Dulu, sebelum jalan aspal mencapai Dusun Wanasetra, aku dan adikku harus bangun ketika langit masih gelap. Kami berjalan lebih dari tujuh kilometer menuju sekolah, melewati pematang sempit, kebun, lereng rawan longsor, dan sungai yang tidak memiliki jembatan tetap. Di kaki kami hanya ada sepatu bekas dari pasar loak. Sepatu itu terlalu sempit untukku, terlalu besar untuk Nira, dan selalu basah saat musim hujan.
Kami menjahit telapak yang terbuka dengan benang karung, menambalnya memakai potongan ban, lalu memakainya kembali pada pagi berikutnya. Di sekolah, sepatu lusuh itu menjadi bahan ejekan. Di rumah, sepatu yang sama menjadi bukti bahwa Ayah dan Ibu masih berusaha menjaga kami tetap belajar. Ketika panen gagal, Ibu sakit, dan Ayah menerima pekerjaan berbahaya di tempat pemecahan batu, perjalanan menuju sekolah berubah menjadi perjuangan mempertahankan keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAHU YANG TIDAK BOLEH SAKIT
“Angkat sedikit,” kata Ibu.
Ayah mencoba menggerakkan lengan kanan. Baru setinggi pinggang, ia mendesis dan menjatuhkannya lagi.
“Sudah,” katanya. “Bisa digerakkan.”
“Itu bukan bisa.”
Ibu mencelupkan kain ke air hangat, memerasnya, lalu menempelkan pada bahu Ayah. Bengkaknya melebar sampai dekat leher. Goresan panjang di kulit masih mengeluarkan darah tipis.
“Besok ke puskesmas,” kata Ibu.
“Tidak patah.”
“Kau tahu dari mana?”
“Kalau patah, lenganku menggantung.”
“Sekarang juga hampir menggantung.”
Ayah menahan kain dengan tangan kiri. “Besok aku kerja.”
Ibu berhenti meraih daun obat. “Kerja?”
“Kalau tidak datang, tidak dibayar.”
“Mandornya lihat bahumu?”
“Lihat.”
“Terus?”
“Suruh pulang.”
“Cuma itu?”
Ayah memandang tungku. “Upah hari ini tetap dikasih.”
Ibu tertawa sekali, pendek dan tanpa senyum. Ia menumbuk daun lebih keras sampai alu membentur dasar mangkuk.
Aku duduk di dekat kaki Ayah. Kemeja robeknya tergeletak di lantai. Satu sisi kain penuh debu, sisi lain penuh darah. Nira mengambilnya, tetapi Ibu segera menyuruh meletakkan kembali.
“Jangan pegang.”
“Aku mau lihat robeknya.”
“Besok saja.”
Nira mundur dan duduk di sudut. Matanya tidak lepas dari bahu Ayah.
Malam itu tidak ada yang tidur nyenyak. Setiap kali Ayah mengubah posisi, tikar berderit dan napasnya terpotong. Ibu beberapa kali bangun untuk mengganti kompres. Aku terjaga sampai suara hujan melemah.
Sebelum subuh, Ayah sudah duduk dekat pintu. Ia melilitkan kain panjang dari dada ke bahu agar lengannya tidak banyak bergerak. Kancing kemeja dipasang dengan satu tangan. Kancing ketiga terlepas dua kali.
Aku mengambil kemeja itu. “Biar aku.”
Ayah diam saat aku memasangkan kancing. Kulit di dekat lehernya dingin oleh keringat.
“Jangan pergi,” kataku.
“Ayah pulang sore.”
“Bukan itu.”
Ia meraih kain penutup hidung.
“Aku bisa kerja,” kataku. “Di ladang atau angkat apa saja.”
“Kau sekolah.”
“Aku berhenti saja.”
Tangan Ayah berhenti di udara.
Ibu menoleh dari tungku. Nira yang sedang mengikat rambut juga tidak bergerak.
“Apa?” tanya Ayah.
“Aku bantu bayar utang. Nanti kalau sudah—”
“Tidak.”
“Tapi—”
“Tidak.” Suaranya lebih keras. “Jangan ngomong begitu lagi.”
“Ayah saja kerja sampai begini.”
“Itu urusan Ayah.”
“Ini rumahku juga.”
Aku tidak pernah membalasnya dengan nada seperti itu. Ayah menatapku. Rahangnya mengeras. Untuk sesaat kupikir ia akan menamparku. Ia justru duduk kembali dan menaruh penutup hidung di pangkuan.
“Kau umur sebelas,” katanya. “Kerjamu sekolah, bantu rumah, jaga adik. Sudah.”
“Uang sekolah juga butuh uang.”
“Ayah cari.”
“Kalau bahu Ayah rusak?”
Ayah menarik napas melalui hidung. “Kalau kau berhenti, bahu Ayah sembuh?”
Aku menunduk.
“Jawab.”
“Tidak.”
“Ya sudah.”
Ia berdiri. Wajahnya menegang saat kain di bahu tertarik. Sebelum keluar, ia menyentuh kepalaku dengan tangan kiri. Gerakannya cepat, hampir seperti menepuk debu.
Ibu berdiri di pintu sampai Ayah hilang di jalan. Setelah itu ia duduk di bangku dan menutupi wajah dengan ujung selendang.
Nira mendekat kepadaku. “Kakak jadi berhenti?”
“Tidak.”
“Bagus.”
“Kenapa?”
