Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Pagi itu, sinar matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah jendela ruang makan, menerpa meja kayu panjang yang sudah terhidang dengan berbagai makanan lezat. Aroma kopi, nasi goreng, telur dadar, dan roti bakar memenuhi seluruh ruangan, menciptakan suasana yang hangat dan tenang. Namun, ketenangan itu seolah tergantikan oleh suasana yang sedikit tegang namun penuh keingintahuan saat Elio duduk di kursi yang biasa kosong di sebelah Alena.
Sejak pagi, Kakek Wijaya sudah memanggil Elio untuk singgah dan sarapan bersama sebelum berangkat ke sekolah—sesuai saran Kakek Baskara agar kedua calon cucu menantu itu semakin terbiasa satu sama lain.
“Nah, bagus sekali kalian datang tepat waktu. Ayo dimakan, jangan sampai terlambat nanti,” kata Kakek Wijaya sambil tersenyum lebar, menatap keduanya bergantian dengan tatapan penuh harap.
Alena menunduk, memainkan sendoknya dengan canggung, sementara Elio duduk dengan sikap tenang namun terlihat sedikit kaku. Sesekali mereka saling melirik sekilas, lalu segera memalingkan wajah seolah takut ketahuan. Masih teringat jelas kejadian malam tadi, saat perjalanan pulang dengan sepeda listrik dan sentuhan tangan yang membuat jantung mereka berdegup kencang.
“Elio, cobalah nasi goreng buatan Alena. Dia pandai sekali memasak, sama seperti ibunya dulu,” puji Kakek Wijaya tiba-tiba, membuat Alena langsung tersedak air minumnya.
Elio buru-buru menyerahkan tisu, tangannya sempat menyentuh jari Alena sebentar, dan keduanya segera menariknya kembali seolah tersengat listrik. “Terima kasih, Kek. Pasti rasanya enak,” jawab Elio sopan, lalu mencoba satu suapan. Matanya sedikit melebar, bukan karena tidak enak, tapi justru rasanya jauh lebih lezat dari yang ia bayangkan. “Benar, rasanya sangat enak. Kamu pandai sekali, Alena.”
Pujian itu membuat pipi Alena terasa memanas. Ia menunduk lebih dalam, berusaha menyembunyikan senyum kecil yang ingin muncul. “Terima kasih… itu hanya kebetulan saja,” jawabnya lirih.
Selama sarapan, Kakek Wijaya terus mengajak mereka mengobrol, menanyakan pelajaran, rencana masa depan, hingga hal-hal sepele lainnya. Awalnya Alena dan Elio hanya menjawab seperlunya, namun lama-kelamaan mereka mulai terbiasa, bahkan sesekali melontarkan candaan ringan yang membuat suasana menjadi lebih cair—meskipun tetap dibumbui dengan ejekan khas mereka.
Setelah selesai sarapan, mereka segera berangkat menuju sekolah. Seperti biasa, Elio mengemudikan mobilnya, dan Alena duduk di kursi penumpang, namun kali ini tidak lagi menjauh serapat mungkin ke sisi jendela. Ada rasa nyaman yang mulai tumbuh, meskipun masih diselimuti rasa canggung.
“Tadi malam… terima kasih lagi ya,” ujar Elio tiba-tiba memecah keheningan, matanya tetap fokus ke jalan.
Alena menoleh, terkejut mendengar nada bicara yang lembut itu. “Ah, itu… tidak apa-apa. Kita kan sudah sepakat untuk saling membantu, ingat?”
Elio tersenyum tipis, senyum yang terlihat lebih tulus dari biasanya. “Iya, benar. Tapi tetap saja, aku berhutang budi padamu.”
Sesampainya di gerbang sekolah, seperti biasa, tatapan mata teman-teman langsung tertuju pada mereka. Berbagai bisikan mulai terdengar, namun kali ini Alena tidak lagi merasa terlalu gelisah. Ia berjalan berdampingan dengan Elio, berusaha terlihat biasa saja sesuai kesepakatan mereka.
Namun, kedamaian itu tidak berlangsung lama. Saat jam istirahat tiba, Alena baru saja duduk di meja kantin bersama Sari dan Rina, ketika tiba-tiba sekelompok gadis berjalan mendekat dengan langkah angkuh dan tatapan tajam. Di barisan depan ada Dinda, gadis yang terkenal sangat tergila-gila pada Elio dan selalu menganggap siapa saja yang dekat dengan Elio sebagai saingannya.
