NovelToon NovelToon
Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Si Bodoh Desa Ternyata Tabib Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Perjodohan / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Bima selalu dianggap sebagai pemuda idiot desa yang hanya bisa tersenyum saat dihina dan dilempari batu oleh warga, padahal di balik kepolosannya ia adalah pewaris tunggal ilmu pengobatan tingkat dewa dari seorang pertapa sakti.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Plak!

​Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi kanan Bima.

​"Dasar orang gila, cepat pergi kamu dari desa ini!" teriak Kepala Desa dengan wajah memerah menahan marah.

​Bima hanya menunduk diam sambil memegangi pipinya yang terasa panas dan perih.

​Dia sama sekali tidak berniat melawan meskipun rasa sakit menjalar di kulitnya.

​"Kamu ini hanya membawa sial bagi warga di sini."

​"Lihat saja kelakuanmu yang setiap hari cuma bicara sendiri dengan rumput liar di hutan."

​Warga desa yang berkumpul di halaman balai desa ikut menyoraki pemuda berusia dua puluh tahun itu dengan tatapan jijik.

​Mereka mulai melempari Bima dengan kerikil dan sisa sayuran busuk.

​Brak!

​Sebuah batu sebesar kepalan tangan mengenai kening Bima hingga mengalirkan darah segar.

​"Aku tidak gila, Pak Kades."

​"Aku hanya sedang mencari dan menyeleksi akar pasak bumi liar."

​Bima mencoba menjelaskan tindakannya dengan nada suara yang sangat tenang.

​Namun penjelasannya itu malah membuat emosi warga semakin tersulut.

​"Halah, banyak alasan kau si pemuda bodoh."

​"Mana ada orang waras mengunyah akar pahit sambil tertawa-tawa sendiri di tengah malam."

​"Cepat kemasi barang rongsokanmu dan angkat kaki dari sini sebelum kami membakar gubukmu itu."

​Bima menatap kerumunan warga desa yang selama ini dia anggap sebagai keluarganya sendiri dengan pandangan nanar.

​Dia sebenarnya bisa saja membuat mereka semua lumpuh meronta-ronta hanya dengan menyentuh beberapa titik saraf mematikan.

​Tetapi pesan terakhir dari mendiang gurunya terngiang sangat jelas di telinganya saat ini.

​"Jangan pernah gunakan ilmu tabib sucimu ini untuk menyakiti manusia biasa."

​Bima menghela nafas panjang lalu berbalik arah berjalan menuju gubuk reyotnya yang berada di ujung desa.

​Srek. Srek.

​Langkah kakinya terseret di atas tanah kering yang berdebu tebal.

​Hatinya hancur menyadari bahwa tempat kelahirannya sendiri telah membuangnya begitu saja tanpa belas kasihan.

​Sesampainya di dalam gubuknya, Bima hanya mengambil sebuah buntalan kain lusuh dan sekotak jarum perak warisan gurunya.

​"Mungkin memang ini saatnya aku harus melihat dunia luar seperti yang sering dikatakan Guru."

​"Kota Jakarta, sepertinya itu tujuan yang cukup bagus untuk mencari pengalaman hidup."

​Bima bergumam pelan pada dirinya sendiri sambil menatap langit senja dari celah atap daun palem yang bocor.

​Keesokan paginya, tepat sebelum matahari terbit, Bima sudah berdiri sendirian di pinggir jalan raya lintas provinsi.

​Nguuuung.

​Sebuah bus antar kota melaju sangat kencang dan berhenti tepat di depan hidungnya yang mancung.

​Bima naik dengan langkah gontai lalu memilih duduk di sudut kursi paling belakang.

​Perjalanan panjang berjam-jam itu dia habiskan hanya dengan memejamkan mata mencoba melupakan rasa sakit di hatinya.

​Tiba-tiba laju bus berhenti dengan sangat mendadak hingga tubuhnya terdorong ke depan.

​Ciittt!

​Suara rem berdecit nyaring sukses membangunkan Bima dari tidur ayamnya.

​"Turun semua penumpang, kita sudah sampai di terminal tujuan."

​Sopir bus berteriak nyaring dengan suara seraknya yang khas.

​Bima turun melangkah keluar dan langsung disambut oleh udara panas berdebu ibukota metropolitan.

​Gedung-gedung pencakar langit yang terbuat dari kaca menjulang tinggi seolah menantang awan di langit.

​Bima berjalan tanpa arah yang jelas menyusuri trotoar panjang yang dipadati oleh pejalan kaki berpakaian rapi.

​Perutnya mulai berbunyi kencang meminta untuk segera diisi makanan.

​Kruyuk.

