NovelToon NovelToon
Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Sistem Mata Dewa : Dari Pria Terhina Menjadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Sistem / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.5k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Anton adalah seorang pria biasa yang hidupnya hancur dalam semalam setelah dicampakkan dan dipermalukan secara brutal oleh pacarnya demi seorang anak konglomerat. Di titik terendahnya, saat rasa sakit dan keputusasaan memuncak, Anton secara tak terduga membangkitkan [Sistem Mata Dewa] yang memberinya kemampuan luar biasa untuk melihat menembus segala jenis benda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

Brumm!

​Mobil BMW Seri 4 Coupé berwarna merah itu melaju dengan tenang membelah jalanan sore kota.

​Anton menyetir dengan satu tangan sementara tangan kirinya bertumpu santai di jendela mobil yang terbuka setengah.

​Angin sore menerpa wajahnya, memberikan sensasi sejuk yang menyegarkan pikiran.

​"Lima belas miliar rupiah," gumam Anton pelan sambil tersenyum sendiri.

​"Uang ini terlalu besar jika hanya didiamkan di dalam rekening bank."

​Dia mulai memutar otak untuk merencanakan masa depannya.

​"Aku harus mendirikan sebuah perusahaan atau firma investasi," batin Anton penuh tekad.

​"Dengan begitu, aku bisa memutar uang ini menjadi aset yang jauh lebih besar dan memiliki kekuasaan sungguhan."

​Dia tidak ingin hanya menjadi orang kaya baru yang tidak memiliki koneksi atau perlindungan hukum.

​Anton memutuskan untuk mengambil jalan pintas melewati jalanan kawasan industri lama yang sepi untuk cepat sampai ke apartemennya.

​Kawasan ini dipenuhi oleh gudang-gudang kosong dan jarang dilewati kendaraan pada sore hari menjelang malam.

​Jalanan terasa sangat lengang, hanya ada suara deru mesin mobilnya sendiri.

​Tiba-tiba, dari arah persimpangan depan, sebuah mobil van hitam melaju kencang dan memotong jalur mobil Anton.

​Ciiiit!

​Anton menginjak pedal rem dalam-dalam, membuat ban mobil mewahnya bergesekan keras dengan aspal.

​Tubuh Anton sedikit terdorong ke depan, namun sabuk pengamannya menahan tubuhnya dengan kuat.

​"Sialan, apa-apaan mereka ini?" umpat Anton dengan nada kesal.

​Belum sempat Anton menekan klakson, pintu samping van hitam itu terbuka dengan kasar.

​Brak!

​Lima orang pria berbadan besar dengan wajah garang dan pakaian preman melompat keluar dari dalam van.

​Masing-masing dari mereka memegang tongkat pemukul bisbol dari besi dan pipa besi.

​Salah satu dari mereka, seorang pria berkepala plontos dengan bekas luka memanjang di wajahnya, berjalan mendekati mobil Anton.

​Pria plontos itu mengetuk kaca jendela mobil Anton dengan ujung pipa besinya.

​Tok! Tok! Tok!

​"Heh, anak muda! Turun kau sekarang juga!" teriak preman plontos itu dengan suara kasar.

​Anton menatap kelima preman itu dengan pandangan dingin dan waspada.

​"Mereka sudah pasti bukan perampok biasa yang kebetulan lewat," batin Anton menganalisa situasi.

​Dia mematikan mesin mobilnya dan membuka pintu perlahan.

​Anton melangkah keluar dari mobil dan berdiri dengan tenang di hadapan kelima preman tersebut.

​"Siapa kalian dan apa mau kalian?" tanya Anton dengan suara datar, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.

​Preman plontos itu tertawa keras sambil menepuk-nepukkan pipa besi ke telapak tangannya.

​"Nyali mu boleh juga, anak muda," ucap preman plontos itu meremehkan.

​"Kami ke sini untuk menyampaikan pesan khusus dari Bos Wijaya," jelasnya dengan senyum licik.

​Mendengar nama itu, Anton langsung mengerti semuanya.

​"Oh, jadi babi gemuk itu yang mengirim kalian ke sini?" balas Anton dengan nada mengejek.

​"Dia kalah lelang dan sekarang bertingkah seperti pecundang?"

