Di desa xixiang, seluruh penduduk tahu bahwa keluarga Zhao baru saja memungut seorang gadis kecil. Gadis itu berusia tiga tahun, berkulit putih dan bertubuh montok menggemaskan. semua orang berkata bahwa anak perempuan hanyalah beban merugikan. namun keluarga Zhao justru memperlakukan nya bagai permata berharga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabila mbil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Memancing amarahnya, barulah dia akan menunjukkan kelemahannya," Jawab Zhao Heng. Jari-jarinya yang panjang tak tahan menarik kuncir kecil di kepala A Bao. A Bao berteriak kesakitan, menyeruduk tubuh Zhao Heng sekali, lalu berlari menjauh.
Zhao Heng tidak memedulikannya. Ia memanggil Jiang Ting dan meminta anak itu mendekat.
"Menurutmu bagaimana?" tanya Zhao Heng.
Jiang Ting tidak menyangka Zhao Heng akan bertanya demikian. Ia berfikir sejenak, lalu berkata dengan tenang, "Jika dia benar-benar mengkhawatirkan ku, hal pertama yang harus dia lakukan adalah melihat keadaanku, bukan bertanya ini itu."
Lin Xiang yang mendengarnya di samping merasa iba. Ia mengulurkan tangan dan membelai kepala Jiang Ting.
"Saat ini kita belum bisa menemukan latar belakangnya, jangan mudah percaya," ucapan Zhao Heng ini jelas ditunjukkan pada Jiang Ting.
Jiang Ting mengangguk kecil.
"Satu, dua, tiga! Ayah, rumput mata harimau tumbuh tiga daun!" setelah hujan deras, rumput mata harimau yang tadinya terinjak justru tumbuh lebih cepat.
A Bao tidak begitu mengerti pembicaraan mereka. Ia duduk sendiri di samping rumput mata harimau, mengamatinya.
Zhao Heng bergumam mengiyakan, sepertinya ia tidak terlalu gembira.
A Bao memajukan bibirnya, lalu duduk di samping menghitung semut.
"Oh, kalian semua ada di rumah ya," tiba-tiba terdengar suara nyonya Zhang dari pintu halaman. Wang chunniang mendongak, dan melihat nyonya Zhang datang bersama tukang besi Yang dan Yang Dabao.
Meskipun baru dirawat sehari, tukang besi Yang dan putranya terlihat sudah pulih dengan baik.
A Bao yang tadinya berjongkok menghitung semut, begitu melihat Yang Dabao datang, langsung melesat ke belakang punggung Zhao Heng. hanya kepala kecilnya dengan dua kucir yang terlihat.
"Ayah, lindungi aku! Aku... Aku tidak bisa mengalahkannya," bisik A Bao sambil menarik baju Zhao Heng.
Nyonya Zhang dan yang lain jelas mendengar ucapan itu. Ia tertawa canggung, lalu buru-buru memanggil Yang Dabao, "Dabao, cepat berterima kasih."
Yang Dabao tidak sungkan. Ia langsung berlutut di depan Zhao Heng, lalu bersujud tiga kali sambil berkata lantang, "paman Zhao, Terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku. Mulai sekarang.... Aku adalah putramu."
Zhao Heng : "....." tidak perlu sampai sejauh itu.
Wang chunniang menahan tawa, ia buru-buru membantu anak itu berdiri.
"Dabao, tidak usah jadi putra kami, nanti kalau kamu berkelahi dengan A Bao, kamu cukup mengalah sedikit saja," Wang chunniang mencubit pipi tembam Yang Dabao.
Namun si bocah gemuk itu menolak. Ia menepuk dadanya sendiri, lalu menatap Wang chunniang dengan serius, "Bibi Zhao, namaku Dabao, dan nama putri kalian A Bao. Pas sekali aku menjadi putramu."
Wang chunniang tertawa terbahak-bahak, "kalau kamu menjadi putra kami, bagaimana dengan ayah dan ibumu?"
Yang Dabao menjawab dengan lugas, "Suruh mereka melahirkan anak lagi!"
Nyonya Zhang memijat dahinya dan buru-buru menutup mulut putranya yang gemuk itu.
Tukang besi Yang tertawa terbahak-bahak, lalu meletakkan setumpuk barang di depan Wang chunniang," kakak ipar, kalian sudah menyelamatkan nyawa kami berdua. Kamu tidak tahu bagaimana cara membalasnya. Jika kalian butuh bantuan, katakan saja."
Wang chunniang melirik Zhao Heng. Bukankah Zhao Heng bilang ada gambar rancangan yang perlu di buat oleh tukang besi Yang? Tapi Zhao Heng tidak mengatakan sepatah kata pun.
Karena masih harus memperbaiki jembatan, tukang besi Yang tidak bisa berlama-lama, tetapi ia meninggalkan nyonya Zhang dan Yang Dabao di halaman keluarga Zhao.
Yang Dabao ingin sekali mengajak A Bao bermain, tapi ia melihat A Bao menggandeng tangan Jiang Ting. Ia pun mengerutkan kening, wajahnya yang gemuk tampak tidak senang, " Kenapa kamu menggandeng dia?"