Dinda berhenti tepat di depan meja Alena, lalu menatapnya dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan. “Jadi, kamu benar-benar sudah berani memamerkan diri di dekat Elio ya? Apa kamu pikir dengan berjalan bersamanya, kamu bisa membuatnya tertarik padamu?”
Alena mengangkat wajahnya, menatap Dinda dengan tenang namun tegas. “Aku tidak tahu apa maksudmu, Dinda. Aku tidak sedang memamerkan diri. Kami hanya berangkat bersama karena urusan keluarga, tidak ada yang lain.”
“Urusan keluarga? Jangan mencari alasan murahan! Semua orang tahu kamu itu musuh bebuyutannya. Sekarang tiba-tiba akur? Pasti ada maksud tersembunyi,” cibir Dinda, diiringi tawa kecil teman-temannya. “Ingat saja, Elio bukan untuk gadis sepertimu. Dia hanya akan menyukai gadis yang layak, bukan yang selalu mencari perhatian.”
Kata-kata itu membuat Alena merasa kesal, namun ia berusaha menahan diri agar tidak terlibat pertengkaran yang bisa menarik perhatian lebih banyak orang. Namun, sebelum ia sempat menjawab, sebuah suara tegas terdengar dari belakang mereka.
“Siapa yang bilang dia tidak layak?”
Semua orang menoleh dan mendapati Elio berdiri di sana dengan wajah dingin dan tatapan tajam yang membuat suasana seketika berubah. Di sampingnya ada Bima yang hanya bisa menggaruk kepalanya, merasa suasana menjadi semakin tegang.
Dinda langsung mengubah ekspresinya, berusaha tersenyum manis dan mendekati Elio. “Elio, aku hanya ingin mengingatkan saja. Jangan sampai kamu terjebak dengan gadis yang tidak tahu diri ini—”
“Dengar baik-baik,” potong Elio, nadanya semakin tegas dan tidak memberi ruang bantahan. “Alena adalah temanku. Kalau ada yang berani mengganggunya atau berkata kasar padanya, itu sama saja menggangguku. Dan aku tidak suka hal itu terjadi. Apakah itu cukup jelas?”
Wajah Dinda berubah pucat lalu memerah karena malu dan marah. Ia menatap Elio dengan tatapan tidak percaya, lalu beralih menatap Alena dengan pandangan penuh kebencian. “Baiklah… kita lihat saja nanti,” ucapnya lirih, lalu berbalik pergi bersama teman-temannya dengan langkah tergesa.
Setelah mereka pergi, suasana di sekitar meja kantin kembali tenang, namun tatapan penasaran masih tertuju pada mereka. Alena menatap Elio dengan mata terbelalak, tidak menyangka laki-laki itu akan membela dirinya sejelas itu.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Alena pelan, suaranya bergetar sedikit. “Sekarang dia pasti semakin membenciku dan akan mencari cara untuk menggangguku lagi.”
Elio duduk di kursi kosong di hadapannya, lalu menjawab dengan nada tenang namun mantap. “Apa aku harus membiarkan dia menghinamu begitu saja? Lagipula, kita terikat kesepakatan, kan? Kalau dia mengganggumu, berarti mengganggu rencana kita juga. Selain itu… dia memang salah bicara.”
Mendengar jawaban itu, hati Alena terasa hangat. Untuk pertama kalinya, ia tidak lagi melihat Elio hanya sebagai musuh atau laki-laki yang menyebalkan. Ada rasa aman yang muncul saat ia berada di dekatnya.
Sore harinya, jam pelajaran akhirnya usai. Seperti biasa, Elio sudah menunggu di depan gerbang sekolah. Dalam perjalanan pulang, suasana terasa lebih tenang dan akrab dibandingkan hari-hari sebelumnya. Mereka sesekali mengobrol ringan, membahas pelajaran, teman sekelas, hingga hal-hal lucu yang terjadi di sekolah.
Namun, saat tiba di perempatan jalan yang sedang menerangi lampu merah, suasana berubah secara tiba-tiba dan tak terduga.
Mobil Elio berhenti rapi di garis pemberhentian. Di luar, lalu lintas mulai menumpuk, dan suasana terasa tenang. Elio sedang menoleh sebentar untuk melihat ke kaca spion, sementara Alena juga sedang membetulkan posisi sabuk pengamannya yang terasa sedikit longgar.
Tanpa disadari, karena posisi duduk yang agak miring dan gerakan tubuh yang bersamaan, kepala mereka bergerak mendekat secara tidak sengaja. Dalam sepersekian detik, jarak wajah mereka yang tadinya terpisah beberapa sentimeter menjadi menghilang.