​Wajah preman plontos itu mendadak merah padam mendengar hinaan Anton kepada bosnya.

​"Jaga mulutmu, keparat!" bentak preman itu marah.

​"Bos Wijaya bilang kamu punya lima belas miliar di rekeningmu sekarang," ucap preman itu dengan mata berbinar serakah.

​"Transfer semua uang itu ke rekening kami, dan kami akan membiarkanmu hidup," ancamnya.

​"Kalau tidak, mobil mewahmu ini akan kami hancurkan bersama dengan tulang-tulangmu!" seru preman lain yang berdiri di belakang.

​Anton hanya menghela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan.

​"Kalian pikir aku akan menyerahkan uangku begitu saja kepada anjing suruhan sepertimu?" tantang Anton.

​"Maju saja kalau kalian berani," ucap Anton sambil memasang kuda-kuda bertarung yang sederhana.

​"Bocah sombong! Habisi dia sekarang!" perintah preman plontos itu dengan murka.

​Dua orang preman langsung berlari menerjang Anton dari sisi kanan dan kiri.

​Satu preman mengayunkan tongkat bisbol ke arah kepala Anton, sementara yang lain mengincar perutnya dengan pipa besi.

​Di saat yang sangat kritis ini, Anton sama sekali tidak panik.

​"Sistem, bantu aku," batin Anton memberi perintah.

​[Penglihatan Tembus Pandang Tingkat 1 diaktifkan.]

​Seketika itu juga, pandangan mata Anton berubah menjadi sangat tajam dan berbeda.

​Dia tidak hanya melihat pakaian atau kulit luar dari kedua preman yang menyerangnya itu.

​Pandangannya menembus lapisan kulit mereka, memperlihatkan struktur otot dan aliran darah di tubuh mereka.

​Waktu seolah berjalan lebih lambat di mata Anton.

​Dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana otot lengan preman pertama berkontraksi sebelum tongkat bisbol itu diayunkan.

​"Arahnya dari atas ke bawah, sudut empat puluh lima derajat," batin Anton membaca pergerakan musuh.

​Wusss!

​Tongkat bisbol itu membelah udara dengan suara yang mengerikan.

​Namun, dengan gerakan yang sangat minim dan presisi, Anton hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan.

​Tongkat itu meleset hanya beberapa sentimeter dari telinga Anton.

​Preman pertama terbelalak kaget karena serangan mautnya bisa dihindari dengan sangat mudah.

​Belum sempat preman itu menarik kembali tongkatnya, Anton sudah melancarkan serangan balasan.

​Dia melihat jelas letak titik lemah pada struktur tulang rusuk preman tersebut.

​Bugh!

​Sebuah pukulan keras dari tangan kanan Anton mendarat tepat di titik terlemah tulang rusuk preman itu.

​Krak!

​"Akh!" teriak preman pertama itu kesakitan sambil memegangi rusuknya.

​Dia langsung ambruk ke tanah dan berguling-guling menahan rasa sakit yang luar biasa.

​Preman kedua yang menyerang dari sisi kiri terkejut melihat temannya tumbang dalam satu detik.

​Namun, dia tetap memaksakan diri dan menusukkan pipa besinya ke arah perut Anton.

​Sekali lagi, mata dewa Anton membaca pergerakan itu sebelum serangan benar-benar diluncurkan.

​Anton memutar tubuhnya ke samping dengan sangat lincah.

​Pipa besi itu hanya melewati ruang kosong di depan perut Anton.

​Dengan sigap, Anton menangkap pergelangan tangan preman kedua itu dengan tangan kirinya.

​Dia menggunakan momentum serangan musuh untuk menarik tubuh preman itu ke depan.

​Brak!

​Anton menghantamkan lutut kanannya dengan sangat keras tepat ke wajah preman kedua tersebut.

​Darah segar langsung menyembur dari hidung preman itu, dan dia pun jatuh pingsan seketika.

​Tiga preman yang tersisa, termasuk si plontos, menelan ludah dengan susah payah.

​Mereka menatap Anton dengan pandangan tidak percaya dan mulai merasa gentar.

​"B-bagaimana mungkin?" gumam preman plontos itu dengan suara bergetar.

