sangat berbahaya bahkan bagi Dragonkin biasa," Selene memperingatkan saat mereka mendekati area yang dipenuhi uap panas dan retakan tanah yang mengeluarkan gas beracun.

"Hanya bangsawan kekaisaran yang diizinkan mendekati area ini, dan bahkan kami jarang melakukannya kecuali benar-benar diperlukan."

Kael merasakan panas yang luar biasa bahkan melalui pakaian pelindung khusus yang disediakan Drakoria Empire untuk perjalanan ini, namun dengan fragmen Naluri Primal yang telah terintegrasi, dia mendapati dirinya memiliki ketahanan yang sedikit lebih baik terhadap kondisi ekstrem dibanding sebelumnya.

*[Adaptation terhadap Lingkungan Vulkanik Ekstrem: 17%.]

Setelah beberapa jam perjalanan yang melelahkan, mereka akhirnya mencapai pintu masuk ke sebuah gua besar yang terukir langsung dari batu vulkanik hitam, dengan ukiran-ukiran kuno yang menggambarkan naga-naga raksasa dalam berbagai pose yang menunjukkan kekuatan dan keagungan.

"Ini dia," Selene berkata dengan nada hormat yang jarang dia tunjukkan, jelas merasakan beratnya sejarah yang tersimpan di tempat ini.

"Makam Naga Pertama."

Mereka memasuki gua itu dengan hati-hati, dan semakin dalam mereka melangkah, semakin jelas terasa konsentrasi energi elemental yang luar biasa kuat, membuat kulit mereka semua merinding dengan campuran kekaguman dan kewaspadaan.

Di ruang utama gua itu, mereka menemukan kerangka raksasa seekor naga purba, tulang-tulangnya yang sudah menghitam karena usia namun masih mempertahankan bentuk yang megah dan menakutkan, terbentang sepanjang puluhan meter di seluruh ruangan.

"Luar biasa," Aria berbisik, matanya melebar penuh kekaguman menatap kerangka raksasa itu.

Di tengah rongga dada kerangka itu, tersembunyi di antara tulang-tulang rusuk yang membusuk, sebuah objek bercahaya oranye kemerahan berdenyut lembut, mengirimkan gelombang panas yang bahkan bisa dirasakan dari jarak beberapa meter.

[Fragmen Terdeteksi: Energi Primordial — Elemen Api Murni.]

"Fragmen kedua," Kael berkata dengan napas tertahan, mendekati kerangka itu dengan hati-hati.

Namun ketika dia mendekat, tanah di sekitar mereka mulai bergetar hebat, dan dari kedalaman gua yang lebih jauh, terdengar suara gemuruh yang jelas bukan berasal dari aktivitas vulkanik biasa.

"Itu bukan pertanda bagus," Selene berkata tegang, mempersiapkan diri untuk kemungkinan bertarung.

Dari kegelapan di ujung gua, muncul sesosok makhluk besar yang jelas masih hidup—bukan naga sungguhan, melainkan sesuatu yang tampak seperti konstruksi batu vulkanik yang dianimasikan oleh kekuatan kuno, matanya menyala dengan cahaya oranye yang sama dengan fragmen yang mereka cari.

[Penjaga Makam — Golem Vulkanik Kuno.]

[Perkiraan kekuatan: Spirit Core Realm tingkat tinggi hingga Soul Formation.]

"Sepertinya fragmen ini tidak akan diberikan dengan mudah," Kael berkata, menghunus pedangnya sambil mempersiapkan Teknik Langkah Bayangan Angin.

Golem itu mengaum dengan suara yang menggetarkan seluruh gua, dan mulai bergerak maju dengan kecepatan yang mengejutkan untuk ukuran tubuhnya yang masif, tinjunya yang terbuat dari batu vulkanik padat menghantam tanah dengan kekuatan yang menciptakan retakan besar di sekitarnya.

"Aku akan membantu," Selene berkata, mulai bertransformasi sebagian untuk mempersiapkan diri bertarung berdampingan dengan Kael untuk pertama kalinya, bukan sebagai lawan.