Bibir mereka bersentuhan.
Sentuhan itu terjadi begitu cepat, lembut, dan tak terduga. Seolah ada aliran listrik yang menyambar dan menjalar ke seluruh tubuh mereka, membuat seluruh pikiran seketika kosong. Waktu terasa berhenti berputar. Jantung Alena berdegup kencang seolah ingin meledak, sementara Elio juga membeku di tempat, matanya terbelalak menatap wajah gadis yang hanya berjarak satu sentimeter di hadapannya.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang memekakkan telinga. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang berbicara, hanya ada detak jantung yang terdengar saling bersahutan.
Baru setelah lampu lalu lintas berubah menjadi hijau dan suara klakson dari kendaraan di belakang terdengar memecah keheningan, barulah mereka tersadar. Elio segera menarik kepalanya mundur dengan gerakan kaku, wajahnya seketika memerah padam sampai ke telinga. Begitu juga Alena, ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, matanya terpejam rapat dan wajahnya terasa sangat panas, seolah baru terbakar.
“Maaf! Aku… aku tidak sengaja!” seru Elio tergagap-gagap, tangannya yang memegang setir terasa gemetar. “Jalanan… posisi duduk kita… semuanya terjadi begitu saja.”
Alena masih menunduk dalam, tidak berani menatapnya. Rasanya seluruh darah di tubuhnya mengalir ke wajah. “Aku tahu… aku juga tidak sengaja. Tidak usah dipikirkan lagi… itu hanya kecelakaan, bukan?” jawabnya dengan suara yang sangat pelan dan bergetar, berusaha meyakinkan dirinya sendiri lebih dulu.
Elio mengangguk cepat, meskipun di dalam hatinya ia tahu rasanya tidak sesederhana itu. Sentuhan lembut itu masih terasa jelas di bibirnya, meninggalkan sensasi yang aneh namun tidak ingin ia lupakan begitu saja. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan wajar, namun pikirannya melayang entah ke mana.
Sisa perjalanan pulang ditemani oleh keheningan yang berbeda dari biasanya—bukan keheningan yang penuh ketegangan atau kebencian, melainkan keheningan yang dipenuhi rasa canggung, malu, namun juga rasa penasaran yang membuncah. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri, mencoba memahami perasaan yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Sesampainya di depan rumah Alena, Elio mematikan mesin mobilnya sejenak. Keduanya masih menunduk, belum berani saling bertatapan.
“Aku… aku pulang dulu,” ujar Alena, lalu segera membuka pintu dan turun dengan langkah tergesa, seolah ingin segera melarikan diri dari situasi yang membuatnya pusing itu.
“Alena!” panggil Elio sebelum gadis itu masuk ke halaman rumah.
Alena berhenti melangkah, menoleh sedikit tanpa mengangkat wajahnya sepenuhnya. “Ya?”
Elio menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih kencang. “Apakah… apakah kita masih tetap bisa menjalani kesepakatan ini? Maksudku… itu hanya kecelakaan, bukan berarti mengubah apa pun, kan?”
Pertanyaan itu membuat Alena terdiam sejenak. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap mata Elio yang terlihat sama bingung dan kacau seperti dirinya. Perlahan, ia mengangguk. “Iya… hanya kecelakaan. Tidak ada yang berubah. Kita tetap sama seperti sebelumnya.”
Meskipun kata-kata itu keluar dari mulutnya, jauh di dalam hati, Alena tahu bahwa sesuatu telah berubah. Sentuhan itu telah membuka pintu perasaan yang selama ini mereka tutup rapat-rapat.
Elio tersenyum tipis, senyum yang terasa gugup namun tulus. “Baiklah. Hati-hati masuk ke dalam. Sampai besok pagi.”
Alena hanya mengangguk lagi, lalu segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu di belakangnya. Ia bersandar di balik pintu, memegang dadanya yang masih terasa berdebar kencang. Jari-jarinya menyentuh bibirnya dengan lembut, mengingat kembali sensasi yang baru saja ia rasakan.
Di dalam mobil, Elio juga masih duduk diam, menatap pintu rumah yang tertutup itu. Ia mengusap bibirnya dengan jari, pikirannya terus melayang pada momen yang baru saja terjadi. Untuk pertama kalinya, ia bertanya pada dirinya sendiri—apakah keinginan untuk membatalkan perjodohan ini masih sama kuatnya seperti sebelumnya? Atau justru, perasaan itu perlahan mulai berubah menjadi sesuatu yang lain?