​"Pemuda ini terlihat seperti orang kantoran biasa, tapi kenapa gerakannya seperti petarung profesional?" batinnya kebingungan.

​"Apa yang kalian tunggu? Maju kalian semua!" bentak preman plontos itu untuk menutupi rasa takutnya.

​Ketiga preman itu akhirnya berteriak bersamaan dan maju menyerang Anton secara serentak dari berbagai arah.

​Tapi bagi Anton yang mengaktifkan penglihatan tembus pandangnya, ini bukanlah sebuah ancaman yang berarti.

​Dia bisa melihat setiap tarikan otot, setiap langkah kaki, dan setiap niat serangan mereka dengan sangat jelas.

​Anton bergerak meliuk-liuk di antara ketiga preman itu seolah sedang menari.

​Dia menghindari setiap tebasan dan pukulan dengan selisih jarak yang sangat tipis dan sempurna.

​Bugh! Bugh! Bugh!

​Setiap kali Anton membalas serangan, pukulannya selalu bersarang di titik-titik saraf paling menyakitkan atau persendian yang rapuh.

​Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, ketiga preman itu sudah terkapar di atas aspal jalanan.

​Mereka mengerang kesakitan, memegangi perut, lengan, atau kaki mereka yang terasa seperti patah.

​Pipa besi dan tongkat bisbol berserakan di sekitar mereka, tidak berguna sama sekali.

​Anton berdiri tegak di tengah-tengah tubuh preman yang bergelimpangan itu tanpa terluka sedikit pun.

​Nafasnya hanya sedikit terengah-engah, namun wajahnya tetap tenang dan dingin.

​"Ternyata menggunakan kemampuan mata ini juga menguras stamina tubuh," batin Anton menyadari kelemahannya.

​Dia berjalan pelan mendekati preman plontos yang sedang merintih memegangi lengan kanannya yang mati rasa.

​Anton berjongkok dan mencengkeram kerah baju preman itu dengan kuat.

​"Tolong, ampun... ampuni kami, Tuan," mohon preman plontos itu dengan wajah pucat dan ketakutan.

​"Kami cuma disuruh oleh Bos Wijaya, kami tidak tahu kalau Tuan sekuat ini," tambahnya merengek.

​Anton tersenyum sinis menatap mata preman pengecut di depannya itu.

​"Kembali ke majikan babi kalian itu," ucap Anton dengan nada yang sangat pelan namun mengancam.

​"Katakan padanya, jika dia berani menggangguku lagi, aku sendiri yang akan datang dan menghancurkan seluruh hartanya," ancam Anton.

​"M-mengerti, Tuan! Kami mengerti!" jawab preman itu dengan cepat, menganggukkan kepalanya berulang kali.

​Anton melepaskan cengkeramannya dan berdiri kembali.

​"Pergi dari pandanganku sekarang sebelum aku berubah pikiran," perintah Anton dingin.

​Kelima preman itu langsung bangkit dengan susah payah.

​Mereka saling memapah satu sama lain dan berlari terpincang-pincang masuk kembali ke dalam van hitam mereka.

​Brumm!

​Mobil van itu langsung melesat pergi meninggalkan lokasi dengan kecepatan penuh bak dikejar hantu.

​Anton membersihkan debu di kemejanya dan menghela nafas panjang.

​"Sepertinya dunia orang kaya jauh lebih berbahaya dari yang kubayangkan," gumam Anton pelan.

​"Bos Wijaya hanyalah ikan kecil, pasti akan ada ikan hiu yang lebih besar di masa depan."

​"Aku harus segera meningkatkan kekuatan tubuh fisikku agar bisa mengimbangi kehebatan mata ini," tekad Anton dalam hati.

​Anton masuk kembali ke dalam mobil BMW merahnya dan menyalakan mesin.

​Dia melanjutkan perjalanannya menuju apartemen Grand Royal Residence dengan perasaan yang lebih waspada namun penuh percaya diri.

​Hari ini, dia tidak hanya membuktikan nilai dirinya dalam hal kekayaan, tetapi juga dalam hal kekuatan pertahanan diri.

​Pembalasan dendam dan perjalanan menuju puncak rantai makanan baru saja dimulai, dan Anton siap menghadapi semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!