Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meluruskan kesalahpahaman
"Kau tidak sedang menuju tiang gantung, Nandikara. Jadi jangan memasang wajah seperti itu."
Suara Leon yang terdengar tenang berhasil menarik Elisa kembali dari lamunannya. Sedari tadi pikirannya melayang ke mana-mana, dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang terus bermunculan tanpa bisa ia hentikan.
Setelah kejadian di Carnaval, Pangeran Erlan ternyata tidak langsung membebaskan dirinya dan Cani. Keduanya dibawa ke sebuah Castel megah yang berdiri tak jauh dari lokasi festival. Bangunan itu menjulang dengan dinding batu berwarna keabu-abuan, dihiasi jendela-jendela tinggi dan pilar-pilar kokoh yang menunjukkan kemewahan khas keluarga kerajaan. Sesampainya di sana, Elisa dan Cani dipisahkan.
Cani diminta menunggu di salah satu ruang tamu, sementara Elisa diperintahkan menemui Pangeran Erlan seorang diri. Leon mendapat tugas mengantarnya hingga ke ruang pertemuan.
Langkah Elisa terasa berat. Semakin dekat dengan tujuan, semakin cepat pula detak jantungnya. Terbayang wajah datar tanpa ekspresi dari Pangeran Erlan ketika menatapnya.
"Wajahmu pucat," ujar Leon setelah beberapa saat memperhatikan gadis di sampingnya."Apa kau begitu ketakutan?"
"Berhenti bicara padaku, Leonardo Snow. Kau bukan temanku, jadi diamlah." Nada suara Elisa terdengar ketus. Ia bahkan tidak menoleh sedikit pun.
Entah kenapa, semakin Leon mengajaknya berbicara, semakin kesal perasaannya. Bukankah menurut novel yang ia baca, Leonardo Snow adalah pria yang dingin, hemat bicara, dan nyaris tak pernah memulai percakapan? Lalu kenapa pria di sampingnya itu terus saja mengoceh? Disaat seperti ini rasanya ingin sekali Elisa menjambak rambut pria menyebalkan ini, agar dendam Nandikara terbalaskan.
Leon mengernyit tipis. Biasanya Nandikara selalu ribut. Gadis itu tidak pernah bisa diam lebih dari beberapa menit. Entah sedang mengeluh, menyindir seseorang, atau sekedar mencari perhatian. Namun sekarang ia berjalan membisu dengan wajah sepucat kertas. Perubahan itu terasa mengganggu seorang Leon.
"Kau tidak akan mendapatkan hukuman apa pun," ucap Leon datar."Ini hanya masalah sepele. Tidak perlu memasang ekspresi seolah hidupmu akan berakhir hari ini."
Elisa akhirnya menoleh."Kenapa memang dengan ekspresi wajahku?"
"Kau ketakutan."
"Tidak." Jawaban itu keluar terlalu cepat. Padahal di dalam hati, Elisa hampir menangis karena panik. Tentu saja dia takut, bagaimana jika Pangeran Erlan menghukumnya karena sudah lancang? Bagaimanapun juga, pria itu adalah putra mahkota. Di kerajaan mana pun, menghina keluarga kerajaan bukanlah perkara kecil. Semakin dipikirkan, semakin buruk bayangan yang muncul di kepalanya.
Jangan-jangan aku langsung dipenjara atau lebih parah lagi, dieksekusi?
Elisa refleks menelan ludah.
Kenapa dia harus bertemu dengan Pangeran Erlan? Bukankah menurut jalan cerita, dia seharusnya masih berada di ibu kota? Kenapa malah ada di wilayah Timur?
Ingatannya kembali pada novel yang pernah ia baca. Di titik waktu ini, seharusnya peristiwa besar bahkan belum dimulai. Tokoh-tokoh utama masih menjalani kehidupan masing-masing sebelum akhirnya alur cerita bergerak. Lalu kenapa ia sudah berhadapan dengan salah satu tokoh paling penting?
Jangan bilang gara-gara aku terlalu banyak mengubah kejadian kecil, alurnya ikut berubah?
Pikiran itu membuat tengkuk Elisa meremang.
Tidak mungkin, kan? Masa Nandikara mati sebelum cerita benar-benar dimulai? Kalau begitu semua usahaku selama ini sia-sia.
Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya sendiri, berusaha menenangkan napas yang mulai tidak beraturan.
Leon kembali melirik sekilas ke arah gadis di sebelahnya. Meski Nandikara terus menyangkal, dari wajahnya saja sudah terlihat jelas bahwa gadis itu sedang diliputi kecemasan. Namun Leon memilih tidak mengatakan apa-apa lagi.
Beberapa menit kemudian mereka berhenti di depan sebuah pintu kayu besar dengan ukiran lambang keluarga kerajaan di bagian tengahnya. Dua kesatria berdiri tegak di sisi kanan dan kiri pintu, sementara suasana lorong berubah menjadi jauh lebih sunyi dibanding bagian Castel lainnya.
Leon mengetuk pintu dengan sopan."Yang Mulia, Lady Nandikara telah tiba."
Suara dari dalam ruangan memberikan izin untuk masuk.
Leon membuka pintu perlahan."Masuklah."
Elisa menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah masuk, meninggalkan Leon yang tetap berdiri di luar ruangan. Pintu besar itu menutup perlahan di belakangnya.
Leonardo Snow masih memandang daun pintu yang kini tertutup rapat dengan tatapan penuh tanda tanya. Ini benar-benar di luar kebiasaan sang pangeran.
Untuk persoalan sekecil ini, seharusnya cukup diselesaikan oleh para kesatria atau pejabat wilayah. Pangeran Erlan hampir tidak pernah mencampuri urusan sepele seperti itu. Dia dikenal dengan sikap acuhnya.
Namun kali ini berbeda. Beliau bahkan secara langsung meminta Nandikara datang menemuinya, sangat tidak biasa. Leon tidak tahu apa sebenarnya yang ingin dibicarakan sang pangeran kepada Nandikara. Dan entah kenapa dia sangat penasaran dan sangat ingin tau, kenapa Pangeran Erlan bersikap tidak seperti biasanya?