​"Aku harus segera mencari pekerjaan hari ini juga."

​"Uang sakuku ini rasanya hanya cukup untuk membeli makan siang di warung pinggir jalan."

​Bima terus melangkah hingga dia tiba di sebuah area konstruksi bangunan besar yang tampak sangat sibuk.

​Suara mesin molen pengaduk semen terdengar sangat bising memekakkan telinga.

​Teng! Teng! Teng!

​Banyak pekerja proyek berlalu lalang dengan wajah lelah membawa material bangunan yang berat.

​"Permisi, Pak."

​Bima memberanikan dirinya menyapa seorang pria paruh baya buncit yang memakai helm proyek berwarna putih.

​Pria itu menoleh kesal lalu menatap Bima merendahkan dari ujung rambut sampai ujung kaki.

​"Ada urusan apa kamu memanggilku, anak muda?"

​"Apakah di proyek ini sedang ada lowongan pekerjaan?"

​"Aku bisa bekerja serabutan sebagai kuli angkut atau melakukan apa saja yang Bapak minta."

​Pria buncit itu rupanya adalah Pak Mandor yang bertugas mengawasi jalannya seluruh proyek ini.

​"Kebetulan kami memang sedang butuh banyak tenaga kasar tambahan untuk mengecor lantai dasar."

​"Tapi kerjanya ini sangat berat dan meletihkan, apa badan kerempengmu itu kuat menahannya?"

​"Aku ini sangat kuat, Pak Mandor."

​"Baiklah kalau begitu, segera ganti bajumu dan langsung bantu pekerja yang lain mengangkut semen."

​Bima tersenyum sangat lebar dan bergegas berlari menuju tempat tumpukan ratusan sak semen.

​Dia langsung mengangkat dua sak semen berat sekaligus di pundaknya tanpa terlihat kesulitan sedikitpun.

​Wush!

​Langkah kaki Bima terlihat sangat ringan seolah beban di pundaknya hanyalah kapas yang melayang.

​Beberapa pekerja kuli lainnya menatap takjub ke arah Bima dengan mulut ternganga lebar.

​"Gila, anak baru dari kampung itu makan apa kok tenaganya kuat sekali mirip badak?" bisik salah satu kuli kepada temannya.

​Bima sama sekali tidak menghiraukan omongan mereka dan terus bekerja mengangkut semen dengan giat.

​Saat dia sedang mengambil karung semen berikutnya, pandangan Bima tidak sengaja menangkap sesuatu di luar pagar proyek.

​Dia melihat sebuah mobil sedan hitam sangat mewah sedang terparkir di seberang jalan.

​Kaca jendela bagian belakang mobil itu terbuka separuh.

​Dari kejauhan Bima bisa melihat sepasang mata tajam milik seorang pria paruh baya berjas mahal sedang menatapnya lekat-lekat.

​"Siapa orang tua kaya raya itu?"

​"Kenapa dia menatapku terus dari tadi?"

​Bima membatin keheranan sambil mengangkat bahunya pertanda tidak peduli.

​Dia menganggap itu hal biasa dan kembali memfokuskan pikirannya pada karung semen di depannya.

​Bima terus mengangkut puluhan karung semen tanpa henti sampai matahari mulai condong ke arah barat.

​Keringat deras membasahi seluruh tubuh kotornya yang ternyata menyembunyikan otot-otot yang terbentuk sempurna.

​"Hei anak muda, kemarilah sebentar."

​Seorang pria berjas sangat rapi yang baru saja keluar dari mobil sedan mewah tadi tiba-tiba menghampiri Bima.

​Bima mengusap keringat di pelipisnya lalu menoleh ke arah pria necis tersebut.

​"Ada urusan apa ya, Pak?"

​"Bos saya yang ada di dalam mobil itu ingin bertemu sebentar denganmu di kantor proyek."

​Bima mengerutkan keningnya merasa semakin kebingungan.

​"Untuk apa seorang bos besar yang kaya raya ingin bertemu dengan kuli rendahan yang kotor sepertiku?"

​Bima kembali membatin sambil menatap curiga punggung asisten itu yang sudah berjalan menjauh mendahuluinya.

1
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
aku pertama ni dapat apa 😁
kiyoe: selamat anda mendapatkan ucapan dari author kak hehe
total 1 replies
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂
lanjut gak nih
@𝐊𝐫𝐮𝐥𝐜𝐢𝐟𝐞𝐫 𝖋𝖙 𝙆𝙂: 😁👍👍aman
total 2 replies
Asmara Kacau
di tunggu bab selanjut nya thor
kiyoe: baik kak mohon di tunggu yaa buat bab selanjutnya yang lebih menarik 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!