Emily, Ratu Jalanan sekaligus ketua geng Sport Queen, dipaksa memilih antara masuk pesantren atau menikah setelah terus membuat orang tuanya khawatir. Tak disangka, pria yang dijodohkan dengannya adalah Reyze, ketua geng rival Black Lion Riders sekaligus musuh bebuyutannya.
Meski saling membenci, mereka terpaksa menikah diam-diam dan merahasiakan status mereka. Di depan publik mereka tetap rival, tetapi di balik pintu rumah harus belajar hidup sebagai suami istri.
Saat Emily masih terikat dengan pacarnya dan persaingan di dunia balap berubah menjadi ancaman mematikan, Emily dan Rey harus memilih: mempertahankan permusuhan atau memperjuangkan cinta yang perlahan tumbuh di antara mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HyMaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Pernikahan yang seharusnya dilakukan jam 07.00 malam tapi kali ini dimundurkan menjadi jam 05.00 sore. Maka dari itu sejak jam 03.00 sore Emily sudah siap dirias. Kenapa dimajukan? Karena ternyata keberangkatan orang tua Emily itu dimajukan. Yang seharusnya pukul 05.00 subuh menjadi jam 12.00 malam, jadi jam 11.00 mereka harus sudah stand by di bandara.
Emily semakin deg-degan, apalagi rumahnya sudah ramai. Dia melirik ke arah koper-koper yang sudah ibunya siapkan. Bukan seperti diusir, melainkan Emily memang harus langsung ikut ke rumah Rey setelah dari bandara.
“Ini tuh konsepnya gue dinikahkan apa dibuang, ya? Heuhhh…” gerutu Emily dalam hati.
Tak lama dari itu suara ketukan pintu terdengar.
“Ilyy???” ucap Amanda, ibunya.
“Iya, Ibu… masuk saja,” jawab Emily pelan.
“Aduh, Putri Ibu sudah cantik. Kalau kayak gini kamu kelihatan anggun sekali, Nak,” ucap ibu Amanda tersenyum bangga.
“Hhhe… tapi Ily deg-degan, Bu. Ily belum siap nikah,” jawab Emily cemas.
“Siap nggak siap kamu harus siap, Sayang. Apa kamu lebih pilih diberangkatkan ke luar negeri? Kan kamu tidak mau. Jadi menikah adalah pilihan yang terbaik. Lagi pula Reyze itu anak baik,” ucap ibu Amanda lembut.
“Baik apanya, Ibu? Dia nggak beda jauh sama aku,” jawab Emily sinis.
“Ya justru itu. Jadi dia punya cara tersendiri untuk mengendalikan kamu yang liar ini,” ucap ibu Amanda menegaskan.
“Ibuuuuuuu…!!!” seru Emily setengah protes.
“Apapun itu, bagaimanapun itu, Emily… ingat nasehat Ibu, ya. Sejak menikah, tanggung jawab sepenuhnya itu ada pada Rey. Jadi kamu harus nurut sama suami kamu, jangan membangkang. Belajar jadi istri yang lebih baik. Jangan cuma mikirin masa tongkrongan. Kamu punya masa depan. Nurut sama suami, ya,” ucap ibu Amanda dengan suara lirih,
“Ibuuu, kok jadi melow…” jawab Emily setengah menahan tangis.
“Tidak apa. Setelah ini kamu tidak bakal bisa memeluk Ibu lagi. Ibu akan lebih lama di sana…” ucap Amanda, matanya berkaca-kaca.
“Tapi nanti aku mau minta Rey buat nyamperin Ibu,” jawab Emily manja.
“Tidak masalah, Sayang. Nanti juga kalau Ibu ada waktu luang, Ibu pasti pulang ke Indonesia. Itu juga salah satu alasan Ibu kenapa lebih memilih menikahkan kamu daripada ke pesantren. Karena kalau dimasukkan ke pesantren, apalagi masih di dalam negeri, Ibu tidak yakin kamu bakal betah. Besar kemungkinan kamu pasti berusaha kabur dari sana,” ucap ibu Amanda tegas.
“Hhhee… Ibu tahu aja otak kotor aku,” jawab Emily cengengesan.
“Ya itu. Justru Ibu tahu. Maka dari itu lebih baik menikahkan kamu, jadi Ibu bisa pergi dengan tenang. Kamu sudah punya suami, sudah ada yang jagain. Apapun itu, kalau bersama suami, Ibu yakin semuanya akan baik-baik saja. Asalkan kamunya nurut,” ucap ibu Amanda sambil mengusap rambut Emily.
“Tapi Abang nggak dinikahin dulu?” tanya Emily.
“Abang laki-laki. Ibu tidak terlalu khawatir. Apalagi Abang tidak seliar kamu pergaulannya,” jawab ibu Amanda.
“Tetep aja. Abang juga pacaran…” ucap Emily tak terima.
“Masih dalam batas wajar menurut Ibu. Tidak sampai pulang larut malam,” jawab ibu Amanda menenangkan.
“Hhee… maaf, Ibu,” ucap Emily lirih.
“Sekarang sudah bukan waktunya meminta maaf, sudah bukan waktunya janji. Tapi buktikan bahwa kamu bisa jadi anak yang lebih baik,” ucap ibu Amanda tegas.
