"lumpur hitam akan selama nya hitam meski telah di rendam dengan emas dan berlian" celetuk nyonya Sin sinis saat melihat Orjioh keluar dari mobil mewah keluaran terbaru berwarna hitam, seketika senyumnya hilang dan moodnya pun berubah. ia tidak menyangka bahwa ternyata gadis yang ingin di kenalkan Jonathan kepadanya adalah Orjioh, teman sekolah Jonathan ketika mereka masih tinggal di kampung dulu, yang menurut nyonya Sin tidak selevel dengan keluarga nya yang seorang pengusaha dan juga memiliki sebuah restoran mewah yang dilengkapi dengan penginapan kelas atasnya sekaligus. "benar" sambung In su setuju dengan kakaknya padahal tadinya dia sempat sedikit senang karena ternyata keponakan dekat dengan orang berpengaruh, pikir in su saat mobil yang dikendarai oleh Orjioh berhenti dibelakang mobil Jonathan, ia bahkan sudah sempat berangan-angan untuk menjilat, namun semua itu sirna ketika ia melihat Orjioh keluar dari mobil itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lina Kotto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cinta semusim 4
Selain itu sebelum mengetuk mobil itu, petugas itu juga sudah melihat bagaimana mobil itu bergoyang-goyang tidak semestinya, namun bukannya menjawab tangan Oh pil sun justru terlihat sibuk mengambil sesuatu, ia membuka dasbor mobil Or ji oh, dan mengambil sebuah buku kecil berwarna mereka dari sana, lalu memberikan buku tersebut kenapa petugas keamanan itu, agar petugas keamanan itu dapat memeriksanya sendiri.
Petugas itu menerima buku itu, ia meneliti buku itu dengan seksama, dan sesekali melihat kearah Oh pil sun dan juga Or ji oh untuk memastikan, bahwa ke dua orang yang ada di foto yang terdapat didalam buku itu benar-benar dua orang yang ada hadapan nya "baiklah, kalian bisa melanjutkan nya kembali." ujar petugas itu setelah bener-benar yakin, ia menyerahkan buku itu kembali kepada Oh pil sun, dan Oh pil sun menerimanya tanpa bicara.
"tolong maafkan saya karena telah mengganggu." kata petugas itu lagi, merasa tidak enak, sebelum pergi. "hmm" jawab Oh pil sun dengan anggukkan kepala dan kembali menutup kaca jendela mobilnya, ia meletakkan buku nikah itu kembali ketempat nya semula dan kemudian melihat kearah Or ji oh.
Ia menatap Or ji oh dengan pandangan mengejek, mengingat bagaimana Or ji oh mndsh tadi, mungkin di matanya Or ji oh seperti perempuan munafik, diawal menolak bagaikan perempuan suci, namun akhirnya menikmati juga.
Or ji oh mengerti tentang tatap Oh pil sun kepadanya, ia juga tahu apa yang dipikirkan Oh pil sun tentangnya, namun ia sama sekali tidak berkomentar, baginya cukup dirinya yang tahu bagaimana dirinya, ia tidak perlu menjelaskan apa-apa kepada orang lain, karena itu hanya akan percuma. Jika sejak awal orang sudah tidak menyukai mu, maka apa pun yang kamu katakan dia tetap tidak akan menyukai mu.
"huft" Or ji oh menghela nafas kasar, ia mulai jengah melihat Oh pil sun yang terus menatap nya seperti itu, dan mulai mencoba mendorong tubuh Oh pil sun agar sedikit menjauh dari nya. Namun Oh pil sun justru menahan tangan Or ji oh dan kembali menjadi serigala lapar seperti sebelumnya.
Cman demi cman lembut perlahan-lahan terus ia layangkan di setiap bagian yang ia ingin, bahkan tak ada satu pun yang ia lewat. Sekarang ia hanya ingin memuaskan dahaganya, menghilangkan rasa lapar nya, hingga sebuah suara dshan halus kembali meluncur keluar dari bibir Or ji oh.
"Aah....." dshan itu terdengar lembut, namun juga hangat menggelitik daun telinga Oh pil sun. karena bibir Or ji oh memang sedikit menempel pada telinga Oh pil sun, membuat serigala lapar didalam diri Oh pil sun semakin mengamuk, meminta untuk segera dipuaskan. Tangan Oh pil sun mulai berpindah kebagian bawah, "sreeets" dengan gerakan cepat ia melepaskan penghalang di balik bawahan yang dikenakan oleh Or ji oh, kebetulan hari ini Or ji oh memakai rok pendek selutut, jadi semakin mempermudah Oh pil sun dalam melancarkan aksi nya.
"Aah!" pekik Or ji oh tertahan, keningnya mengernyit, tangan mengepal mencengkram kuat jok mobil, karena menahan rasa sakit saat Oh pil sun mencoba untuk menerobos masuk pintunya yang masih tersegel rapat, sedangkan Oh pil sun menghentikan gerakan nya, ia menatap Or ji oh dengan tatapan tak percaya.
