NovelToon NovelToon
Janji Di Atas Kertas

Janji Di Atas Kertas

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Neng Wendah

Di depan kamera, Aura Zhafira adalah presenter TV yang selalu tersorot lampu studio. Namun di balik layar, sebuah krisis memaksa Aura menandatangani perjanjian rahasia dengan Reno Adhyastha CEO dingin yang paling benci sorotan media.

Pernikahan mereka hanyalah transaksi dingin di atas kertas dengan aturan ketat: tanpa perasaan dan harus rahasia dari publik.

Namun, saat dua manusia dari dunia yang bertolak belakang ini dipaksa tinggal satu atap, akankah batas di atas kertas itu tetap bertahan? Atau justru akankah akan tumbuh rasa di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng Wendah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

~ Terbang Menuju Pulau Impian

Suasana di kediaman Menteng pagi itu tampak sibuk namun dipenuhi keceriaan. Suara deru mesin mobil yang bersiap di halaman depan berpadu dengan langkah-langkah sigap para pekerja yang memindahkan barang-barang. Dua koper besar bernuansa silver dan pink pastel sudah tertata rapi di dekat pintu utama, bersanding dengan tas jinjing kulit milik Reno. Nenek Ratna tak hentinya tersenyum puas menyaksikan cucu dan cucu menantunya yang bersiap berangkat menuju bandara.

Aura tampil begitu anggun dan mempesona dengan balutan gamis kasual berwarna pink lembut, dipadukan dengan hijab senada yang melingkar rapi mengbingkai paras ayunya. Di sampingnya, Reno tampil begitu gagah namun tetap santai dengan kemeja putih berlengan panjang yang digulung rapi hingga siku dan celana jeans memancarkan pesona ketampanan yang amat alami tanpa kesan kaku seperti biasanya saat di kantor.

"Ingat pesan Nenek ya, Reno," goda Nenek Ratna seraya mengusap lembut bahu sang cucu. "Jaga istrimu baik-baik. Jangan pikirkan pekerjaan kantor dulu selama di sana! Semua urusan bisnis bisa menunggu."

Reno tersenyum tipis sebuah senyuman penuh penghormatan seraya menggenggam lembut jemari Aura yang berdiri di sisinya. "Pekerjaan sudah saya delegasikan penuh ke Pak Aslan, Nenek. Kami berangkat dulu."

"Hati-hati di jalan, ya! Nenek tunggu kabar bahagianya!" ujar Nenek Ratna seraya mengedipkan mata ke arah Aura, membuat pipi wanita muda itu seketika merona merah.

Setelah berpamitan dan mencium takzim tangan Nenek Ratna, Reno membimbing Aura masuk ke dalam mobil SUV mewah yang sudah bersiap mengantar mereka menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Sepanjang perjalanan di dalam mobil, suasana begitu hangat. Reno tak melepas genggaman tangannya dari jemari Aura, seolah menegaskan bahwa mulai hari ini, segala kecemasan dan trauma masa lalu telah sepenuhnya tertinggal di belakang.

Perjalanan udara menuju Maldives ditempuh menggunakan maskapai penerbangan kelas wahid. Di dalam kabin first class yang sangat privat, tenang, dan luas, Aura memandangi hamparan awan putih di luar jendela dengan binar mata terkagum-kagum. Ini adalah kali pertama baginya merasakan kemewahan fasilitas penerbangan privat tingkat dunia seperti ini, di mana setiap penumpang memiliki bilik khusus yang nyaman bagaikan kamar hotel berjalan.

Reno yang duduk tepat di sampingnya memperhatikan setiap gerak-gerik dan tingkah polos sang istri dengan pendar mata hangat. Melihat Aura yang sedikit menggigil karena hembusan pendingin udara, pria itu meraih selimut lembut berlapis sutra, lalu menyelimutkan kain tebal itu ke atas tubuh Aura dengan penuh kelembutan.

Aura tersentak pelan lalu menoleh, menatap suaminya dengan mata jernihnya. "Eh, Reno... tidak usah, aku tidak terlalu dingin kok."

"AC pesawat cukup kencang, Aura," potong Reno halus namun tegas. Tangannya terangkat, merapikan sedikit lipatan hijab Aura yang bersentuhan dengan sandaran kursi. "Istirahatlah. Perjalanan kita masih beberapa jam lagi. Saya tidak mau kamu kelelahan begitu sampai di sana."

Sentuhan jari Reno yang hangat di pipinya dan perhatian kecil yang tulus itu membuat dada Aura berdesir hebat. Rasa aman yang melingkupinya begitu nyata. Senyuman tipis terukir indah di bibirnya.

"Terima kasih banyak ya, Reno..." bisik Aura pelan.

"Sama-sama," jawab Reno rendah. "Sandarkan kepalamu kalau mengantuk."

