"Salah satu kakinya diamputasi setelah ditabrak sebuah mobil 8 tahun silam. Sayangnya, mobil itu kabur, CCTV rusak." Kenan tersenyum getir, seolah hal itu sudah biasa terjadi jika pelakunya orang-orang berduit. "Ada saksi yang mengatakan jika yang menabrak Ilona adalah mobil sport warna merah, tapi..." Ia kembali terkekeh. "Beberapa hari kemudian, kesaksiannya berubah. Entahlah."
Mendengar itu, tubuh Elang seketika mengalami tremor. Jantungnya berdebar kencang, dan keringat dingin mulai membasahi tubuhnya.
Semoga saja ini hanya kebetulan. 8 tahun yang lalu, Elang menabrak seseorang saat dini hari, sepulang dari party kelulusan SMA bersama teman-temannya. Kondisinya setengah mabuk saat itu. Karena takut, di tambah kondisi jalanan yang sepi, ia langsung kabur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yutantia 10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Papan nama 'BLOSSOM FLORIST' sudah terpasang sejak pagi tadi. Bunga artifisial sudah datang kemarin, sementara bunga segar potong, baru datang 30 menit yang lalu, masih rapi terbungkus kertas coklat, diikat rafia.
Elang sudah menyiapkan beberapa ember besar berisi air yang nantinya untuk wadah bunga-bunga tersebut setelah tangkainya di potong miring.
Ada beberapa jenis bunga, mulai dari mawar, lily, krisan, baby breath, daisy, hingga tulip impor.
Ilona duduk di sebuah kursi kayu tanpa sandaran, membuka satu persatu kertas yang membungkus bunga. Di sampingnya, Elang sibuk memotong tangkai miring, memasukkan ke dalam air yang sudah diberi pengawet bunga.
"Awas tangkainya kepanjangan, 45 derajat kemiringanya." Ilona memberi interuksi.
Elang nengok sambil tersenyum. "Siap Bos."
Ilona langsung terkekeh pelan.
Bunga-bunga potong tersebut diletakkan di bagian sebelah kanan toko, sementara bunga artifisial, di sebelah kiri. Ada rak kayu 3 tingkat, untuk display bunga artifisial dan buket.
Meja kasir terbuat dari kayu yang dicat warna coklat. Ada laptop, tempat alat tulis, nota, buku catatan, hingga toples berisi permen di atasnya. Di samping meja, tempat gulungan kertas kado, kertas tisu, cellophane, dan beberapa jenis kertas buket lainnya. Sementara berbagai macam pita, solasi, dan spons kering, disimpan di etalase.
Ilona mengambil gunting, berniat membantu Elang, namun pria itu melarangnya.
"Kamu istirahat aja, biar aku selesaiin semuanya."
"Yakin?"
"1000 persen." Elang tertawa cekikikan.
Ilona beranjak dari duduknya, ke dapur untuk membuat dua cangkir kopi untuknya dan Elang.
"Jangan kesini!" teriak Elang saat saat Ilona mendekat, membawa dua cangkir kopi yang ada di atas nampan. "Licin, ada air yang tumpah tadi. Biar aku pel dulu."
Ilona meletakkan nampan berisi kopi ke atas meja kasir.
Elang ke belakang, mengambil alat pel, lalu membersih lantai. Ia menoleh mendekat suara tawa Ilona.
"Gak gitu caranya ngepel. Kalau kamu ngepelnya maju, ya otomatis kotor lagi. Mundur jalannya."
Elang garuk-garuk kepala. Seumur hidup, baru hari ini ia ngepel lantai. "Gini?" Ia mempraktekan ucapan Ilona.
"Iya gitu, tapi..."
"Tapi apa?" Elang menoleh.
"Lucu. Hahaha." Ilona tertawa ngakak. "Keliatan banget gak pernah ngepel, kaku."
Setelah genangan air hilang, Elang mengembalikan alat pel sekaligus mencuci tangan. Ia kembali ke tempat Ilona, menunjukkan telapak tangannya yang merah sekaligus sakit karena beberapa kali tertusuk duri mawar.
"Kasihan banget anak mami." Ilona malah meledek.
"Dasar!" Elang tersenyum tipis, mengambil satu cangkir kopi, meniup lebih dulu sebelum mencicipinya.
Ilona memutari meja, lalu duduk di kursi kasir. Matanya mengitari sekeliling toko. Rasanya masih seperti mimpi, akhirnya ia akan punya toko bunga.
"Kenapa?" Elang melihat mata Ilona berkaca-kaca.
"Rasanya masih gak percaya, aku bakalan punya toko bunga." Ia menunduk, menyeka air mata di kedua pipi. "Ini mimpiku sejak lama."
"Aku ikut senang."
Ilona menatap tulisan 'buka' yang digantung di pintu kaca yang saat ini menghadap ke dalam. Tak sabar ingin segera membalik tulisan tersebut.