"Bagimana mungkin segel itu belum terbuka?" pikir Oh pil sun tak percaya, ia memang sudah tiga tahun menikahi Or ji oh dan belum pernah menyentuh nya sekali pun, Namun yang menjadi masalah nya bukan itu, karena sebelum menjadi istrinya Or ji oh sudah pernah menikah dengan lelaki lain, walaupun pernikahan itu hanya berjalan selama satu tahun.
Hal ini sungguh membuat Oh pil sun semakin penasaran, dan ingin kembali mencoba untuk memasuki pintu tersebut, kali ini dia lebih sedikit memaksa dari pada sebelum nya. "krek!.." terdengar seperti bunyi sesuatu yang robek dari dalam "Aah!" yang diiringi dengan suara pekikan kesakitan dari Or ji oh yang sebisa mungkin ia tahan, saat Oh pil sun berhasil masuk melepas segelnya.
Sementara Oh pil sun, ia kembali melihat ke arah Or ji oh, memperhatikan wajahnya dengan rasa bersalah. Kini cara nya memandang Or ji oh pun telah berubah, setelah mengetahui bahwa dialah yang pertama bagi Or ji oh. "maafkan aku Or ji oh, setelah pengaruh obat ini habis aku pasti akan melakukan nya dengan lebih lembut." bisiknya di telinga Or ji oh sembari memeluk Or ji oh, dan berusaha sebisa mungkin untuk tidak terlalu menyakiti Or ji oh.
Or ji oh yang mendengar itu tidak menjawab, ia hanya memindahkan kedua tangannya ke punggung Oh pil sun. Mencengkram punggung itu dengan kuat dan mencakar nya setiap kali ia merasakan sakit dari setiap gerakan yang di lakukan Oh pil sun. bahkan tidak hanya sampai di situ, Or ji oh juga menggigit bahu Oh pil sun dengan cukup kuat ketika ia sudah tidak tahan lagi. Sementara Oh pil sun seperti tidak merasakan apa-apa.
"ssssttt" Oh pil sun bersandar disebelah Or ji oh setelah menyelimuti Or ji oh menggunakan mantel musim dingin miliknya, sejak selesai tadi matanya tak pernah lepas dari Or ji oh yang kini telah terlelap karena letih akibat perbuatan Oh pil sun, bahkan tangannya juga tidak bisa diam, sejak tadi ada saja yang dilakukannya.
Setiap sebentar tangannya selalu merapikan mantel yang menyelimuti Or ji oh, memastikan bahwa Or ji oh tidak kedinginan, ia juga menyingkirkan bagian rambut Or ji oh yang sedikit nakal, yang terus bermain disekitar wajah Or ji oh, seolah tidak suka rambut itu menghalangi pandangannya.
Kini senyum kecil sedikit mengembang disudut bibir, ketika Oh pil sun mengamati wajah itu semakin lama, perlahan ingatan melayang kembali ke tiga tahun silam.
Flashback ke tanggal 24 Mei tahun 2020 didalam gedung mewah yang paling terkenal.
"sudah pukul berapa ini? kenapa pengantin wanitanya belum juga datang" beberapa tamu undangan mulai saling berbisik, sambil sekali-kali melihat kearah lelaki berjas putih di atas panggung, yang sedang menunggu pasangannya, karena sudah tiga jam lebih menunggu namun sang pengantin wanita belum juga datang.
Lelaki berjas putih itu tak lain adalah Oh pil sun.
"benar juga, apa jangan-jangan tidak jadi!" sambung yang lain kasak kusuk saling menimpali, kali ini sedikit melirik kearah nyonya besar Oh dan ibu pimpinan. Membuat nyonya besar Oh dan ibu pimpinan yang sudah gelisah menjadi semakin tidak tenang, karena kalau pernikahan ini batal mereka pasti akan menjadi bahan tertawaan, oleh para kolega yang datang hari ini.
"cari cara! Bagaimana pun caranya pernikahan ini harus berlangsung!" bisik ibu pimpinan kepada nyonya besar Oh yang sejak tadi duduk disebelah ibu pimpinan. Mendengar itu nyonya besar Oh tidak menjawab, ia hanya menganggukkan kepala lalu perlahan bangkit dari tempat duduk, dan berjalan keluar meninggal ruang itu.
Hari ini ibu mertuanya memberinya tugas yang cukup berat, nama baik keluarganya hari ini tergantung padanya. Nyonya besar Oh kini sudah berada di lobi, ia memperhatikan kearah setiap wanita yang masuk dan keluar dari lift dengan sedikit lebih teliti, ia tidak menuntut banyak, ia hanya perlu menemukan seorang gadis yang bisa ia bayar untuk mau berpura-pura melangsungkan pernikahan dengan putranya, untuk hari ini saja.