Akhirnya mereka berpelukan lama, sampai akhirnya Ibu Amanda membawa Emily ke
lantai bawah, di mana keluarga Rey sudah menunggu.
Tidak ada gedung mewah, tidak ada dekorasi mewah. Hanya pelaminan sederhana dan meja yang sudah dirias sebagai meja akad. Semua menggunakan seragam untuk melakukan sesi foto sebagai kenang-kenangan, karena mungkin resepsinya akan dilakukan nanti setelah mereka lulus kuliah.
Rey menatap Emily begitu tajam ketika melihat Emily turun dari lantai atas digandeng oleh Ibu Amanda. Entah kenapa perasaannya tiba-tiba tak karuan, tapi dia berusaha untuk menepisnya. Mungkin ini hanya gugup karena akan akad. Mereka duduk berdua di hadapan penghulu dan Papa Evan. Rey mulai memegang tangannya.
“Ya, Ananda Reyze Kenzio Alaric bin Bimo Alaric, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Emily Yara Amora binti Evan Sulistyo, dengan mas kawin emas 50 gram dibayar tunai,” ucap penghulu lantang.
“Saya terima nikah dan kawinnya Emily Yara Amora binti Evan Sulistyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” jawab Rey dengan lantang, sekali tarikan napas.
“Bagaimana saksi?” tanya penghulu.
“Sah.”
“Sah.”
“Sah.”
“Alhamdulillah…” ucap penghulu.
Setelah melakukan ijab kabul mereka kembali melakukan salaman dan memasangkan cincin layaknya pengantin pada umumnya. Tapi ada perasaan aneh setelah melakukan ijab qobul itu. Mungkin setelah ini perjalanan hidup mereka akan berbeda dari sebelumnya. Itu yang ada di pikiran Rey. Tapi Berbeda dengan pikiran Emily.
gue beneran nikah, anjir. Kemarin gue jabat tangan sama dia buat deal balapan, sekarang di depan penghulu jadi suami gue pula… Hhha, Emily tertawa dalam hati. Untung saja dia nggak ikutin kata otak buat ketawa.
“Setelah ini lo harus nurut sama gue,” bisik Rey ke telinga Emily.
“Jihhh, enak saja. Siapa loh?” jawab Emily sinis.
“Lo lupa kita baru juga akad berapa detik yang lalu,” ucap Rey, setengah menahan senyum.
“Hhe, sorry… tapi nggak ngatur-ngatur juga kali,” jawab Emily ketus.
“Lihat saja…” ucap Rey singkat.
Setelah akad nikah selesai mereka langsung menandatangani buku nikah. Setelah itu mereka melakukan sesi foto bersama, entah itu di depan pelaminan sederhana atau dibuat studio dadakan di rumah itu. Yang penting ada momen foto setelah makan.
Setelah foto-foto dilanjut dengan acara syukuran dan makan-makan keluarga besar. Sederhana, tapi sangat membuahkan arti yang besar.
Setelah semuanya selesai, mereka bersiap untuk mengantarkan Ibu Amanda dan Papa Evan ke bandara. Bukan hanya sibuk mengantar orang tua, melainkan Emily dan juga Rey sibuk membawa barang-barang Emily yang akan dibawa ke kediaman Rey.
“Ini lho mau pindahan apa diusir, Emily? Barang lo banyak banget,” ucap Rey sambil mengangkat koper.
“Kenapa rumah lo sempit ya, sampai nggak bisa nampung barang-barang gue?” jawab Emily ketus.
“Jihhh, lihat saja…” gerutu Rey.
“Sudah kalian ini jangan berantem terus,” ucap Ibu Amanda menengahi. “Kalau susah jangan dibawa semua sekarang. Adek nanti bisa ambil lagi ke sini.”
“Enggak, Ibu, ini cukup kok,” jawab Emily cepat.
“Rey, kalian mau pulang ke rumah bunda apa langsung isi apartemen?” tanya Bunda Raina.
“Langsung ke apart aja, Bun,” jawab Rey mantap.
“Haaah, apa maksudnya Rey?” tanya Emily heran.
Bunda Raina langsung menjelaskan, “Jadi kalian langsung pindah ke apartemen. Emily, kemarin pas bunda tanya, Rey mau kado apa, Rey bilang mau apartemen. Mungkin karena kalian masih baru jadi butuh waktu untuk berdua. Padahal bunda sebenarnya pengen kamu tinggal di rumah bunda. Tapi suamimu katanya pengen tinggal berdua aja. Ya nggak papa lah, tapi nanti sering-sering nginep di rumah bunda ya.”
Emily tidak menjawab, hanya mengangguk dengan wajah bingung.
“Jangan pasang wajah kayak gitu. Kelihatan banget loh takut tinggal berdua sama gue,” bisik Rey ke telinga Emily.
“Ini pasti akal-akalan lo supaya bisa mesum, kan?” jawab Emily berbisik kesal.
“Kan kalau berdua nggak bakal ada yang dengar, sayang,” bisik Rey lagi dengan nada bercanda.
“Jihhh, amit-amit!” jawab Emily sebal.