"Selain punya toko bunga, apa lagi mimpi kamu?" Elang sangat ingin tahu.
"Menikah, dan punya anak." Sayangnya, Ilona hanya bisa menjawab itu dalam hati. Malu untuk mengatakan itu setelah beberapa kali gagal dalam percintaan. Ia sudah pasrah sekarang, jika seumur hidup, akan menghabiskan waktu sendirian.
"Apa mimpi kamu lainnya?" Elang kembali bertanya.
"Jadi kaya raya, dan masuk surga." Ilona terkekeh pelan.
"Ish, itu jawaban yang terlalu umum, semua orang juga mau. Maksudku, mimpi yang lebih spesifik. Misalnya, pengen kuliah lagi. Pengen liburan ke luar negeri, atau apa gitu?"
"Kalau kamu, apa yang kamu inginkan?" Ilona malah balik bertanya. "Dalam waktu dekat ini."
"Aku...pengen menikah sama kamu, membangun keluarga kecil. Tinggal di sebuah rumah, dimana hanya ada aku, kamu, dan anak-anak kita." Nyatanya, kalimat itu tak sampai keluar, hanya diucapkan Elang di dalam hati.
"Malah bengong. Kamu pengen apa?"
Elang membuang nafas berat. "Pengen usaha kita sukses, lalu buka cabang."
"Aamiin."
"Aku hampir lupa sesuatu. Tunggu sebentar ya." Elang keluar, mengambil sesuatu dari dalam mobilnya.
Tatapan mata Ilona langsung tertuju pada paper bag di tangan Elang begitu laki-laki itu masuk.
Elang meletakkan paper bag warna putih ke atas meja kasir. "Buat kamu."
"Apa?" Ilona menarik paper bag tersebut mendekat ke arahnya.
"Buka aja."
Ilona membuka paper bag bertuliskan salah satu brand ternama, mengeluarkan isinya yang ternyata adalah sebuah gaun panjang berlengan pendek. Warna putih, motif bunga-bunga kuning. Cantik sekali.
"Pakai besok ya. Kamu pasti cantik sekali."
Ilona menyentuh gaun yang terasa lembut dan dingin tersebut. Ada label merk yang sama dengan di paper bag. Ia pernah sekali masuk ke butik tersebut bersama Eliana. Yakin, harga gaun ini pasti mahal. "Makasih."
Jam 9 malam, Elang mengantarkan Ilona pulang. Semua persiapan untuk grand opening besok, sudah selesai, sekarang waktunya istirahat.
"Segera tidur, besok kita pasti sibuk sekali." Elang tetap di mobil, karena Ilona menolak diantar masuk.
"Kamu juga."
"See you tomorrow."
"See you."
Elang baru pergi setelah Ilona masuk ke dalam rumah.
Tapi malam itu, alih-alih segera tidur, Ilona malah tak bisa tidur hingga tengah malam. Ia menatap gaun di gantungan, tak sabar ingin segera memakainya. Ia sudah memikirkan tatapan rambut untuk besok.
Hampir pukul 12 malam, ada pesan masuk dari Elang.
[ Aku harap kamu sudah tidur ]
Ilona tersenyum membaca pesan tersebut. Jarinya lalu mengetik pesan balasan.
[ Sayangnya belum. Aku takut saat tidur, dan terbangun nanti, ternyata semua ini hanya mimpi ]
[ Tidurlah. Besok akan lebih indah dari para hari ini. Kalau pun ternyata ini mimpi, besok dan seterusnya, aku akan memastikan, kamu tetap berada dalam mimpi indah ]
Ilona tersenyum. Ada getaran di dadanya, sebuah rasa yang ia tahu apa itu. Cinta. Sayangnya, meski sudah dicegah, ia tetap kalah. Perasaan itu lebih kuat. Ia telah jatuh cinta pada Elang.
nangis bener-bener dengan ketulusan & cinta elang yang bukan sekedar mau bertanggung jawab...
beri kesempatan elang untuk menceritakan kejadian 8 Th lalu ILona.. apalagi silikonnya waktu dulu tidak sama dengan elang yang sekarang...
semoga Harimu Luluh dengan ketulusan Cintamu pad elang yang akan membawa kebahagiaan dalam hidupnya ILona...
Semua tidak lepas dari takdir.. begitupun pertemuanmu dengan elang... 😭😭😭💙💛💙😘😘😘
prihatin dengan hubungan yang tulus tapai dinhancurkan hanya gara² masa lalu yang sebenarnya tidak mungkin akan bisa di ulang apalagi kembal... 😥😥😥
klo pun elang hrus dipenjara semoga hub elang dan ilona bisa membaik
Pinter kamu Lang, ngedeketin Ilona biar dia jatuh cinta sama kamu padahal kamu sendiri entah mencintai Ilona secara tulus atau karena rasa iba, entahlah.🙄