Bara Adikara, tumbuh dengan kebencian setelah perselingkuhan ayahnya. Ibunya meninggal dan hidupnya hancur. Ia akan terus disiksa jika tak mau menurut pada peraturan sang ayah. Begitu dewasa, Bara pun menjelma menjadi sosok yang keras dan dingin. Ia berpura-pura menjadi pecundang bodoh yang tak peduli pada semuanya. Tanpa seorangpun tahu kalau sebenarnya Bara sedang merencanakan sebuah balas dendam. Ia akan merebut semua milik ibunya, rumah dan perusahaan. Selain itu, ia juga akan menghancurkan wanita yang sudah membuat keluarganya hancur, dengan memanfaatkan anaknya. Andrea Willona, gadis itu akan Bara hancurkan, tapi disaat hati mulai ikut campur, benarkah semua akan tetap pada alurnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El khiyori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sementara itu, Andrea memasuki ruang galeri seni yang cukup luas. Ruangan itu dipenuhi kanvas, patung, dan berbagai alat lukis. Namun anehnya, benar-benar tidak ada siapa pun di sana.
Andrea sudah berjalan mondar-mandir mengelilingi ruangan, tapi benar-benar tak ada orang, dan di beberapa sudut justru terlihat sangat berdebu. Bagi Andrea itu aneh. Sebuah galeri seni harusnya adalah tempat yang sangat penting, tapi bagaimana bisa ruangan itu tak terawat.
"Halo?! Apa ada orang lain di sini?!" seru Andrea sambil terus melangkah mengelilingi tempat tersebut, tapi sama sekali tidak ada jawaban. Andrea pun berjalan lebih jauh. Mungkin ia salah ruangan.
Ia masuk ke sebuah ruangan yang berisi patung-patung lama dan alat-alat pembuatannya. Sebenarnya tempat itu sangat menarik untuk Andrea yang memang menyukai seni, tapi tiba-tiba ....
Klik.
Lampu di dalam ruangan yang tertutup dan lebih sempit dari ruangan lainnya itu tiba-tiba padam. Suasana seketika berubah gelap. Andrea membeku.
"Apa ada orang?!" serunya lagi, tapi suasana benar-benar sunyi. Tak ingin merasa takut, Andrea bergegas mendekati penarik gorden otomatis yang digunakan untuk menutupi tembok kaca di bagian atas yang letaknya sangat tinggi, tapi gagal. Benda itu tak berfungsi sama sekali.
Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki. Pelan dan bergema dari sudut ruangan. Andrea merasa semakin tidak nyaman.
"Halo?! Siapa di situ?!"
Masih tidak ada jawaban. Tapi tiba-tiba terdengar suara perempuan tertawa, lalu disusul suara-suara asing lainnya, membuat Andrea menelan ludah.
"Siapa di sana?!"
Kali ini suara Andrea sedikit bergetar. Lampu masih tetap mati, membuat suasana terasa semakin menakutkan. Kemudian terdengar suara lain.
"Dasar anak baru, manja sekali ... gampang banget ketakutan. Nggak cocok nih ada di sini."
Andrea mulai panik. Ia segera berlari menuju ke pintu, namun saat memutar gagang pintu yang entah sejak kapan tertutup, pintunya sudah tidak bisa dibuka. Terkunci dari luar.
Jantung Andrea langsung berdegup kencang.
"Tolong ... siapapun tolooong!!" jerit Andrea panik. Sayangnya sama sekali tidak ada jawaban, yang ada justru sebaliknya. Suara-suara seram dari mulut orang-orang yang meledek serta menertawakannya semakin banyak.
Detik berikutnya, dari belakang tubuhnya muncul asap yang mengepung tubuh Andrea, diiringi tarikan pada tubuhnya dari satu orang ke orang lainnya dan juga jambakan di rambutnya.
Dalam kondisi gelap dan berkabut, Andrea tidak bisa mengetahui jumlah mereka, tapi ia mulai merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya karena dorongan dan tarikan dari orang-orang itu.
"Kamu salah tempat, pulang sana!! Nggak usah sok-sokan kuliah di sini."
Andrea menggigit bibir bawahnya. Matanya mulai memanas. Ia berusaha tetap tenang. Namun rasa takut perlahan menguasainya.
Seumur hidup. Ia tidak pernah menghadapi situasi seperti ini. Apalagi sendirian.
"Kak Bara ... tolong .... "
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Entah kenapa. Orang pertama yang teringat di benak Andrea saat ini justru Bara. Meskipun pria itu sangat dingin, meskipun hampir tidak pernah tersenyum, namun setidaknya Bara adalah satu-satunya orang yang ia kenal di kampus ini.