Aura menuruti ucapan Reno, menyandarkan kepalanya dengan nyaman di sandaran kursi yang empuk. Tak butuh waktu lama, kelelahan emosional dari kejadian beberapa hari terakhir membuat matanya perlahan terpejam, tertidur lelap di bawah tatapan protektif sang suami yang tak berhenti menjaganya.

Beberapa jam kemudian, pesawat mendarat mulus di Bandara International Airport, Male. Namun petualangan mereka belum berakhir. Untuk mencapai resor privat yang dipesan khusus oleh Nenek Ratna, mereka disambut langsung oleh perwakilan resor dan diantar menuju area dermaga penerbangan seaplane (pesawat amfibi).

Saat pesawat amfibi kecil itu mulai lepas landas dari atas permukaan air, Aura kembali terpukau. Dari atas ketinggian, pemandangan atol Maldives terpapar sempurna. Lautan biru jernih bagai kristal dengan gradasi warna toska dan biru tua mengelilingi pulau-pulau kecil berpasir putih bersih. Guratan karang di dasar laut terlihat begitu jelas di bawah naungan sinar matahari cerah.

"Indah sekali..." bisik Aura tanpa sadar, menempelkan jemarinya di kaca jendela dengan binar mata penuh ketakjuban. "Aku belum pernah melihat laut sebersih ini..."

Reno yang duduk rapat di sampingnya menatap wajah cantik Aura yang tampak begitu bahagia dan lugu. Bagi Reno, pendar kebahagiaan dan tawa renyah di wajah istrinya jauh lebih indah daripada pemandangan laut di bawah sana.

"Ini baru permulaan, Aura," sahut Reno lembut di dekat telinganya, hingga hembusan napas hangatnya menyentuh kulit Aura. "Di villa nanti, pemandangannya akan jauh lebih bagus dan tenang."

Aura menoleh dan mendapati jarak wajah Reno yang begitu dekat. Sorot mata kelam pria itu begitu dalam dan mengunci pandangannya, membuat jantung Aura berdetak makin kencang.

Tak lama kemudian, mesin seaplane memelan tatkala pesawat mendarat mulus di atas permukaan air laut yang tenang, tepat di dermaga kayu khusus Overwater Villa milik resor kelas dunia tersebut.

Begitu pintu pesawat dibuka, angin laut yang segar dan hangat menyapa mereka. Staf resor berpakaian seragam putih bersih menyambut kedatangan Reno dan Aura dengan ramah, memberikan kalungan bunga eksotis serta menyajikan minuman kelapa segar sebagai ucapan selamat datang.

Manajer resor secara pribadi membimbing mereka menyusuri jembatan kayu panjang yang membentang di atas lautan toska menuju unit villa paling ujung unit paling privat, luas, dan mewah dengan fasilitas infinity pool yang seolah menyatu langsung dengan lautan lepas.

Saat pintu kayu berarsitektur modern itu dibuka, Aura kembali dibuat terpana sampai menahan napas. Interior kamar bernuansa kayu hangat dan sentuhan kain putih elegan dipadukan dengan pemandangan langsung ke arah lautan lepas. Di beberapa titik lantai villa, terdapat panel kaca transparan tebal yang memperlihatkan keindahan terumbu karang serta ikan-ikan warna-warni yang berenang bebas tepat di bawah pijakan kaki mereka!

"Suka dengan tempatnya?" tanya Reno dari belakang seraya menerima kunci kartu villa dari manajer resor dan meletakkannya di atas meja konsol.

Aura berbalik, menatap Reno dengan binar mata haru yang tak bisa disembunyikan. "Sangat suka, Reno... Ini benar-benar indah. Tempat ini terlalu sempurna..."

Reno melangkah mendekat dengan santai namun pasti, mengikis jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di hadapan Aura. Sinar matahari senja Maldives yang berwarna keemasan menerobos masuk melalui dinding-dinding kaca besar, memandikan paras anggun sang istri dengan cahaya yang hangat.

Reno mengangkat tangannya, mengusap lembut pipi Aura dengan punggung jarinya. "Tempat ini dipesan khusus untuk menenangkan pikiranmu," tutur Reno dengan suara baritonnya yang rendah dan dalam. "Lupakan semua hal buruk, semua fitnah, dan trauma yang pernah terjadi di Jakarta. Mulai detik ini, di pulau ini... hanya ada kamu dan saya."

Kata-kata Reno yang begitu dalam serta tatapan matanya yang sarat akan kesungguhan cinta membuat pertahanan emosi Aura luluh sepenuhnya. Senyuman paling manis dan tulus terpancar dari wajah Aura, menandai dimulainya babak baru yang penuh kehangatan dan kebahagiaan di bawah langit sore pulau impian.

1
Rian Moontero
mampiiirr👍
Neng Wendah: Terima kasih banyak Kak Rian sudah mampir! Selamat menikmati kisahnya ya 😊🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!