" Dia kakak kecilku, "jawab A Bao polos.
" Mulai sekarang, aku juga kakakmu," Yang Dabao menepuk dadanya.
A Bao menggelengkan kepalanya dengan polos, "tapi... Tapi aku sudah punya dua kakak, terlalu banyak, keluarga kami tidak mampu merawat."
Orang dewasa : "...." mereka menahan tawa.
Sambil membiarkan anak-anak bermain di samping, Wang chunniang berbisik kepada nyonya Zhang, "adik ipar, aku mau bertanya sesuatu. Apa kau tahu kalau ini A Ting punya adik perempuan?" ia pun menceritakan kejadian hari itu saat Zhuhua datang mencari Jiang Ting.
Nyonya Zhang melihat keluar pintu, dan setelah memastikan tidak ada orang, ia berbisik, "Aku dengar dari ibu mertuaku, Songhua memang punya adik perempuan. Adiknya menikah dengan seseorang di desa Taohua beberapa tahun lalu, tapi ia menjadi janda di usia muda. Setelah itu, kudengar ia bekerja sebagai penjual jasa (pelacur) dan menghasilkan banyak uang perak."
"Kakak ipar, apa kau ingin tahu lebih banyak tentang dia? Adik ipar ku menikah dengan orang desa Taohua. Besok Aku akan bertanya diam-diam." kata nyonya Zhang dengan suara rendah.
"Kalau begitu, aku merepotkanmu," kata Wang chunniang dengan sungkan.
"Tidak ada yang merepotkan. Kalian sudah menyelamatkan nyawa seluruh keluarga kami," nyonya Zhang menggeleng.
" Dabao, beri salam perpisahan pada paman dan bibimu. Ibu akan mengajakmu kerumah bibi mu!" nyonya Zhang langsung bertindak, memanggil Yang Dabao. Dia memang orang yang lugas.
Yang Dabao yang sedang kesal menatap Jiang Ting, mendengar panggilan ibunya, ia langsung berlutut dan bersujud sekali lagi di depan Zhao Heng dan Wang chunniang, lalu berteriak, " paman Zhao, bibi Zhao, putramu pergi dulu. Besok aku akan datang lagi untuk..... Untuk bersujud."
Lin Xiang pun tidak bisa menahan tawanya lagi.
" Kakak Zhao, kakak ipar, kami permisi dulu ya, kami akan kembali sore ini! " nyonya Zhang menarik putranya keluar.
Yang Dabao juga ikut menoleh dan berteriak keras, " Sore ini kami kembali!"
***
Akibat hujan deras itu, banyak tanaman yang rusak, dan banyak orang yang murung bersiap untuk menanam ulang.
Namun, kebun berry keluarga Zhao sama sekali tidak terpengaruh. Pada hari ketiga setelah hujan, kebun itu bahkan sudah mulai berbunga. Bunga berry berbentuk kecil dan berwarna kuning. Jika dilihat dari jauh, seluruh kebun itu tampak penuh dengan kehidupan.
A Bao berjongkok di tepi ladang, dan berkata, " ibu, tinggal satu bulan lagi, satu bulan lagi kita bisa makan buah!"
"Ibu, dua mu (lahan) tanah yang kita beli dari ibu Xiu Cai itu sepertinya terendam air sungai. Bukankah kita harus segera mengurus tanah itu?" tanya Zhao Xuan.
Wang chunniang menggeleng, "xuan'er, tanah itu, justru bagus kalau terendam air. Tunggu dua hari lagi, nanti kalian akan tahu!"
Beberapa hari kemudian, jembatan di desa xixiang sudah selesai diperbaiki. Namun, sebelum Zhao Xuan dan yang lain sempat melihat tanah di tepi sungai itu, Zhuhua kembali datang.
Kali ini, dia datang menaiki kereta kuda.
Di desa xixiang, gerobak sapi atau gerobak keledai sudah biasa. Tetapi Kereta kuda adalah pemandangan yang jarang.
Maka ketika kereta kuda itu berhenti di depan pintu keluarga Zhao, hal itu menarik perhatian banyak penduduk desa.
Lin Xiang sedang menjemur pakaian di halaman saat Zhuhua mendorong pintu dan masuk.
Di halaman, selain Lin Xiang yang sedang menjemur pakaian,terlihat sebuah kursi bambu tempat dua boneka kecil sedang tertidur berdampingan, yaitu Jiang Ting dan A Bao.
"Apa mau mu datang ke sini?" begitu melihat Zhuhua, Lin Xiang langsung mencengkram erat alat pemukul cucian di tangannya, dan bersiap mengusir Zhuhua keluar.
Awalnya perhatian Zhuhua tertuju pada kedua anak yang sedang tertidur itu, tetapi melihat sikap Lin Xiang, ia menatap Lin Xiang.
Dengan sekali pandang, ia sepertinya menyadari sesuatu.
"Nona muda ini, kulihat wajahmu..... Sangat tidak asing. Apa kau pernah mendengar tempat bernama Rumah Teh Kecil (Xiao Qing Lou)?" Zhuhua mendekat dan bertanya pelan kepada Lin Xiang.
Mendengar pertanyaan itu, wajah Lin Xiang Seketika memucat...