Air mata mulai jatuh. Andrea berjongkok di dekat pintu. Tubuhnya sedikit gemetar. Sementara di luar ruangan. Beberapa mahasiswa yang ikut rencana itu mulai merasa tidak enak.
"Gimana nih Bar, Angel bilang dia udah nangis kejer?" tanya salah seorang teman Bara yang bernama Mike.
"Berlebihan nggak sih? takutnya kita bakal kena masalah lagi nih sama pihak kampus," sahut yang lain.
"Kalau begitu, sudah cukup," jawab Bara yang membuat Angel tersenyum puas.
"Target berhasil kita bikin gemetar ketakutan," ucap Angel dari dalam sana. Mahasiswi sahabat Bara itu kini sudah kembali bersembunyi bersama teman-temannya yang lain. Membiarkan Andrea menangis seorang diri sambil meringkuk di lantai.
Kali ini Bara tiak menjawab laporan Angel. Ia hanya membuka kunci pintu ruangan di depannya lalu mendorongnya perlahan. Cahaya matahari langsung menerobos masuk ke dalam ruangan. Andrea yang masih menangis langsung menoleh, dan begitu melihat sosok Bara berdiri di sana, tanpa berpikir panjang ia langsung berlari mendekat.
"Kak Bara!!" serunya yang kemudian memeluk erat tubuh kakak tirinya itu.
Suara gadis itu masih bergetar dan Bara berpura-pura mengernyit.
"Apa yang terjadi?" tanyanya dengan nada bingung.
Andrea masih tak menjawab. Ia hanya mengeratkan pelukannya. Tubuhnya pun masih terus gemetar karena ketakutan. Sedangkan Bara membeku sesaat. Ia tidak menyangka Andrea akan bereaksi seperti ini.
Pelukannya begitu erat. Seolah sangat percaya kalau dirinya mampu memberinya ketenangan.
"Kak Bara ... aku takut ....
Suara Andrea terdengar pelan, sementara Bara masih menatap lurus ke depan. Tangannya tetap berada di samping tubuh. Ia tak ingin bereaksi, namun setelah berpikir beberapa saat, perlahan sudut bibirnya terangkat sambil tersenyum tipis.
Sebuah senyuman yang tidak disadari oleh siapa pun, kecuali dirinya sendiri, karena tepat pada saat itu, ia menyadari sesuatu. Andrea benar-benar mempercayainya, dan itu membuatnya menjadi umpan yang sangat sempurna.
Apa yang terjadi saat ini lebih cepat dari yang ia perkirakan. Bahkan jauh lebih mudah. Padahal ia belum melakukan apa pun. Hanya muncul di waktu yang tepat, dan gadis itu langsung menganggapnya sebagai seorang penyelamat.
Betapa polosnya Andrea dan betapa mudahnya gadis itu ditaklukkan. Bara akhirnya mengangkat tangan. Menepuk pelan kepala Andrea. Gerakan yang membuat gadis itu semakin yakin bahwa dirinya adalah orang yang baik.
"Sudah ya .... "
Suara Bara terdengar rendah dan Andrea pun mengangkat wajahnya. Matanya merah karena menangis.
"Tidak ada yang akan mengganggumu lagi."
Kalimat Bara barusan memang terdengar sederhana, namun bagi Andrea yang sedang ketakutan, kalimat itu terdengar seperti janji, dan bagi Bara, itu hanyalah bagian dari permainan.
***
Keesokan harinya. Andrea terus berada di dekat Bara. Seperti anak kecil yang takut ditinggalkan. Bahkan saat makan siang pun. Ia memilih duduk bersama Bara dan teman-temannya. Bara pun memperhatikan semuanya dalam diam.
Sesekali Andrea tersenyum kepadanya. Sesekali gadis itu mengucapkan terima kasih, dan setiap kali itu terjadi, Bara semakin yakin. Bidak pertama sudah berhasil masuk ke papan permainan.
Malam harinya. Saat kembali ke rumah, Andrea kembali tersenyum kepadanya.
"Terima kasih, Kak Bara."
Bara berhenti melangkah.
"Untuk apa?"
"Karena sudah menolong Andrea."
Bara menatap gadis itu beberapa saat lalu berkata singkat.
"Tidur sana!"
Mendengar itu Andrea tersenyum senang.
"Iya," sahutnya. Gadis itu kemudian pergi menuju kamarnya. Tanpa mengetahui bahwa sejak awal, orang yang paling ingin menyakitinya adalah orang yang baru saja ia percayai sepenuh hati.
Setelah Andrea pergi, Bara berdiri sendirian di koridor. Menatap pintu kamar Andrea yang sudah tertutup. Wajahnya kembali dingin, kembali menjadi Bara yang sesungguhnya.
"Permainan baru saja dimulai Selina .... " gumam Bara dengan sorot mata penuh kebencian kepada ayah dan ibu tirinya.