Pertarungan melawan Penjaga Makam segera dimulai, dan kali ini, alih-alih menghadapi lawan sendirian, Kael menemukan dirinya bertarung berdampingan dengan sekutu baru yang kekuatannya saling melengkapi dengan caranya sendiri—kombinasi antara kecepatan dan adaptasi Kael dengan kekuatan elemental murni Selene, menciptakan sinergi yang mulai terbentuk secara alami meski mereka baru bertarung bersama untuk pertama kalinya.

Golem Vulkanik itu bergerak dengan kekuatan mentah yang luar biasa, setiap pukulannya mampu menghancurkan batu di sekitarnya menjadi serpihan kecil, namun Kael dan Selene, meski baru pertama kali bertarung bersama, mulai menemukan ritme kerja sama yang efektif.

"Aku akan mengalihkan perhatiannya dari depan," Selene berteriak di tengah pertarungan, melontarkan bola api besar ke arah golem itu untuk menarik fokusnya. "Kau cari celah untuk menyerang dari samping!"

Kael mengangguk, menggunakan Teknik Langkah Bayangan Angin untuk bergerak mengelilingi golem itu sementara perhatiannya teralihkan oleh serangan Selene.

Dia memperhatikan struktur tubuh golem itu dengan seksama, mencari titik lemah dalam formasi batuan vulkaniknya.

[Adaptation terhadap Konstruksi Golem Vulkanik: 15%.]

Dia menyadari bahwa golem itu, meski sangat kuat, bergerak dengan pola yang agak kaku, hasil dari materialnya yang berat dan tidak seluwes makhluk hidup biasa. Setiap serangan besar membutuhkan waktu persiapan yang sedikit lebih lama, momen yang bisa dimanfaatkan untuk menyerang balik.

"Sekarang!" Kael berseru ketika golem itu mengangkat kedua tinjunya untuk serangan besar, memberikan celah sempurna di bagian dada yang menjadi tempat tersimpannya fragmen yang mereka cari.

Dia melesat maju dengan kecepatan penuh, menyalurkan seluruh Qi yang tersisa ke dalam Tebasan Seribu Prajurit, sementara Selene secara bersamaan melontarkan serangan api terkuatnya ke titik yang sama, menciptakan kombinasi serangan yang jauh lebih efektif daripada jika mereka menyerang sendiri-sendiri.

*BLAAAAR!*

Ledakan besar mengguncang seluruh gua, dan ketika debu mulai mereda, golem itu berdiri terhuyung, retakan besar muncul di seluruh permukaan dadanya, cahaya oranye dari intinya mulai meredup.

"Sekali lagi!" Selene berteriak, dan mereka berdua melancarkan serangan gabungan terakhir yang akhirnya menghancurkan konstruksi kuno itu sepenuhnya, tubuhnya runtuh menjadi tumpukan batu vulkanik yang tidak lagi bergerak.

[Penjaga Makam dikalahkan.]

[Fragmen Api Murni kini dapat diakses.]

Kael dan Selene saling menatap, keduanya terengah-engah namun tersenyum puas dengan kerja sama yang berhasil mereka bangun dalam pertarungan pertama mereka sebagai sekutu.

"Kerja tim yang bagus," Selene berkata dengan senyum tulus, jauh berbeda dari keangkuhannya di awal pertemuan mereka.

"Kau juga," Kael menjawab, menghargai bagaimana kekuatan mereka saling melengkapi dengan sangat baik.

Mereka mendekati sisa-sisa kerangka naga purba, dan Kael dengan hati-hati mengambil fragmen bercahaya oranye kemerahan itu dari tempatnya.

Begitu tangannya menyentuh objek itu, sensasi hangat yang jauh lebih intens dari fragmen sebelumnya langsung menjalar melalui tubuhnya.

[Fragmen Api Murni terserap.]

[Integrasi Fragmen Kedua dimulai.]

[Peringatan: Kombinasi dua fragmen berbeda memerlukan stabilisasi ekstra.]

Kael merasakan gelombang panas yang luar biasa mengalir melalui setiap pembuluh darahnya, berbeda dari sensasi dingin dan liar dari Fragmen Naluri Primal.