“Aku nggak mau jalan sendiri.”
Ia mengambil sapu lidi dan mulai menyapu tanah dekat tungku. Aku membawa cangkul ke luar. Saluran air sebenarnya tidak tersumbat, tetapi aku tetap menggalinya sampai telapak tanganku panas.
Di sekolah, kelopak mataku terasa berat. Bu Satya membagikan hasil ulangan matematika. Kertas Nira bukan bagian dari kelas kami, tetapi kabar bahwa nilai membacanya paling tinggi sudah lebih dulu sampai. Saat istirahat ia datang membawa selembar kertas dengan gambar bintang dari gurunya.
“Lihat.”
“Bagus.”
“Bacanya cuma salah satu.”
“Yang mana?”
“Penggembala. Aku bilang pengembala.”
“Kau sudah betulkan?”
“Sudah.” Ia menyelipkan kertas itu ke dalam tas. “Nilai Kakak berapa?”
Aku belum menjawab ketika Bu Satya meletakkan lembar ulanganku di meja.
Angka merah di sudutnya lebih rendah daripada biasanya. Dua soal kosong. Pada satu soal aku menulis hasil benar, tetapi angka di tengah perhitungan hilang.
Dari belakang terdengar Jalu berbisik, “Ketinggalan angka di jalan.”
Gala menoleh kepadanya. “Diam.”
Aku melipat kertas. Aku terlalu lelah untuk marah.
Setelah kelas selesai, Bu Satya memintaku tetap duduk. Murid lain keluar. Suara mereka memenuhi halaman.
Ia menarik kursi ke samping mejaku. “Kau sakit?”
“Tidak.”
“Semalam tidur?”
“Iya.”
“Berapa lama?”
Aku mengangkat bahu.
Bu Satya melihat kuku tanganku yang masih menyimpan tanah. “Di rumah banyak kerjaan?”
“Ibu belum sehat. Ayah kerja tambahan.”
“Di tempat batu?”
Aku terkejut. “Ibu tahu?”
“Gala cerita melihat ayahmu di sana.”
Aku menatap halaman melalui jendela.
“Bahunya kena keranjang,” kataku. “Tapi tetap kerja.”
Bu Satya tidak berkata kasihan. Ia mengambil lembar ulanganku dan menunjuk soal pertama.
“Kau masih ingat caranya?”
Aku mengerjakan ulang. Jawabannya benar.
“Berarti bukan tidak bisa,” katanya. “Kau cuma tidak sempat memeriksa.”
“Aku perbaiki nanti.”
“Kapan belajarnya?”
“Malam.”
“Pakai lampu minyak?”
Aku mengangguk.
Bu Satya berdiri dan membuka lemari kelas. Dari bagian bawah, ia mengeluarkan lampu kecil berwarna biru. Penyangganya retak. Tombolnya dibalut selotip.
“Ini bekas ruang guru,” katanya. “Cahayanya tidak besar, tapi cukup buat satu buku.”
Aku tidak menyentuhnya. “Buat saya?”
“Dipinjamkan. Jangan dijatuhkan di sungai.”
“Aku tidak punya baterai.”
“Masih ada di dalam. Coba.”
Ia menekan tombol. Cahaya putih muncul, lebih terang daripada lampu minyak kami.
“Kalau rusak?” tanyaku.
“Bawa kembali. Jangan dibongkar sendiri.”
Ia membungkus lampu dengan koran dan plastik. Namaku ditulis di buku inventaris. Semuanya dilakukan cepat, seperti meminjamkan penggaris, bukan memberikan barang yang dapat mengubah malam di rumah kami.
Nira menunggu di depan kelas. Begitu melihat bungkusan, ia memegangnya dengan kedua tangan.
“Isinya apa?”
“Lampu.”
“Bisa dibawa jalan malam?”
“Bisa, tapi jangan.”
“Kenapa?”
“Ini buat belajar.”
Sepanjang perjalanan kami bergantian membawa tas yang berisi lampu. Saat menyeberangi sungai, aku memeluknya ke dada. Nira berjalan di belakang sambil mengingatkan setiap batu licin, seolah aku yang berumur delapan tahun.
Malamnya lampu diletakkan di tengah meja. Cahayanya hanya menerangi dua buku, tetapi tulisan tidak lagi tertutup asap. Aku mengerjakan ulang soal ulangan. Nira menyalin cerita pendek di sampingku.
Ayah pulang saat aku sampai pada soal terakhir. Bahunya masih terikat. Ia berhenti di pintu karena melihat cahaya putih.
“Dari Bu Satya,” kataku.
Ayah duduk. Aku menunjukkan nilai ulangan tanpa menunggu ditanya.
“Jelek,” kataku.
Ia melihat angka merah, lalu menunjuk soal kosong. “Yang ini bisa?”
“Bisa.”
“Kerjakan.”
Aku mengerjakannya. Ayah tidak memuji ketika jawabanku benar. Ia hanya menggeser lampu lebih dekat agar bayangan tanganku tidak menutup angka.
Beberapa hari kemudian, rapor tengah semester dibagikan. Nira pulang dengan catatan bahwa bacaannya lancar. Nilai matematikaku belum naik banyak.
Di halaman terakhir, Bu Satya menulis dengan tinta biru: Elangga berpotensi, tetapi tampak sangat lelah.
Ayah membaca kalimat itu dua kali. Lalu ia menutup rapor dan meletakkannya di bawah lampu.