Kali ini, dia merasakan api itu sendiri seolah menjadi bagian dari esensinya, membakar namun tidak menyakitkan, seperti kehangatan matahari yang meresap ke dalam tulang.

"Bagaimana perasaanmu?" Seraphina bertanya cemas, mendekat untuk memastikan proses integrasi berjalan dengan aman.

"Panas," Kael menjawab dengan senyum lemah, "tapi tidak menyakitkan. Rasanya seperti... seperti aku bisa merasakan api di mana-mana di sekitarku, memahaminya dengan cara yang tidak pernah kurasakan sebelumnya."

[Adaptation terhadap Fragmen Api Murni: 4%.]

Setelah beberapa saat, proses integrasi itu stabil sepenuhnya, dan Kael berdiri dengan energi baru yang mengalir dalam dirinya—kombinasi antara naluri primal yang liar dan kekuatan api yang murni, dua elemen yang seharusnya bertentangan namun entah bagaimana menyatu dengan harmonis dalam tubuhnya.

"Dua fragmen dalam waktu kurang dari sebulan," Lyra berkata dengan nada kagum, mengamati perubahan aura Kael yang semakin kompleks dan kuat.

"Pada laju ini, kau mungkin bisa mengumpulkan semua fragmen yang tersisa sebelum Dravos sempat menggunakan kekuatan yang sudah dia kumpulkan."

"Kita masih tidak tahu berapa banyak fragmen yang tersisa, atau di mana mereka berada," Kael mengingatkan, meski optimisme baru tetap terasa dalam suaranya.

"Tapi setidaknya sekarang kita punya metode yang jelas untuk mencarinya—mengikuti legenda kuno setiap ras tentang asal-usul kekuatan primal mereka."

Mereka menghabiskan waktu beberapa jam lagi memeriksa reruntuhan itu, mencari informasi tambahan yang mungkin memberikan petunjuk tentang fragmen-fragmen lain yang tersisa, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke ibu kota Drakoria untuk melaporkan keberhasilan misi mereka.

Ketika mereka tiba kembali di istana kekaisaran, kabar tentang keberhasilan mengalahkan Penjaga Makam dan menemukan fragmen kedua menyebar cepat, semakin memperkuat kepercayaan Drakoria Empire terhadap kemampuan Kael dan pentingnya aliansi yang telah mereka bentuk.

Malam itu, dalam pertemuan pribadi dengan seluruh sekutu utamanya—Seraphina, Lyra, Ragna yang telah bergabung kembali melalui komunikasi sihir jarak jauh, dan kini Selene—Kael mulai merasakan bahwa perjuangan melawan Dravos, meski masih jauh dari selesai, mulai menunjukkan harapan nyata berkat jaringan aliansi dan kekuatan yang terus berkembang.

"Dua fragmen sudah kita miliki," katanya kepada mereka semua, menatap masing-masing sekutu dengan rasa terima kasih yang mendalam.

"Entah berapa banyak lagi yang tersisa, tapi dengan kalian semua di sisiku, aku merasa kita benar-benar punya kesempatan untuk menghentikan Dravos sebelum dia berhasil mencapai ambisinya."

"Kita akan menemukan sisanya bersama," Seraphina menjawab dengan tekad yang jelas, menggenggam tangannya dengan erat. "Apa pun yang dibutuhkan, kita akan menghadapinya bersama-sama."

Di kejauhan, jauh melampaui batas Drakoria Empire, di kedalaman Netherys yang gelap, Dravos menerima laporan tentang aliansi yang terus berkembang dan fragmen-fragmen yang mulai ditemukan oleh musuhnya, namun alih-alih khawatir, senyumnya justru melebar dengan antisipasi yang semakin dalam.

"Biarkan dia mengumpulkan fragmen-fragmen itu," gumamnya kepada dirinya sendiri, matanya berkilat dengan rencana yang telah lama dia persiapkan.

"Semakin banyak yang dia kumpulkan, semakin mudah bagiku untuk mengambil semuanya sekaligus, pada waktu yang telah kutentukan sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!